
"Kau selalu membuatku marah. Tak bisakah kau setia dan membiarkan hatiku bahagia?" Alan mengernyit malas. Memutar bola mata yang seharusnya berbinar.
"Bisa, tidak?" Ulang Wanita itu bersungut-sungut. Tapi tubuhnya tetap memunggungi Alan.
"Apa perlu aku jawab?"
"Tidak! Tapi bisa kau buktikan secepatnya. Itu sudah lebih dari cukup." Keduanya berjarak. Alan memilih pergi ke kamar mandi dengan sedikit membanting pintu.
Andai saja dia tidak terikat. Andai saja dia bisa memilih kehidupan bebas yang lebih baik. Ternyata uang bukanlah jaminan hidup bahagia. Semakin melangkah, Alan merasa semakin hampa. Tanpa cinta dan juga gairah. Hambar setiap waktu. Tetesan air seperti menertawakan dirinya sekejab menemani dan kemudian pergi. Alan melampiaskan rasa kesal dengan memukul dinding.
"Brengsek! Tunggu saja tanggal mainnya."
~
~
"Ndhra, kenapa kau berikan proyek itu kepada Alan dengan begitu mudahnya?" sungut Ozan ketika berada di ruangan Andhra kembali. Mereka berdua baru selesai meeting.
Berhari-hari Ozan telah bersusah payah mempelajari, menyeleksi beberapa orang dianggap pantas. Tapi nyatanya, Andhra dengan mudah melepas proyek itu pada Alan.
"Untuk menangkap seekor burung, kita harus siapkan sangkarnya bukan?" jawab singkat Andhra membuat Ozan terdiam beberapa saat.
"Tapi bagaimana jika dia tidak profesional? Dan bagaimana jika tujuannya hanya untuk menghancurkan dirimu. Kau tahu benar jika selama ini musuhmu adalah dia. Tapi kenapa kau bertingkah seolah-olah tidak tahu? Berulang kali kita kewalahan menghadapi tingkah liciknya itu. Dan sampai saat ini, semua bukti sulit kita dapatkan meski kita tahu kebenarannya."
"Lalu, apa rencanamu?"
"Buat dia begitu sibuk!" Andhra membisikkan sesuatu ke telinga Ozan diiringi seringai licik Andhra membuat Ozan berpikir cerdas. Di otaknya kini menyala ide gila yang membuat lawan bisa tunduk tanpa syarat.
"Aku mengerti!"
"Pantau saja semuanya. Tempatkan orang-orang kita disekitarnya. Kali ini pasti akan berhasil." Andhra mengambil jas dari kursi kerjanya kemudian bergegas pergi.
"Ndhra, sebentar lagi kita ada meeting lagi. Kau...!" Andhra tidak lagi menghiraukan ucapan Ozan. Dia melenggang pergi. "Ndhra...Tuan Besar akan sangat marah jika kau menghindar lagi." Keluh Ozan.
Meeting kali ini adalah dengan kakak tertua keluarga Abhimanyu.
"Soal perempuan itu, akan aku pastikan tidak lagi berbuat ulah." bujuk Ozan lagi. Andhra memasukkan ponselnya kedalam saku jas dengan terburu-buru.
Ozan melihat pada pergelangan tangan. Jam menunjukkan pukul sebelas. Masih lama untuk jadwal makan siang. Tapi kenapa Andhra begitu tergesa-gesa?
"Hanya sebentar saja!" Kilah Andhra. Dia menyapu meja dengan pandangan. "Berikan ini pada Mella dan bilang padanya untuk mewakili diriku dalam presentasi kali ini. Aku akan menyusul jika sempat."
"Pak!" Hampir saja Andhra bertabrakan dengan OB. Tatapan Andhra menelisik tajam. OB itu juga berani menatapnya. Namun beberapa menit kemudian menundukkan kepala.
"Maaf! Ini kopi Anda!"
Tanpa menjawab Andhra melenggang pergi melewati OB.
"Bos!" Andhra lagi-lagi tak menghiraukan sapaan Mella.
"Pak! Iniii...!"
"Bawa saja ke ruangan ku. Aku akan meminumnya di sana!" titah Ozan.
__ADS_1
"Ozan! Kenapa Bos begitu terburu-buru. Aku perlu tanda tangan." Mella tergopoh mendapati Ozan yang memilih duduk di sofa bagian depan ruangan Andhra.
"Nanti saja!" jawab Ozan sekenanya. "Akhir-akhir ini Andhra bertingkah laku sangat aneh. Bahkan dia tidak lagi bercerita padaku." Ozan seperti orang yang tengah patah hati.
~
~
~
"Fariq!" Sapa Andhra ketika telah sampai di sebuah kafe dalam ruang privat. Keduanya saling merangkul.
"Dua orang hebat telah bersatu!" Satu orang lagi datang dengan melebarkan tangan. Ketiganya saling merangkul dengan gaya gentleman.
"Kau sendiri, Kak?"
"Yeah, seperti rencana awal," kata Andhra antusias.
