
Malam semakin larut, bak hati ini yang melamun kerinduan. Hadirmu mengikat erat sempurna jiwaku terpenjara cinta lama.
Aku tahu, setiap pertemuan adalah awal dari perpisahan. Tapi, aku juga tahu, jika takdir membawa kita bertemu, maka takdir pun menghendaki kita bersatu.
🍂 Andhra 🍂🍂🍂
Perjalanan menuju arah rumah terasa lebih lama, jarak tempuh yang harusnya lebih dekat, kali ini terasa lambat, meskipun tidak banyak kendaraan di jalan. Mungkinkah sebab kedua insan yang duduk bersebelahan memilih bungkam satu dengan yang lain.
"Kang! Emmh bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?" Pada akhirnya, Rossi membuka suara. Diam, tak ada jawaban. Tapi bukan Rossi namanya jika berhenti saat kepo telah memenuhi isi kepala.
Dia hanya diam saja, Eh, tunggu! Bukankah diam maknanya boleh?" Batin Rossi.
"Kang, a...!"
"Kenapa kau mengiyakan ajakan keluargaku tadi?" Serobot Andhra, tanpa menoleh ke arah Rossi. Cukup canggung sebenarnya, Andhra terlihat marah kepadanya.
Apakah dia tengah protes padaku? Ada bagusnya juga sih, biar dia menjauh dariku!" Batin Rossi.
"Tidak sopan, menyela pembicaraan orang lain." Ketus Rossi. Ada banyak hal yang ingin Rossi tanyakan. Mengapa pria di sampingnya ini tiba-tiba berubah masam saat membahas pantai.
Sebelumnya, Andhra begitu antusias mengajak Rossi pulang, bahkan Andhra begitu bahagia ketika sampai di depan rumah.
Hening
"Kenapa memangnya? Apakah kau keberatan?" Andhra hanya mengambil nafas dalam-dalam.
Si Batu ini, kenapa kau selalu saja membuatku penasaran?
"Kau hanya diam saja, keluargamu juga sangat bersemangat, terlebih Cyra. Aku tidak tega mematahkan harapannya."
Apakah kau tidak ingin pergi? Pantai adalah tempat yang sangat indah tahu. Terlebih jika menjelang senja. Senja bisa membawa kita untuk melukis kenangan yang mengesankan. Bahkan kita bisa bermain dan bersuka ria bersama."
Rossi mengutuk bibirnya yang malah mengatakan hal itu.
Chiiit
Mobil berhenti seketika
"Kita!" Cengo Andhra.
Keduanya saling bersitatap. "Maksudku ... Semua orang! Iya, semua orang!" Elak Rossi mulai salah tingkah. Malunya tidak ketulungan saat bibir ini mengatakan hal yang seharusnya hanya terucap di dalam hati.
Tatapan Andhra masih sama. Rossi bahkan sampai di buat tidak berdaya. Tatapan itu lembut namun menusuk sampai ke jantung. Perlahan tapi pasti, wajah Andhra semakin mendekat ke arahnya.
Katakanlah sesuatu wahai pria batu, jangan menatapku begitu? Batin Rossi.
"Kang!" Menepuk bahu Andhra dengan lembut. Bukannya menjauh, Andhra malah memegang tangan Rossi dan memegangnya lembut.
__ADS_1
Seketika Andhra memeluk erat tubuh Rossi.
"Katakan padaku! Bagian mana yang indah dari pantai." Ucap Andhra, nada suaranya sudah berubah. Bola mata yang biasanya tegas itupun berubah sendu. Andhra segera memposisikan tubuhnya ke tempat semula. Kini keduanya terpaku dengan perasaan campur aduk.
"Aku akan segera mengantarkan kau pulang."
Diam lagi selama di perjalanan, seolah dua insan yang tidak saling mengenal. Dan parahnya lagi, Rossi membenci keadaan ini. Rossi merasa tidak rela jika Andhra mendiamkan dirinya.
Buang pikiranmu itu Ros.
"Dimana rumahmu?"
Akhirnya dia bicara lagi.
"Jalan mawar nomer tujuh." Ucap Rossi.
Hening, hingga sampai di depan rumah Paman
"Silahkan turun!" Andhra dengan sigap membukakan pintu untuk Rossi, menghalangi kepala Rossi dengan telapak tangan, agar tidak terkena atap mobil. "Selamat malam, semoga mimpi indah." Andhra mengusap lembut puncak kepala Rossi.
"Kang!" Keduanya diam di tempat.
"Ya!"
Apakah kang Andhra marah kepadaku? Sayangnya, kata itu hanya tersimpan rapat dalam hati.
"Terima kasih!" Tidak ada senyuman, hanya lambaian tangan, Andhra langsung berlalu.
"Siapa tuh?"
"Astaga!" Rossi memegang dada, jantungnya hampir saja copot.
"Siapa, tuh? Cowok mu?" Dion menatap jauh arah mobil itu melesat.
"Kepo!" Rossi ngacir memasuki halaman.
