Ngumbara Cinta

Ngumbara Cinta
Part 77


__ADS_3

Pagi yang indah.


"Pagi ini, aku melihat matahari jatuh di pelataran AGC," seloroh Ozan sambil pura-pura menatap langit berwarna biru cerah. Andhra menghentikan langkahnya, sejenak menoleh ke arah Ozan lalu melangkah lagi dan meninggalkan Ozan dengan garis bibir melengkung tipis.


"Bagaimana pikniknya kemarin? Apakah mengibur. Apa saja yang kau lakukan bersamanya?" Ozan mengiringi langkah lebar Andhra dengan sedikit tergesa-gesa. "Hai, kau ini! Bisakah kau sedikit saja bocorkan rahasiamu?" Andhra kini berhenti, memandang jauh ke arah restoran. Pun demikian diikuti oleh Ozan.


"Owh, bidadari pagi!" Celetuk Ozan sambil mengedipkan mata sebelah guna menggoda Andhra yang sempat menoleh padanya. Andhra hanya menggeleng sambil tersenyum tipis, entah apa maksudnya.


"Hai...!" teriak Ozan sambil melambaikan tangan dengan konyolnya, bahkan beberapa karyawan yang lewat sampai terhenti karena ulah absurd Ozan. Rossi yang tengah membawa kardus disana pun menoleh. Sejatinya dia sudah tahu jika diperhatikan oleh Andhra,dan ketika Ozan nekat untuk menyapa, Rossi membalas lambaian tangan Ozan. Tanpa sengaja Andhra juga melakukan hal yang sama, sungguh pemandangan langka.


"Bisa konyol juga, Luh Bos!" Ejek Ozan saat memergoki aksi Bosnya. Dan di sana,Rossi sudah tak terlihat batang hidungnya. Andhra masih menggantungkan tangan di udara itu pun berdecih. Ozan semakin tertawa lebar.


"Jadi,kapan pernikahannya?" Kini mereka sudah berada di dalam lift. "Cepatlah diselenggarakan Bos pumpung calon mempelai wanita belum berubah pikiran."


Di restoran Rossi mengawali hatinya dengan senyum penuh ceria.


"Cieee....yang baru saja liburan sama sang pacar." Delon mengagetkan Rossi dengan menepuk bahu. Sejak di halaman, pria itu mengamati gerak-gerik saudaranya. "Pakai lambai tangan segala." Menirukan adegan Rossi saat di halaman tadi, bahkan mulutnya sengaja menirukan Rossi dengan gaya dibuat-buat.


"Berani, Luh ya!" Tukas Rossi setengah gemas dan malu. Dia memilih memindahkan sayuran yang dibawa ke dalam pencucian.


"Jadi, bagaimana kemarin?"


"Bagaimana apanya?" Rossi pura-pura tidak mengerti.


"Liburannya!" Dion duduk di pinggir pencucian.


"Siapa yang liburan, hanya piknik doang!" ungkap Rossi sambil terus mencuci buah dan sayur.


"Sama saja dong, dilakukannya pas hari libur."


"Terserah kau lah!" Rossi memungut sayuran terakhir


"Sudah ngapain saja dengan Bos Besar Andhra?" tanya Dipn, tubuhnya sedikit condong ke arah Rossi, menunjukkan bahwa dia bertanya serius.


"Menurutmu?" Rossi memutar bola matanya jengah.


"Ya! Kalian kan pacaran resmi tuh, sudah pernah ciuman apa belum?" Rossi mendelik sebal dengan pertanyaan unfaedah Dion. Tapi pria itu sepertinya belum ada keinginan untuk menutup mulut.


"Hanya tanya aja. Lagian kan banyak tuh yang pacaran ilegal saja sampai punya tabungan. Apa kamu nggak pengen kayak gitu? Terlebih ya, pacaran Kalian itu resmi."


Kali ini Rossi mengerutkan keningnya tak mengerti. "PacaranĀ  punya tabungan. Maksudmu apa?"


"Ya... Itu. Pacaran tapi belum dapat restu dari orang tua."

__ADS_1


"Kalau tabungannya dari pacar ilegal apa?"


"Ya anak!" Kali ini Rossi melongo oleh jawaban Dion.


"Belum tentu juga setiap orang pacaran melakukan itu, Dion!" Rossi membawa sayur ke tempat penirisan. Mengambil lagi sayur yang baru. Dion masih setia duduk tanpa ingin membantu.


"Berarti kamu belum lakuin itu dong. Yah, payah! Masak kalah sama anak SMA." Seloroh Dion yang langsung ditatap curiga oleh Rossi.


"Diooon! Jangan bilang jika kamu pernah lakuin itu ya?" Rossi menodongkan sayuran ke arah Dion."


