
*
Pukul sembilan pagi, Dinda sudah sibuk di depan komputernya.
"Kriiing … kriiing …!" Suara iphon di meja Dinda.
"Selamat pagi,"
"Pagi, Din, siapkan kamar untuk tamu yang akan datang bersama Pak Udin. Tamunya ada empat orang kalau nggak salah,"
"Iya, Pak, sudah disiapkan dua kamar untuk empat orang."
"Sama bilang ke ibu dapur untuk menyiapkan makan siang untuk tamu ya, Din," titah pak Hadi.
"Iya Pak." Iphon ditutup.
Dinda memencet nomor dapur untuk menghubungi Bu Ratno.
Setelah menutup iphonnya, Dinda kembali di depan komputernya.
Pak Hadi keluar dari ruangannya, berjalan sampai di ambang pintu ruangan Dinda.
"Dinda, resume meeting yang lalu sudah selesai dibikin apa belum? Kalau sudah, saya minta satu, tolong bawakan ke ruangan saya, ya?"
"Iya, pak. Tinggal ngeprint saja ini,"
Dinda segera membuka file resumenya dan siap untuk di print sebanyak jumlah peserta yang ikut meeting delapan hari yang lalu. Menjadi tertunda karena terlalu banyak pekerjaan yang datang tanpa diduga.
Pak Hadi kembali masuk ke ruangannya. Menandatangani banyak laporan yang sedang menumpuk di meja kerjanya.
*
Pukul empat sore. Sudah waktunya pulang. Sebagian karyawan sudah keluar dari kantor. Dinda masih duduk di kursi kerjanya, ia tampak lesu, lelah, karena banyak pekerjaan yang dihandlenya hari ini.
Tiba-tiba, "Kriiing … kriiing …," iphon di meja nya berbunyi.
Dinda menjulurkan tangannya dengan malas untuk mengangkat gagang iphon.
"Halo, selamat sore,"
"Selamat sore, say…," suara dari seberang.
"Say?" Batin Dinda siapa ini yang memanggilnya 'say' sayur atau say apa …?
"Siapa nih?" Tanya Dinda sedikit membentak.
"Jangan galak-galak, Mbak Dinda,"
Baru Dinda bisa mengenali suara itu.
"Oh, heheee," Dinda tertawa. Suara yang di seberang pun ikut tertawa.
Mendengar suara itu, Dinda yang tadi lesu menjadi semangat.
"Ada apa, Pak?" Tanya Dinda.
"Kangen." Suara pria dari seberang.
"Apaan sih? Kok kangen?" Jawab Dinda sambil tersenyum. Dia berani tersenyum karena tidak dilihat sama yang bersangkutan. Jika ada yang bersangkutan pasti bikin malu saja. Mau ditaruh dimana muka ini.
__ADS_1
"Aku tunggu di klinik sekarang, lekas datang! Aku bawa oleh-oleh."
"Oleh-oleh? Beneran?"
"Iya, cepetan ke sini!" Sambungan iphon diakhiri.
Mendengar mendapat oleh-oleh, Dinda menjadi semangat empat lima. Yang tadinya lesu dan lelah, kembali tampak segar bugar. Matanya berbinar bagaikan bintang kejora di langit. Ia berjalan keluar dari kantor sambil bersenandung riang.
Nggak tahu kenapa, setiap mendengar suara orang itu, menjadikannya terbayang wajah pria itu, dan membuat hatinya sangat senang dan berbunga-bunga. Bahkan bisa menghilangkan rasa lelahnya. Tapi, ketika bertemu pria itu, akan membuatnya kikuk bahkan mati kutu.
"Mbak Dinda!" Sampai di depan klinik seseorang yang menelponnya tadi sudah berdiri menunggu di sana dan memanggilnya.
"Pak Mahmud," Mahmud berdiri menunggunya, Dinda tersenyum dan berbelok ke klinik.
Mahmud langsung mengajak Dinda masuk ke dalam klinik,
"Tunggu sebentar!" Kata Mahmud, sambil membuka kancing jaketnya lalu mengeluarkan kantong plastik dari sana.
"Untukmu." Kantong plastik itu dijulurkan kepada Dinda.
Dinda yang berjalan mendekati Mahmud, dibimbing oleh Mahmud dan didudukkan di kursi tempat Mantri memeriksa pasien.
"Haha… aku bisa jalan sendiri, tahu?" Dinda tertawa karena merasa lucu akan kelakuan Mahmud kepadanya.
"Sini aku tensi!" Mahmud langsung memasang tensimeter ke lengan Dinda.
"Kenapa, sih?" Dinda protes.
"Kamu kelihatan loyo! Jangan-jangan kurang darah,"
Diam sesaat. Menunggu hasil tensi.