"Hai, tunggu! Kamu di cari Ibu dari tadi. Kamu pasti kabur dari rumah ya?" Selidik Dion membuntuti Rossi masuk ke dalam rumah.
"Ibuuuu, ini anak gadismu sudah pulang! Diantar sama cowok tajir lagi!" Teriak Dion yang langsung mendapat pelototan dari Rossi.
"Dion, kebiasaan deh, suka teriak dalam rumah!" Omel Ijah. "Rossi, kamu kemana saja. Bibi takut kalau kamu pulang ke kos-kosan. Kamu itu belum sembuh betul, takutnya nanti ada apa-apa terus nggak ada yang jagain." Ijah menyambut Rossi, menuntunnya duduk di sofa.
"Kamu tidak apa-apa kan, Nak? Kemana saja kamu? Harusnya kan masih istirahat." Ijah membelai merapikan rambut Rossi ke belakang telinga.
"Rossi sudah baikan kok Bi! Rossi hanya ingin cari angin saja tadi. Eh tahunya ketemu sama Andhra, dia bawa Rossi ke rumahnya."
"Owh, jadi itu namanya Andhra!" Goda Dion. "Cukup tampan! Tapi masih tampan akulah pastinya." Dion ih, parah abis, narsisnya.
__ADS_1
"Hussh! Jaga mulut kamu itu. Dia itu anaknya Tuan Abhimanyu." Mata Dion membulat sempurna.
"Benarkah itu? Ya Tuhan. Hai, pelet apa yang kau gunakan sampai membuat Presdir muda itu bertekuk lutut padamu, Saudariku?" Dion merapatkan tubuhnya ke sofa Rossi.
"Minggir sana,ih! Sesak tahu!" Mendorong tubuh Dion yang tidak bergerak sama sekali. "Bukankah kabarnya tuh orang dingin banget ya! Terkenal sadis pula."
Pasti nih anak lagi mikir macam-macam. Batin Rossi.
"Apa dia berbuat sesuatu padamu? Atau kau berbuat kesalahan dan dia berlaku kurang baik padamu."
Dion ini, otaknya dimana sih? Tadinya menggoda. Sekarang panik.
"Dia yang menolong Rossi saat pingsan tadi siang." Ungkap Ijah.
"Wah, sepupuku ini memang jos, baru satu kali bertemu, sudah merepotkan tuh Bos sadis." Dion menepuk punggung Rossi.
"Kami sudah bertemu beberapa kali lagi. Hanya saja, aku tidak tahu jika Presdir di kantor AGC adalah dia." Ucap Rossi santai. Tanpa peduli bagaimana reaksi dua orang di hadapannya kini tengah melongo kayak sapi ompong.
"Kamu beneran? Itu-itu barusan ucapanmu kenyataan? Bukan prang kan?" Dion memastikan. Rossi memutar bola mata malas.
"Iya! Bahkan pekan depan, saya akan piknik bareng keluarga Abhimanyu ke pantai." Kedua orang itu masih dalam mode tercengang.
"Kau-kau serius dengan ucapanmu?" Ijah memastikan. Rossi mengangguk.
"Sudah ah, aku ngantuk mau tidur saja." Rossi segera mencium pipi Bu Ijah secepat kilat. Bi Ijah yang juga kepo itupun harus merelakan keponakannya pergi.
"Bu, apa itu benar?" Ijah menggidikkan bahu acuh.
Andhra mengendarai mobil lebih cepat dari sebelumnya, hingga melewati sebuah rumah sakit. Andhra hampir saja melewatinya sebelum mengingat sesuatu.
Apa aku mampir saja ya? Pikir Andhra.
Jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Tidak ada salahnya bukan?
Andhra memasuki rumah sakit, dia memutuskan untuk tidak bertanya pada resepsionis. Andhra langsung mengambil ponselnya dan menghubungi Ozan.
Alamat kamar di dapatkan. Saatnya menuju ruangan yang dimaksud.
"Sus, saya mohon! Bisakah istri saya di operasi terlebih dahulu? Saya akan berusaha untuk melunasinya nanti sus."
"Tidak bisa, Pak! Kecuali, bapak memiliki BPJS kesehatan pemerintah. Itu sudah menjadi peraturan rumah sakit, bapak harus membayar uang muka."
"Tapi istri saya sedang kritis di dalam sus, bisakah dia mendapatkan pertolongan terlebih dahulu?"
"Maaf, Pak! Kami hanya menjalankan perintah."
Seorang pria nampak frustasi. Wajahnya nampak kusut tidak terurus. Pakaiannya juga lusuh.
__ADS_1
"Perintah seperti apa itu? Ada seseorang tengah meregang nyawa, kalian masih mementingkan uang? Saya akan lunasi semua tagihan rumah sakitnya. Lakukan yang terbaik buat istri bapak ini. Jika ada kesalahan sedikit saja, jangan tanya lagi bagaimana saya bisa meratakan rumah sakit ini dengan rata dengan tanah." Sebuah kartu card mendarat sempurna di meja administrasi.
To be Continued....