
Meski berulang kali bertanya, tetap saja tidak ada jawaban yang memuaskan hati Rossi.
"Nanti juga tahu sendiri,' Jawaban macam apa ituh." Andhra semakin mengeratkan genggaman tangannya. Semua anggota keluarga sedang berkumpul saat ini. Cyra menyusul tepat di belakang Andhra.
"Malam semuanya, Pa, Ma." Andha mencium tangan anggota tertua bergantian. Rena menyempatkan memeluk Andhra beberapa saat.
"Siapa dia Ndhra?" Rena menelisik dari atas sampai bawah, gadis yang datang bersama anaknya. "Bukankah dia gadis yang waktu itu bersama Cyra?" Tanya Rena sebelum Andhra menjawab.
"Ya! Mama benar, namanya adalah Rossi." Andhra menarik lembut bahu Rossi hingga mendekat, kemudian mengenalkan secara resmi.
"Selamat datang di kediaman Abhimanyu, Nak!" Rasya begitu ramah, hingga Andhra merasa sangat terdukung. Berbeda dengan Rena yang seperti tersenyum kaku. Mungkin juga dipaksa tersenyum.
"Halo cantik," serobot Candra mencium tangan Rossi, gaya cool juga menggoda membuat Andhra geram.
"Jaga sikapmu!" Andhra mendorong kening Candra karena hendak mencium lagi tangan Rossi. Candra nyengir menggoda, Andhra memperingati dengan menunjukkan kepalan tangan.
"Lihatlah, Pa! Sekarang Abang mulai galak kepadaku." Candra duduk di samping Rasya.
"Jangan ganggu Abangmu, baru kali ini dia berani membawa seorang gadis." Bisik Rasya, tangannya menyentuh kepala Candra, lalu mengajaknya.
"Iyakah?" heran Candra.
"Ah, iya! Silahkan duduk!"
"Bik, buatkan minuman dan camilan buat tamu kita." Rena memberi perintah, namun matanya sibuk menatap gadis yang kini mendaratkan bokongnya di samping Andhra.
Semua orang berbincang-bincang, beda dengan Candra yang malah sibuk dengan pikirannya sendiri. Menatap Andhra dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Dimana tempat tinggalmu, Nak?" Rasya menyandarkan punggungnya, tangannya terulur memegang bahu sang istri. Rasya meremasnya pelan,seolah memberi perintah agar Rena tidak protes akan kenyataan yang ada di depan matanya. Rasya tahu benar karakter sang istri yang seperti menjaga jarak. Terbukti bahwa sejak gadis itu datang, Rena tak ingin menanyakan sesuatu apapun.
"Saya dari desa Kembang,Pak!" Rasya tergelak.
"Panggil saja seperti Andhra memanggil kami. Kau bisa memanggilku dengan sebutan Papa." Otomatis mulut Rossi menganga dan matanya berkedip beberapa kali.
Ya Tuhan, permainan yang bagaimana lagi kah ini?
"Dia sama seperti dirimu saat kita bertemu pertama kali." Rasya berbisik tepat di telinga Rena. Dalam hati, Rena mengiyakan, tapi gengsi untuk mengungkapkan.
__ADS_1
"Mana ada! Aku jauh lebih baik dari gadis itu pastinya." Ketus Rena. Rasya sengaja mencium puncak kepala sang istri.
Jadi, pria batu ini belajar hal begituan dari papanya? Pantas saja dikit-dikit main cium aja. Ada contohnya si. Batin Rossi.
Dia juga tersentak saat tangannya di remas pelan oleh seseorang. "Papa bertanya lagi padamu?" Bisik Andhra.
"Bagaimana? Jadi, kamu bersedia kan?" Rasya nampak harap-harap cemas menunggu jawaban, sedangkan Rossi bingung, dia tidak mendengar dengan baik, sebab sibuk memikirkan hal konyol.
Bersedia apa? Batin Rossi. Dia menoleh pada Andhra yang hanya menaikkan satu alisnya. Bibir melengkung pada pria itu juga mengandung makna yang kurang baik menurut Rossi.
"Jadi, bagaimana Ros, apakah Nak Rossi bersedia?" Rena kini yang bicara. Padahal, wanita itu sedari tadi menutup rapat mulutnya.
"Iya saja, kak! Ayolah!" Cyra mendekati Rossi sengaja meraih tangan gadis itu sebagai bentuk bujuk rayu.
Rossi memandang semua orang yang kini menatap ke arahnya. Seperti terdakwa saja.
"Tapi...!" Rossi ingin mengatakan, bahwa dia tidak tahu arah pembicaraan ini. Namun urung dia tanyakan sebab malu.