"Baiklah, kita mulai meeting kita." Ryoki meletakkan laptop miliknya kemudian mulai berselancar. "Tapi ada baiknya ku pesankan Kalian sesuatu. Mau apa?" tanya Ryoki.
Sebagai Tuan rumah yang baik, tentu harus royal.
"Pilihkan saja yang menurutmu terbaik," sambar Fariq diangguki oleh Andhra.
"Okey!" Pesanan telah di realisasikan dan telah berada di hadapan mereka.
"Okey! Kita bisa mulai."
"Dia dokter bedah. Namun, juga bisa menjelma menjadi dokter kecantikan." Kali ini Farid yang bicara. "Aku menanyai beberapa orang di sekitar. Dokter Indah menghilang setelah terjadi kebakaran." Andhra segera menoleh pada Fariq.
"Kebakaran?" gumam Andhra yang langsung teringat akan kejadian 15 tahun lalu.
"Iya! Namun tidak sampai membumihanguskan seluruh rumah. Hanya bagian klinik saja dan itupun bisa di padamkan warga sekitar."
Andhra mengerutkan dahinya. "Bagaimana prediksi mu?" tatapan Andhra beralih pada Ryoki.
"Kurasa itu sebuah kesengajaan atau juga kecelakaan karena ingin meloloskan diri. Dari tempat kejadian perkara ada beberapa barang yang rusak di bagian klinik."
"Ada lagi yang mengatakan bahwa sebelum kebakaran itu terjadi, dokter Indah mendorong seorang wanita masuk ke dalam mobil pribadinya. Kemudian seakan menyuruh wanita itu pergi."
"Lalu!"
"Warga itu tidak lagi melihat kelanjutannya. Sebab dia sedang menggendong anaknya yang tengah menangis." Penjelasan Fariq semakin membuat kasus ini sulit dipecahkan.
Ryoki nampak masih aktif dengan laptop kemudian tersenyum.
"Aku rasa, video ini sengaja disembunyikan. Aku menemukan sidik jari orang lain dalam flashdisk ini," ucap Ryoki. "Dan kemungkinan terbesar adalah pemilik rumah itu sendiri."
Lihatlah!" Ketiganya sama-sama manatap layar. "Ini seperti rekaman dari kamera tersembunyi. Satu arah yang efisien untuk bisa mengontrol segala aktivitas di ruangan itu. Dan video ini...!"
"Apa...!"
"Ini pasti yang mereka cari!" ucap Fariq tiba-tiba. Ryoki dan Andhra menatapnya penuh selidik.
__ADS_1
"Beberapa hari yang lalu, ada dua orang pria mencoba memasuki rumah dokter Indah dengan dalih penagihan hutang."
"Bisa saja itu suruhan Hasma. Berhati-hatilah. Bisa saja kau sudah dalam target saat ini." Peringat Andhra.
"Santai sajalah, Kak! Kau pasti mengenal siapa aku, bukan?" Menepuk bahu kakaknya.
"Darimana kau dapatkan semua bukti ini?" Ryoki dan Farid saling menatap.
"Kami bawa dari rumah itu!" ucap Ryoki.
Bunyi getar ponsel Andhra membuat ketiganya menoleh ke arah sumber suara.
"Halo, Sayang!" suara Andhra terdengar lembut. Fariq mencebik
"Kakak ipar?" tanya Fariq saat melihat gelagat Andhra yang senyum-senyum merona. Tanpa menjawab Andhra berdiri. Memasukkan satu tangannya ke saku
"Pastikan Kalian menyimpan data ini dengan rapi," ucapnya sebelum pergi.
"Dia...!" Ryoki menggantungkan tangan di udara.
"Biarkan saja. Kalau mau kau juga bisa pergi. Waktu makan siang nih." Fariq menunjukkan jam di tangannya.
"Kau benar! Bagaimana denganmu?"
"Kurasa makanan ini cukup mengenyangkan." Ryoki terheran sebab semua cemilan tandas. Kapankah makanan ini pindah ke perutnya?
Fariq mengedipkan mata sambil bersandar pada tempat duduknya.
"Baiklah, aku pergi!"
"Hati-hati di jalan."
"Yoi!"
Ryoki berjalan santai sambil menenteng laptopnya. Dia masuk ke dalam mobil dan mulai berkendara.
"Sial!" Umpatnya. Seorang perempuan jatuh tepat di depan mobil. Padahal, dia merasa tidak menabraknya.
"Apa kau baik-baik saja?" Setelah turun.
"Ya! Nggak apa!" Ryoki mengulurkan tangannya membantu gadis itu berdiri. Tapi sekelebat bayangan membuat dirinya mengurungkan niat baiknya.
"Hai...Kalian!"
Dua pria bermotor membawa kabur laptop yang tadi dia bawa. Saat hendak mengejar dia malah diserang oleh gadis tadi.
"Kalian sekongkol?" Terpaksa Ryoki meladeni serangan gadis gila itu. Serangannya cukup menghawatirkan.
"Sialan!"
Ryoki mengusap kasar wajahnya dan berteriak frustasi.
To be continued
__ADS_1