
Dinda merasa nggak enak jika makan sendiri.
"Makan bersama kalau begitu." Ajak Dinda sambil menyodorkan kotak nasi ke arah Mahmud.
"Rezeki jangan ditolak." Kata Mahmud sambil mengambil sendok di tangan Dinda.
"Sendoknya bekas aku, Pak. Apa nggak papa?"
"Nggak berbisa, kan?" Mahmud sambil mengerlingkan mata ke arah Dinda.
"Ishh, aku bukan ular."
"Memangnya apa ada ular secantik ini?"
"Ada." Jawab Dinda sambil melirik sekilas ke arah Mahmud yang saat itu juga Mahmud sedang menatapnya.
'Deg! Deg! Siiirrr!' Tatapan mata Mahmud membuat dada Dinda bergemuruh dan wajahnya merona, sehingga memalingkan wajah dengan menunduk untuk menetralkan gemuruh di hatinya dan menormalkan rona wajah.
Sayangnya Mahmud melihat perubahan rona di wajah Dinda. Senyum tipis terukir di bibir Mahmud sebagai tanda bahwa ia senang. Gemes rasa ingin mencubit pipinya.
"Dimana ular cantik itu?" Mahmud setengah berbisik ke telinga Dinda.
Dinda mengangkat wajahnya dan mengarahkan ke Mahmud
"Siluman ular di televisi," Jawab Dinda sambil tersenyum mengembang karena merasa memberi jawaban yang konyol atas pertanyaan yang konyol juga.
Mahmud yang tadi menunduk kembali menatapnya sambil menggeleng-gelengkan kepala dan tersenyum.
"Heheheee…" Dinda tertawa kecil sambil menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Beberapa saat kemudian Dinda mengambil air mineral gelasan sisa ia minum tadi.
"Ku remas bibir itu baru tahu rasa!" Ujar Mahmud sambil mempraktekkan tangannya dengan gerakan meremas.
"Hah! Apa!" Dinda sedikit memekik.
"Makan yuk!" Ajak Mahmud kemudian menyendok nasi kotak itu ke mulutnya.
Dinda mencuci tangannya dengan air mineral sisa ia minum. Kemudian ia juga menyuap mulutnya sendiri.
Mereka makan berdua sampai nasi habis.
__ADS_1
"Ndan, ini nasimu masih disini!" Teriak Andi yang berada beberapa meter di samping kiri agak ke belakang dari mereka menunjukkan nasi kotak milik Mahmud.
Mahmud berdiri mengambil nasi kotaknya. membawanya dan duduk kembali di samping Dinda.
"Mau tambah?" Tanya Mahmud sambil menyodorkan ke arah Dinda.
"Nggak. Sudah." Jawab Dinda yang sedang mencuci tangannya itu.
"Aku makan sendiri kalau begitu."
"Silahkan." Dinda menyilahkan Mahmud untuk makan. Karena ia tahu Mahmud nggak kenyang jika makan hanya setengah dari nasi kotak tadi.
"Tapi nggak adil kalau aku makan sendiri," Mahmud sudah mulai membuka kotak itu dan makan.
"Saya sudah, Pak."
"Aku suap lho kalau nggak mau! Ayo!" Mahmud menyodorkan sendok berisi nasi dan temannya ke mulut Dinda.
Dinda melihat ke sekelilingnya. Beberapa mata melihat ke arahnya.
'Duh! Malu nih kalau sampai orang-orang melihat dan mengira dirinya makan suap-suapan dengan polisi Mahmud.' Batin Dinda.
"Aku makan sendiri saja." Dinda menolak suapan Mahmud. Ia mengambil sendok di tangan Mahmud dan menyuapkannya sendiri ke mulutnya.
Kemudian mereka fokus makan tanpa bersuara sampai nasi di kotak itu ludes.
Setelah sama-sama selesai minum, dan acara sudah berakhir, sebagian orang sudah mulai meninggalkan tempat itu dan pulang kembali ke asrama dengan diantar mobil secara bergiliran.
"Mbak Dinda, ayo kita pulang bareng." Ajak Bu Ratno yang sudah berdiri dari duduknya dan mendekati Dinda. Maria dan para penari juga sudah berdiri di belakang Bu Ratno.
"Iya, Bu." Jawab Dinda.
"Saya kesana dulu." Pamit Mahmud sambil berdiri, kemudian meninggalkan Dinda untuk kembali bertugas.
