Ngumbara Cinta

Ngumbara Cinta
Part 42 Bukan Zaman Perjodohan


__ADS_3

"Cyraaaa!"


"Iya Ma!" Segera Cyra menyalakan lampu. "Ada apa Ma!" Rena segera menarik tangan putrinya, lalu mengajak Cyra sedikit menjauh dari ruangan itu.


"Sini, mama mau nanya sama kamu! Siapa nama perempuan yang diajak dansa sama kakakmu Andhra kemarin?"


Mama ini gimana sih, bukannya sudah aku kenalkan kemarin? Batin Cyra.


"Memangnya kenapa, Ma?"


"Mama sebenarnya sudah punya calon buat kakakmu Andhra!"


Deg


"Mama serius?" Mata bulat Cyra mengedip beberapa kali.


"Tentu saja!" Cyra menghembuskan nafas kasar.


"Apakah Mama berencana mengusir kak Andhra dari rumah ini?" Tanya Cyra penuh selidik. Kini Rena yang terbengong sendiri.


Apa maksud anak ini. Dia dapat darimana pemikiran seperti itu?


"Cyra ... Tolong jelaskan sama mama. Apa maksud perkataan mu itu?"


Cyra membuang muka, wajahnya berubah miring.


"Mama ingatkan? Kak Andhra memilih tinggal di rumahnya sendiri waktu itu?" Rena mengangguk. "Bukankah itu terjadi saat mama membawa anak dari sepupu mama untuk tinggal di sini. Mama kenalkan keponakan mama itu, dan mencoba menyatukan mereka." Rena mengangguk lagi. "sebab itu lah kak Andhra pergi, Ma!" Cyra nampak kesal. Pipinya menggembung guna menetralisir rasa kesalnya itu.


"Kamu ini! Jangan mengada-ada Cyra."


"Bukan mengada-ada, Ma! Cyra tahu benar karakter kak Andhra, apalagi keponakan mama itu terlalu centil. Kak Andhra bilang sendiri waktu itu, Kak Andhra yang akan pergi, atau keponakan mama itu. Lha keponakan mama kan muka tembok, nggak berasa biarpun diusir. Esok harinya Kak Andhra pergi."


"Kok, mama nggak tahu ya?" Tanggap Rena seolah memang baru tahu cerita ini. "Cyra, kamu nggak bohongin mama kan?" Cyra berdecak, bibirnya berubah manyun. Cyra merapikan kacamatanya yang melorot.


"Ih, lepas saja kacamata itu Cy, lagian juga di rumah. Kamu ini aneh! Kaca mata fantasi aja di gandrungi sampai segitunya." Omel Rena mencoba meraih kacamata Cyra. Rena sungguh merasa risih lihatnya.


"Kamu jadi terlihat culun banget tahu nggak?"


"Ih, Mama! Jangan sok tahu deh, ini tuh fashion, gaya baru anak remaja."


"Mana ada fashion yang jelek kayak gini?. Kamu itu bagusnya pakai dress, baju feminim. Bukannya hanya celana pendek murahan dan kaos oblong begini." Rena semakin heran, akan kelakuan anaknya. "Mama sudah belikan kamu baju-baju bagus lho, kenapa nggak pernah dipakai, Sayang?"


"Males ah! Pasti yang deketin Cyra hanya orang-orang yang memiliki maksud kurang baik. Kayak keponakan mama waktu itu. Diakan deketin mama hanya karena pengen mencuri buku desain baru mama." Rena menatap tajam anaknya, alisnya sampai bersatu sebagai bentuk respon merasa tidak percaya.


"Bohong ah! Mama nggak suka, kalau Cyra yang cantik ini suka fitnah orang lain." Sangkal Rena.


"Ngapain juga bohongin Mama. Kayak kurang banget kerjaan Cyra. Buka kado saja belum kelar dari kemarin. Mana nggak ada yang bantuin lagi." Cyra melipat tangannya di dada.


"Cyra!"


Hemmh.

__ADS_1


Rena mengeluarkan ponselnya.


Jangan bikin ulah lagi deh, Ma! Please.


"Menurutmu, gadis ini cocok nggak, buat Kak Andhra?"


Cyra enggan menoleh. Entah seperti apa gadisnya, Cyra nggak mau tahu. Cyra paling setuju, jika Andhra sama Rossi.


"Nggak ada yang cocok sama kak Andhra, kecuali pilihan kak Andhra sendiri." Ketus Cyra.


"Coba lihat dulu dong Cy! Main jawab aja!"


"Ma, ini tahun milenial, bukan zaman perjodohan lagi. Ini nih, zamannya yang muda yang menentukan masa depan mereka. Mama ini keterlaluan deh."


"Yup! Papa setuju."


Hemmh di bawah tadi Rasya sudah berdebat dengan Rena. Sekarang juga nimbrung lagi dan bersekongkol dengan Cyra.


"Ma, biarkan Andhra menentukan pilihannya sendiri. Dia sudah dewasa, sudah pasti tahu mana yang terbaik buat dirinya sendiri." Rasya mendekati Cyra, lalu mencium kening anaknya.


