
E...ada yang lagi deketin aku
E.. e... Aku pura-pura tidak tahu
Pas banget lagunya. Headset menempel sempurna di telinga Rossi. Lagu wali band yang semula merdu kini lenyap terganti oleh nada getar jantung yang semakin kuat.
Ya Tuhan, makhluk ini. Kenapa tumben begini bertemu? Bukankah Cyra bilang jika kakaknya jarang sekali berada di sini. Batin Rossi.
Please, jangan tersenyum begitu. Aku tidak kuat.
"Hai!" Andhra melambaikan tangan. Dia menoleh ke kanan dan kiri. Tukang kebun pura-pura sibuk. Satpam juga pura-pura tidak melihat. Seolah memberi kesempatan pada Andhra untuk pedekate. Sedang gadis cantik ini, tetap diam dengan gaya bloon yang menggemaskan di mata Andhra.
"Macan!"
Andhra telah melepas headset dari telinga Rossi, hingga bulu kuduk Rossi meremang saat kulit tangan Andhra tanpa sengaja menyentuh lehernya.
"Heh!" Rossi sampai memegang dadanya sebab terkejut. "Ap- apa kau! Kau! ada di sini?"
Bagaimana bisa dia bertanya hal sekonyol itu. Nggak jelas banget kan. Harus berkata apa coba.
"Memangnya, aku harus dimana?" Andhra memasukkan satu tangan ke dalam saku celana. Ciri khas cowok idaman Rossi.
"Tidak! Maksudku? Aku...! Dah lah forgeted." Andhra menaikkan satu alisnya, Rossi menggigit bibir bawahnya sebab grogi.
"Hai, Tuan Batu. Ngapain kau ada disini?" Sudah kembali lagi jiwa tomboy tapi mati gaya jika di hadapan Andhra. "Bukankah..."
Iya! Bukankah dia jarang sekali pulang?
"Harusnya, aku sudah berada di rumahmu, bukan?" Sambar Andhra Kini Rossi yang menautkan kedua alisnya.
"Mau ngapain Dirumahku?"
Andhra malah sok misterius dengan memutari Rossi.
"Ngapain ya? Kamu kok kepo sih?" Mencolek dagu Rossi. Sang pemilik dagu tentu saja memberengut, langsung memegang dagunya yang baru saja di colek.
"Kau...!"
"Minta lagi." Andhra mengayunkan jarinya, menggantung di udara sebab Rossi menghindar.Andhra memutar jarinya menunjuk ke dadanya sendiri, lalu mencondongkan tubuhnya.
"Aku akan datang meminta dirimu pada calon mertuaku. Malam ini." Bisik Andhra tepat di telinga Rossi.
__ADS_1
Rossi berpikir jika itu hanya sebuah candaan semata. Banyak kan, para pria yang bilang seperti itu, tapi nyatanya tidak kunjung mereka datang. Bahkan terkesan takut menemui orang tua anak perempuan mereka.
"Hai Tuan! Yang pemberani. Silahkan saja. Aku tunggu kabar baiknya." Ucap Rossi tanpa curiga atau takut jika Andhra bersungguh-sungguh dengan ucapannya.
Rossi sudah kebal akan guyonan atau gombalan pemuda kurang kerjaan seperti itu. Tidak ada terlintas di pikirannya untuk memiliki hubungan serius dengan lawan jenis. Tapi Rossi sudah sering mendapatkan candaan seperti itu, baik ketika di desa, para pelanggan warung, sering mengajaknya bercanda begitu. Di restoran, dia juga kadang bercanda hal begituan.
"Jika kau membuktikannya malam ini, satu bulan lagi aku bakal jadi pengantin dong." Rossi tergelak menanggapi keseriusan Andhra. Masih saja berpikir jika pria dihadapannya ini sama saja dengan yang lain.
"Baiklah, kesepakatan telah di setujui."
Flashback off
"Kak! Kak Rossi!" Cyra mengguncang bahu gadis yang tengah sibuk melamun. Es krim di tangannya sudah hampir meleleh, cukup lama rupanya dia berpetualang dengan pikirannya sendiri.
"Iya Cyra. Ada apa?"
"Kak Rossi lagi mikirin siapa sih? Mikirin Bang Andhra ya!" Tebak Cyra.
"Nggak! Nggak! Mana ada begitu." Pipi Rossi bersemu merah.
Keduanya tengah duduk asyik sambil memakan es krim, rasa lumer bercampur segar dan manis, membuat rasa lelah mereka, menguar begitu saja.
"Benarkah?" Selidik Rossi. Ada rasa hangat ketika ada yang mengatakan bahwa orang yang kita sayang adalah orang baik. Kemudian, jadi ingat kembali kata-kata Andhra tadi sore. Mungkinkah itu sungguh-sungguh.
