
Maya menoleh mencari Dinda yang masih jauh di belakangnya. Maya langsung mencari tempat duduk yang sudah di siapkan, kursi di deretan terdepan.
Tidak lama, Dinda menyusul masuk ke dalam ditemani Mahmud yang berjalan di belakangnya.
"Ini dia, dewan juri termuda kita malam ini. Kita sambut Mbak Dinda Harika. Ayo Din, maju ke depan! Silahkan tempati kursimu." Sambutan Duki membuat pengunjung di gedung menoleh ke arah Dinda yang sedang berjalan pelan menuju ke depan.
Dinda tersenyum kepada para pengunjung yang menyapanya.
"Assalamualaikum Ustadzah,"
"Waalaikumsalam, bunda,"
Sesekali ia berhenti, karena ada orang tua atau ibu dari beberapa murid ngajinya, mengulurkan tangan untuk menyalaminya, ada juga yang memeluknya, Dinda pun berhenti dan menyambutnya.
Duki siap memanggil peserta lomba yang pertama.
Dinda berjalan ke depan, mencari kursi yang masih kosong. Mahmud mengantarnya sampai duduk di kursi. Setelah Dinda duduk dengan nyaman, Mahmud kembali ke belakang. Duduk bersama salah seorang penjaga keamanan di dekat pintu.
Peserta lomba baca puisi yang pertama telah selesai. Dan turun dari panggung. Duki memanggil peserta kedua.
"Peserta lomba baca puisi selanjutnya adalah Alia. Untuk adik Alia dipersilahkan naik ke panggung!"
Semakin malam pengunjung gedung serbaguna semakin bertambah banyak. Bahkan banyak yang tidak mendapatkan tempat duduk. Mereka ada yang berdiri sambil sandaran di dinding.
Dinda duduk di depan memperhatikan Alia membacakan puisi.
"Tiada lafaz seindah tutur katamu, Tiada penawar seindah senyuman mu,Tiada hari tanpa sebuah bakti, Menabur benih kasih tanpa rasa letih.
Semangatmu terus berkobar, Ku tau…, langkahmu penuh pengorbanan, Jika dirimu telah tiada, dirimu akan selalu dikenang,
Kau adalah pahlawan tanpa lencana."
"Wow! Bagus sekali Alia!" Teriak Dinda sambil bertepuk tangan. Bertepuk tangan bersama dengan semua penonton.
Alia turun dari panggung.
"Peserta lomba baca puisi tingkat anak yang selanjutnya yaitu, kita panggil Iqbal. Untuk adik Iqbal dipersilahkan!"
Iqbal naik ke panggung dengan membawa selembar kertas. Berdiri di depan pengeras suara.
Suara tepuk tangan terhenti. Semua mata fokus ke atas panggung.
Iqbal membuka kertas yang dibawanya. Kemudian ia mulai membaca puisi.
"Alif…Ba…Ta… Ku Eja huruf-huruf itu,
Diriku amat bodoh ketika itu,
Tak sehurufpun aku kenal. Tsa...jim…kha…
Dari tak tahu hingga kini aku mahir,
__ADS_1
Alif…lam…Mim… Aku telah mahir, Ustadzah.
Ku lanjutkan mendendangkan surat itu pertama kalinya, dengan ayat-ayat cinta Ilahi yang mampu menggetarkan hatiku. mampu membuatku bergantung dalam buku tuntunan hidupku, Al-Qur’an.
Tak kan bisa ku kenal huruf itu, dan tak bisa melantunkan senandung gema Ilahi itu
tanpa perantaramu… Ustadzah,
Kau menuntunku meraih cinta Ilahi…
Trimakasih Ustadzah, jasamu tak kulupa!"
Iqbal sudah menyelesaikan membaca puisi.
Semua penonton bertepuk tangan.
"Wow! Iqbal! Keren!" Dinda berdiri dan mengacungkan kedua ibu jarinya ke arah Iqbal.
"Terima kasih, Ustadzah." Iqbal berjalan akan turun dari panggung.
Bersamaan itu Duki naik ke panggung.
"Iqbal! Judul puisinya apa?" Tanya Duki sambil mencegah Iqbal supaya tidak turun panggung dulu.
Iqbal adalah anak laki-laki murid sekolah dasar kelas tiga, juga santrinya Dinda. Ia terkadang lucu dan menggemaskan, terkadang juga muncul bandelnya.
"Emm, apa ya judulnya?" Iqbal seolah sedang berpikir.
"Oh iya. Puisi ini judulnya …,"
"Berjudul apa?"
"Puisi Untuk Ustadzahku!" Teriak Iqbal.
