
"Buat apa aku bersedih? Buat apa?"
Rossi berlari sambil sesekali menyeka air mata. Hujan tangisnya tak kunjung reda bahkan saat dirinya telah sampai di persimpangan jalan. Dia tidak menghiraukan klakson yang menggema beberapa kali. Langkahnya terus saja menapak entah kemana arah tujuannya, Dia sendiri tidak tahu.
Kecewa dan merasa tidak berdaya itulah yang terjadi pada hatinya. Kenapa rasanya sangat sakit? Harusnya aku tidak terluka. Tapi, bukankah dia calon suamiku. Rossi bersandar pada tiang rambu-rambu lalu lintas. Tubuhnya lunglai dan mulai tidak bergairah.
"Tidak! Jangan menangis Ros, semua yang terlihat mungkin saja salah. Semuanya hanya kesalahpahaman." ucap Rossi menghibur diri sendiri. Cinta yang mulai tumbuh tidak akan mudah layu hanya karena teriknya matahari.
"Apa yang aku lakukan." Lirih Rossi. Dia mulai tersadar jika ternyata telah berada di tepian jalan. Suara deru mobil hilir mudik membuatnya kembali meneruskan langkah.
Di emperan toko, tanpa sengaja matanya menangkap adegan seorang pria mencium pipi seorang perempuan. Usia mereka terlihat jelas berbeda namun semburat mata keduanya memancarkan cahaya cinta yang tulus. Rossi tersenyum. Betapa indahnya kebahagiaan mereka. Batin Rossi.
"Jika segala masalah dibicarakan baik-baik pasti akan berakhir dengan indah. Setiap pasangan pasti akan mengalami kendala dalam setiap hubungan." Batin Rossi.
Pria itu menggandeng lembut jemari si perempuan seakan tidak pernah terlepas. Sebuah mobil berhenti tepat dihadapan mereka dan masuklah si perempuan setelah mendapatkan ciuman hangat dari Si Pria. Keduanya melemparkan lambaian tangan dengan senyuman penuh bahagia.
Tak lama kemudian, datanglah perempuan lain tengah hamil sambil menenteng beberapa paper bag. Senyum indah Rossi perlahan memudar. Rossi melebarkan telinga dan juga pupil mata. Benarkah apa yang dia lihat?
"Kau keterlaluan!" Ucap Si Perempuan terdengar jelas di telinga Rossi. Pria itu nampak terkejut kemudian seolah membela diri. Keduanya terlibat dalam cekcok.
"Pria semuanya sama saja." Umpat Rossi kemudian berlalu pergi.
Kenapa hubungan hati begitu rumit? Akankah berlanjut atau berhenti sampai di sini? Kenapa jatuh cinta sesakit ini? Apakah yang kulihat semuanya nyata?
Rossi berjalan gontai tanpa arah. Hatinya kembali resah. Antara ingin setia atau sudahi saja semuanya lalu hidupnya akan baik-baik saja seperti sebelumnya. Tapi mengapa begitu berat menerima kenyataan seolah dia enggan melihat Andhra dengan yang lain. Sakit tidak berdarah membuatnya lemah tidak berdaya.
Dalam kekalutan itu, tak sadar jika Rossi berada dalam situasi berbahaya. Seseorang memanggilnya beberapa kali tapi tidak didengar. Telinganya seakan mati hanyut dalam lamunan yang belum pasti.
"Kau mau mati hah?" Sebuah tangan kekar menariknya kuat hingga dia terhuyung lalu terjerembab jatuh ke dada bidang seorang pria yang harumnya sangatlah dia kenal. Rossi mendongak, ketika orang itu menariknya kuat dia masih terjebak dalam halusinasi. Begitu lemahnya dia hingga tidak menyadari bahwa dia telah sampai di tepi. Seseorang di hadapannya marah. Rossi memberontak sekuat tenaga namun tidak lebih kuat dari pelukan Andhra.
"Apa kau tidak berpikir hah? Bagaimana caraku melanjutkan hidup tanpa dirimu. Kau pikir apa? Kau bahkan tidak peduli akan hidupku. Nyawaku ada bersamamu. Kau hidup dan mati ku." Andhra memeluk erat tubuh Rossi yang masih diam mematung. Rossi belum sepenuhnya sadar. Tapi mengerti makna dari kata-kata Andhra.
"Sedalam itukah rasamu untukku?" lirih Rossi hampir tak terdengar. Namun telinga sensitif Andhra menangkap dengan jelas
"Pertanyaan macam apa itu?" Andhra mengurai pelukannya. Memandang penuh damba dan cinta wanita yang mengisi relung hati terdalam. Memeluknya lagi tanpa menjawab.
Keduanya hanyut dalam nada jantung yang bertalu-talu.
