
"Kenapa kalian melihatku? Apa ada yang salah? Itu hanya pendapatku saja, jika itu yang terjadi kepada diriku. Tapi untungnya aku tidak mengalami hal seperti yang kalian alami," Anu berjalan menuju ke bangku panjang, kemudian duduk di situ.
Dinda kembali menoleh ke arah Mahmud.
"Apakah mungkin jika tidak saling mencintai bisa menghasilkan seorang anak?"
"Kalau sudah terikat dengan janji sebagai suami istri, harus menjalankan hak dan kewajibannya sebagai suami terhadap istri." Kata Mahmud dengan wajah datar.
"Meski dengan terpaksa?" Dinda menatap Mahmud.
"Ya. Sama seperti wanita. Contohnya saja itu, wanita malam. Apa dia melayani pria yang dicintainya? Tidak! Bahkan dia bisa berhubungan badan dengan banyak pria."
Dinda menggelengkan kepala mendengar jawaban Mahmud.
Anu berdiri dari bangku mencari kaset berisi lagu-lagu dan disetel.
Langsung mengalun suara nyanyian
"Selamat tinggal Teluk Bayur permai
Daku pergi jauh ke negri sebrang …"
"Mbak Din, menurutmu bagaimana dengan poligami?"
"Itu laki-laki yang ingin menang sendiri."
"Bukan begitu maksudnya, Mbak Din. Laki-laki memiliki hasrat yang harus dituntaskan seketika. Tidak bisa ditunda. Jika posisinya jauh dari istri, bagaimana melampiaskannya?"
"Jaga pandangan dan pikiran." Kata Dinda tegas sambil menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.
"Mudah saja kalau ngomong. Sudah jaga pandangan, tapi pikiran nggak bisa kompromi, bagaimana?" Mahmud menatap Dinda.
Alunan lagu yang terdengar.
"Doakan agar ku cepat kembali
Kuharapkan suratmu setiap minggu …"
"Maaf, memangnya anda pernah melakukan hubungan selain dengan istri anda?"
"Terus terang, pernah. Tapi jangan khawatir, saya menggunakan pengaman." Jawab Mahmud sambil menoleh ke Anu.
"Setelah itu sering ada kabar Dimas anakku sakit. Menurut Mbak Dinda, apa bisa nyetrum ya antara bapak dengan anak?"
"Tentu saja. Bapak dan anak memiliki ikatan darah. Maaf sebelumnya, sebaiknya anda berhenti melakukan hal-hal yang nggak semestinya itu! Aku yakin anda menyayangi Dimas." Dinda menatap Mahmud.
"Lambaian tanganmu kurasakan pilu di dada
Kasih sayangku bertambah padamu…"
Tiba-tiba Mahmud menarik telapak tangan Dinda yang di atas meja.
"Ehh…." Dinda kaget dan menarik tangannya tapi nggak berhasil masih kuat tangan Mahmud.
"Sebentar, Mbak Dinda. Cuma mau pegang sebentar doang. Ini tangan lembut banget!"
__ADS_1
"Jelas ae tangan Mbak Dinda lembut, Ndan. Kan cuma pegang pena dan duduk di depan komputer." Sahut Anu.
"Ck ck ck." Mahmud berdecak sambil geleng kepala dan tetap melihat ke Dinda.
"Nggak pernah nyapu, nyuci baju, Mbak Din?"
"Ngawur aja!" Jawab Dinda sambil menarik tangannya.
Bersamaan dengan itu Anu tertawa. "Hahaha!"
Mahmud hanya tersenyum sampai kelihatan giginya.
"Air mata berlinang tak terasakan olehku
Nantikankah aku di Teluk Bayur!" Anu mengikuti nyanyian itu.
"Sudah sore nih, aku mau mandi," Dinda berdiri dari tempat duduknya.
"Mandi bareng?" Goda Mahmud.
"Ayo! Siapa takut!" Dinda mulai menuju ke pintu keluar.
"Beneran?" Tanya Mahmud sambil memperhatikan Dinda.
"Iya," sahut Dinda dan Mahmud mulai berdiri dari kursinya.
"Beda tempat tapinya, hahaa." Dinda segera keluar dari klinik sambil tertawa. Mahmud berusaha mengejar, Dinda lekas berlari takut ditangkap oleh Mahmud.
"Hahaha," Dinda tertawa dan masuk ke dalam asrama.
*
Malam hari.
