Ngumbara Cinta

Ngumbara Cinta
Part 35


__ADS_3

Hasma mondar-mandir sambil sesekali memeriksa jam di pergelangan tangannya. "Kurang ajar sekali anak itu, berani beraninya dia mengurungku di tempat ini," gumam Hasma dengan nada kesal sambil menggigit kuku di jarinya.


Hasma teringat akan jadwalnya hari ini dia harus mengunjungi Rangga di rumah sakit jiwa. Tapi sekarang dia terkurung di rumah Ryo.


"Hai, kenapa kalian menghalangi jalanku," Hasma membentak bodyguard yang mencegatnya saat ingin keluar dari bar mini milik Ryo.


"Maaf, nyonya! tapi tuan kami tidak mengizinkan anda keluar dari ruangan ini," jawab bodyguard berbadan kekar itu.


Dengan kesal Hasma melangkahkan kakinya  masuk ke dalam kembali. "Berikan aku segelas minuman," ucap Hasma dengan kesal kepada bertender. Setelah bertender itu memberikan minuman kepadanya, Hasma langsung meneguknya seperti minum air mineral dan meminta di tuangkan kembali minuman itu lagi dan lagi.


Diruang tamu dua orang yang dianggap sebagai musuh bebuyutan kini mengadakan gencatan senjata.


"Apa yang membuat anda kemari wahai tuan Angger Andhra Abhimanyu yang terhormat," Ryo sebenarnya sudah bisa menduga apa maksud kedatangan Andhra ke kediaman miliknya, tapi itu rasanya kurang pas jika tidak menanyakan kepada yang bersangkutan secara langsung.


"Kau, Semut! sudah pasti bisa mengetahui di mana adanya gula. Dan sekarang, aku sangat membutuhkan gula yang kau temukan itu, untuk mempermanis kehidupan yang aku jalani," Andhra mulai mengutarakan apa yang menjadi tujuannya.


"Ayolah, jangan terlalu terburu-buru, wahai calon kakak iparku," Ryo menyodorkan minuman untuk Andhra. 


"Kau selalu mengulur waktu," desis Andhra sambil menerima gelas yang di sodorkan oleh Ryo.


"Tuan Andhra, pertama-tama saya sangat terharu dengan kehadiran anda di Sarang Semut. Ini sungguh suatu keajaiban," Ryo tertawa sedangkan Andhra hanya diam menanti kelanjutan ucapan Ryo.


"Dan yang lainnya, saya ingin menunjukkan sesuatu kepada anda," Ryo mengisyaratkan pada Andhra untuk mengikutinya. Sebelum itu, Ryo mengirim pesan kepada bodyguard untuk membiarkan Hasma keluar dari pintu samping. Ryo tidak mungkin mempertemukan Andhra dan Hasma di rumahnya, karna itu akan berpengaruh untuk bisnis yang di jalaninya.


Sampailah kini Ryo dan Andhra di sebuah ruangan yang sedikit tertutup, Andhra memperkirakan jika ini adalah ruang rapat. Ada proyektor di sana.  Ryo berjalan ke arah meja paling ujung dan mengetik sesuatu pada laptopnya. Nampak gambar di proyektor itu kejadian beberapa tahun yang lalu.


"Darimana kau mendapatkan video itu," suara Andhra terdengar bergetar. Ryo hanya tersenyum kemudian duduk pada sebuah kursi.


"Sebenarnya sudah lama saya ingin menyampaikan hal ini kepada anda, tuan. Aku adalah anak dari tuan Nanda Maulana, tentu anda tahu siapa itu Nanda Maulana," Ryo melirik mimik muka lawan bicaranya yang terlihat datar. 

__ADS_1


*Aku seperti pernah mendengar nama itu? tapi dimana?* batin Andhra.


"Anda mungkin familiar dengan nama itu, tapi bisa jadi anda tidak mengingatnya. Karna kejadian itu sudah terlalu lama. Tapi jika anda melihat wajah ini, anda pasti tahu siapa Nanda Maulana," Ryo mengarahkan jarinya pada sebuah file lalu membukanya."


Dari foto itu terlihat jelas ada Fadal Gashani dengan dua orang pria duduk dalam satu meja. Foto yang lainnya ada empat orang pria berada di bawah pohon, mereka duduk bersila pada sebuah karpet. Dan terakhir foto dua orang sedang berangkulan yaitu Fadal Gashani dengan temannya.


"Paman Lana," gumam Andhra namun terdengar jelas oleh Ryo. Ryo menyunggingkan senyum tipisnya. Paman Lana adalah teman karib Heru yang membawa kabur Andhra saat kejadian itu.  "Jadi, kau adalah," suara Andhra tercekat mengetahui jika Ryo adalah teman masa kecilnya sebelum dia tinggal dengan kakek Suluh.


