
"Saya ... Saya!"
Belum selesai Andhra menjawab, sorot lampu sebuah mobil menembus hingga ke dalam rumah. Sepertinya Pak Soleh tengah kedatangan tamu lain.
"Assalamualaikum, Pak Soleh!" Suara seorang gadis begitu terdengar familiar di telinga Andhra.
"Kauuu...!"
Seorang gadis cantik dengan memakai kemeja terbuka, mengekspos kaos ketat berwarna gelap yang dia gunakan sebagai dalaman, celana jeans pensil panjang dengan beberapa robekan di bagian paha dan lutut, earphone yang menempel sempurna di telinga membuat rambut yang indah tergerai itu semakin menawan. Jangan lupakan juga mulutnya yang tidak berhenti mengunyah.
Wajahnya berubah tegang saat melihat pria yang mengusik kehidupannya kini berada di tempat yang tak pernah dia duga sebelumnya. Hatinya bertanya-tanya "bagaimana bisa pria batu ini berada di sini?"
Oke, saatnya menjalankan peran. Pura-pura saja bersikap biasa Rossi.
Kancil ini, apakah dia akan memimpin penyerbuan preman di pasar. Gayanya sungguh membuat orang gemas. Batin Andhra.
"Kau... bagaimana bisa kau berada di sini?" Gadis itu menunjuk ke arah Andhra seolah degup jantungnya normal-normal saja. Perlahan tapi pasti, dia masuk kemudian bersalaman dengan Pak Soleh. Andhra bergeming, begitupun dengan Ozan.
"Kau bukannya ...!" Ozan menggantung ucapannya sebab ingin tahu reaksi Andhra.
"Rossi, dia calon istriku." Pandangan Andhra tidak pernah lepas dari Rossi. Dengan sangat gugup, Rossi tersenyum kikuk. Badannya sengaja dia gerakkan agar bisa menutupi kegugupannya. Hampir lupa jika Andhra adalah pria yang meminangnya beberapa hari lalu.
"Sudah tahu!"
"Ngapain nanya?"
Andhra memukul gemas kepala Ozan.
"Kakak ipar ngapain kemari? Ada keperluan apa?"
Dasar Ozan, bisakah dia tidak sok akrab begitu.
"A ... Aku...!"
Rossi sebal sendiri, kenapa mulutnya tidak bisa diajak kompromi, jadi gugup dan gagap.
"Nak Rossi ini adalah pelanggan setia sayur yang saya tanam. Dia kemari untuk mengambil pesanan sayur." Dua jempol Rossi berikan dengan tulus kepada Pak Soleh disertai senyum indah nan menawan.
"Kalian sudah saling mengenalkah?"
"Sudah, Pak! Mereka berdua adalah atasan di kantor sebelah restoran paman." Kali ini Rossi bisa menjawab.
Rossi, kau harus terlihat tenang dan biasa-biasa saja. Jangan sampai kau terlihat konyol di hadapannya. Batin Rossi.
Andhra berdiri dan mendekati Rossi.
__ADS_1
"Dengan siapa kau kemari? Hari telah malam, dan jalanan di daerah ini lumayan sepi, bagaimana bisa kau seberani itu?" cerca Andhra.
"Aku...aku ...!"
Cih, sampai segitunya dia mengkhawatirkan kakak ipar! Batin Ozan.
"Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh!" Seorang pria baru saja datang, memutus ucapan Rossi. Dia segera mengulurkan tangannya guna bersalaman dengan pemilik rumah, setelah itu, berdiri tepat di sisi Rossi.
"Siapa dia?" Andhra memisahkan jarak antara Rossi dan pria yang baru saja datang, dengan cara memposisikan dirinya ditengah-tengah keduanya. Menatap tajam penuh gairah permusuhan. Ozan sampai menutup mulutnya sebab geli akan sikap Andhra yang sepertinya berlebihan.
"Dasar bucin." Gumam Ozan membuang muka. Andhra pura-pura tidak mendengar.
"Hallo, namaku Dion!" Yang ditanya Rossi, yang jawab malah Dion, membuat kecemburuan Andhra semakin meningkat saja.
"Tadi nanya, pas dijawab kenapa malah jelek gitu mukanya." Sontak saja mata Andhra membulat sempurna. Apakah Rossi tidak mengerti jika Andhra cemburu buta. Pakai acara ngeledek lagi.
Dion menarik tangannya kembali setelah sadar jika diabaikan oleh Andhra. "Nggak mau kenalan ya." Dion menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Dia sepupu saya." Rossi seakan mengerti kegelisahan Andhra memberi penjelasan.
"Saya Andhra!"
Kini Andhra yang gantian mengulurkan tangannya, tanpa ragu lagi Dion menyambutnya antusias.
Pelit sekali senyumnya, padahal lesung pipi itu terlihat sangat manis. Batin Rossi sambil tepuk jidat sendiri.
~
~
~
Mella kini tengah berada di depan tv, duduk santai sambil ngemil cantik.
"Waoooow, hidupmu sangat normal sekarang ya?" Sebuah suara membuat Mella berjengit kaget.