"Jika mau, kita akan berangkat Minggu depan. Sebagai hadiah juga buat Si Kembar. Kita kan jarang melakukan piknik bareng. Apalagi ke daerah pantai." Ungkap Rasya.
"Syukurlah, hanya membahas piknik." Gumam Rossi. Andhra samar-samar mendengar gumaman Rossi, mulai lagi ide jailnya.
"Sudahlah, Pa! Jangan memaksa. Andhra juga tidak akan mau pergi. Jika Si Kembar ingin, kita saja berempat yang pergi." Rena kini yang bicara
"Tapi kan nggak seru, kita selalu pergi tanpa Bang Andhra, padahal akan lebih seru jika Bang Andhra ikut, kita bisa bermain voli bareng." Candra nampak lesu.
"Iya, Cyra juga sangat ingin sekali pergi ke pantai bersama Abang." Andhra hanya diam seribu bahasa. "Kakak mau pergi ya! Biar Bang Andhra ikut." Cyra menggoyangkan lengan Rossi.
Bagaimana ini? Bukan nya aku nggak mau, hanya saja, baru saja aku berkenalan dengan mereka, eh malah di ajak liburan bareng. Batin Rossi.
"Emmh, akuuu... Aku ikut gimana baiknya Abangmu saja." jawab Rossi canggung
"Wah! so sweet, sepertinya kak Rossi ini tipe orang yang pengertian. Dia begitu memahami akan kondisi Bang Andhra yang tidak menyukai pantai."
Celetuk Cyra. Candra menaikkan satu jempolnya tinggi-tinggi setuju akan perkataan Cyra.
"Bang Andhra, mau ya! Kali ini saja kok. Cyra tidak akan minta lagi lain waktu." Kini Cyra berdiri kemudian memutari sofa dan duduk sangat dekat dengan Andhra. "Mau ya, Bang! Ayo dong kak, bujukin Bang Andhra nya." Cyra memasang wajah pupy eyes.
__ADS_1
"Lihat interaksi Cyra dan Rossi, mereka bisa akrab begitu. Jarang banget lho, ada orang yang mau berteman sama anak kita, Cyra." Bisik Rasya pada Rena.
"Mama tahu, tapi mama akan tetap memastikan, baik tidaknya gadis itu buat anak kita." Rena masih kekeh pada pendiriannya. Rena bahkan telah mengatur sebuah rencana untuk memastikan.
"Sebab itukah mama mengizinkan Cyra pergi liburan ke pantai?" Rena mengangguk antusias.
"Mama ini!" Rasya mencubit pelan lengan istrinya.
"Kita akan lihat, seberapa kuat ikatan cinta mereka berdua. Mama curiga saja, Pa. Takut jika cinta anak kita bertepuk sebelah tangan." Ungkap Rena berbisik.
"Ma, Pa! Lagi bisikin apa sih?" Candra yang di samping mereka kepo.
"Iya! Dari tadi saling bisik-bisik nggak jelas." Cyra memberengut.
"Nggak ada! Mama hanya mulai mengagendakan liburan kita nanti. Kita pergi bersama keluarga besar. Kita akan bersenang-senang." Rena tersenyum lebar.
"Lihatlah, Bang. Mama sangat antusias, kita pergi ya?" Bujuk Cyra.
"Iya, ayolah, Bang! Kita akan bermain voli dan kalahkan tim Papa. Candra selalu kalah jika kita main di lantai. Sebab tim Candra berkurang." Candra ikut-ikutan membujuk.
"Iya, Ndra sesekali kita melihat pantai, agar pikiran kita tidak hanya terbebani oleh pekerjaan. Itung-itung juga sebagai batu loncatan agar Papa dan mama lebih bisa mengenal calon menantu kita ini. Iyakan, Ma? Rossi juga setuju kan?"
Andhra masih enggan menjawab. Rossi jadi kepikiran buat mengerjai Si Batu ini.
"Kamu tenang saja Cyra, kita pasti akan ikut." Ucap Rossi. Terasa tangan Andhra semakin kuat meremasnya. Nafas Andhra juga terdengar berat.
"Terserah pada kalian, aku ikut saja." Ucap Andhra pada akhirnya yang langsung di sambut bahagia oleh Si Kembar. Mereka bahkan berlonjak girang saking bahagianya.
"Kita akan piknik dengan Bang Andhra."
"Kita ajak semua orang. Jangan lupa kasih tahu ART yang ada di rumah tua juga." Ucap Rasya.
"Beres, Pa!" Cyra
"Kau akan tanggung jawab padaku nanti ya!" Bisik Andhra pada Rossi.
Entah kenapa,Rossi seperti melihat gelagat aneh dari raut wajah Andhra. Seperti ada firasat buruk yang tersirat dari kalimat Andhra barusan.
__ADS_1
Tapi apa?
To be Continued