Ngumbara Cinta

Ngumbara Cinta
Part 65 Alan & Ryo


__ADS_3

Di sebuah rumah yang megah.


Hasma menggoyangkan gelas yang di pegangnya. Pikirannya sangat kacau pagi ini. Usahanya untuk menjatuhkan PT Indochick, harus gagal sebelum berkembang.


"Apa apaan kau ini. Hari masih terlalu pagi dan kau sudah minum. Apa kau tidak malu jika dilihat oleh orang lain hah? Terlebih jika ada yang melihat dirimu seperti ini." Seorang pria mengambil gelas secara paksa dari tangan Hasma, melemparkan ke sembarang arah, hingga terburai. Hasma menatap nanar gelasnya, dengan senyum miring. Wanita yang biasanya menutup muka dengan kacamata besar dan masker itu terlihat cantik saat menanggalkan semuanya. Kecanggihan teknologi ilmu pembedahan wajah dan tubuh, membuat wanita yang seharusnya keriput, kini terlihat molek bak boneka barbie.


"Alan, ah, kau sekarang jadi Ryo, lelaki tampan pujaan hati anakku. Kau sangat tampan bukan?" Pria itu memasang wajah datar. Tatapan sinis dan juga jijik. Andai dia tidak mengalami kecelakaan waktu itu, tidak mungkin dia mau menuruti keinginan Hasma. Beruntung saja pria bernama Alan  memang sedikit mirip dengan Ryoki yang asli. Jadi, cukup sedikit oplas, keduanya sungguh bagai pinang dibelah dua.


Biarkan a...ku minum. Egkh..aku sudah muak dengan semuanya. Eghk adikku...adikku sendiri yang aku besarkan dan aku biayai hingga menjadi orang terpandang. Dia ..eghk dia berani mengancam ku." Racau Hasma. "Dia bahkan mulai berbelok dan mengumpulkan semua bukti. Pasti karena perempuan itu. Perempuan itu juga harus mati."


"Hasma, ayo ke kamar saja. Kau harus istirahat di sana. Nanti sore, kita harus menghadiri rapat penting dengan beberapa klien. Tapi, kau malah seperti ini," ketus Alan.


"Kau jangan sok pura pura baik. Kita sudah tahu apa yang terjadi. Kita..kita habisi satu keluarga itu dan membakarnya. Kita memang kejam ya kita kejam. Tapi ...tapi itu semua demi masa depan kita. Ya kan." Hasma berjalan sempoyongan di papah oleh Alan menuju kamar mereka.


"Berhenti bicara, atau dinding rumah ini juga akan berkhianat padamu."


"Kalau kau mabuk, mabuk saja. Tapi jangan seperti ini Hasma atau semua yang kita dapatkan akan hancur karenamu." Alan berkata. Tapi percuma saja, sebab Hasma sudah dalam keadaan mabuk berat. Dan terjatuh ke ranjang. Sesekali masih terdengar mengigau.


Alan melepas high heels milik wanita yang telah menjamin kehidupannya. Dan membenarkan posisi tidur partner ranjang dan juga istri sirinya itu. Dia termenung di sisi ranjang. Keadaan wanita yang sebenarnya pantas menjadi ibunya,  selalu saja seperti ini. Mabuk-mabukan.


Mereka saling mengenal saat acara wisuda. Alan mengira jika hidupnya akan baik-baik saja setelah menjalin hubungan dengan wanita licik ini. Awalnya, dia hanya ingin menjalin kerjasama sebatas partner ranjang guna membiayai kebutuhan kuliah. Tapi, semua berubah seiring waktu, ibunya butuh biaya lebih untuk pengobatan. Hasma menawarkan banyak uang, bahkan kedudukan dan kehormatan, semua mereka dapatkan dengan cara merampas dan melenyapkan orang lain.


Beberapa tahun lalu, Alan dan Hasma melakukan penculikan dan upaya pembunuhan pada seorang pengusaha muda bernama Ryo.


Sejak kejadian yang mereka rencanakan telah berhasil. Alan menjadi orang yang berduit, bisa melakukan apapun yang dia inginkan. Tapi semuanya terasa hampa. Bahkan kini, dia harus menjadi orang lain.


Mereka tertawa berdua, merasa puas atas jerih payah yang mereka dapatkan. Tapi bayangan bayangan dosa selalu menghantui mereka. Ryo sendiri adalah teman yang baik Alan sebenarnya, sejak masa kuliah. Mereka selalu berbagi dalam setiap hal. Mereka merintis bisnis bersama sama, mengelola dan mengembangkan nya bersama sama.

__ADS_1


Bedanya adalah, Ryo memang berasal dari keluarga kaya raya, meski begitu, Ryo adalah tipe orang yang selalu berbuat baik dan berhemat sehingga di hormati, di segani oleh semua orang dan kekayaannya melimpah. Sedangkan Alan, di tidak lebih dari Upik abu yang diangkat derajatnya oleh Ryo. Punya sedikit saja duwit, dia akan suka hura hura dan berpesta, sehingga orang orang tidak begitu banyak yang menyukainya. Akhirnya, muncul kecemburuan terhadap sosok Ryo.