"Apa Abangmu suka bercanda?"
Cyra berpikir sejenak, bola matanya memutar ke kanan dan kiri, sok berpikir. "Sepertinya tidak!"
Deg
Apakah bicaranya tadi sore juga serius? Benarkah? Bagaimana jika dia beneran datang ke rumahku? Dan benar melakukan apa yang dia katakan? Apa harus aku lakukan?
"Kamu serius? Benarkah Si Batu, ah maaf! Maksudku, Abangmu Tuan Andhra tidak suka bercanda?"
"Kadang-kadang sih." Jawab Cyra sekenanya. Malah asyik memutar lidahnya menjilati es krim yang belepotan di sekeliling mulut. Seperti anak kecil, Cyra mengusap dengan jari, kemudian memasukkan ke dalam mulut. Bukannya bersih, malah adalagi noda es krim yang tersisa.
"Kamu ini, jadi gadis mbok ya anggun dikit gitu Cyra. Makannya dengan gaya yang elegan gitu lho." Rossi membantu Cyra mengusap es krim yang banyak menempel di pipi.
"Terima kasih." Cyra memeluk erat tubuh Rossi. "Ternyata enak ya punya kakak perempuan. Bisa jalan bareng, shopping bersama, dan kini nongkrong berdua. Kita memang pasangan saudari yang serasi." Ucap Cyra. Menggoyangkan tubuh Rossi saking bahagia hatinya.
"Saya juga sangat senang bisa memiliki adik perempuan yang bawel dan sederhana seperti dirimu. Kau juga adik yang paling unik."
__ADS_1
"Kenapa dibilang unik?" Cyra memberengut. Melepaskan pelukannya pada Rossi dalam sekejap.
"Hai, kenapa malah bibirnya dimonyongin gitu sih." Rossi terkekeh geli.
"Abisnya! Apa nggak ada kata lain yang lebih keren gitu, misalnya imut, comel atau cantik." Memegang pipi dengan gaya ala-ala chuby.
"Masak unik! Kayak aku ini sesuatu yang aneh atau barang langka."
"Ya bagus dong, itu artinya, nilai kamu lebih mahal, biasanya yang langka kan harganya fantastis." Rossi mengerling menggoda, menoel pipi Cyra dengan lembut. Cyra semakin mengerucutkan bibir.
"Kamu beda daripada yang lain dan tidak ada persamaan dengan yang lain. Kamu memiliki karakter kamu tersendiri. Kamu juga tidak mudah terpengaruh oleh hal-hal tidak berguna di luar sana. Makannya kakak bilang kamu unik." Ganti mencubit hidung mancung Cyra.
"Unik? Emmh, baiklah! Aku terima." Keduanya berpelukan kembali. "Setelah ini, kita akan kemana lagi?" Tanya Cyra. Es krim terakhir telah habis.
"Bagaimana kalau kita pergi jalan-jalan keliling kota? Mungkin juga akan mengesankan jika selfi berdua di taman." Rossi memberi ide.
"Ayok! Let's go!"
"Hah! Semangat sekali." Gurau Rossi.
"Harus dong!" Cyra memungut tas belanja yang tadi tergeletak di kursi sampingnya.
Saat mereka berdua telah sampai di taman kota. Keduanya memilih duduk di bangku sambil sesekali mengabadikan kebersamaan mereka.
"Jangan gini dong Kak, aku terlihat jelek tahu. Lihat tuh tembemnya keliatan banget." Protes Cyra saat Rossi dengan jailnya mengedit hasil jepretan.
"Ini baru imut tahu. Kamu kayak anak koala."
"Nggak mau, aku nggak segendut itu." teriak Cyra. Mencoba merampas ponsel milik Rossi. Keduanya saling berebut, Rossi mempertahankan miliknya, berlari mengitari bangku taman, sesekali menjulurkan lidahnya guna mengejek Cyra yang tak kunjung bisa meraih ponsel Rossi. "Kakak, nanti kalau aku terlihat gendut gitu, bakalan kena bully sama Bang Candra. Kakak! Siniiin nggak ponselnya?" Pinta Cyra, mengulurkan tangannya.
"Ambil sendiri aja kalau bisa." Semangat sekali mereka ini. Sampai bangku pusing di buatnya.
"Kakak! Pinjami siniin ponselnya." Teriak Cyra ke sekian kalinya.
Keduanya tengah asyik main kejar-kejaran hingga tanpa sadar, Cyra menabrak seseorang dan hampir saja jatuh.
"Hati-hati."
To be Continued
Kira-kira itu siapa ya, yang ditabrak sama Cyra?
__ADS_1