Kemudian, "seratus per tujuh puluh enam." Kata Mahmud.
"Yang lalu, seratus sepuluh per delapan puluh," sahut Dinda.
"Tuh kan, kamu kurang darah?"
"Aku cuma capek. Dari kemarin sampai hari ini banyak banget kerjaan," jawab Dinda terkesan sedikit mengeluh kepada Mahmud.
"Apa ini?" Tanya Dinda sambil membuka kantong kresek yang diberikan Mahmud tadi.
Kantongnya kecil tapi berat.
"Wow, buah apel merah," Dinda senang dan tersenyum setelah membukanya.
"Bener untukku?" Dinda mengeluarkan satu lalu digigitnya.
"Pak Mahmud," Dinda mengambil satu apel lagi dan diberikan kepada Mahmud.
"Waw… pada makan apa nih?" Mantri Yos dan Anu masuk dari pintu belakang klinik.
"Tri, Anu, ayo makan apel!" Dinda menunjukkan kantong kresek yang ditaruhnya di atas meja.
Mereka mengambil apel masing-masing satu.
"Sudah segar, manis lagi." Ucap Dinda.
"Iya, semanis dirimu." Sahut Mahmud mendekat ke telinga Dinda.
__ADS_1
"Apaan sih," Dinda terus menggigit apel yang ada di tangannya, untuk menghilangkan kikuknya.
Apel punya Mahmud sudah habis.
"Bagi lagi dong say," pinta Mahmud kepada Dinda, sambil meraba kantong plastik di atas meja. Sudah kosong.
"Ini. Berbagi." Dinda menyodorkan apel di tangannya yang sebagian sudah digigitnya.
"Tunggu! Aku pinjam pisau sama Mantri!" Dinda berdiri dari kursinya.
"Nggak usah!" Mahmud langsung menggigit apel itu.
"Itu bekasku!" Dinda merasa tidak enak dan kaget.
"Memangnya kalau bekasmu, kenapa? Beracun?" Mahmud terus memakannya. Dan meminta Dinda untuk duduk kembali.
Dinda kembali duduk di kursinya tadi.
Mahmud yang duduk di depannya masih terus memakan apelnya sampai habis.
"Yahh, katanya untukku, tapi dihabisin," Dinda menopang dagu dengan kedua tangan di atas meja, sambil memperhatikan Mahmud menghabiskan makan apel.
"Di kamarku masih ada. Nanti kamu datang mengambil ke sana, ya," Mahmud menatap Dinda.
Dinda hanya tersenyum.
Anu berdiri di depan kalender yang ada di dinding.
"Nggak terasa ya, sudah tanggal muda?"
"Iya, Nu. Nggak lama lagi gajian." Sahut Dinda.
"Senang yang mau gajian," kata Mahmud
"Komandan Mahmud gin juga gajian. Dobel malah. Iya kan, Ndan?" Celetuk Sanusi.
"Iya, tapi cuma lewat doang." Sahut Mahmud.
Dinda dan Anu saling pandang, nggak ngerti apa maksud Mahmud.
"Besar ya, Ndan, gaji polisi?" Tanya Anu.
"Yah… cukuplah buat biaya hidup."
"Kalau Mbak Dinda sekitar berapa gajinya?" Tanya Mahmud kepo.
"Ya sama lah, cukup untuk biaya hidup." Dinda mengcopi jawaban Mahmud.
"Kalau Mbak Dinda ya termasuk sudah lumayan, Ndan, seandainya Mbak Dinda itu laki-laki, sudah cukup buat modal untuk nikahin anak gadis orang lah," kata Anu.
"Kalah ya, gaji polisi?"
"Kalau saya, menang di lembur. Itu saja bedanya." Jawab Dinda.
"Hemmm, pantesan." Mahmud manggut-manggut. Anu tertawa.
"Mbak Din, menurutmu bagaimana jika kita tidak mencintai jodoh kita? Maksudku tidak mencintai pasangan hidup kita? Kita menikah karena dijodohkan?" Tanya Mahmud dengan mimik serius.
"Mungkin itu pada awalnya. Tapi lama kelamaan karena terbiasa akan tumbuh rasa cinta," Jawab Dinda.
__ADS_1
"Kalau aku, ku tolak saja perjodohan itu. Akan ku pertahankan wanita yang kucintai!" Anu yang masih berdiri di dekat kalender ikut menyahut. Membuat Mahmud dan Dinda menoleh ke arah Anu.
"Kenapa kalian melihatku? Apa ada yang salah? Itu hanya pendapatku saja, jika itu yang terjadi kepada diriku. Tapi untungnya aku tidak mengalami seperti yang kalian alami," Anu berjalan menuju ke bangku panjang, kemudian duduk di situ.