Ngumbara Cinta

Ngumbara Cinta
Part 63


__ADS_3

Dua mobil telah siap siaga di sebuah lapangan sepak bola.


"Disini?" Ryoki keluar dari mobil sambil membenahi kacamata.


Satu jam setelah selesai menyelediki sebuah rumah kosong, Farid mendapat tugas baru untuk menjemput komisaris AGC. Farid tentu antusias sekali saat mengetahui fakta bahwa kakak tersayangnya telah memilih seorang wanita sebagai pasangan hidup.


"Tidak ada tempat lebih baik dari pada di sini." Jawab Farid.


Suara baling-baling helikopter terdengar jelas di pendengaran. Dari kejauhan, pesawat itu terlihat sangat kecil, membesar dan berputar-putar di atas lapangan. Rumput-rumput menyambut kedatangannya dengan menari suka cita.


"Yang kita nanti-nantikan telah tiba."


"Bagaimana persiapannya?" Tanya Andhra tanpa basa-basi.


Lah, tidak tanya kabar atau apalah dulu, gitu. Dasar perjaka tua. Batin Farid.


Padahal Farid telah merentangkan kedua tangannya hendak memulai adegan melepas rindu yang gaya paling dramatis.


"Jangan mengumpat Farid? Aku tanya sejauh mana persiapan mu di sini?" Tanya Andhra lagi.


Farid menggaruk kepalanya yang tidak gatal, kenapa bisa kakaknya ini bisa menebak apa yang ada dalam pikirannya.


"Sampai sejauh mana?"


"Semua telah siap. Kita tinggal berangkat saja." Jawab Farid kemudian.


"Hai, Farid! Apa kabarmu?" Sapa Rasya sambil memegang posesif tubuh istrinya.


"Baik, Tuan? Apa nyonya tengah mabuk udara?" Tanya Farid.


"Ya, begitulah!" jawab Rasya.


"Aku hanya sedikit pusing saja. Nanti juga akan hilang jika baling-baling ini pergi." Jawab Rena tersenyum setengah terpaksa.


~


~


Bunga dahlia menari manja di pelupuk mata. Harumnya semerbak hingga ke Sukma. Bersolek anggun berselimut jingga. Janganlah dipetik jika tak guna.


Heru menatap nanar taman bunga di samping rumah. Hatinya merasa gelisah sejak dua jam yang lalu.


"Ayah, mengapa belum bersiap? Bagaimana jika mereka tiba-tiba datang?" Sepertinya pasokan udara mendadak habis, begitu berat Heru menghirupnya.

__ADS_1


"Rossi tidak jujur pada kita, Ibu." Pernyataan yang sama membuat Ibu diam dalam waktu cukup lama. Tangan yang pengertian itu terulur memegang pundak Heru, menepuknya pelan hingga sang pemilik menoleh.


"Semestinya kita sudah menyadari hal itu sejak Rossi membawanya pulang. Kita saja yang tidak peka. Mana pernah anak kita pulang dengan seorang pria. Dia sudah dewasa ayah." Tangan lembut sang istri bagaikan katrol yang mampu memindahkan beban berat dari pundaknya.


"Kenapa dia tidak jujur?" Sebagai orang tua, Heru merasa begitu jauh dari anaknya. Bukankah harusnya dia mengetahui hal sepenting ini dari mulut anaknya? Mengapa harus orang lain yang bicara? Itupun mendadak.


"Anak perempuan dan anak lelaki, sungguh berbeda Ayah. Anak lelaki lebih menggunakan akal mereka, sehingga mereka mudah mengungkapkan apa yang ada dalam hati. Berbeda dengan anak perempuan, mereka lebih ingin di mengerti, sering menggunakan perasaan, sehingga akalnya pun merasa tidak sanggup untuk lebih terbuka."


"Kita orang tuanya, Bu!" Ibu mengerti jika Heru tengah kecewa pada keputusan sang anak. Mengapa tidak ada pembicaraan sebelumnya. Mendadak suasana jadi rumit begini. Ibu jadi khawatir akan keputusan ayah nanti. Takutnya, akan terjadi hal di luar dugaan mereka.


"Jangan berpikir berlebihan Ayah. Kita terima saja mereka datang. Keluarga Pak Farid adalah keluarga baik-baik." Ibu menangkap setetes buliran bening di ujung telunjuknya.


"Kenapa Ayah jadi cengeng begini?"


"Ibu tahu, Pak Farid mengatakan apa?" Heru kini yang beralih menangkap prosesif tangan istrinya. "Dia mengatakan akan memetik bunga segar yang tumbuh di taman rumah kita untuk kakaknya. Dan sebentar lagi, mereka akan datang, memintanya secara resmi."


