
"Kami punya rencana membuat vocal group. Tapi kamu tahu sendiri, kan, perencanaan tidak ada perempuan? Kamu bisa, kan masuk vocal group kami?" Bisa, ya! Nanti malam saya tunggu untuk latihan bersama!" Tanpa mendengar jawaban dari Dinda, Ezra langsung berdiri meninggalkan Dinda dan keluar dari ruangan.
Dinda ingin membuka suara, karena Ezra langsung pergi meninggalkannya dan tidak butuh jawaban dari Dinda, sungguh membuat Dinda melongo dan hanya bisa memandangi Ezra yang keluar dari ruangannya.
"Ni orang nawari atau maksa?" Dinda heran dan menggeleng-gelengkan kepala mengingat sikap Ezra.
Ezra masuk ke ruangannya disambut oleh teman-temannya. Setiap ada tim pulang dari dinas, ruang perencanaan adalah ruangan yang paling heboh di kantor. Karena mereka akan bergantian membagikan berbagai pengalaman mereka selama dalam perjalanan dinas, ada cerita yang lucu-lucu dan menarik yang membuat mereka tertawa lepas.
Apa lagi Ezra, jago banget ngarang cerita,
"Kalian sudah tahu belum,
Ada tiga pria kalau nggak salah tersesat di hutan. Anggap mereka Asok, Dodi dan Edo. Mereka kelaparan dan kehausan setelah seharian berkeliling mencari jalan pulang. Dari kejauhan, tampak sebuah gubuk. Asok pergi ke sana dengan maksud meminta air minum. Keluarlah seorang nenek dari dalam gubuk.
Si nenek berkata, Hai anak muda. Kalo ingin air minum, kamu harus ML dulu dengan saya.
Asok, tanpa menjawab dia langsung lari ketakutan dan memberitahukan pada kedua temannya yaitu Dodi dan Edo.
Nah, sekarang giliran Dodi. Dodi pun meminta air minum. Pas pintu gubuk diketuk, keluarlah nenek dengan memakai wanita yang minim, apa itu namanya? Emmm …. Bikini, ya. Dodi pun tidak sanggup melihat pemandangan seperti itu pun langsung kabur.
Sekarang giliran Edo yang meminta air minum. Pas pintu gubuk diketuk, si nenek itu langsung menarik Edo masuk ke dalam," Ezra menghentikan ceritanya. Ia mengambil teh di depannya, dan meminumnya, kemudian berpindah duduk dan menggeser kursinya dekat dengan pintu.
"Dasar ganjen tuh nenek-nenek tua!" Sahut Haris.
Tiba-tiba Pak Hadi nongol di pintu ruang perencanaan,
"Siapa nenek tua yang ganjen, Ris?" Tanya Pak Hadi.
"Ezra yang tahu, Pak," sahut Haris sambil menunjuk Ezra. Pak Hadi menoleh ke arah Ezra.
Ezra tampak tenang dengan mimik serius melanjutkan ceritanya.
"Nah! Sekarang giliran Edo yang meminta air minum. Pas pintu gubuk diketuk, si nenek itu langsung menarik Edo masuk ke dalam, sedang Asok dan Dodi menunggu di luar sambil mendoakan temannya di dalam. Sementara, Edo di dalam gubuk melihat ada dua jagung bakar di atas meja, timbullah ide Edo. Ketika si nenek mengajak ML, Edo meminta nenek mematikan lampu. Setelah itu dia gunakan dua jagung tadi. Selesai ML, dua jagung itu Edo buang keluar jendela. Nenek pun akhirnya memberikan air minum. Edo keluar gubuk disambut Dodi dan Asok.
Dodi ngomong, kasian banget kamu, Ed! Selagi kamu menderita di dalam. Kita berdua menemukan dua jagung bakar. Enak banget! Ada menteganya pula. Pas asinnya! Haaa...haaa...haaa…!" Ezra langsung kabur.
"Hooeekk!"
__ADS_1
"Sialan!"
"Ezraaa…!"
"Hooeek!"
"Ezraaa!"
"Kurang ajar!"
Mereka yang mendengar cerita Ezra mengumpati, ada yang mau melempar buku ke Ezra, tapi Ezra nya sudah kabur.
