PACAR 30 HARI BRIPDA MAHMUD

PACAR 30 HARI BRIPDA MAHMUD
Bab 37. Dinda Demam


__ADS_3

Mahmud, Andi dan Yos keluar dari asrama putri. Saat itu juga bertemu dengan Pak Udin. Setelah mereka saling bertegur sapa, sambil berjalan beriringan, Pak Udin memberitahu kepada komandan Mahmud.


"Oh ya, Pak Ndan besok pagi pagi sekali mengawal tamu yang hendak pulang."


"Siap Pak."


"Untuk surat jalannya biar dibikinkan sebentar."


"Siap Pak."


Setelah sampai di depan klinik, mereka berempat berpisah menuju ke tempat tujuan masing-masing.


Yos masuk ke klinik. Dimana sudah ada beberapa orang yang menunggunya untuk memeriksakan kondisi kesehatan mereka. Sementara Mahmud dan Andi terus berjalan menuju ke asramanya yang ada di dekat dengan pos jaga. Dan Pak Udin pergi ke kantor.


Sesampai di kantor, Pak Udin langsung menyiapkan beberapa berkas dan surat jalan untuk beberapa orang yang akan turun besok pagi. Hal ini biasanya dilakukan oleh Dinda. Karena sejak tadi sore setelah makan malam Dinda dihubungi via ht tidak ada jawaban. Dinda yang kurang sehat tidak memperhatikan jika ht nya tidak on.


*


*


Ana dan Maya sampai di koperasi, mereka langsung mendorong troli dan mengisinya dengan berbagai perlengkapan yang diperlukan. Sambil sesekali mereka tampak ngobrol dan bercanda. Beberapa saat kemudian, tanpa terasa troli yang didorong Ana sudah penuh dengan barang-barang yang diambil dari rak-rak.


"Ya ampun Ana, banyak sekali barang yang kamu ambil?" Pekik Maya setelah melihat isi troli Ana, disaat Ana pergi ke tumpukan kain handuk. 


"Kenapa sih May, kok kayak baru lihat saja aku belanja?" Seru Ana enteng sambil tersenyum.


"Kebiasaanmu Na, coba dikurangi!"


"Biar saja May! Aji mumpung lho. Mumpung kita ini lagi bekerja dan punya penghasilan sendiri. Maka dipuas-puasin belanja dan membeli apa yang kita mau. Lagian belum tentu nanti kalau sudah menikah kita akan bebas belanja seperti ketika kita masih singel begini." 


"Makanya cari suami yang tajir dong, Na!"


"Suami tajir kalau pelit, gimana coba?"


"Ihhh! Nggak banget deh!"


"Amit amit,"


"Haa … haa … haaa…!" Ana dan Maya tertawa bareng, membuat beberapa orang di dekat mereka menoleh ke arahnya, mungkin merasa terganggu.


"Husst!" Ana memberi isyarat jari telunjuk di depan mulutnya supaya Maya berhenti tertawa.


"Kamu sih Na, memancing keadaan."


"Kamu juga sih May, mana ada orang tajir di camp begini? Semua orang yang memiliki jabatan penting di sini sudah pada berumah tangga semua."

__ADS_1


"Kalau mau nyari orang tajir, noh anaknya ceo. Nunggu dapat warisan tapi!"


"Hadeh May, pikiranmu semakin ngelantur. Jalanin aja hidup yang sekarang. Nggak usah memiliki keinginan yang terlalu tinggi, entar nggak kesampaian jatuh, sakit. Tahu rasa loh!"


Mereka berjalan beriringan menuju ke tempat baju-baju yang digantungan. 


"Baju-baju ini baru datang, kayaknya." Ana membuka-buka baju yang digantung dan mencoba untuk ditempelkan ke badannya.


Maya yang sudah selesai mencari alat kosmetik menoleh ke tempat Ana dan mendekatikan.


"Baju baru ya, Na?"


Maya hanya melihat sekilas. Karena dari model bajunya Maya tidak tertarik. Apa lagi dia mulai sekarang harus berusaha ngirit pengeluaran dan sebagian gajinya akan ia tabung, karena Duki sudah melamarnya dan nggak lama lagi akan melangsungkan ijab qabul.


Ana yang melihat Maya tidak menyentuh pakaian itu, menawari Maya.


"May, kamu nggak ambil baju?"


"Nggak dulu lah, Na. Lemariku takut nggak muat." Jawab Maya sambil mendorong troli  menuju ke kasir.


"Tunggu, May!" Setelah menyambar dua potong baju yang dipilihnya dan memasukkan ke troli, Ana segera menyusul Maya sambil mendorong troli nya menuju antrian di kasir.


