
"Ada apa sih Tri, heboh?" Dinda ikut penasaran.
"Kok kayak bau durian?" Hidung Maya mengendus-endus.
"Iya nih," Santi ikut mempertajam penciumannya.
"Penciuman kalian memang tajam." Koar Duki.
"Ini lho, komandan mau berbagi durian,"
Santi dan Maya langsung melepas mukenanya.
Komandan Andi, Anu dan Duki membelah buah durian.
Mahmud yang duduk di bangku panjang melihat Dinda sedang berdiri melihat mereka.
"Mbak Din, duduk di sini loh!" Mahmud menunjukkan tempat di sebelahnya.
Dinda yang masih memakai mukena menurut dan langsung duduk di tempat yang ditunjuk Mahmud.
"Sudah musim durian kah?" Tanya Dinda.
"Sudah, tapi masih jarang. Kalaupun ada orang jualan harganya masih mahal." Sahut Mahmud sambil terus memperhatikan Dinda yang duduk di sebelah kanannya.
"Mbak Din, kangen!" Tiba-tiba Mahmud mendekatkan wajahnya ke sisi kiri Dinda dan membisikkan itu, membuat wajah Dinda seketika merona.
Dinda melirik saja. Jika menoleh takut wajahnya bersentuhan dengan Mahmud, karena jarak Mahmud begitu dekat.
"Apaan, sih!" Dinda menundukkan kepalanya.
"Beneran. Aku nggak bohong! Apa mau bukti?"
"Memang bisa dibuktikan?" Dinda menoleh ke arah Mahmud yang sejak tadi memandangnya.
"Mau tahu?" Mahmud perlahan menarik tangan Dinda.
"Nggak." Dinda menggelengkan kepala dan mencoba menarik tangannya yang digenggam Mahmud.
"Lepasin!" Pinta Dinda tapi nggak digubris Mahmud.
"Nggak!"
"Pak!" Dinda akan merasa nggak enak kalau yang lain melihat kelakuan Mahmud ini. Dengan wajah memelas meminta pada Mahmud untuk melepas tangannya.
"Biar begini dulu." Mahmud mengelus lembut telapak tangan Dinda. Dinda tetap mencoba menariknya tapi nggak berhasil.
Pak Hadi berjalan dan tiba-tiba berhenti di depan klinik, karena dilihatnya Dinda duduk di sana.
"Dinda! Meeting jangan lupa!" Kata Pak Hadi sambil menunjukkan jam yang melingkar di tangan kirinya.
"Oh, iya, Pak!"
Dinda hampir lupa kalau malam ini ada meeting di kantor.
__ADS_1
"Anu!" Dinda akan berdiri untuk memberi tahu Anu. Tapi tangan kirinya dipegang Mahmud, membuat Dinda menoleh ke Mahmud dan melihat ke tangannya.
"Iya, Ndan! Ada apa?" Tanya Anu yang masih sibuk membelah durian.
"Anu, ada meeting di kantor sekarang. Pak Hadi sudah kesana barusan!" Dinda memberitahu.
"Kamu nggak ikut meeting, Ndan?"
"Habis ini mau ke sana."
Setelah durian sudah berhasil dibuka, Mahmud mengambil setangkup berisi empat biji ditaruh di antara ia dan Dinda duduk.
"Ini Mbak!" Mahmud mengambil satu biji, Dinda ikut mengambil satu biji kemudian dimakan. Setelah habis, ia ambil satu biji lagi.
"Sungguh rasanya selezat baunya!" Celetuk Dinda spontan membuat Mahmud yang sudah berdiri makan durian menoleh padanya. Kemudian mendekat dan kembali duduk di sebelahnya.
"Masak sih? Rasanya selezat baunya?" Bisik Mahmud lagi.
"Ia." Jawab Dinda sambil menoleh melihat Mahmud.
"Deg!" Mahmud menatap begitu tajam padanya. Membuat dada Dinda berdetak tidak karuan dan berdesir aneh. Begitupun dengan Mahmud yang akhirnya dengan susah payah menelan salivanya.
"Tahu ah!" Dinda langsung berdiri dan berlari keluar dari klinik.
Mahmud melihatnya sampai Dinda keluar dan hilang dari pandangan.
Sampai di kamarnya Dinda melepas mukena dan mengganti bajunya untuk pergi meeting di kantor.
Di sana ada Maya, Santi, Ana, Adri, Noni duduk dengan pasangannya masing-masing. Gebetannya maksudnya.
Dinda dan Anu ikut bergabung duduk tidak jauh dari mereka.
Mantri Yos berdiri dan ke belakang. Rupanya di belakang ada beberapa orang yang sedang memasak di dapur klinik.
