
"Tuan Fadal Ghasani dan Tuan Alan sudah berteman sejak lama, tapi semua berubah sejak kejadian malam itu, tuan Fadal di jebak oleh seseorang, hingga tanpa sengaja melakukan hubungan terlarang dengan sekretaris pribadinya yaitu nona Asna," Ryo menjeda omongannya.
"Apa maksudmu?" karna setahu Andhra, orang telah menjalin hubungan dengan papanya adalah perempuan bernama Hasma.
"Nyonya Hasma bukanlah ibu kandung dari Mella, tetapi nyonya Asna lah yang sebenarnya. Mereka berdua kakak beradik, meski bukan kembar, namun keduanya memiliki wajah yang sangat mirip, sehingga pasti orang orang tidak mengira jika mereka adalah dua orang yang berbeda," Ryo memperhatikan wajah Andhra yang nampak mengeras, tangannya terkepal meninju meja.
"Jadi, istri papa yang sebenarnya adalah Asna, dan papa tidak sengaja berkhianat, tapi karna di jebak." Ryo hanya mengangguk. "Lalu, dimana Asna?" tanya Andhra to the poin.
"Nyonya Asna mengalami pendarahan setelah melahirkan. Di saat itulah, tuan Alan mengambil kesempatan untuk menghancurkan keluarga Gashani. Alan mempengaruhi Hasma untuk membunuh orang tua anda. Dengan alasan bahwa papa anda yang membuat nyonya Asna meninggal. Akhirnya mereka bersekongkol membunuh nyonya Diana waktu itu dengan cara meracuninya. Dan setelah itu membakar rumah keluarga Gashani. Seolah-olah semuanya terlihat murni kecelakaan."
Andhra semakin mengepalkan tangannya, dadanya semakin terasa sesak. Mengingat kejadian berpuluh puluh tahun lamanya. Dimana mamanya di siksa di depan matanya sendiri. Andhra merosotkan tubuhnya ke kursi saat teringat kembali wajah mamanya yang masih tersenyum ke arahnya meski meradang kesakitan.
"Minumlah dulu, Tuan!" menyodorkan segelas air putih untuk Andhra. Sekali teguk air itu tandas seketika.
"Kejam sekali wanita itu," lirih Andhra. "Aku ingat betul bagaimana Hasma menodongkan tubuh Tuan Alan, saat paman Bara hendak menembak Hasma, dengan liciknya wanita itu mendorong tubuh Tuan Alan, hingga Tuan Alan yang tertembak," kata Andha dengan wajah merah padam.
Saat itu, Andhra masih belum berkuasa seperti sekarang. Dia mengandalkan ayah angkatnya untuk menuntaskan kasus yang menimpa ayah dan ibunya. Namun mereka tidak mempunyai bukti untuk menyelesaikan kasus pembunuhan Diana melalui jalur hukum. Akhirnya memutuskan untuk menyelesaikan lewat jalur kekerasan. Alhasil kedua pihak mengalami kerugian. Bara mati di tangan Hasma dan Alan mati di tangan Bara.
"Tapi satu yang aku tidak mengerti, apakah Alan sudah benar-benar mati atau masih hidup?" Andhra terkesiap mendengar perkataan Ryo.
"Apa maksudmu?" tanya Andhra sambil menatap tajam Ryo.
"Ini hanya kecurigaan ku saja, Tuan" Sebab setahuku, perusahaan milik keluarga Gashani masih berdiri sampai sekarang, meski namanya telah berubah. Dan setahuku, Hasma tidak bisa memimpin sebuah perusahaan. Hasma hanya seorang model yang sukanya berfoya-foya. Jika dia yang mengambil alih perusahaan, sudah di pastikan perusahaan itu akan hancur, tapi ini tidak demikian , dan sampai sekarang, perusahaan Gashani tetap berdiri tegak bahkan lebih berkembang dari sebelumnya," ucap Ryo mengakhiri pendapatnya.
"Apa mungkin papa?" suara Andhra tercekat.
"Itu lebih tidak mungkin lagi, sebab tuan Fadal Gashani meninggal dalam kecelakaan," Andhra mengerutkan keningnya.
Jadi, aku benar-benar menjadi yatim piatu?
__ADS_1
"Saat tuan Fadal Gashani pergi, beliau diantar oleh ayahku, ketika di perjalanan, ada seseorang yang menelpon papa anda, dan mengabarkan jika rumah anda kebakaran. Tuan Fadal Gashani kebut kebutan di jalan, karna ingin segera sampai di rumah. Tapi takdir berkata lain. Ayah dan tuan Fadal Gashani mengalami kecelakaan. Keduanya masih bisa di selamatkan waktu itu," Ryo menjeda obrolannya sejenak kerongkongannya terasa kering. Diapun minum dahulu.
