PACAR 30 HARI BRIPDA MAHMUD

PACAR 30 HARI BRIPDA MAHMUD
Bab 33. Naik Mobil Open


__ADS_3

💥


Hari Minggu pukul sembilan pagi, Dinda sudah berada di kantor lengkap dengan baju safety rompi, helm dan sepatu boots. Dalamnya rompi dilapisi kaos putih tipis berlengan panjang di padu dengan hijab warna senada, dan dengan bawahan celana jeans warna dongker. Dinda dan tim persiapan akan mengawal tamu pergi ke lokasi. 


Sambil menunggu yang lainnya, Dinda menyalakan komputer dan meneruskan pekerjaannya yang kemarin belum selesai.


Selang tiga puluh menit kemudian,


"Kriiing…! Kriiing…! Kriiing…!" Iphon di atas meja berbunyi.


Dinda yang duduk di depan komputernya bergegas menuju ke iphon dan mengangkatnya.


"Halo, selamat pagi,"


"Selamat pagi, bisa bicara dengan Dinda?"


"Ya, saya. Ini siapa?"


"Dari pos." Mahmud tidak pernah menelponnya sebelumnya. Sedang suara melalui iphon agak berbeda dengan suara yang biasa.


"Iya  siapa?" Tanya Dinda karena tidak mengenali suara siapa itu.


"Mahmud."


"Oh, maaf, Pak. Ada apa Pak Mahmud?" Dinda bertanya dengan sopan. Juga bertanya-tanya dalam hati tumben banget polisi itu menelponnya. Ada apa gerangan? Meski begitu Dinda sangat senang menerima telepon dari Mahmud.


"Mbak Dinda Ikut mengawal tamu ke air terjun, ya!"


"Lho! Tapi …."


"Nggak ada tapi-tapian. Kalau Mbak Dinda nggak ikut, aku akan mogok dan juga nggak ikut mengawal tamu!" Ancam Mahmud untuk memaksa Dinda supaya ikut.


"Emm …."


"Pokoknya kalau Mbak Dinda nggak ikut, akan ku datangi ke kantor!"


"Ngapain mau ke kantor?"


"Pokoknya harus ikut, ya. Jangan ada alasan! Tunggu saja di kantor! Nanti mobil akan menjemput ke sana!"


"Jam berapa sih?"


"Sekarang persiapan, nggak lama lagi berangkat!"


"Saya sudah siap dari tadi malahan, Pak. Tapi saya akan mengawal tamu yang akan pergi ke lokasi dulu…,"


"Baiklah, sampai ketemu nanti, sayang,"

__ADS_1


"Apa?" 


Tanpa ada jawaban telepon langsung ditutup oleh Mahmud.


Dinda tersenyum dan nggak habis pikir dengan sikap Mahmud barusan.


Dinda berlari ke jendela untuk melihat asrama tamu. Ternyata mobil sudah berhenti di sana untuk menjemput tamu yang akan pergi ke lokasi.


Dinda segera kembali ke komputernya, dan mematikan.


Dinda menuju ke teras kantor. Menunggu mobil yang sudah berjalan untuk menghampirinya.


"Wow, Ndan, sudah siap nih?" Anu yang sedang memasang beberapa foto di fooding melihat Dinda sudah siap dengan tas menggantung di bahu kanannya.


"Iya, Nu. Apa ya, Nu, kok kayaknya ada yang kurang?" Dinda merasa ada yang kurang dengan perlengkapannya. Perusahaan mewajibkan seluruh karyawan yang di lokasi menggunakan pakaian safety lengkap demi menjaga keamanan diri. Karena di lokasi sangat rawan.


"Oh, helm Ndan."


"O iya!"


Mobil sudah masuk ke halaman kantor. 


Dinda berlari masuk ke dalam ruangannya mengambil helm nya.


"Tiiin tiiin!"


"Anu, aku pergi dulu."


"Iya, Ndan."


Dinda turun dari teras menuju ke mobil.


Kali ini banyak tamu yang di antar. Jadi menggunakan mobil open dengan tempat duduk sebelah kanan dan kiri. Jadi penumpang duduk saling berhadapan.


Dinda duduk di bangku belakang sebelah kiri.


Mobil kembali berjalan meninggalkan kantor dan tujuh menit kemudian sampai di pos. Disana sudah ada satu mobil sangat penuh penumpangnya. Ini mobil yang akan langsung pergi ke air terjun.


Mahmud dan Andi berbagi tugas. Dan kemudian Mahmud naik ke mobil yang dinaiki Dinda. Mahmud duduk di belakang sendiri tepatnya di sebelah kanan Dinda.