"Iya." Dinda menganggukkan kepala.
Dinda mengikuti Bu Ratno dan rombongan penari itu.
*
Setelah beristirahat sebentar, Dinda dipanggil oleh Pak Hadi, diminta untuk menemani beberapa tamu yang tinggal di asrama tamu. Sedang tamu undangan yang lain ada yang langsung pulang. Ada lagi beberapa tamu yang minta untuk sekalian diantar pergi ke air terjun. Karena air terjun ini adalah tempat wisata satu satunya yang ada di daerah ini.
__ADS_1
Hanya ada beberapa tamu yang akan menginap di asrama. Jadi perusahaan mesti mempersiapkan jamuan untuk makan malam.
*
Esok paginya, pukul sembilan para staf sudah berada ke kantor, termasuk Dinda.
Dinda duduk di belakang meja kerjanya. Begitu banyak berkas di atas meja kerja Dinda. Meskipun rasa capek dari sisa acara kemarin, mau tidak mau, Dinda harus segera menangani semua berkas-berkas itu.
Para karyawan yang ingin bertemu dengan bagian personalia sudah mengantri di depan ruangan Dinda. Karena dua kursi yang ada di depan meja Dinda sudah terisi oleh karyawan yang lebih dulu datang.
Jam sebelas, tamu Dinda sudah mulai senggang. Dinda bisa meregangkan otot badannya dengan menggeliat dan menarik tangannya ke atas.
Selang beberapa detik dari itu, Bripda Mahmud dengan seragam polisi lengkap datang dan memasuki ruangan Dinda, setelah mengetuk pintu dan dipersilahkan masuk tentunya.
"Pak Udin?" Dinda menoleh ke arah Pak Udin yang letak mejanya berada di depan serong sebelah kiri meja Dinda, berhadapan dengan meja komputer Dinda, dengan maksud supaya Pak Udin menerima Bripda Mahmud.
Setelah melihat Dinda, Pak Udin memahami maksud Dinda, kemudian menganggukkan kepala tanda bersedia menerima Bripda Mahmud.
"Mari, Pak, silahkan duduk." Dinda mempersilahkan Bripda Mahmud untuk duduk di kursi depan meja Pak Udin.
"Silahkan, Ndan." Ujar Pak Udin sambil melempar senyum kepada Bripda Mahmud.
Orang dua itu pun berbincang.
Sedang Dinda sibuk sendiri dengan berkas-berkas yang masih berserakan di atas mejanya dan sesekali memasukkan catatan ke dalam buku laporannya.
"Kriiing! Kriiing!" Bunyi iphon diujung kiri meja Dinda.
Dinda ditengah-tengah kesibukannya langsung mengangkat gagang iphon.
"Halo, selamat siang,"
"Selamat siang. Dinda tolong dicekkan absensi atas nama xxx yang ada di blok. Saya butuh datanya sekarang." Suara Mas Duki yang bekerja di bagian keuangan.
"Ya,"
Dinda berdiri dari kursinya berjalan menuju ke rak kabinet mencari laporan absensi kerja atas nama xxx. Setelah ketemu, Dinda membawanya ke ruang keuangan.
Tidak lama Dinda sudah kembali ke ruangannya. Di sana duduk Bripda Mahmud seorang karena ditinggal Pak Udin ke ruangan Pak Hadi. Dinda melihat sekilas ke arah Bripda Mahmud dan kembali duduk di belakang mejanya, meneruskan pekerjaannya.
Bripda Mahmud mengambil sobekan kertas dan meminjam pena yang ada di atas meja Pak Udin. Ditulisnya sesuatu di sobekan kertas itu. Disaat Bripda Mahmud selesai menulis dan meletakkan kembali pena pada tempatnya semula, bersamaan itu Pak Udin masuk ke ruangan dengan sebuah kertas di tangannya. Pak Udin duduk di kursinya kemudian melanjutkan pembicaraannya. Bersamaan itu Bripda Mahmud membawa sobekan kertas tadi ke bawah dan melipat-lipatnya.
__ADS_1
Sekiranya pembicaraannya dengan Pak Udin selesai, Bripda Mahmud pamit untuk kembali bertugas di pos depan. Setelah berdiri dari kursinya, Bripda Mahmud mendekati meja Dinda dan meletakkan dengan pelan sebuah lipatan kertas tepat di atas buku di depan Dinda.