"Subhanallah begitu besar keagungan Tuhan telah mempertemukan kita setelah sekian lama," di peluknya erat sahabat yang telah sekian lama tidak berjumpa. Dahulu mereka sering bermain bersama, bahkan sekolah di tempat yang sama.


"Raja Elang, aku dan ayah mencarimu bertahun-tahun lamanya. Hingga aku pindah ke kota ini, karna melihat dirimu dalam sebuah acara seminar di kampus waktu itu. Aku sudah mulai menduga jika anda adalah anak dari tuan Fadal Gashani dan Diana Gashani, anda adalah pewaris keluarga Gashani. Maka dari itu, aku menyamar sebagai pesuruh dan membantumu dalam penjebakan yang anda lakukan terhadap nona Mella."


"Lalu, apakah kau benar-benar melakukan itu?" ada perasaan bersalah dengan apa pernah di lakukannya terhadap sang adik. Ryo tersenyum tipis, kemudian mengganti gambar pada layar.


"Inilah foto yang sebenarnya, Tuan! aku tidak tega melakukan itu kepada nona Mella," ucap Ryo sambil menunduk " maaf, saya tidak menyelesaikan tugas yang anda berikan. Saya hanya mengedit foto itu agar terlihat benar-benar real," Ryo semakin menunduk.


"Itu sudah menjadi tugas saya, Tuan!"


✓✓✓


Dua gadis berbeda usia, kini sudah berada di dalam sebuah mall. Satu orang remaja pria berjalan santai mengikuti kemanapun mereka melangkah. Sesuai dengan apa yang dipikirkan oleh Cyra.


"Mau kemana lagi kalian? dari tadi muter-muter terus tidak jelas mau beli apa memangnya?," Candra kembaran Cyra sudah mulai jengah. Pasalnya sore ini dia sudah membatalkan janji dengan pacarnya hanya untuk menemani Cyra.


Candra memang selalu mementingkan keinginan Cyra dari pada keinginan dirinya sendiri. Lagi pula Cyra jarang sekali meminta sesuatu darinya.


Dan sore ini, tadinya Candra bermaksud untuk menjemput Cyra yang katanya sudah janjian di taman bersama Andhra. Saat di lihatnya Cyra  duduk berdua di taman dengan orang asing. Candra menghampiri keduanya lalu Cyra memperkenalkan Candra kepada Rossi.


"Menyesal juga aku ikut ngobrol kalian tadi," gumam Candra sambil tetap mengikuti langkah keduanya. Kini mereka kembali memasuki toko pakaian.

__ADS_1


"Iklas nggak seh nganterin kami?"


"Iklas banget, Ra! tapi dari tadi kita hanya keluar masuk toko tanpa membeli sesuatu apapun, kalian maunya apa?" masih dengan gaya coolnya memasukkan kedua tangannya ke saku hoddie yang di kenakan.


"Mau beliin baju buat Cyra sebagai kado, tapi kenapa harganya selangit ya, kalau aku beli di pasar  satu baju bisa dapat tiga. Kalian seh pakai acara ngajak ke mall segala," Rossi mengerucutkan bibirnya kepada dua anak kembar itu.


"Jadi kakak dari tadi nggak jadi beli, karna masalah harga?" Cyra tidak percaya dengan apa yang di pikirkan Rossi.


Jujur banget nih kakak. Ah, aku juga lupa untuk belikan dia baju. Kasihan nanti kalau dia datang ke pesta, tapi jadi pusat perhatian sebab penampilannya yang kurang keren. Aku yang sering mendapat ejekan saja tidak nyaman. Batin Cyra


"Iyalah, harganya sama dengan gaji aku dua bulan, jadinya aku mikir dua kali buat beliin kamu baju, padahal bagus banget yang tadi mah, cocok buat kulit kamu yang putih bersih," Rossi berkata tanpa menyadari jika kedua bocah di hadapannya kini sudah mengeluarkan tanduk.


"Seharusnya, bilang dari tadi! biar tidak buang buang waktuku saja, ah! kalian ini!" Candra mengacak rambutnya frustasi.


"Yah, maaf, kak! aku juga baru tahu kalau kak Rossi mempermasalahkan harga, kan dia bilang bajunya kurang bagus, kurang cocok, apalah jadinya aku percaya saja," kata Cyra sambil nyengir kuda.


"Kalian, ya! huuhhh!"


"Oke! Kita balik lagi. Kak Candra yang bayar."


Ini kesempatanku untuk membelikan kak Rossi sebuah gaun. Aku sudah sangat cocok dengan kak Rossi. Ah, andai kak Andhra juga mengenalnya.


"Cyraaaa!"


"Kalau tidak, aku telpon kak Andhra."


"Jangaaan!"


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2