Ngumbara Cinta

Ngumbara Cinta
Part 47 Flashback 2


__ADS_3

Apakah ini bisa terbang?" Masih mengamati layangan itu.


Andhra tersenyum sedangkan Ozan enggan jika harus menerbangkannya saat ini.


"Bisa, sini aku tunjukkan ada videonya kok!"


Andhra membuka handphone miliknya. Isy antusias untuk melihatnya.


"Wahhh mas Andhra keren banget nariknya, pasti berat ya. Sampai berkeringat begitu." Komentar Isy matanya tidak lepas dari video itu. "Layangannya panjang banget ya." Ucapnya lagi. "Itu anak gendut ngapain nggak pakai baju? Item lagi mirip kebo di kampung kakek aku." Serunya. Ozan langsung melotot dan Andhra tertawa terpingkal pingkal.


"Isyyyy...! Kita pergi ke taman saja yuk. Beli es krim." Bujuk Ozan, agar dirinya tidak kena ejekan lagi. Untung saja di video itu dirinya terlihat dari belakang.


"Sudah ya lihat kebonya, kita pergi beli es krim." Canda Andhra, mengejek Ozan yang mukanya seperti baju lecek. Isy  mengangguk setuju.


Suasana taman masih saja ramai. Beberapa orang memilih duduk di bawah pohon besar. Ada juga yang membawa tikar dan tenda. Sepertinya mereka sedang piknik. Beberapa anak berlarian kesana kemari. Ada yang bermain bola, bermain balon ada juga yang main gelembung sabun.


"Aku mau main gelembung itu." Tunjuk Isy saat baru sampai. Ozan menyingkir dan duduk manis di bangku taman, menyaksikan para orang tua yang menemani anak anak mereka bermain.  Andhra menarik tangan Isy bersamanya. Di belilah tiga botol dan mulai memainkannya. Isy tertawa riang sambil mencoba meraih gelembung gelembung yang berterbangan ciptaan Andhra.


"Pelan pelan isy." Seru Andhra mengingatkan. Isy tetap berlari kesana kemari mengikuti kemana gelembung itu di bawa angin berusaha meletuskannya. Tawanya semakin kencang manakala dia berhasil.


Saking bahagianya Isy tidak menyadari jika ada orang yang lewat hingga dirinya bertabrakan.


"Hai, kau punya mata tidak seh." Umpat anak perempuan itu. "Mama...! Bajuku kotor." Kata anak perempuan yang di perkirakan umurnya lebih tua daripada Rossi.


Isy otomatis berhenti sejenak lalu mengulurkan tangannya. "Maaf ya, aku tidak sengaja." Ucapnya tulus. Tapi tidak ditanggapi oleh anak yang terjatuh tadi.


"Hai kau apakan anakku?" Seorang wanita yang kemungkinan ibunya berteriak sambil mendorong Isy,  Andhra buru buru mendekat menangkap tubuh Isy yang hampir terpelanting.


"Hai nyonya, Isy sudah meminta maaf. Dia tidak sengaja, harusnya anda menyuruh anakmu untuk memaafkannya bukan malah mendorongnya." Andhra belum melihat dengan jelas perempuan yang dia ajak bicara karna masih sibuk memeriksa anaknya yang terjatuh.


"Hai kau...!" Kini perempuan itu memutar tubuhnya. Duarrr dia begitu terkejut karna yang berada di hadapannya adalah anak yang menggagalkan pesta pernikahan sang adik.

__ADS_1


"Kau bocah yang berbuat onar itukan. Dimana orang tuamu hahhh. Kau bocah yang tidak punya sopan santun apa orang tuamu tidak pernah mengajarkan itu.


Andhra mengepalkan tangannya. Mengapa harus sekarang dia dipertemukan dengan orang yang membuat mamanya meregang nyawa. Andhra ingin membalas cacian dan makiannya tapi entah mengapa bibirnya terkatup rapat. Udara di sekitarnya serasa sesak.


"Dasar anak sialan. Berani beraninya kau melototiku. Apa kau tidak tahu siapa aku ha." Suara lantang Hasma waktu itu.  Membuat beberapa pengunjung taman menoleh. Dia yang menyadari akan hal itu pun sadar akan posisinya saat ini.


Andhra masih menatap Hasma dengan tatapan membunuh. Kejadian lima tahun yang berusaha dia hilangkan dari ingatannya itu terulang kembali. Aliran darahnya serasa mendidih dan keringat dingin bercucuran membasahi tubuhnya. Andhra mencoba menahan amarahnya, dia sudah berjanji akan membalas jika sudah saatnya. Teringat perkataan dokter yang menyuruhnya mengatur nafas jika hal seperti ini terjadi lagi.