"Lagian, mama ini kenapa sih, kayak nggak suka gitu sama kak Ros." Selidik Cyra.


"Bukan begitu...." Rena tidak melanjutkan kalimatnya. Justru terlihat gelisah.


"Kak Rossi akan mengajari Cyra agar lulus ujian masuk perguruan tinggi. Jadi, Cyra mengundangnya kemari." Cyra menoleh pada kedua orang tuanya. "Dari sana, mama bisa mengenal lebih dekat calon menantu mama." Rena dan Rasya saling melemparkan tatapan heran.


"Cyra! Jangan bilang kamu akan sekolah di tempat yang berbeda dari Candra." Curiga Rasya, Rena mengangguk, karena memiliki pertanyaan yang sama.


"Memang kenapa Ma, Pa!"


Owh Cyra, andai kamu sekolah di tempat kita kan tidak usah melalui ujian tes masuk sekolah. Kamu bisa masuk tanpa seleksi, Sayang.


Waktu terasa berputar sangat lambat. Lembaran kertas di atas meja seperti mencemooh Andhra. Konsentrasi hilang sebab bayangan Rossi menggoda dirinya. Ingin menelpon, nomernya saja dia tidak punya.


"Bodoh!"


Bagaimana bisa aku terpengaruh begini. Andhra meremas map di hadapannya, membuangnya sembarang arah.


Bayangan Rossi tersenyum melihat kelakuannya.


"Bisakah kau berhenti menggangguku lima menit saja?" Andhra bicara sendiri. Bayangan Rossi, lenyap seketika. "Aku bisa gila karena terus melihat bayangannya."


Andhra pergi ke dapur, ingin membuat kopi agar pikirannya kembali jernih. Mungkin dia terganggu sebab mulai mengantuk.


Andhra mulai menghidupkan kompor, meracik kopi sesuai selera. Kembali dia melihat Rossi tersenyum manis, Andhra mengucek matanya, seketika bayangan itu lenyap tanpa bekas.


"Kau sangat menggangu ku. Awas saja jika bertemu nanti. Tidak akan pernah aku lepaskan kamu." Andhra mengetuk jemarinya, memandang tak selera kopi yang baru saja dia tuang. Dia membatalkan keinginan untuk membuat kopi.


Saat Andhra membalikkan badan, dia juga melihat Rossi berjalan ke arahnya dengan senyum yang menawan.


"Tuan Muda! Anda membutuhkan apa?" Seorang pelayan datang. Andhra tersentak kaget, buyar sudah semuanya. Rossi pun hilang bersama suara si Bibi.

__ADS_1


"Tidak ada Bi." Si Bibi sudah melihat adonan kopi dan air yang mendidih.


"Biar saya buatkan Tuan!" Bibi mendekati kopi racikan Andhra.


"Tidak usah, Bi! Saya ingin istirahat saja." Andhra pergi dengan pikiran sangat kacau.


Esok harinya.


Suara sepatu pantofel menggema di setiap gerakan langkah dua petinggi kerajaan gedung bertingkat ini. Semua yang mereka lewati memberi hormat serta mengucapkan selamat pagi.


Para prnggosip mulai menghibah.


"Dia tetap dingin dan angkuh. Tapi mempesona." Menangkup kedua pipinya.


"Kemarin dia telah mematahkan hatiku. Gadis itu sungguh beruntung." Yang gembul mulai deh gosip baru.


"Iya! Kira-kira siapa ya gadis itu?"


"Bukan karyawan di sini kah?"


"Bukan kayaknya. Tapi wajahnya kayak pernah lihat deh!" Mencoba mengingat


"Ah, sok tahu Kamu!"


"Beneran! Seperti pernah lihat gitu. Tapi dimana ya?" Berpikir lagi.


"Kalian hanya akan bergosip, apa kerja!" Ketua devisi berkacak pinggang, auto kelimpungan sendiri dan bubar teratur.


"Zan, jam berapa meeting kita dengan orang-orang dari Bravo?"


"Jam delapan Tuan! Semua berkasnya sudah siap." Ozan berjalan satu langkah, menjajarkan tubuhnya dengan Andhra. Menyadari hal itu, Andhra menghentikan langkahnya.


"Katakan!"


"Saya ingin meminta cuti untuk beberapa hari kedepan. Mungkin selama menemani Arini melahirkan."


"Sudah kau atur semuanya?" Ozan mengangguk.


"Kita selesaikan hari ini. Lalu beralih pada proyek di luar kota. Kuharap kau bisa mengunakan dengan baik waktu yang tersisa."


Ozan berjingkat senang. Itu artinya Andhra mengizinkan.


"Ada apa Tuan? Mengapa berhenti?"


Andhra menatap dari pantulan kaca lift, Rossi memasuki gedung perkantoran.


"Apakah ini mimpi?" Mengucek kedua matanya dengan punggung tangan.


Nah, benarkan, hanya halusinasi. Mengapa Andhra jadi kecewa karena merasa di bodoh oleh imajinasinya sendiri.


"Selamat pagi, Tuan. Ini pesanan, Anda!"

__ADS_1


Imajinasi ini, membuatku jadi gila.


To be Continued


__ADS_2