
Di dalam sebuah bar, lima orang tengah berpesta pora setelah merayakan keberhasilan mereka.
"Sudah aku katakan berulang kali, Andhra bukanlah lawan yang sepadan denganku. Dia begitu bodoh sampai tidak menyadari konspirasi kita." Seorang pria paruh baya bicara dengan bangga.
"Tapi, kita harus tetap berhati-hati, pencapaian seorang Abhimanyu muda bukanlah kebetulan semata. Bahkan dia mampu mengembangkan usaha di segala bidang. Bukan tidak mungkin, suatu saat nanti dia akan mencurigai gerak gerik kita. Dan yang lebih mengkhawatirkan lagi, aku mendengar jika matanya lebih tajam daripada Elang, marahnya lebih buas daripada harimau dan pengampunan nya adalah kematian." Pria bule berbadan tegap itu bicara dengan logat asing.
"Ternyata, hanya sampai segitu keberanian mu?" Ejek wanita berkaca mata hitam itu.
"Nona Anggun, seorang pengusaha tentu yang diinginkan adalah kerjasama dengan hasil sesuai. Tapi, jika satu tindakan saja bisa menghancurkan segalanya, maka akan lebih baik jika memilih aman." Semuanya membenarkan perkataan Si Bule.
Wanita bernama Anggun yang sebenarnya Hasma itu berdiri pongah, bahasa tubuhnya menunjukkan keangkuhan yang memikat.
"Semua yang aku inginkan, tentulah itu yang terjadi. Daripada kau, aku lebih mengenal siapa Tuan Muda Abhimanyu. Bahkan rahasia yang tidak pernah muncul ke permukaan pun, aku lebih tahu." Wanita yang dipanggil Anggun itu mendekati pria bule, tangannya terulur meraba dada bidang si bule penuh hasrat. Bibirnya bergerak sensual.
"Sebaiknya kita bersenang-senang setelah ini, agar pikiran dan tubuhmu tidak terlalu lelah," ucap Anggun mengerling nakal. Menjauhkan tubuhnya dari Si Bule dan kembali duduk ke tempat semula.
"Jadi, bagaimana?" Kini Ryo yang sejak tadi diam bersuara.
"Bersulang!" Anggun memprovokasi, mereka yang sebelumnya ragu, kini mengangkat gelas tanda setuju.
Ryo menatap Anggun penuh maksud. Dan Si Bule, memandang Anggun dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Dia sepertinya tertarik kepadamu?" Ryo berbisik pada wanita yang dikenal dengan nama Anggun.
"Janganlah cemburu, ini semua hanya untuk melancarkan kerja sama kita." Mengusap sensual dada bidang Ryo. Wanita itu juga berbisik, matanya melirik ke arah Si Bule yang terus saja memandangnya, dengan sengaja, Anggun memberi kode lebih.
Wanita menjijikkan. Batin Ryo. Tapi baguslah, setidaknya malam ini aku bisa jalan berdua bersama Mella.
"Jadi ... Bagaimana bapak-bapak?"
"Saya setuju dengan perjanjian awal kita. Mengenai pembagian royalti, saya harap Anda bisa dipercaya."
"Tentu saja, Pak!" Pria paruh baya itupun berdiri diikuti oleh asistennya. Ryo menyalami mereka berdua sembari tersenyum puas.
"Saya permisi, ada pekerjaan lain yang harus saya selesaikan!" Pamitnya
Ryo memandang jengah kepada dua orang di hadapannya yang nampak saling menggoda.
__ADS_1
"Oke, sepertinya saya juga harus undur diri." Ryo bangkit dari duduk dan pamit pulang.
"Tunggu sebentar!" wanita yang bernama Anggun itu menghentikan langkah Ryo "Datanglah ke tempat Mella, dan lakukan apa yang seharusnya kau lakukan."
Hasma ... Hasma ...tanpa kau suruh pun, aku akan ke sana. Lebih baik aku bersama Mella, daripada bersama wanita gila macam dirimu. Batin Ryo
Ryo membungkuk sopan kepada Si Bule dari kejauhan kemudian menghilang di balik pintu.
Oke, malam ini aku akan berpesta hingga pagi, santapan selezat ini, mana mungkin aku lewatkan.
"Bagaimana Nona, bisa kita mulai sekarang?" Si Bule mendekat penuh gaya magnetis. Menarik pinggang ramping si wanita. Tanpa ragu, Anggun mengalungkan kedua tangannya pada leher Si Bule.
"Sabarlah, Tuan. Kita pesan kamar yang paling nyaman buat kita berdua."