Alan  tak hentinya menasehati sahabat yang di sayanginya itu. Tapi nasihat yang baik tidak selamanya dianggap baik oleh orang lain. Hingga suatu hari Alan tersinggung dengan ucapan yang dilontarkan Ryo. Alan merasa jika Ryo terlalu ikut campur dalam kehidupannya. Hingga Alan berencana untuk menghancurkan kehidupan Ryo dengan menyamar, bahkan merubah beberapa bagian wajahnya. Semua itu tidak lepas dari pengaruh wanita bernama Hasma.


Suara ponsel membuyarkan lamunan Alan. Sebuah panggilan masuk, beberapa lama dia mendengarkan seseorang bicara dengan sangat jelas.


"Baiklah, tetap awasi mereka. Ingat! Pencarian tetap laksanakan. Pastikan kau bisa menemukan keberadaan dokter itu. Dialah kunci dibalik semua ini," ucapnya lalu memutus sambungan.


Alan menatap sinis wanita yang berbaring di atas ranjang itu. "Andai kau tidak selincah belut, aku pun enggan membiarkanmu hidup. Tapi saat ini, kau masih aku perlukan, hingga perusahaan itu benar-benar jadi milikku."


~


~


~


"Dhra ... Andhra ... Where are youuuu ... !" teriak Ozan sebelum benar-benar mencapai pintu. Bahkan kakinya masih perlu melangkah beberapa kali guna mencapai pintu masuk.


"Andhraaa ... Tuan Andhra ... Pak Bos!" Pak Rip sampai mengorek kuping karena kedatangan tamu tak diundang ini. Kini Ozan sudah sampai di ruang makan, berharap bisa segera menemukan Bosnya, juga bisa numpang sarapan. Pas banget, pelayan rumah Andhra tengah mempersiapkan semuanya.


"Tuan Andhra sedang mandi. Dan kemungkinan baru saja berganti pakaian. Sebentar lagi pasti bakalan turun," ucap Pak Rip sambil memeriksa jam di tangannya. Kepala pelayan itu, sungguh hapal betul apa rutinitas pagi majikannya.


"Baiklah, aku tunggu saja di sini sambil ngopi." Ozan mengambil kopi yang sudah tersedia. Dasar tamu tak punya adab, seharusnya kopi itu untuk Andhra sebagai tuan rumah. Tapi Ozan telah menyerobot tanpa permisi. Pak Rip memberi kode pada pelayan lain, agar membuat kopi yang sama kembali.


Tap


Tap

__ADS_1


Tap


Suara sepatu menggema seiring langkah kaki pemiliknya. Pemuda itu memiliki wajah yang tampan, namun auranya terkesan dingin.


"Dhra, ayo sarapan Bos." Ozan mengunyah roti isi dengan sangat cepat. Baru saja habis satu, langsung mengambil lagi. Pak Rip sampai menelan ludahnya sendiri dengan susah payah.


"Jangan hiraukan dia, Pak Rip. Duduklah." Andra masih dengan tampang datarnya.


"Tidak, Tuan. Saya sarapan nanti saja," jawab Pak Rip begitu sigap melayani Andhra.


"Apa karena Dia?" Andhra menunjuk Ozan.


"Hai, tiap kali aku makan di sini, kau tidak pernah mempermasalahkan sama sekali. Bahkan kau tidak perlu membandingkan aku dengan Pak Rip. Aku ini masih dalam fase pertumbuhan, harus banyak makan. Dan biarkan Pak Rip langsing saja seperti itu, kasihan dia jika gemuk akan kesulitan naik turun tangga."


"Tumbuh melebar," sambar Andhra. "Baguslah, itu artinya ada kesempatan bagi lelaki lain buat mendekati Arini."


Pak Rip mengulum senyum. Jauh berbeda dengan Ozan yang langsung melotot kan mata.


Enak sekali Andhra bicara. Sama sekali tidak memikirkan perasaan seorang Ozan. Dahulu saja, dia harus melewati banyak hal untuk mendapatkan hati Arini. Dan sekarang, dia harus merelakan istrinya untuk orang lain? Tidak! Dia tidak akan rela.


"Jangan macam-macam kau Andhra!" Meletakkan roti yang sudah digigit separuh. Andhra menggidikkan bahu acuh.


"Omong-omong, bagaimana misimu untuk mendapatkan gadis yang kau cintai? Apakah berhasil?" Andhra memasang wajah datar. Tapi Ozan mengerti, pasti sahabatnya ini tengah gelisah karena hal itu.


"Menurutmu?"


"Kau ... Aku tanya, kenapa balik nanya?"

__ADS_1


To be Continued....


__ADS_2