"Anu, pinjam bantal dong?" Pinta Dinda. Semua penghuni asrama putri ada di sini. Dinda yang sebenarnya lelah dan ngantuk itu nggak berani sendirinya di asrama.
Anu mengambilkan bantal untuknya.
"Ini, Ndan." Anu memberikan bantal pada Dinda.
"Terima kasih, Anu." Dinda menerima bantal dari Anu dan memposisikan diri untuk nonton tivi sambil rebahan.
Sepuluh menit kemudian, Mahmud datang dengan semangkuk mie.
"Mbak Din, ayo makan mie!" Ajak Mahmud.
"Sudah, terima kasih." Sebenarnya Dinda juga lapar, karena sore tadi nggak makan malam. Tapi sudah kalau begini Dinda sudah malas mau makan. Ia terus fokus nonton film yang menayangkan kisah sedih itu.
Suasana sepi, semua fokus dengan layar tivi. Tanpa terasa Dinda yang tiduran miring menghadap ke tivi itu menangis dan meleleh air mata.
Dengan iseng, Mahmud yang duduk bersandar di dinding di belakang Dinda mengintip Dinda.
"Hai, menangis?" Mahmud kaget melihat Dinda menangis.
__ADS_1
"Hahaha! Kamu nangis, Din?" Tanya Ana dengan tawa sambil mengusap air matanya sendiri.
"Yang ngomong paling juga nangis." Sahut Santi.
"Ya ampun, kalian, cuma nonton film di tivi sampai pada nangis? Ck ck ck!" Mahmud heran sambil berdecak.
"Perannya sedih, jadi baper. Tahu nggak sih?" Jawab Dinda dengan suara parau sambil bangun dan mengusap air matanya.
"Kasihan. Sini!" Mahmud mengulurkan tangannya ingin memeluk Dinda.
"Nggak ah!" Dinda mengelak nggak mau dipeluk.
"Romantis sedikit kenapa?"
Dinda melotot ke Mahmud, membuat Mahmud tertawa merasa Dinda sangat lucu.
Dinda dan Mahmud duduk bersebelahan.
Selesai makan mie, Andi datang dan ikut duduk di samping Mahmud.
Disaat tivi menayangkan iklan. Mahmud membuka suara.
"Ada cerita nih, kalian sudah dengar, belum? Ada perempuan datang ke kantor polisi melaporkan kejadian katanya habis diperkosa sama pacarnya."
"Terus bagaimana, Ndan?" Tanya Duki.
"Ya polisi bertanya, di mana kejadiannya? Kapan? Jawab perempuan itu, pertama pacar saya mengajak saya melakukannya di sebuah gubuk, Pak Polisi. Polisi bertanya, iya, terus? Jawab perempuan itu, saking dahsyatnya kami melakukan hubungan, karena tempat di gubuk itu nggak kuat, jadi tempat itu berbunyi reot… reot… reot… kami takut roboh, pak Polisi. Akhirnya kami pindah mencari tempat lain. Polisi bertanya dengan tegas, terus kalian pindah kemana? Kami pindah ke tempat yang lebih aman dan kuat, supaya saat kami beraksi ranjang nggak bergerak dan nggak berbunyi, jadi saya dan pacar saya bisa leluasa melakukannya. Pacar saya dan saya menyewa sebuah hotel, Pak Polisi. Polisi bertanya lagi, jadi kalian mau sama mau? Jawab si perempuan, iya Pak Polisi. Akhirnya Polisi berkata, kalau kalian saling mau mengapa lapor ke polisi????? Jawab perempuan itu, habis enak Pak Polisi."
"Hahahaaa …!" Semua tergelak tertawa.
Dinda tertawa sambil menutup mulutnya.
"Kalau tertawa dilepas saja, jangan ditahan atau ditutupi mulutnya." Bisik Mahmud ke telinga Dinda.
"Apaan, sih."
Dinda kembali ingin merebahkan tubuhnya.
"Ngapain?"
"Mau tiduran." Dinda mengambil bantalnya tadi. Mahmud menyelonjorkan kakinya.
"Sini!" Mahmud meminta Dinda untuk merebahkan kepalanya di pangkuannya.
Dinda melihat ke pangkuan itu dan berganti ke arah Mahmud.
"Nggak ah!" Dinda meletakkan bantalnya di dekat kaki Mahmud dan diikuti kepalanya.
"Dasar keras kepala!"
"Hehehe… biarin! Memang keras nih!" Dinda memijat tengkorak kepalanya. Membuat Mahmud tersenyum dan menggelengkan kepala.
Pukul dua belas malam, acara film selesai. Mereka bubar. Dan pulang ke asrama masing-masing.
__ADS_1