Ngumbara Cinta

Ngumbara Cinta
Part 16


__ADS_3

"Aku berharap bisa bertemu dengannya suatu saat nanti."


"Hemmh, yah aku doakan yang terbaik untukmu. Namun tidak ada salahnya kan? Mencoba dekat dengan Kak Andhra." Rossi mengerjapkan mata berulang kali. Andhra memang menawan dan cukup menarik hati.


"Akan aku pikirkan nanti."


"Jangan hanya dipikirkan, tapi dicoba."


"Iya ya!"


"Sudah terlalu lama kau tidak berjumpa dengan orang itu Ros, mungkin saja dia tidak ingat dengan kenangan itu. Bahkan bisa jadi dia sudah memiliki istri sekarang."


Rossi menghembuskan nafasnya, terasa berat memang. Bahkan kadang banyak kecewa yang melanda dan juga praduga yang sering bermunculan. Mungkinkah orang yang dicarinya juga memiliki perasaan yang sama? Ataukah sudah melupakan dirinya dan bahkan sudah berkeluarga? Entahlah.


"Aku pun tidak mengerti dengan perasaan ini. Banyak kucoba untuk membuka hati Ros, jangan kamu pikir aku juga tidak pernah berusaha."


Dara merasa bersalah akan ucapannya.


"Maaf! Tapi kamu tidak pernah mencoba dengan menjalani hubungan lawan jenis lebih serius kau hanya mencoba untuk berinteraksi saja tanpa ingin lebih serius. Siapa tahu dengan cara itu kau bisa melupakan kenangan bersama cinta masa kecilmu."


Rossi terdiam beberapa lama hingga datanglah Farid bersama Andhra. 


"Kita harus segera pulang sebelum terlalu siang. Kasihan Rafka." Dara mengangguk setuju. Farid mengambil Rafka dalam gendongannya. Dara membuntuti dibelakang.


"Pikirkan baik-baik. Bukankah Kak Andhra pria yang tampan dan menawan. Dia lebih baik daripada pangeran hayalan mu itu." Dara membisikkan kata-kata itu sebelum benar-benar pergi.


"Hemmh!" Sahut Rossi, sok cuek. Padahal bola matanya melirik ke arah Andhra.


Memang tampan. Eh apaan sih. Sadar Rossi, jangan terhasut oleh omongannya Dara.


Dan gayanya itu, owh tidak! Mengapa dia harus memasukkan satu tangan begitu? Makin terlihat kan kerennya.


"Baiklah, kita pulang sekarang! Kasihan Rafka nanti kepanasan."


🅰Andhra

__ADS_1


Segar rasanya jiwa ini, setelah bertahun-tahun lamanya hanya bertukar sapa lewat dunia maya. Dengan padatnya jadwal dan kesibukan yang banyak menguras pikiran dan tenaga. Akhirnya aku memiliki kesempatan untuk menengok pembangunan villa di dekat rumah Kakek Suluh. Dua villa untuk diriku dan Farid.


Begitu puas dengan hasil kinerja Farid. Setelah lama berkeliling, akupun berniat masuk ke dalam rumah lama Kakek Suluh. Rumah sederhana dengan atap rembulung dan alas kayu papan yang dibuat seperti panggung rendah. Hanya ada dua anak tangga yang harus dilalui untuk bisa mencapai lantai.


Disana ada Dara dan temannya. Gadis yang sebenarnya unik menurutku. Perang dan lucu. Aku tak menghiraukan mereka. Kumasukkan tanganku satu ke dalam saku. Kebiasaan yang sulit untuk aku hilangkan.


"Kita harus segera pulang sebelum terlalu siang. Kasihan Rafka." Suara Farid menghawatirkan anaknya. Dia sudah sedewasa itu sekarang. Hilang sudah Farid yang dahulu yang menangisi kepergian untuk merantau ke kota. Aku tersenyum tipis melihatnya. Semoga dia selalu bahagia.


"Baiklah, kita pulang sekarang! Kasihan Rafka nanti kepanasan."


Mereka berjalan melewati diriku yang sudah membalikkan badan sebab ingin masuk ke kamar Kakek Suluh.


"Kami balik dulu kak! Selamat bernostalgia!" Aku membalikkan badan melihat Farid pergi meninggalkan diriku. Aku ingat betul lima belas tahun lalu.


Kami selalu bersama-sama. Kuusap bingkai gambar kami bertiga.


"Aku tidak menyangka jika Anda lah Kaka dari kepala desa yang bijaksana seperti Kak Farid!"


Gadis ini kenapa masih berada di sini? Gadis unik yang selalu terlihat cerdas. Dasar kancil.


"Apa ini foto masa kecilmu? Dekil sekali." Dia menatap lamat-lamat foto kami yang tengah berkebun. Saat itu tubuh kami penuh dengan tanah dan kotoran jelas saja aku ingat. Kami menanam melon. Keadaan tanah yang basah sehabis hujan membuat wajah juga seluruh tubuh kotor. Namun dasar Farid yang ingin mengabadikan momen indah itu, sengaja pulang dan meminjam kamera tetangga. Kami pun berfoto ria dalam keadaan kotor.