Suara riuh tepuk tangan dari penonton.
"Kalau kak Duki boleh tahu, siapa sih Ustadzah nya Iqbal?"
"Ustadzah Dinda."
"Jadi ini puisi untuk Ustadzah Dinda, begitu?"
"Iya. Benar sekali!" Jawab Iqbal keras.
Tepuk tangan riuh dari penonton.
Dinda tersenyum mendengar jawaban Iqbal.
"Ustadzah nya Iqbal katanya Ustadzah Dinda. Yang mana orangnya?" Tanya Duki menghadap ke penonton.
"Itu Ustadzah Dinda!" Iqbal menunjuk Dinda yang duduk di kursi juri.
__ADS_1
"Ow, ini Ustadzah Dinda,"
"Iya." Jawab Iqbal.
"Baik. Sekarang saya ingin tahu, bagaimana tanggapan Ustadzah Dinda tentang puisi nya Iqbal? Silahkan dewan juri Dinda untuk menjawab!"
Dinda mengambil pengeras suara.
"Terima kasih atas kesempatan yang diberikan, terima kasih saya sampaikan buat yang membuat dan yang membaca puisi ini, terutama buat yang kusayang ananda Iqbal. Keren! Puisinya sangat bagus. Gambarannya tentang perjuangan seorang Ustadzah yang disampaikan secara berlebihan, menurut saya, dan juga terdengar romantis. Begitu penilaian dari saya, Pak Duki, kurang lebihnya saya mohon maaf. Terima kasih,"
"Wow! Ini antara murid dengan guru, eh, antara santri dengan Ustadzah nya sama-sama keren dan kompak banget. Seolah-olah ada tali penghubung di antara keduanya. Sehingga ilmu yang disampaikan Ustadzahnya bisa diserap dan dipahami oleh santri, sehingga diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Oke! Sekali lagi tepuk tangan buat Iqbal!"
Iqbal turun dari panggung. Duki melanjutkan memanggil peserta lomba membaca puisi selanjutnya untuk naik ke atas panggung.
Acara lomba baca puisi tingkat anak, dibuat dengan cepat, supaya tidak terlalu malam sudah selesai. Tapi karena banyak peserta yang ikut, akhirnya pukul sepuluh lewat baru bisa selesai. Setelah membereskan semuanya, hampir pukul sebelas, Dinda bersama dengan yang lainnya keluar dari gedung.
Dinda pulang diantar Mahmud.
"Bagaimana kakinya?" Tanya Mahmud yang berjalan di samping Dinda.
"Jangan khawatir, sudah baikan kok! Aku nggak nyangka Pak Mahmud pandai urut juga,"
Mahmud menoleh mendengar ucapan Dinda. Mereka berhenti di tengah jalan.
"Bagaimana aku nggak khawatir jika terjadi sesuatu padamu, Dinda!" Dinda menunduk mendengar ucapan Mahmud. Kata-kata yang ringan untuk di ucapan, tapi mampu menggetarkan hati Dinda.
"Maaf telah membuatmu khawatir," Dinda melangkahkan kaki, ingin cepat sampai di asrama. Mahmud mengimbangi langkah kaki Dinda dengan sangat mudah.
Mereka telah sampai di asrama putri.
"Terima kasih, Pak, telah mengantarku!"
"Segeralah istirahat! Tidurlah yang nyenyak!"
Dinda tersenyum kemudian masuk ke dalam. Mahmud pun kembali ke tempatnya.
Di gedung serbaguna masih ramai banyak orang. Setelah kembali dari mengantar Dinda, Mahmud melihat keributan di depan gedung serbaguna. Ia pun ke sana.
"Apa yang kalian lakukan di sini?"
Semakin mendekat bau semakin tercium jelas oleh penciuman hidung Mahmud. Ternyata disana juga sudah ada Andi dengan beberapa petugas keamanan.
"Ini Ndan, mereka minum dan bikin ribut di sini!" Lapor Andi.
"Bawa ke pos sekarang!" Titah Mahmud.
Ada sekitar enam orang dibawa penjaga keamanan ke pos. Yang satu sudah teler berat dan meracau tidak karuan. Yang dua orang muntah-muntah. Dan yang tiga orang masih sadar, masih bisa diajak bicara.
Bripda Mahmud dibantu Briptu Andi, meminta identitas dan keterangan dari orang-orang yang sadar itu.
Ternyata mereka bukan karyawan perusahaan. Mereka semua adalah orang dari desa dekat perusahaan, menyusup masuk ke lokasi perusahaan.
__ADS_1
Malam itu juga Bripda Mahmud menelepon Pak Udin dan Pak Hadi melaporkan kejadian tersebut.