
***
Tiba malam hari, Ezra, Haris bersama teman-temannya pergi ke rumah Pak Hadi. Sampai di sana acara masak memasak belum selesai. Mereka langsung membaur di belakang rumah membantu Pak Hadi bersama istri yang masih menyiapkan menu makan malam. Tidak lama datang Bripda Mahmud, Andi, Duki dan mantri Yos. Mereka juga langsung bergabung di belakang.
Ezra dan Haris berdiri di dekat tempat membakar ayam. Begitupun dengan Mahmud dan Andi. Mereka membolak-balik potongan ayam yang sudah dibumbui.
Selang beberapa menit, setelah tadi pulang untuk sholat maghrib, datang Santi, Maya, Ana dan Dinda di rumah Pak Hadi. Mereka lewat pintu depan yang terbuka lebar.
"Assalamualaikum," mereka salam sambil terus masuk ke dalam.
"Kok sepi?" Gumam Dinda yang berjalan paling belakang.
Mereka langsung ke dapur, pun tidak ada orang.
"Ezra penampilan baru, ya," kata Bu Hadi sambil membawa ayam yang sudah dibumbui ke belakang untuk di bakar. Dilihatnya Ezra tampak berbeda, wajahnya yang kemarin ada tumbuh lebat jenggot dan jambang, sekarang bersih.
Ezra diam saja. No respon. Ia tetap fokus dengan membalik ayam di panggangan.
"Aku jadi tanda tanya ini, ayo ada apa dengan Ezra?" Lanjut Bu Hadi seolah bertanya pada semua orang yang ada di situ.
Belum ada yang menjawab pertanyaan Bu Hadi, muncul empat orang penghuni asrama putri.
"Ow di sini semua ternyata,"sahut Ana memutus perkataan Bu Hadi tentang Ezra yang sempat didengarnya tadi.
"Makanya di depan kok sepi," sambung Maya.
"Ucap salam nggak ada yang menjawab langsung masuk ke belakang saja," kata Santi.
Dinda balik lagi mengambil sandal yang tadi dilepas di depan, dibawanya untuk di belakang.
"Assalamualaikum," ucap Dinda setelah sampai di pintu dapur belakang.
"Waalaikumsalam," mereka yang muslim menjawab salam itu.
"Nah, ini Ana, Santi, Dinda, Maya sudah datang." Bu Hadi mengabsen mereka yang baru datang.
"Siapa itu yang di sebelahnya Haris?" Tanya Maya.
"Siapa hayo? Coba tebak !" Ucap Ana.
"Memangnya kamu tahu, Na, siapa sebelahnya Haris?" Bu Hadi sambil masuk ke dapur.
"Tahu dong!" Sahut Ana.
Dinda ikut mengamati sosok yang berdiri di samping Haris, dari postur tubuhnya ia tidak asing kalau itu Ezra dan yang berdiri di depannya Mahmud sekilas melihat ke arah Dinda dan tersenyum tipis. Dinda pun membalasnya. Kemudian Dinda mendekati dan melihat yang mereka kerjakan.
"Aku membantu apa, ya?" Dinda beranjak dari tempatnya dan masuk kembali ke dapur mengikuti Bu Hadi.
__ADS_1
"Siapa sih, Na?" Santi masih penasaran.
Ana, Maya dan Santi ikut berjalan mendekat ke tempat panggangan ayam yang berasap itu.
Mahmud dan Andi berpindah ke tempat duduk dekat dengan Yos.
Ketiga orang itu pun ikut membolak-balik ayam.
Melihat siapa saja yang mendekat ke arahnya, Ezra pelan-pelan pindah dari sana. Jadi tinggal Haris yang bersama tiga perempuan itu.
"Lho, May. Kemana orang itu tadi?" Tanya Santi setelah mendongak mau melihat Ezra sudah tidak ada.
"Din, ini ketimunnya belum dikupas," kata Bu Hadi sambil menunjuk ketimun di atas meja yang tadi sore diambil dari kebun.
"Iya, bu. Sini biar aku yang kupas." Dinda mengambil ketimun satu kantong plastik dipindahkan ke baskom dan mengambil pisau dapur kemudian membawanya di depan tivi. Ia duduk di karpet di depan tivi.