"Mas Andhra." Isy menggoyangkan tangan Andhra. Beberapa saat tidak ada respon sampai dia mengulangnya beberapa kali dengan panggilan yang sama. Sampai dirasakannya ada tangan di bahunya.


"Minumlah Ndhra." Ozan menyodorkan sebotol minuman dingin. Andhra langsung membuka dan meneguknya hingga tandas.


"Perempuan ituuuu!"


"Kita akan menghadapi dia bersama sama. Tapi dia memiliki kekuasaan, kita hanya memiliki tangan, tapi kita juga memiliki pikiran. Jika sudah waktunya kita akan bergerak." Ozan mengguncang bahu Andhra menguatkan.


"Dia jahat." Isy ikut berkomentar "Tapi Andhra ku sangat baik. Jika sudah besar nanti, Kang Andhra pasti akan menghajar orang itu. Iyakan?"


.


Hari semakin sore, perjalanan mereka lanjutkan berdoa di makam wali. Berharap Tuhan mengabulkan doa mereka agar di pertemukan di lain waktu. Serta keselamatan dan keridhoan semoga selalu menyertai kehidupan mereka.


Andhra mengantarkan Isy ke kontrakan bibinya. Ternyata disana sudah ada paman Bara. Paman Bara yang patah hatinya sebelum tersampaikan. Karna bibinya Isy tidak bisa menetap di kota itu. Ada banyak pekerjaan yang harus dia kerjakan. Sedangkan Bara juga tidak bisa meninggalkan keluarganya di kota ini. Apalagi anaknya masih kecil. Duda itupun harus patah hati sebelum memulai. Mereka juga tidak sanggup jika hubungan jarak jauh.


"Isy, ingat aku dalam doamu ya." Andhra mencium kening Isy. Dia juga memberikan sebuah kotak kepadanya agar di buka nanti jika sudah sampai di rumahnya.


"Ingat aku dalam mimpi, dalam doa, dalam nafas dan dalam setiap waktu oke!  Mengacungkan jari kelingkingnya. Andhra pun menyambutnya hangat dan sendu. Pertemuan ini akan segera berlalu, menyisakan luka dalam rindu yang mungkin terus membelenggu.


"Janji."  Isy mencoba percaya pada takdir masa depan.


Andhra hanya mengangguk lalu memeluk Isy erat sebelum benar benar berpisah.

__ADS_1


"Kau harus bisa jaga diri, jangan lupa makan ya. Dan jangan nakal nanti bibi kerepotan. Dan harus belajar yang rajin biar bisa mengumpulkan uang untuk datang kemari." Andhra mengusap air mata di wajah Isy


"Aku akan datang di saat kau tidak menyadarinya. Aku akan sangat cerewet sampai Kang Andhra tidak lagi menanyakan kabarku nanti. Kita akan tetap mengirim kabar kan?" Diangguki kembali oleh Andhra.


"Tapi bagaimana jika kita tidak bisa saling mengabari. Bisa saja kan nomerku hilang begitu kata bibi." Melirik bibinya yang mengatakan itu.


"Sampaikan lah pada langit agar dia menyampaikan rindumu lewat hujan kepadaku."


Anddhra memeluk kembali Isy lebih erat. Entah perasaan apa itu yang pasti hampir sama dengan apa yang di rasakan saat kehilangan orang tuanya, hanya saja sedikit berbeda.


Flashback off


"Aku melihat sosok Isy dalam diri Rossi. Entah benar atau tidak, tapi keduanya memiliki gaya yang hampir sama. Apalagi tahi lalat itu."


"Tahi lalat?" Ulang Ozan yang sama sekali tidak tahu menahu.


"Iya! Tepat di bawah bibir kanan, mirip sekali dengan milik Isy."


"Tapi, mana mungkin bisa terjadi, sedangkan umur Rossi sekarang, akan  lebih tua daripada umur Isy saat itu."


"Siapa bilang? Umur Rossi sama dengan umur Isy. "


"Mana bisa? Dia satu kelas dengan Dara!" Sanggah Ozan.


"Rossi itu anak yang pintar, jadinya lompat kelas dua kali." Ozan mengedip tidak percaya dibuatnya.


"Kau tahu sampai sejauh itu?"


"Bahkan phobia terhadap makhluk yang sama."


"Jangan bilang kau...!" Ucapan Ozan menggantung, matanya melotot sempurna, saat pandangan Andhra seolah mengerti akan apa yang ada dalam pikirannya.

__ADS_1


To be Continued


__ADS_2