"Habisnya enak, nagihin sih!" Dion menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Jadi! Kamu sudah pernah begituan?"


Yang ditanya nampak gelagapan.


"Heh, nggak sampai jauh kesana kak, aku hanya ciuman saja. Kalaupun terlanjur juga paling *****-***** dikit!"


"Diooon!" Sayur itu pun melayang tepat di kepala Dion.


"Ampun, Kak!"


Lift terbuka sempurna.


"Persiapkan saja semuanya bulan depan." Lift membuka sempurna, Ozan masih terpaku menatap punggung temannya, hampir saja lift menutup kembali setelah Ozan tersadar.


"Aku tidak mau ambil resiko, Zan!" potong Andhra. "Aku tidak ingin kehilangan Rossi." Andhra berhenti sejenak, dia luruskan pandangan ke arah Ozan.


"Kau tidak usah khawatir, semua akan baik-baik saja." hibur Ozan.


"Kuharap begitu!"


"Pasti! Aku akan menghandle semuanya. Kau hanya akan menunggu kabar baiknya dan kau tinggal menikmati hari bahagiamu bersama kakak ipar."


Andhra tidak bicara apapun lagi. Dia cukup menepuk bahu Ozan sebagai tanda setuju.


Kini kedua petinggi gedung itupun telah sampai di depan ruangan Andhra. Mella dan Lala tengah menunggu sejak tiga puluh menit yang lalu. Bersama dua wanita ini ada satu orang pria.


"Pak, ini adalah OB baru yang bekerja khusus di lantai sebelas ini, dia adalah paman saya yang menggantikan posisi kakak sulung saya karena minta cuti kemarin," Lala memperkenalkan. Andhra dan Ozan memindai seorang laki-laki yang umurnya lebih tua dari mereka. Andhra menyipitkan mata, mengingat sesuatu.


"Apakah pernah bekerja di tempat lain sebelumnya?" Ozan menanggapi.


"Pernah, Pak! Tapi di sebuah klinik." Jawab bapak itu dengan mantap.

__ADS_1


"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Andhra.


"Pernah, Pak! Saya adalah orang yang Anda bantu di rumah sakit waktu itu. Terima kasih! karena Bapak,istri saya bisa diselamatkan." Andhra hanya menanggapi dengan senyum tipis.


"Selamat bergabung! Dan kamu Lala, pastikan dia mengerti pekerjaannya dengan baik," pungkas Andhra. Sebelum melangkah pergi dan hilang dibalik pintu ruang kerja.


"Siap, Bos!"


"Mella, ke ruangan ku sekarang. Kita harus mengkaji ulang proyek kita dengan PT Elang."


"Baik, Pak!" Ozan


"Mbak Rossi, di depan ada seorang wanita yang ingin bertemu denganmu." Seorang waiters yang membawa piring kotor itu memberi tahu. Rossi termenung sejenak.


"Siapa?" Bukan Rossi yang menjawab, tapi Dion.


"Saya kurang tahu, dia hanya bilang jika ingin bertemu dengan Mbak Rossi, ada hal penting yang ingin dia bicarakan, katanya" Rossi dan Dion saling melemparkan pandangan. Waiters itu memilih meletakkan piring-piring kotor di pencucian.


"Mungkin temanmu kali!"


"Tapi, aku tidak ada janji ketemu dengan siapapun pagi ini."


"Sudahlah, temui dulu aja. Siapa tahu memang penting."


"Dimana orangnya?"


"Mari saya tunjukkan, Mbak."


Kini Rossi pada sebuah meja dimana ada seorang wanita yang sudah dipastikan dari kalangan orang kaya, terlihat dari bagaimana cara wanita itu bergaya dan juga pakaian yang dikenakannya. Rossi menyuruh waiters itu pergi. Dia akan menemui wanita bergaya modis itu sendiri.


"Permisi! Maaf, apakah Anda yang mencari saya?" Wanita itu menoleh, melepas kacamata hitam besarnya dengan cara yang elegan.


"Perkenalkan! Nama saya, Anggun!" Wanita yang terkesan angkuh meski bibirnya dibalut senyum menawan. Gayanya juga terkesan wanita yang lemah lembut.


"Rossi!" Sambut Rossi juga mengulurkan tangannya.


"Senang berkenalan dengan Anda! Silahkan duduk dulu!" ucapnya ramah.


"Terima kasih!"


"Oke! Tidak perlu basa-basi lagi, saya kemari hanya ingin bertemu dengan Anda dan meminta kepada Anda Agar batalkan saja rencana Anda untuk bersanding dengan Andhra."


Seketika penilaian Rossi terhadap wanita di hadapannya berubah terbalik.

__ADS_1


"Apa?"


To be Continued


__ADS_2