Pak Hadi yang duduk di depan menengok ke belakang.


"Boleh, Ndan. Masih cukup?" Tanya Pak Hadi. 


"Boleh, Pak. Masih longgar malah." Jawab Mahmud membuat Dinda ikut menoleh sebentar ke Mahmud.


Mahmud memakai baju lapangan, celana warna coklat dengan atasan kaos hitam berlengan panjang bertuliskan BRIMOB di belakangnya.

__ADS_1


Mobil pun berjalan meninggalkan pos. Cuaca sangat terik, jalan yang dilalui pun berdebu. 


Mahmud duduk dengan tangan kiri telentang di sandaran belakang Dinda. Di saat jalan tanjakan, Dinda berpegangan berusaha untuk tidak geser ke kanan. Tapi apa boleh buat, orang yang duduk di sebelah kiri Dinda menghimpitnya ke kanan, supaya tidak tertindih otomatis Dinda tergeser ke kanan juga. Itu artinya Dinda bersenggolan dengan Mahmud. Membuat Dinda nggak enak hati dan merinding.


"Maaf," ucap Dinda kepada Mahmud.


"Nggak papa. Harap maklum saja." Seolah Mahmud memahami keadaan Dinda. 


"Sering naik mobil seperti ini?" Tanya Mahmud pelan.


"Nggak pernah sebelumnya. Baru kali ini." Jawab Dinda dengan mata berkaca-kaca.


Seumur-umur baru kali ini Dinda naik mobil seperti ini. Ini pun terpaksa karena mengantar tamu penting yang seharusnya dilakukan Pak Udin. Karena Pak Udin juga mengawal tamu yang lain, terpaksa Dinda menyetujui mendampingi tamu yang ini. 


Perusahaan akan mengajukan perpanjangan olah lahan, jadi banyak tamu dari instansi terkait yang harus mensurvei perusahaan dan lokasi untuk mempertimbangkannya sebelum turun surat keputusan dari pemerintah daerah maupun pusat.


Secara reflek Mahmud menepuk-nepuk bahu Dinda. Tapi Dinda segera menyingkirkan tangan itu.


"Saya nggak papa," ucap Dinda supaya Mahmud menyudahi tepukannya.


"Jangan pura-pura kuat kalau memang tidak mampu."


"Apa menurut anda, saya tidak mampu?"


"Bukan. Bukan itu maksud saya. Saya yakin Mbak Dinda mampu. Tapi jangan dipaksakan." Mahmud memperhatikan Dinda, takut ucapannya salah dan menyinggungnya.


"Mungkin Pak Mahmud benar. Saya terlalu memaksa. Tapi ini memang sudah resiko dari pekerjaan saya."


"Menurut saya, posisi untuk pekerjaan anda seharusnya laki-laki. Bukan wanita cantik dan feminim seperti anda."


Dinda tersenyum telah diakui sebagai wanita feminim.


"Ini menunjukkan bahwa tidak ada lagi kesenjangan antara pria dan wanita." 


Mahmud tidak tahu akan ngomong apa.


"Anda memang wanita jenius." Mahmud merasa selalu kalah bicara dengan Dinda. Wanita ini selalu memiliki jawaban telak yang tidak bisa dibantah.


"Terima kasih."


Mereka terdiam. 


Semilir dan tamparan angin sangat mudah membuat mata mengantuk. Beberapa penumpang tampak memejamkan mata. Dinda dan Mahmud menikmati perjalanan ini, sesekali saling tatap dan tersenyum. Angin sangat leluasa mempermainkan wajah Dinda. Mahmud bersenandung lirih sambil melihat pemandangan pinggir jalan.


Satu jam perjalanan sudah berlalu, sepuluh menit kemudian mereka sampai di blok C. Dinda yang sejak tadi diam-diam menghitung ada berapa orang yang ada di dalam mobil. Setelah turun dari mobil, sudah disambut oleh supervisor di blok itu untuk diajak menuju ke kantor, sebagian berlari ke toilet. Dinda sendiri langsung masuk ke dapur dan mencari ibu dapur untuk memberitahukan jumlah tamu yang datang, supaya menambah porsi menu untuk makan siang.


Seperempat jam kemudian melanjutkan pergi ke lokasi. Di sini banyak sekali kayu log yang siap untuk di angkut menggunakan logging. Mereka juga memasuki hutan dan mencari perbatasan wilayah milik perusahaan dengan hujan yang akan dijadikan lahan baru. 

__ADS_1


 


__ADS_2