Ngumbara Cinta

Ngumbara Cinta
Part 75


__ADS_3

Mella duduk bebas diatas pasir, dengan memandang lepas jauh ke laut. Menikmati indahnya ombak saling berkejaran hingga menciptakan buih. Gadis yang kini memakai outfit lengkap dengan topi dan kacamata itu sendirian. Dia mengira, jika hari libur adalah waktu yang tepat untuk menjernihkan pikiran. Nyatanya, bisikan dan bayangan hitam akan perintah jahat ibunya kemarin menghantui dirinya hingga tidak bisa menikmati waktu.


*Balas Budi lah pada ibumu ini. Jadilah anak yang berguna. Bawa calon istri Andhra kehadapan ku. Maka, kau akan mendapatkan informasi tentang ayahmu yang tengah sekarat itu.*


Mella mengambil nafas dalam-dalam. Berpikir secara logis, kiranya lebih besar mana antara keuntungan yang dia dapatkan dari perintah ibunya, atau berkhianat pada sebuah kejahatan yang tentunya berujung pada penyesalan.


"Rossi, kau teman yang baik untukku. Dan Kak Andhra, adalah sosok yang paling aku kagumi. Kepribadiannya begitu baik. Bahkan dahulu dia mau mencabut tuntutannya demi diriku. Tapi apa sekarang? aku bahkan tidak bisa berbuat apapun setelah melihat kejahatan ibu. Apa yang harus aku lakukan?" Mella merasa sangat rapuh kali ini.


Dia memikirkan dan menimbang baik juga buruk pekerjaan yang harus dia pilih.


Bukankah segala hal yang baik akan berakhir dengan kebaikan pula? Aku dulu begitu egois dengan meminta Andhra untuk membebaskan ibu, nyatanya apa? Ibu selalu memeras diriku. Aku bagaikan robot yang selalu dikendalikan oleh dirinya. Akankah hidupku seperti ini terus? Tidak. Aku tidak akan lagi menjadi lemah.  Tapi, bagaimana caraku mengatasi masalah ini? Batin Mella.


"Nona manis, bolehkah saya duduk di sini?" Seorang pria tampan yang sangat dikenal oleh Mella datang menyapa. Di kedua tangannya ada dua cup ice coffee.


"Kau...di sini?"


Bukannya menjawab, pria itu duduk sangat dekat dengan Mella. Bahu mereka saja berdempetan. Mella jadi sedikit grogi karenanya.


"Tentu saja, sebab hatiku juga berada di sini!" Mengerling nakal pada Mella. "Ambillah! Ini untukmu. Ice coffee tanpa gula buat Tuan Putri tercinta." Mella menatap pria di sebelahnya dengan perasaan haru. Ada rasa membuncah yang dia sendiri tidak mengerti.


"Kenapa kau menatapku seperti itu?"


Mella segera membuang muka ke laut. Rona di pipi menandakan bahwa dia sungguh malu.


"Haiii... Kau ini, sungguh sangat pemalu." Menyenggol bahu Mella, menggoda rupanya. "Bolehkah aku meminta sedikit saja ciuman darimu?"


"Tidak! Hanya saja, aku merasa kau telah kembali seperti yang dahulu. Ryo yang benar-benar aku cintai sejak lama." Mella menunduk malu.


"Bukankah setiap waktu aku bersamamu?" Mella terkesiap, menatap ke dalam dua bola mata Ryo.

__ADS_1


"Tapi pancaran sinar mata itu kadang berbeda, Ryo." Ryo sampai berdehem guna menetralkan nafasnya yang terasa sesak. Membuang muka sembarang arah, namun tetap saja, Mella menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa Ryo pahami.


"Kau kadang terlihat berbeda, aku kadang merasa bahwa kau adalah orang asing bagiku!" Mella tidak mengerti bagaimana caranya dia mengungkapkan isi hatinya. Perasaannya terhadap Ryo seringkali berubah-ubah. Kadang Mella merasa nyaman, kadang pula merasa was-was dan enggan dekat dengan Ryo.


"Maksudmu apa?" Ryo mengusap lembut air mata yang hampir menetes.


"Aku lelah Ryo, aku lelah." Mella bersandar pada bahu Ryo, air mata yang sejak tadi dia tahan tumpah tanpa terbendung lagi.


"Lepaskan belenggu itu, Mella katakanlah!"


"Kemarin, saat aku ditugaskan pergi ke PT IndoChick, aku sempat terbersit rasa yang sama kepada orang lain, Ryo. Orang asing yang aku sendiri tidak tahu bagaimana rupa wajahnya. Tapi, aku seperti sangat mengenal dirinya. Ketika itu juga hatiku bercabang. Aku ingin tetap setia, tapi pria asing itu berhasil mencuri hatiku. Dan saat bersamamu, perasaan ini juga sama. Aku harus bagaimana?"