"Haaa...haaa...haaa…!" Di luar ruangan Ezra masih tertawa dan terus berjalan cepat meninggalkan kantor.
Mereka pun keluar dari kantor, karena sudah saatnya istirahat dan makan siang.
Haris memasuki dapur, ia melihat Ezra sudah asyik dengan makanan di piringnya. Setelah mengambil menu makan siang, Haris mendekati Ezra. Duduk satu meja dengannya.
"Kalian sudah di sini?" Pak Hadi baru saja masuk ke dapur. Diikuti Pak Udin, Mahmud, Andi, dan yang lainnya.
"Haris!" Ezra memanggil Haris, tapi semua orang di ruangan itu menoleh ke Ezra.
Ezra masih punya hati, ia melihat nasi Haris tinggal beberapa sendok saja. Dan ia tahu bahwa Harus tidak suka jorok. Tapi bukan Ezra namanya kalau nggak ngerjain temannya.
"Ingat nggak sama yang di kantor tadi? Jagung bakar. Enak banget! Ada menteganya pula. Pas asinnya! Haaa...haaa...haaa…!"
Haris langsung menghentikan makannya.
Begitu pun dengan Pak Hadi.
"Kurang asem, Ezra!" Batin Pak Hadi.
"Nah, dimana ada jagung bakar mentega, Zra?" Tanya Pak Udin
"Haaa… haaa…! Pak Udin tanyakan saja sama Pak Hadi!" Ezra langsung keluar dari dapur dan ke kamarnya. Sementara itu dapur jadi ramai masalah jagung bakar.
Karena orang-orang penasaran, Pak Hadi dan Haris menceritakan ulang tentang cerita itu, mereka pun tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
Mahmud baru tahu sosok Ezra. Ia telah mendengar desas-desus dari asrama seberang, yang mengatakan Ezra suka sama Dinda. Pria berpostur tubuh tinggi besar, berkulit putih bersih, hidung mancung, ramah pada setiap orang dan humoris. Banyak wanita mengejarnya, tapi tidak satupun yang ia lirik.
***
"Bagaimana, Zra? Bisa kita tampil di malam puncak nanti?" Tanya Haris.
"Bisa!" Jawab Ezra mantap.
Selesai makan malam, Ezra dan Haris menjemput Dinda untuk diajak latihan olah vokal di ruang meeting. Anak buah Ezra sudah menunggu di ruang meeting sambil mempelajari lagu yang akan mereka bawakan nanti di acara puncak di gedung serbaguna.
"Kita akan menyanyikan lagu perjuangan, dengan suara satu dan suara dua." Haris mengomando.
Mereka semua latihan dengan serius.
"Ayo, Siapa yang suara satu, berdiri di barisan depan. Yang suara kedua menyusul di barisan kedua. Ehhmmm,"
Istirahat latihan, mereka berembuk tentang kostum yang akan dipakai, setelah semua sepakat, latihan pun diakhiri. Karena tanpa terasa jam sudah menunjukkan puluh sepuluh malam.
"Oke, latihan malam ini kita akhiri sekarang, saya mohon buat semuanya, jagalah kesehatan badan kita dan juga jaga suara kita. Sambil hafal itu teks jangan lupa!" Ucap Haris.
***
Gladi bersih pukul sembilan pagi. Semua petugas upacara telah berkumpul di lapangan dan bersiap di tempatnya masing-masing. Semua berjalan dengan lancar. Mahmud melihat Dinda sekilas, Dinda pun tersenyum kepadanya. Untuk selanjutnya fokus pada tugas masing-masing.
Selesai gladi bersih, Mahmud, Andi dan petugas keamanan segera kembali bekerja.
Dinda, Pak Hadi, Pak Udin, tampak tergesa-gesa pergi ke kantor.
Pak Hadi memanggil Ezra untuk datang ke ruangannya.
"Barusan ada telepon dari kantor pusat, mereka membutuhkan data yang di daerah XX secepatnya!"
Ezra duduk diam di sofa di ruangan manager.
"Siapkan tim dari perencanaan. Kira-kira dua atau tiga hari lagi berangkat!"
"Oke!" Jawab Ezra singkat. Padahal baru dua hari ia bisa tidur nyenyak di kamar. Bahkan laporan yang dinas kemarin belum selesai ia rekap. Ini sudah ada tugas lagi.
__ADS_1