"Tapi, seperti..."


"Biarkan saja. Yang penting sekarang yang punya foto ganteng banget!" Ucapku karena merasa gadis ini mulutnya nggak punya filter.


"Yeaaay pede banget! Ganteng sih!" Tuhkan akhirnya dia mengakui. "Kalau dilihat dari lubang sedotan!" Gadis itu tertawa meledek, sepertinya dia begitu suka meledek orang lain. Aku tidak menanggapi, pergi begitu saja sebab ingat pada salah satu tempat yang sedari dulu paling aku sukai.


Pinggir sungai.


Tempat ternyaman yang selalu membuatku bisa melupakan segalanya. Kematian ibu sering terbayang dalam ingatan. Hidupku pun menjadi suram setelahnya. Namun, kakek Suluh memberikan segalanya kepadaku. Arti hidup yang sesungguhnya.


"Marah dan dendam itu karna hati terlalu meninggikan harga diri . Padahal sebenarnya tuhan menciptakan manusia dalam keadaan lemah." Ucap Kakek saat itu. Terbayang olehku wajah teduh yang mampu menenangkan hati saat lepas kendali sebab marah akan takdir yang buruk menimpa diriku.


"Aku hanya ingin terlihat kuat, meski sebenarnya rapuh. Ibuku tiada dalam keadaan yang tidak seharusnya. Jiwaku terguncang dan dadaku sakit berkepanjangan. Adakah yang mengerti itu?"

__ADS_1


"Tidak!"


Masih sangat tenang, sorot netra tua itu menghipnotis jiwaku seakan mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja.


Hening.


"Tapi Tuhan menumbuhkan obat dalam diri setiap manusia. Ikhtiar, sabar, iklas."


Kakek itu pergi meninggalkan pemuda yang masih sibuk dengan pemikirannya. Yaitu diriku.


"Hai, aku bicara padamu sejak tadi. Kau tak menggubrisnya! Beginikah caramu bersikap pada seorang wanita? Pantas saja kau jomblo sampai setua ini!" Lemparan kerikil kecil membuyarkan lamunan indahku. Masa mengenang kakek Suluh hilang seketika. Kulihat batu kecil yang mendarat sempurna di perutku. Kini aku tengah berbaring di atas bebatuan besar di pinggir sungai. Ini dulunya adalah tempat sholat kakek Suluh saat shubuh tiba. Ya! Rumah ini memang sangat dekat dengan sungai. Pegunungan yang indah dan sungai yang jernih. Sungguh tempat terbaik untuk melepas penat bukan.


"Masih saja diam. Apa kau tidak bisa menjawab dengan kata-kata." Gadis ini lagi. Tunggu! Dia ada disini? Berarti dia mengikutiku sedari tadi.


"Kau membuntuti ku?" Tak tahan juga aku menahan rasa penasaran itu.


"Bisa nggak sih, kalau diajak bicara itu fokus. Jawab yang benar. Dari sana sampai di sini aku bertanya banyak hal. Kau hanya diam saja dan bahkan seenak jidat bobok manis mengabaikan mulutku yang hampir saja berbusa karena sikap pendiammu itu."


Lihatlah, kancil itu berkacak pinggang seperti preman pasar, tapi mimik wajahnya begitu imut dan sedap dipandang mata.


"Sudah marah-marahnya." Kulihat nafasnya naik turun tak beraturan. Dia malah menjatuhkan tubuhnya di batu yang lain tak jauh dariku. Dan jangan tanyakan posisiku yang sangat wenak rebahan sambil menengadah langit. Mendengar gemericik air disela bebatuan.


"Kau bertanya apa tadi?" Tanyaku beberapa saat setelah gadis itu nampak tenang.


"Tidak tanya apapun! Jangan bicara. Aku marah padamu saat ini!"


Benarkah dia gadis yang dewasa? Kekanakan sekali.


"Hai, kau meledekku. Jangan tertawa. Dari tadi kau selalu membuatku jengkel. Aku tanya apa pekerjaanmu, terus apa hubunganmu yang sebenarnya dengan bapak kepala desa. Dan bagaimana bisa kalian dipertemukan. Sampai aku begitu penasaran dengan kakek Suluh yang melegenda. Juga tentang seorang anak yang hanyut dan dianggap sebagai bêrkah di desa ini."


"Sepertinya kau begitu senang mengorek informasi tentang diriku." Kulirik gadis itu nampak mencak-mencak. Reaksi yang unik. Dasar kancil.


"Maaf ya! Tidak akan aku bertanya lagi." Tak kuasa aku menahan tawa. Dia begitu lucu. Kancil yang manis.


TBC

__ADS_1


__ADS_2