Bibir tegas Ryo seketika melengkung sempurna. Ryo semakin mengeratkan tangannya pada bahu Mella. Rasanya begitu indah dicintai berkali-kali oleh orang yang sama.


"Apa kau tidak marah padaku?" Mella membuat jarak diantara keduanya sehingga bisa melihat wajah Ryo yang tampak biasa saja.


"Hai, kenapa menatapku begitu?"


"Owh, jadi begini kelakuanmu yang sebenarnya, kau bilang padaku agar kita bertemu di pantai saja. Dan ternyata Kau di sini lebih dulu hanya untuk bermesraan dengan pasanganmu tanpa khawatir apakah aku sudah sampai dengan selamat apa tidak?"  Mella berjengit kaget, sampai reflek berdiri. Rossi bertolak pinggang dengan gaya emak-emak memarahi anaknya.


"Kau sendirian kah? Dimana yang lain?" Mella menelanjangi setiap bibir pantai sejauh mata memandang.


"Ya! Karena diriku terlalu sibuk, jadi tidak menyadari kedatangan kami. Bahkan kau sangat sibuk, sampai tidak tahu tempat istimewa kami. Lihatlah ke sana!" Rossi sedikit menarik tubuh Mella, lalu memutarnya sedikit. Cyra yang kebetulan mengawasi dari atas tikar melambaikan tangan, begitupun dengan Candra, yang lain hanya tersenyum.


What? ternyata mereka tidak jauh dari tempatku berada . Itu artinya, mereka semua melihat apa yang aku lakukan bersama Ryo tadi. Pikir Mella.


"Apa kau sedang malu?" Bisik Rossi menyenggol bahu Mella.


"Kau ini!"

__ADS_1


"Kau mau gabung bersama kami, atau bermesraan di sini?" Rossi menaik turunkan alisnya menggoda.


"Ikutlah!" Memegang lengan Rossi prosesif.


"Hai, kenapa tidak gandeng aku saja?" teriak Ryo.


"Iya, nanti kalau digandeng orang lain, menyesal loh." Rossi menimpali.


Kini Rossi sudah berada di tengah-tengah keluarga Abhimanyu, Rasya dan Rena menata makanan sambil bergurau sedangkan Cyra dan Candra tengah asyik bermain pasir.


"Kakak mencari Abang ya?" suara Cyra terdengar lebih kencang agar tidak hilang di sapu angin. Sesekali gadis itu juga membenahi kacamata. "Abang pergi ke sana tadi!" tunjuk Cyra pada sebuah pohon kelapa doyong. Di sebelahnya ada sebuah saung klasik yang menarik.


"Kau... Kenapa sendiri disini?" tanya Rossi sembari duduk sedikit berjarak dari Andhra. "Apa kau baik-baik saja?" Nampak sekali jika Andhra tengah mengeluarkan banyak keringat, padahal ini di pantai lho, angin terasa sejuk menyegarkan. Jadi, bagaimana bisa seseorang yang tidak melakukan aktivitas apapun bisa berkeringat berlebih begitu.


"Andhra! Kang! Kau tidak apa-apa?" Diamnya Andhra membuat hati Rossi seketika tersentuh, Rossi mendekati Andhra yang terlihat gemetar.


"Kang! Hai, pria batu! Kau kenapa?" Ingatan Rossi kembali pada cerita Andhra yang mengalami trauma masa kecil.


Andhra mengepalkan tangannya kuat, seakan menahan gejolak yang begitu menyakitkan. Keringat bercucuran membuat kaos yang Andhra kenakan nampak basah. Bingkai kacamata yang menempel tidak mampu menutupi semburat merah mulai muncul pada wajah tampan itu.


"Andhra!" Rossi reflek memeluk tubuh yang terasa lembab oleh keringat. "Jangan begini! Kuatlah Andhra, aku akan selalu bersamamu. Jangan begini. Lepaskan masa suram itu dan belajarlah iklas. Masih banyak kehidupan indah yang menantimu."


Andhra, aku tidak tega melihatmu begini. Hatiku sungguh sakit melihatmu menahan semua ini sendiri. Bagaimana bisa seseorang yang terlihat sempurna sepertimu nyatanya menahan siksaan yang teramat sakit. Batin Rossi.


Tiba-tiba saja Andhra mendorong tubuh Rossi hingga terpental mengenai dinding saung.


"Auwwhh!"


"Pergi!"

__ADS_1


Rossi menatap Andhra dengan perasaan kecewa.


To be Continued....


__ADS_2