"Jika memang sudah saatnya, apa boleh buat. Tugas kita mungkin telah pada fase ini. Bukankah selama ini kita sudah menjadi orang tua yang baik? Kita menyanyangi dan membesarkannya, memberi perlindungan dan pendidikan. Dia hidup bahagia bersama kita.  Semoga dalam kehidupan barunya nanti, dia bisa bahagia." Keduanya saling bersitatap. Heru tidak mengerti, di saat seperti ini, istrinya kadang berpikir sangat dewasa, bahkan lebih dewasa daripada dirinya.


"Terima kasih, Sayang. Kau memang wanita yang luar biasa dan cantik."


"Jangan begitu, aku jadi malu." Ibu melerai kasar tangan mereka yang terpaut. Menutup wajahnya dengan kedua tangan, dan masuk rumah dengan buru-buru.


"Ibu! Ibu kenapa?" Tanya Rusdi yang berada di ruang tamu. Yah! Dicuekin. Si ibu lagi malu-malu kucing. Tak berapa lama juga datang ayahnya. Rusdi sudah bisa menebak apa tengah terjadi kayaknya.


Tengah sibuk dengan pikirannya sendiri, terdengar suara kendaraan terparkir di halaman rumahnya.


"Apakah mereka benar-benar datang?" Ucap Rusdi tanpa sadar. "Kau sudah dewasa ternyata, Dek." Gumam Rusdi lagi, dia menyibak tirai jendela hanya dalam dua detik, kemudian keluar untuk menyambut tamu.


~


~


Rossi dan Cyra kini telah sampai di kediaman Keluarga Abhimanyu.


"Akhirnya, kita sampai rumah juga ya Kak!" Cyra bersorak gembira, meski kedua tangannya tengah repot membawa barang belanjaan. Rona kebahagiaan terpancar jelas dari cara bicara yang menggebu, juga senyum manis yang tidak pernah pudar.


"Hari ini cukup melelahkan. Kita melewatinya dengan bahagia," timpal Rossi. Cyra sudah turun dari motor dan berdiri tegak di hadapan Rossi.


"Tanpa sadar, ternyata hari sudah malam. Sebaiknya kakak mampir dulu, aku akan membujuk Bang Andhra untuk mengantarkanmu nanti." Cyra mengerling nakal.


"Hai, jangan menggodaku begitu." Ingat akan keusilan Andhra saat berdua saja. Tiba-tiba saja Rossi jadi ingin melihat pria itu.


"Aku cukup berani untuk pulang sendiri!"

__ADS_1


Bisa berabe kan, jika pria itu hanya berdua denganku, pasti akan terjadi hal-hal yang tak terduga. Batin Rossi.


"Beneran nih? Kakak tidak apa pulang sendiri?" Selidik Cyra.


"Iya! Bahkan kakak sudah terbiasa." Rossi menyakinkan. Cyra masih berpikir beberapa saat. Rossi menyakinkan Cyra dengan tatapan menyakinkan.


"Kakak juga sering pulang sendiri dari restoran. Lagian kakak nanti akan pulang ke rumah Paman. Jadi jaraknya lumayan dekat. Jalan yang kakak lalui juga ramai terus." Cyra akhirnya tersenyum.


"Baiklah! Kakak hati-hati di jalan! Jika ada apa-apa cepat hubungi Cyra. Akan aku utus Abang Andhra untuk mengatasi segala rintangan," kelakar Cyra.


"Kamu ini. Sok! Tahu nggak!"


"Emang tahu!"


"Iya, ya! Yang tahu!" goda Rossi.


"Hai! Kalian sudah pulang rupanya?" Candra baru saja muncul dari dalam rumah.


"Bukannya kak Candra tadi juga bersiap untuk pergi? Kok masih santai di rumah?"


Sebelum Cyra pergi, dia sempat melihat Candra memakai jaket kulitnya. Tapi sekarang, hanya memakai kaos oblong dan celana pendek saja. Kemana hilangnya jeans panjang yang tadi dia kenakan? Batin Cyra.


"Mungkin sudah pulang!" Timpal Rossi.


"Tidak mungkin! Bang Candra jika sudah keluar, tidak akan pulang sebelum larut malam." Yang dibicarakan malah asyik berpose cool dengan bersandar pada tiang utama bagian depan rumah.


"Abang nggak jadi pergi?"


"Bagaimana mau pergi? Mama melarang."


"Tumben!" Komentar Cyra.


"Katanya bakal ada tamu mama yang datang ke rumah buat mengambil sesuatu. Abang di suruh kasih barangnya ke orang itu. Jadi ya terpaksa standby di rumah." Candra masih berseder.


"Memang Mama kemana, Bang?"


"Kerumah orang tua kak Ros!"


Uhuk uhuk uhuk


"Apaaaa!"


To be continued

__ADS_1


__ADS_2