"Aku menunggumu bercerita tapi kau malah enak enakan minum," Andhra melemparkan kertas kepada Ryo yang sebelumnya dia uwel-uwel. Ryo tertawa lepas padahal tadinya dia bercerita tentang kesedihan.
"Baiklah, aku teruskan bercerita," Ryo terkekeh sejenak. Tapi sedetik kemudian berubah sedih.
"Saat itu, aku duduk di antara ayah dan Tuan Fadal Gashani, aku menanti mereka berdua siuman. Ayahku tersadar lebih dahulu, dia menghubungi seseorang untuk datang ke rumah sakit. Dan saat orang itu datang ayah berbicara serius dengannya. Orang itu mengatakan jika nyonya Diana meninggal dengan cara mengenaskan dan anda juga tidak berada di tempat," Ryo mendongakkan kepalanya mengingat kejadian itu.
"Lalu, apa yang terjadi."
"Tanpa kami sadari tuan Fadal Gashani mendengar apa yang di katakan oleh anak buah ayah. Tuan Fadal mengalami serangan jantung setelah mendengar semuanya dan akhirnya meninggal setelah memberikan wasiat kepada ayah untuk mencari dan melindungi anda, tuan." Ryo menyeka air matanya.
Andhra sudah sangat kebal dengan kesedihan, hingga air matanya mengering. Dia mendengar cerita Ryo dengan wajah biasa-biasa saja. Walaupun hatinya bergemuruh dan sesak.
"Terima kasih atas kesetiaan mu!" ucap Andhra terdengar datar. Keringat mulai muncul.
Aku harus bisa menahan diri. Jangan lemah Andhra.
"Itu yang membuat kami bingung tuan," Andhra mengerutkan keningnya.
"Maksudnya!"
"Jenazah nyonya Diana tidak terbakar sedikitpun dalam kobaran api itu. Tim pemadam kebakaran menemukan jasad nyonya Diana dalam keadaan utuh. Dan kami menguburkannya bersebelahan dengan makam tuan Fadal Gashani," terdengar helaan nafas dari Andhra.
"Syukurlah, jika orang tuaku di kuburkan dengan cara yang layak."
Andhra sempat khawatir saat mendengar cerita tentang orang tuanya tadi. Dia sempat berpikir jika ibunya sudah menjadi abu, sehingga tidak mendapatkan penghormatan terakhir. Tapi sekarang dia merasa lega, setidaknya jika nanti ada waktu dia masih bisa mengunjungi orang tuanya.
"Ryo, apa yang harus kita lakukan untuk membongkar kebusukan Hasma?" tanya Andhra sambil mengetukkan jari-jarinya ke meja.
__ADS_1
"Kita harus mencari bukti atau saksi hidup dari kejadian itu," ucap Ryo.
Bayangan Andhra berkelana pada sosok yang beberapa hari lalu di temuinya, tanpa sadar dia menyebut nama "paman Heru,"
"Ah, benar, Tuan. Paman Heru bisa menolong kita, hanya dialah kunci hidup yang harus kita temukan. Jika saja kita bisa menemukan paman Heru, pasti kita bisa lebih cepat melumpuhkan Hasma.
Andhra masih bergeming memikirkan apa yang harus dia lakukan, jika benar bahwa yang di temuinya beberapa hari yang lalu adalah paman Heru.
"Tuan!"
"Ah, iya!" Andhra tergagap sejenak.
"Apakah ada sesuatu yang mengganjal di pikiran Anda? Tuan.
"Tidak, aku hanya ingin tahu saja, apakah kau pernah bertemu dengan paman Heru" jawab Andhra sebenarnya ingin mengatakan jika dirinya kemarin sempat bertemu dengan Heru. Tapi dia urungkan, dia ingin tahu apakah Ryo tahu keberadaan paman Heru atau tidak.
Waspada jauh lebih baik bukan?
"Sayangnya, sampai saat ini kami belum pernah bertemu dengan paman Heru," jujur Ryo. " Kami masih berusaha mencarinya bahkan kami tandangi keluarganya, tapi tidak ada yang tahu kemana perginya paman Heru. Maafkan kami Tuan," Ryo merasa bersalah.
Tak berapa lama, terdengar handphone berbunyi, mengalihkan perhatian keduanya.
"Maaf! aku harus mengangkat panggilan ini."
"Silahkan, Tuan!"
To be Continued....
Orang penting selalu mendapat telpon ya hemmh
__ADS_1
ayo dong, tinggalkan jejak, biar lebih semangat author