"Oke, anggap ini sebagai pembukaan." Si Bule mencium penuh nafsu bibir Anggun.
Ryo telah sampai di parkiran, tanpa sengaja dia menabrak seorang gadis yang tengah mabuk berat.
"Kau pria brengsek. Berani sekali kau mematahkan hatiku." Si gadis oleng dan kemudian bersandar lemah pada tubuh Ryo, dada sintal itu tak sengaja tersentuh oleh Ryo.
"Kenapa kau lakukan itu? Aku sangat mencintaimu. Bahkan aku rela kehilangan anak kita karenamu. Kau sungguh keterlaluan." Gadis itu semakin meringsek, mengelus rahang tegas Ryo. Bahkan semakin agresif menciumi wajah Ryo.
"Nona, tolong! jangan seperti ini!" Ryo menoleh ke kiri dan kanan, sepi! Tak ada siapapun. Gadis yang kini berada di dekapannya telah berhasil menyulut birahinya.
"Baiklah Gadis, jangan salahkan aku. Kau yang memaksa."
Ryo membawa gadis itu masuk ke dalam mobil. Seseorang berjaket hitam yang sejak tadi mengintai, memberi acungan jempol pada gadis yang sebenarnya tidak mabuk.
~
~
~
Mella membaca pesan WhatsApp yang dia dapatkan dari Rossi tadi malam. Hari ini, mereka telah berjanji untuk berjumpa di tempat piknik. Jadwal yang telah dirancang dari Minggu sebelum sebelumnya, baru kali ini dapat direalisasikan.
"Oke, masih ada waktu buat mandi. Aku harus segara siap." Mella menyingkap selimut kemudian bergegas ke kamar mandi.
__ADS_1
Di Kediaman Abhimanyu.
"Bang Andhra ...!" Cyra tergesa-gesa menaiki tangga menuju kamar Andhra yang berada di sebelah kanan tangga. "Bang, buruan keluar dong, kita mau berangkat nih!" teriak Cyra dengan tak sabar, tangannya bahkan tidak berhenti mengetuk pintu.
Andhra beberapa kali mengerjapkan mata, memijat pangkal hidung, sambil berdecih. "Tuh, Anak! Mengganggu saja."
Sehabis subuh tadi, Andhra kembali tidur, sebab merasa badannya kurang fit. Terlebih, dia bergadang semalaman.
"Bang Andhraaaa ... Bangun dong. Kalau tidak bangun, Cyra masuk nih!"teriak gadis remaja yang sekarang sudah berada tepat di hadapan Andhra.
"Sudah masuk baru bilang!" ketua Andhra, ditanggapi cengiran konyol Cyra.
"Bang, ayolah! Kita pergi piknik bersama-sama. Kak Rossi ikut lho, bahkan dia sudah berada di bawah sekarang." Sambil menarik selimut Abangnya.
"Abang capek, Cyra .... Abang dirumah saja, ya! Bilang sama kakak iparmu buat nemenin Abang di rumah!" Andhra hendak menarik selimutnya lagi, namun di tahan oleh Cyra.
"Nggak boleh, Abang harus ikut bersama kami kali ini. Ayolah Kak, kita tengok pantai yang begitu indah. Seindah bahasa hati Bang Andhra ketika jatuh cinta." Cyra memainkan alisnya menggoda. Andhra sampai melengkungkan bibirnya karena ulah Cyra.
"Ayolah, Bang! Semuanya sudah menunggu. Tinggal Abang ini yang belum bersiap." Cyra menarik lengan kekar Andhra.
"Tapi Abang enggan Cy!"
"Gitu saja terus. Abang tuh nggak bisa apa, sekali saja pergi ke pantai demi Cyra. Cyra sangat ingin pergi ke pantai Bang! Tapi selalu saja tidak keturutan. Semua itu karena Abang!" tuduh Cyra penuh dramatis.
"Kenapa Abang pula yang disalahkan? Kamu kan bisa pergi sama yang lainnya. Contohnya ya, sekarang ini. Kamu bisa bersama Papa, Mama, Kaka ipar kamu."
"Calon kakak ipar, Bang! Belum jadi ipar. Makannya disegerakan dong, biar mantap hati panggil Kakak iparnya."
"Tahu apa kamu soal begituan."
"Tahu banyak lah. Sudah banyak kejadian lho, gadis pinangan diambil orang lain." Andhra mencebik meremehkan.
"Baiklah, berarti, jika nanti Kak Rossi mendapatkan yang baru di sana ...!"
"Aku ikut pergi!" Andhra panik
To be Continued
__ADS_1