
Ozan sedikit resah dengan kelakuan temannya saat ini. Tidak habis fikir dengan jalan pikiran Andhra, masalah Mella belum kelar, bagaimana bisa ditambah musuh dijadikan teman bisnis.
"Apa yang terjadi dengan dirimu Dhra? apa kau lupa siapa Ryo itu?" orang di depannya hanya bergeming, dan jangan lupakan wajah datarnya itu, sedikitpun tidak ada rasa penyesalan.
Ozan mondar-mandir lalu duduk lagi. Kini merebahkan tubuhnya di sofa. Adakah sesuatu yang terlewatkan olehnya, hingga dia tidak mengerti atau temannya sekarang berubah bodoh, ataukah ada hal yang di sembunyikan oleh Andhra saat ini.
Apakah aku sudah tidak lagi berguna baginya? Dia selalu saja berbuat seenaknya. Minimal beritahu aku, maka kupastikan semuanya aman terkendali.
"Kau bisa membuatku gila jika tetap diam begini Ndra," dengan santai yang di tanya mengambil air minum dan memberikannya kepada anak buah yang nampak frustasi itu.
"Jangan banyak olahraga kau bisa dehidrasi nanti." Menepuk nepuk pinggiran sofa beberapa kali dan tatapannya tetap saja menyebalkan menurut Ozan.
*Apa apaan ini, aku bingung memikirkannya dan dia dengan santai malah mengejekku* Menggelengkan kepalanya sendiri. Habis sudah minuman di tangannya Andhra menuang air mineral kembali dan Ozan meminumnya lagi.
"Seperti minuman ini, seseorang yang haus akan terus menenggaknya." Ozan kini menghentikan aksinya, sepertinya dia akan mendapatkan apa yang di inginkan.
"Jangan terlalu banyak berpikir, cepat tua kau nanti, kasihan Arini yang cantik itu suaminya sudah beruban," ucapan Andhra membuat Ozan mendengus lebih kesal lagi. Dia mengangkat map di depannya, tapi di hempaskan lagi ke meja. Yang melihat hanya tertawa meledek.
"Stop menggodaku, jika kau sudah merasa tidak memerlukan aku lagi, pecat saja aku sekarang," ucap Ozan sambil menyandarkan punggungnya kembali.
Dia ini lelaki apa perempuan sih.
"Sebenarnya, aku tidak punya niat untuk menyembunyikan semuanya darimu. Hanya saja!" menjeda ucapannya sejenak sambil menghembuskan nafasnya.
"Hanya saja!" kata Ozan mulai tidak sabar.
"Aku tidak mungkin merepotkan dirimu untuk masalah ini, tapi karna kau sangat penasaran sekali. Jadi aku putuskan untuk memberitahukan kepada dirimu."
"Kau terlalu bertele-tele," ucap Ozan.
"Ryo aku gunakan sebagai jembatan untuk menjebak Hasma. Selama ini Hasma selalu lolos dari kejaran hukum, bahkan mampu membersihkan namanya dengan sempurna. Aku mencurigai adanya orang ketiga di balik semua ini. Tidakkah kau curiga, mengapa Rangga sampai saat ini masih belum juga sembuh?" menjeda omongannya kembali, membiarkan Ozan mencerna apa yang dia sampaikan.
"Jadi maksudmu, kau mencurigai Ryo adalah orang ketiga itu?" ucap Ozan memastikan.
__ADS_1
"Bisa jadikan!" kata Andhra seakan meragukan instingnya sendiri, padahal dia sudah membuat strategi sebaik mungkin untuk memenangkan permainan kali ini.
Ingat akan Hasma yang lolos dari jeratan hukum, karna mampu memusnahkan segala bukti yang ada. Alhasil Rangga yang di tuduh sebagai pelaku tunggal mengalami depresi dan gila sampai bertahun-tahun lamanya. Tapi kemarin, dia mendapati jika ada sesuatu yang terjadi dengan keadaan Rangga. Andhra menemukan sebuah kejanggalan dari perilaku Rangga.
"Ozan, aku mohon kepadamu untuk terus mengawasi Ryo. Aku tidak akan melepaskannya jika memang dia terlibat dalam kejahatan yang di buat oleh Hasma" kata Andhra, lalu berdiri dan mengambil sebuah map di meja.
"Kau bisa melihat ini!" melemparkannya ke hadapan Ozan. Dengan teliti Ozan memperhatikan setiap detail berkas yang di terimanya.
"Ini tidak masuk akal, bagaimana bisa seseorang melakukan hal ini terhadap anaknya sendiri?" semakin tercengang dengan apa yang di lihatnya kali ini.