Santi dan Ana tetap di belakang membantu membakar ayam. Maya masuk di dapur mendekati Bu Hadi.
"May, halusin sambalnya, ya?"
"Mana?"
Bu Hadi menyiapkan lombok, bawang merah, tomat, yang sudah digoreng untuk membuat sambal.
"Ini May,"
"Sudah Din?" Bu Hadi mendekati Dinda untuk mengambil timun dan kemangi untuk dicuci.
"Sudah," Sahut Dinda sambil berdiri dari tempatnya.
Setelah mencuci lalapan, Dinda kembali duduk di depan tivi bersama Maya dan Santi menyiapkan piring.
"Ezra tampil beda lho sekarang. Kalian sudah lihat belum?" Bu Hadi yang sudah selesai menata menu ikut nimbrung duduk lesehan di depan tivi bersama Dinda, Maya dan Santi.
"Iya, aku habis dari belakang sudah lihat." Sahut Santi.
"Masak sih?" Maya jadi penasaran. Berbeda dengan Dinda yang sangat cuek dan no comen, ia fokus sama acara di tivi.
"Assalamualaikum," suara seseorang memberi salam dari depan.
"Waalaikumsalam,"
Anu langsung masuk dan jongkok di dekat Dinda.
"Nu, kok baru datang?" Tanya Bu Hadi.
"Iya, Bu. Maaf masih sibuk di kantor, ini mau menyampaikan pesan sama Dinda,"
__ADS_1
"Oh, nanti kalau sudah selesai kesini lho, Nu!" Pinta Bu Hadi.
"InsyaAllah, Bu,"
"Din, ada pesan dari ssb, ada yang mau hubung, katanya. Ditunggu sekarang." Anu lirih menyampaikan pesan pada Dinda.
"Iya kah," Dinda pamit sama Bu Hadi dan para perempuan yang ada di depan tivi, kemudian langsung bangkit dan mengikuti Anu jalan.
"Ayamnya sudah apa belum, Pi? Bu Hadi berdiri di depan pintu dapur belakang bertanya pada Pak Hadi sambil sesekali memperhatikan anak-anak yang ada di belakang. Ana duduk di dekat Aso yang sedang memainkan gitar Ana ikut menyanyi.
"Ini." Pak Hadi menyerahkan ayam satu baki penuh.
"Ayo semuanya kita makan dulu. Aso, berhenti dulu main gitarnya! Dilanjut nanti setelah makan! Ayo Zra, Ris! Komandan Mahmud, komandan Andi, Ayo!" Semua dipanggil oleh Pak Hadi.
"Iya, Pak!" Mereka masuk ke dalam. Bu Hadi dan Ana membagi-baginya piring ke mereka.
Mahmud mengedarkan pandangannya mencari sosok yang tadi tersenyum padanya. Tapi tidak dilihatnya.
"Kemana dia?" Tanya Mahmud dalam hati.
Mereka menikmati makan malam dan berbincang sewajarnya.
***
"Anu, tunggu!" Dinda mengejar Anu yang berjalan cepat di depannya.
"Cepat banget, Nu, jalanmu. Aku kewalahan mengikutimu. Ucap Dinda setelah sampai di dekat Anu.
"Masalahnya aku masih banyak kerjaan, Ndan," Dinda dan Anu berjalan setengah berlari menuju kantor.
Anu langsung ke pantry di belakang. Sedang Dinda berlari ke ruang ssb.
"Dinda, kepala bagian di blok D sudah menunggu dari tadi, mau hubung langsung katanya," ucap Sudin setelah Dinda masuk ke ruangannya dengan napas ngos-ngosan.
"Aduh Din, kamu habis lari, ya? Suka olahraga malam? Pantesan badanmu langsing,"
"Tunggu kak, aku atur napas dulu!" Dinda duduk di kursi meja sebelah Sudin.
Sudin hanya melirik dan tersenyum padanya sambil melanjutkan pantauannya pada mobil dan alat berat yang sedang beroperasi malam hari.
Beberapa menit kemudian,
"Bagaimana, Din? Dah siap?"
"Oke, kak," Dinda beranjak mendekati tempat duduk Sudin.
Sudin memindah chanel nya dan mulai memanggil kepala bagian blok D dengan kode.
__ADS_1
Sekitar setengah jam Dinda berada di ruangan itu.