Wanita dengan kacamata lebar berwarna hitam, adalah orang yang paling dia benci. Orang yang telah membuat hidupnya bagaikan di neraka.
Mama. Kata batinnya. Mella tahu benar, jika orang yang memiliki kunci rumah itu, hanya dia dan mamanya.
Meski Hasma telah melakukan banyak operasi untuk mengelabuhi banyak orang, tapi tidak dengan Mella. Sejak kecil, Mella tahu segalanya tentang Hasma. Serapi apapun Hasma menyamar, Mella bisa langsung mengenalnya. Mella tahu benar, tentang tato berbentuk mawar milik Hasma, dibagian punggung kanan yang digunakan sebagai penyamaran bekas luka.
Begitu banyak kejahatan yang dilakukan oleh Hasma, bahkan pemerasan yang kerap kali Hasma lakukan kepada Andhra lewat dirinya. Sayangnya, Mella tidak bisa membongkar kejahatan ibunya itu. Sebab seseorang yang paling dia sayangi berada di tangan wanita bejat itu.
"Kenapa kau bisa ada disini?"
__ADS_1
"Apa kau lupa? Siapa pemilik rumah ini sebenarnya." Wanita itu duduk dengan cara yang angkuh. Mella menatap penuh kebencian.
"Kenapa kau menatapku begitu? Apa kau lupa, kau masih bernafas sampai sekarang, adalah karena belas kasih dariku." Wanita yang memakai dress sepaha itu menekan kuat rahang Mella.
"Lepaskan!" Mella berontak, Hasma melepaskannya dengan senyum penuh kejahatan.
"Ingin memberontak hemmh?" Hasma memutari tubuh Mella. "Sekarang, katakan kepadaku siapa calon istri Andhra?"
"Aku tidak tahu!" Mella membuang wajahnya sembarang arah. Wanita licik itu memutar tubuhnya, menatap Mella dengan sangat marah. Dia menarik lengan bagian atas Mella dengan penuh tenaga.
"Kau lupa, aku bisa berbuat apa saja pada ayahmu?" Mella membelalakkan matanya seketika. Sebelumnya dia sudah bisa menebak, pasti hilangnya Rangga adalah ulah Hasma.
"Kau wanita yang sangat jahat. Aku benci padamu!" teriak Mella.
"Aku tidak peduli." Hasma kini mendudukkan tubuhnya di sofa. "Ayahmu akan tetap aman bersamaku, jika kau menurut."
Mella mengepalkan tangannya kuat. Jika dia menuruti keinginan Hasma, dia harus ikut andil dalam perbuatan jahat Hasma, tapi jika menolak, Mella tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada ayahnya.
"Ayah tidak pernah bersalah padamu, kenapa kau setega itu padanya?" Mella ingin sekali mendengar alasan wanita jahat itu, meski sudah bisa menebak, tentulah jawabannya sangat menyakitkan.
"Gadis bodoh sepertimu mana ngerti arti kehidupan. Dia yang terlalu ikut campur akan dibinasakan."
"Kau ...!"
Mella enggan lagi mengeluarkan kata-kata. Dadanya terasa sangat sesak. Seperti inikah ibu yang telah melahirkan dirinya. Dan kenapa dia harus lahir dari wanita jahat seperti Hasma.
"Balas Budi lah pada ibumu ini. Jadilah anak yang berguna. Bawa calon istri Andhra kehadapan ku. Maka, kau akan mendapatkan informasi tentang ayahmu yang tengah sekarat itu." Mella mengepalkan tangannya lebih kuat. Berdosakah bila dia membenci ibunya ini? Wanita iblis yang menjelma menjadi manusia.
"Kenapa kau masih saja melakukan hal ini? Apa salah Kak Andhra padamu?" Mella menahan air mata agar tidak menetes. Dia tidak boleh menangis untuk orang tidak berperikemanusiaan.
"Karena dia sudah menjadi musuhku sejak lahir. Karena dia, aku tidak bisa menikahi Tuan Muda Fadal Ghassani. Dan setelah itu, karena dia juga aku kehilangan kesempatan untuk berkuasa. Dan karena dia juga telah membangkitkan gairahku kembali. Wajahnya sangat mirip dengan Fadal Ghassani. Tapi, aku beruntung. Sebab kehadiran dirimu, ternyata cukup berguna. Tidak rugi aku membiarkanmu hidup."
Mella mengerutkan keningnya, mendadak Mella seakan meragukan status Hasma sebagai ibu kandungnya. Setega itukah ibu kandung terhadap anaknya?
'membiarkan hidup?' ulang Mella dalam hati.
Pikiran Mella tentang ibunya bertambah buruk.
"Dasar wanita jahat! Kau bahkan tega menyakiti orang yang sangat mencintai dirimu." Mella ingat akan Rangga yang selalu mencintai Hasma dengan tulus, bahkan menyanyangi Mella layaknya anak sendiri.
"Tahu apa kau soal itu! Bawa calon istri Andhra kepadaku. Maka, ayahmu akan aku bebaskan." Hasma bangkit dari duduknya, kemudian pergi tanpa permisi.
Seperti yang selalu terjadi, Mella luruh tak berdaya dengan derai air mata.
To be Continued....
__ADS_1