"Itulah sebabnya, aku tidak pernah memecat Mella sampai kapanpun!" suara Andhra terdengar lebih tegas dari biasanya.
"Maafkan aku, Ndha!" merasa tidak berguna dengan dirinya sendiri. Dia memang bisa menangani segala urusan kantor, tetapi dalam memahami karakter seseorang Andhra lah pakarnya. Semakin besar rasa hormat dan segannya kepada sang bos.
"Lanjutkan tugasmu, aku akan keluar mencari udara sejenak. Aku sudah terlalu pusing dengan bualanmu tadi," mengambil kunci mobil di atas mejanya, lalu keluar dari ruang kerja.
"Dasar Bos, seenaknya saja keluar masuk kantor!" gerutu Ozan setelah memastikan bosnya tidak terlihat lagi.
Andhra telah sampai pada sebuah taman, dimana
~
~
~
Di pinggir sebuah taman seorang gadis beberapa kali menyibakkan rambut panjangnya yang tergerai bebas. Dia membaca novel sambil mendengarkan musik, dan jangan lupa permen lollipop yang tidak absen dari bibir mungilnya itu. Dan sebuah earphone yang terpasang sempurna di telinga.
Terdengar suara ribut di samping tangga taman. Satu gadis sedang di dorong dorong oleh dua gadis lainnya, dan ada satunya lagi, sebagai ketua penyiksa, tertawa bangga melihat temannya di dholimi. Sepertinya mereka sebaya.
Satu gadis lawan tiga orang, tentu saja bukan lawan yang seimbang. Bahkan satunya lagi tertawa puas sambil memegang sebuah kotak dan menimbang-nimbang isinya. Gadis itu memainkan benda yang di pegangnya, membuat gadis yang mereka bully semakin berteriak histeris.
"Jangan ambil itu, aku mohon itu pemberian kakakku," teriaknya semakin sendu. Air matanya menetes membanjiri pipi mulusnya. Dia berusaha meraih kotak itu dengan sekuat tenaga, tapi kedua anak lain menghalangi langkahnya.
__ADS_1
"Hai, culun ambil saja jika kau memang mampu. Tapi bagaimana jika aku hancurkan saja kotak ini," kata gadis yang angkuh itu sambil menjatuhkan kotak yang di bawanya. Kakinya terangkat penuh drama hendak menginjak kotak itu, tapi apa yang terjadi. Gadis itu malah terpelanting ke samping, karna ada yang mendorongnya.
"Kau!" kata gadis itu menoleh pada gadis yang terlihat cantik dengan rambut panjang terurai.
Gadis yang di tunjuk menatap tajam ke arahnya. "Beraninya keroyokan, pengecut," sinisnya sambil memungut benda kotak dari rerumputan.
"Hei, kau jangan sok ikut campur urusan kami atau kau akan menyesal," ancam gadis itu dengan pongah.
"Menghadapi satu orang sebaya saja, kau main keroyokan. Sekarang kau mengancam ku anak ingusan. Hehh!" kata gadis itu tersenyum mengejek.
"Kenapa kalian diam saja, bantu aku berdiri," menggertak kedua temannya yang terpaku di tempat.
Dengan sigap kedua temannya membantu dia yang terjatuh. Gadis itu bangkit sambil membersihkan tangan juga bajunya yang kotor oleh rerumputan.
"Aku akan membuat perhitungan denganmu lain kali," ucap gadis angkuh itu sebelum berlalu pergi.
"Kenapa kau tidak melawan mereka?" kesal juga melihat orang yang tertindas hanya diam seperti mayat hidup. "Maaf, aku tidak bermaksud...!"
sadar sudah berbuat salah dengan membentak gadis manis yang berada di hadapannya. Tangannya terulur menyerahkan kotak yang di ambilnya tadi.
"Lain kali, jangan takut untuk berjuang mendapatkan hak yang seharusnya menjadi milikmu. Namaku Rossi, siapa namamu adik manis," kata Rossi sambil mengulurkan tangannya.
"Namaku Cyra, Kak!" kata gadis berkuncir dua itu sambil memperbaiki letak kacamata di pangkal hidungnya.
"Kanapa mereka memperlakukan dirimu seperti tadi?" di perhatikan oleh Rossi dengan seksama perubahan wajah dari gadis kecil di hadapannya.
"Karna aku jelek!" Rossi terkekeh mendengar ungkapan jujur gadis polos di hadapannya ini.
"Kan kakak juga menertawakan aku."
To be continued
Hayooo jika kamu, apa tanggapanmu saat ada seseorang yang mengakui dia jelek?
__ADS_1