"Lepas!"
"Jangan pegang!" Rossi merajuk. Menarik keras tubuhnya lalu mendorong kuat dada Andhra. Meski tidak bergeser walau hanya sejengkal namun mampu menjauhkan tangan Andhra dari tubuhnya.
"Kenapa?"
"Kenapa katamu?" Rossi berdecak kesal. Baru saja tangan itu memegang wanita lain tidak iklas saja jika disentuh oleh tangan yang sama.
"Tidak ingatkah apa yang kau lakukan tadi?"
Andhra semakin bingung, Rossi semakin mencemooh gelagat Andhra yang dianggap sebagai kepura-puraan.
__ADS_1
"Jangan pura-pura. Kau memiliki wanita lain tapi kau ingin serius denganku. Hebat!" Rossi menepuk tangannya tepat di depan wajah Andhra. Gayanya yang sumbang namun rapuh.
"Kau ikat hatiku. Dan aku menikmatinya. Tanpa sadar rupanya kau berencana untuk menikam."
Andhra semakin bingung akan kata kiasan Rossi.
"Bisakah kau bicara terus terang?"
"Kau baru saja berpelukan dengan wanita lain di sana." Rossi dengan jengkel berteriak.
Andhra tersenyum tapi kemudian mengatupkan kembali bibirnya sebelum Rossi menyadari.
"Kau cemburu?"
"Hah! Apa maksudmu?"
"Kau cemburu?"
"Apa hubungannya?" Rossi kini yang dibuat bingung.
Cup. Andhra mencium kening Rossi.
"Apa yang kau lakukan?"mengusap kasar kening dan pipi.
"Masih kurang kah?" Mencium lagi.
"Tidak pernah satu kali pun kulakukan hal ini pada gadis lain," ucap Andhra. Mulut Rossi tanpa sadar melongo seiring mata yang melotot.
Owh hati, kau kenapa bisa selemah ini.
"Ayo!"
"Hai, mau kemana!" Saat sadar jika Andhra telah menyeretnya ke dalam mobil. Ada Ozan di sana.
"Pak, Ozan!"
"Hai, Kakak Ipar!"
"Panggil dia Ozan saja! Dia bukan bapakmu."
'Kenapa tiba-tiba pria ini cerewet sekali. Dasar Batu.'
"Jika ingin marah, marahi saja aku. Jika ingin membunuh. Maka, bunuhlah aku saja. Jangan korbankan dirimu demi apapun." Andhra mencium jemari Rossi berulang kali. Matanya berkaca-kaca menyiratkan keseriusan yang hakiki. Rossi bahkan tidak mampu mengucapkan sepatah katapun untuk sekedar menjawab.
"Oke!" Kini Andhra memegang pipi kanan Rossi dengan jemari masih erat digenggam. Keduanya saling menatap. Hingga tanpa sadar wajah Andhra semakin condong. Kedua bibir mereka menyatu dalam waktu lumayan lama.
"Wooi...belum muhrim wooi!"
"Fokus saja sana!" Menendang kursi yang diduduki Ozan. Rossi memilih menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Sabar, Bos!"
"Sialan, Luh!"
Kini mobil telah terparkir sempurna di sebuah butik.
"Ngapain kita kemari?"
"Menyakinkan hatimu!" jawab Andhra. Ozan pura-pura nyanyi sambil menggoyangkan kepala.
"Kenapa Kau selalu menatapnya?" tegur Andhra pada Rossi.
"Tidak! Aku hanya...!"
"Jangan terus menatapnya atau dia bisa saja ku bunuh!"
'Hai, kenapa dia berubah aneh begitu? Aku hanya menatap tapi dia marah. Dan tadi, dia bahkan sampai pelukan segala wajar dong jika aku marah. Apa dia balas dendam?
"Ayo masuk!"
Meletakkan tangan Rossi pada lengannya. Lalu menarik pinggang Rossi hingga menempel pada tubuhnya.
"Aku bisa jalan sendiri."
Berontak Rossi. Jangankan merenggangkan tangan, Andhra bahkan setengah menarik tubuh Rossi hingga mau tidak mau mengikuti langkah Andhra.
"Malu dilihat orang," bisik Rossi.
"Satu kali protes, satu kali cium." ucap Andhra tanpa menoleh. Pandangannya lurus dan dekapannya kuat serta hangat terasa. Namun jantung Rossi terpacu begitu kuat hingga terasa sesak nafas.
"Aku bisa jalan sendiri!"
Cup
Di pipi kanan
"Apa maksudnya itu?"
Cup
Di pipi kiri.
"Andhrarraaaa."
Cup cup cup.
"Kau ini!"
Cup
__ADS_1
Kali ini di bibir. Rossi melebar kan seluruh pupil.
To be Continued