*


*


Kamar Ana sudah tampak gelap. Tapi ia tidak menyalakan lampu, karena tidak ingin mengganggu Dinda yang sudah tidur.


Tapi mendengar suara pintu kamar dibuka, Dinda yang belum lama tidur itu pun terbangun, dan melihat ke arah pintu.


"Hai, Din," karena melihat ada gerakan dari tubuh Dinda, maka Ana menyapanya.


"Hai, dinyalakan saja lampunya, Mbak,"


Ana pun menekan stop kontak di kamar itu, dan kamar berubah menjadi terang.


Dinda bangkit dari tidurnya. Ia duduk menyandarkan belakang tubuhnya ke dinding. Hidungnya benar-benar tersumbat dan kepala terasa pening. Sudah minum obat dari Mantri Yos tapi seolah tidak ada reaksi. 


Ia melihat Ana yang membongkar beberapa kantong belanjaannya. 


"Banyaknya Mbak An, belanjaannya?" Dinda merasa belanjaan Ana kali ini lebih banyak dari biasanya.


"Iya, Din. Ada baju baru. Lihat nih! Bagus, kan?" Ana menunjukkan dua potong baju yang diambil tadi.


"Iya. Bahannya juga bagus." Kata Dinda dengan suara sengau yang sudah memegang baju yang dilempar Ana ke arahnya.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian Ana sudah selesai membongkar dan menata belanjaannya di nakas.


Setelah itu Ana mencoba baju yang dibelinya di koperasi tadi.


"Bagaimana, Din? Bagus nggak?"


Dinda yang sejak tadi hanya memperhatikan saja itupun mengangguk sebagai jawabannya.


"Din, tidur, yuk! Aku ngantuk, nih!" Ajak Ana sambil naik ke atas ranjang tempat tidurnya.


"Iya, Mbak." Jawab Dinda. Tapi Dinda tidak bisa memejamkan matanya lagi. Rasa kantuknya telah hilang.  


Akhirnya Dinda memutuskan pergi ke kamar mandi dan berwudhu. Setelah masuk ke kamar lagi, dia bentangkan kain sajadahnya di lantai.


Selesai melakukan hajatnya Dinda tidak segera beranjak ke tempat tidurnya. Ia masih betah untuk duduk diam diatas kain sajadahnya. Beberapa menit kemudian rasa kantuk menyerangnya. Karena sudah merasa nyaman dengan duduknya di atas sajadah, Dinda langsung memejamkan mata tanpa beranjak dari sana.


Jam tiga dini, Ana terbangun karena panggilan jiwa harus pergi ke kamar mandi untuk buang air kecil.


Setelah kedua telapak kakinya menyentuh lantai, Ana melihat Dinda yang duduk dengan kepala menunduk di atas sajadah. Ana bergegas menuju ke kamar mandi.


Setelah kembali dari kamar mandi, didapati Dinda tetap dalam keadaan semula. Lalu Ana mendekatinya.


"Ya Allah Din, ngapain tidur di sini?" Ana menepuk-nepuk lengan Dinda yang dibalut mukena.


Dinda mengigau dan meracau nggak karuan.


"Ngomong apa sih kamu, Din?"


Ana memegang kening Dinda.


"Astagfirullah, kamu panas, Din. Din! Dinda! Bangun, Din!" Ana menggoyang-goyang pelan tubuh Dinda.


Dinda membuka mata dalam keadaan bingung.


Ana mencari obat panas di atas nakas Dinda.


"Din, badanmu panas. Minum obat ini!" Ana memberikan obat parasetamol dan segelas air.


Sejak itu Ana menjaga Dinda yang sedang panas. Dia menemani dan duduk di ranjang Dinda. Sebentar-sebentar mengambilkan baju Dinda di lemari baju, karena beberapa menit setelah minum obat, Dinda berkeringat dan harus mengganti bajunya beberapa kali.


Menjelang subuh, Dinda merasakan badannya agak enakkan, rasa kantuk pun menyerangnya.


"Mbak An, tidur sana gih! Aku juga mau tidur." Dinda membangunkan Ana yang terpejam matanya saat duduk di ranjang tempat tidur Dinda.


"Oh iya. Kamu sudah nggak panas?" Ana bangkit dan meraba kening Dinda.

__ADS_1


"Syukur demammu sudah turun. Kalau begitu yuk kita tidur!" Ana meninggalkan ranjang Dinda untuk menuju ke ranjang tempat tidur nya sendiri.


__ADS_2