Selesai makan malam, Mahmud dan Andi singgah ke asrama putri. Sesuai ucapan Mahmud tadi, akan memberi ganti apel pada Dinda. Maka akan mengajak Dinda pergi ke kamarnya, di dekat pos jaga. Tapi tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Akhirnya mereka duduk dan ngobrol bersama dengan yang lainnya di ruang tamu sambil menunggu hujan reda.
Di sana sudah ada beberapa orang yang sedang duduk dengan gandengan masing-masing. Mbak Maya dengan Mas Duki yang rencana akan menikah dalam waktu dekat ini, Mbak Ana yang di tinggal Alvian berobat ke rumah sakit, sekarang sudah ganti pacar dengan Mas Sari, Mbak Santi dengan Mantri Yos.
"Setiap hari seperti ini?" Tanya Mahmud mendekat ke Dinda.
"Iyalah! Mbak Dinda yang jadi obat nyamuk." Jawab Andi.
"Ngawur aja nyamain aku sama obat nyamuk." Jawaban Dinda membuat Mahmud dan Andi tertawa. "Hahaha!"
Hujan semakin deras. Nggak lama duduk, Dinda merasa ada sesuatu yang lain dengan dirinya. Membuat Dinda gelisah dan tidak nyaman.
"Aku ke belakang sebentar," Dinda pamit ke kamar mandi.
Mahmud hanya melihat kepergiannya saja, tanpa menyahut.
Dinda masuk ke kamar mandi dan membuka pakaian bagian bawah.
"Nah bener, kan," batin Dinda setelah melihat pakaian dalam ada nodanya.
__ADS_1
Kemudian Dinda keluar dari kamar mandi menuju kamarnya. Dibuka lemarinya untuk mengambil pembalut wanita.
"Ya ampun, tinggal satu. Nggak ada yang dipakai untuk besok, nih."
Dinda mengambil pembalut wanita yang tinggal satu itu dengan pakaian dalamnya, kemudian kembali lagi masuk ke kamar mandi, untuk berganti.
Lorong dari kamarnya menuju ke kamar mandi kelihatan jelas dari depan.
"Ngapain sih anak itu dari tadi mondar-mandir?" Tanya Andi kepada Mahmud yang hanya diam memperhatikan.
Dinda keluar dari kamar mandi, mencari Noni, dilihatnya di kamar Noni tidak ada. Ditengokkan di ruang tamu, juga tidak ditemukan Noni.
"Mbak, Noni kemana, ya? Di kamarnya kok nggak ada?" Tanya Dinda kepada Maya setelah mendekatinya.
"Noni ke koperasi setelah makan tadi. Dia minggu ini kan bagian shift malam." Jawab Maya.
Dinda mau ke koperasi, tapi hujan masih belum reda.
"Kenapa dari tadi seperti setrikaan? Ada yang nggak beres kayaknya," Andi bertanya lirih pada Dinda didengar oleh Mahmud juga.
"Nggak apa-apa, hanya nyariin Noni," jawab Dinda.
"Mau ke koperasi?" Tanya Mahmud.
"Iya. Tapi masih hujan," sahut Dinda.
Setelah agak lama menunggu sampai pukul sembilan lewat tiga puluh menit, hujan belum berhenti juga tapi sudah nggak sederas tadi. Sementara koperasi akan tutup pukul sepuluh. Dinda pergi ke belakang mengambil payungnya.
"Kemana, Din?" Tanya Maya.
"Ke koperasi, Mbak May." Kata Dinda sambil ke teras dan membuka payung itu. Ternyata di teras juga ada satu payung.
"Bareng sekalian kalau begitu." Kata Andi
"Iya." Sahut Mahmud.
Andi mengambil payung yang ada di teras.
"Ini payung siapa? Aku Pinjam, ya? Kukembalikan besok pagi,"
"Iya, pakai saja, Ndan!" sahut Duki yang duduk di dalam bersebelahan dengan Maya.
Dinda keluar dengan payung yang sudah terbuka di atasnya. Mulai berjalan meninggalkan dua polisi itu.
"Mbak Dinda, tunggu!" Mahmud berlari menerobos air hujan untuk mengejar Dinda yang sudah beberapa meter berjalan mendahului di depannya.
Dinda berhenti dan menoleh ke belakang.
"Bareng, Mbak!" Sahut Mahmud setelah berada dibawah payung bersama Dinda.
"Ini payungnya kecil, Din," teriak Andi.
"Ini payungnya juga kecil, Pak Mahmud bisa basah nanti," kata Dinda.
"Nggak apa-apa basah-basahan bersama Mbak," sahut Mahmud yang sudah berdiri sebelah kiri Dinda.
__ADS_1
"Sini kupegang payungnya!"