
Ezra berdiri di bawah pohon besar di pinggir jalan, menunggu Dinda yang masih belum terlihat olehnya. Ezra khawatir kenapa Dinda lama tidak muncul.
Dinda terus berjalan. Dinda tidak berteriak memanggil Ezra untuk menunggunya, karena hari ini ia tidak bisa berlari. Ia tidak ingin Ezra menunggunya terlalu lama.
Pergelangan kakinya yang bengkak terasa sakit. Dinda berhenti sebentar, sambil menggoyang-goyangkan pergelangan kakinya. Dinda berpikir, 'ingin meneruskan jalan ke depan atau kah balik saja?' Sambil menoleh ke sana kemari, Sepertinya saat ini ia sudah sampai pada tengah-tengah perjalanan. Antara mau balik atau terus, sama-sama menempuh jarak yang sama jauhnya.
Dinda memutuskan untuk meneruskan berjalan.
Beberapa saat kemudian, muncul Santi dengan Mantri Yos lari pagi bersama.
"Hai, Din, aku duluan ya?" Sapa Santi.
"Iya, Mbak,"
"Ayo, Din!"
"Iya, Tri,"
Santi dan Yos mendahului Dinda. Beberapa meter ke depan kemudian, Santi dan Yos bertemu Ezra di bawah pohon besar di pinggir jalan. Ezra sedang melakukan gerakan semacam senam.
"Hai Zra!" Sapa Santi dan Yos.
"Hai!" Sahut Ezra
"Oh ya, Zra, di belakang ada Dinda, lho. Dia lagi jalan." Ucap Santi memberitahu Ezra.
Yos ikut senam mengikuti gerakan Ezra. Santi pun demikian, sambil menunggu Dinda sampai di tempat mereka.
Dinda telah melewati jalan tanjakan. Nafasnya ngos-ngosan. Dari kejauhan Ezra melihat Dinda menyeka keringat di dahinya dengan handuk kecil yang dikalungkan di lehernya. Dinda berjalan dengan santai, sambil menundukkan kepala, tanpa memiliki rasa bersalah.
Dinda tidak mengetahui jika Ezra sejak tadi menunggunya.
"Dor!" Tiba-tiba Ezra melompat menghadang pas di depan Dinda yang berjalan menunduk.
Saking kagetnya, Dinda spontan mundur dan jatuh dalam keadaan duduk.
"Kak Ezra!" Dinda kaget setelah menengadah dan melihat Ezra berdiri di depannya.
Awalnya Ezra yang ingin membuat kejutan untuk Dinda, ternyata Ezra sendiri juga dibuatnya kaget dengan jatuhnya Dinda.
"Aduh! maaf," Ucap Ezra sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Aduh, Din, gimana sih, kok jatuh?" Santi mendekati Dinda.
"Kenapa Kak Ezra masih di sini?" Tanya Dinda.
"Ayo berdiri!" Ezra mengulurkan tangannya untuk membantu Dinda bangun, tanpa menggubris pertanyaan Dinda.
Dinda tidak menerima uluran tangan Ezra.
__ADS_1
"Terima kasih," setelah Dinda membersihkan pakaiannya yang kotor, mereka berempat kemudian melanjutkan berjalan.
"Bukannya Kak Ezra seharusnya sudah sampai asrama sejak tadi, ya?"
"Kamu juga, kenapa dari tadi nggak mau lari?"
"Jadi?" Dinda menatap Ezra.
"Ya! Aku menunggumu! Ayo sekarang kita lari!"
"Aku nggak bisa lari, Kak. Kak Ezra kalau mau lari, lari saja duluan, nggak papa,"
Ezra dan Yos yang sudah ancang-ancang akan lari, mengurungkannya. Ezra menoleh melihat ke arah Dinda.
"Kenapa begitu, Din?"
"Ya, aku belum bisa lari, Kak," jawab Dinda tenang.
Ezra merasa Dinda agak aneh. Ezra pikir Dinda ingin menjaga jarak dengannya. Berbagai pertanyaan berkecamuk di kepala Ezra. Melihat wajah Dinda yang tenang, ia tidak berani menanyakan satu pun pertanyaan.
Setelah berjalan beberapa meter, Dinda berhenti lagi. Ia duduk di sebuah batang pohon yang roboh di pinggir jalan. Ezra yang berdiri beberapa meter darinya, hanya memperhatikan dalam diam.
Dinda melepas sepatu dan kaos kaki sebelah kiri. Melihat pergelangan kakinya yang bengkak dan sakit. Lebih sakit dari pada sebelumnya.
"Kakimu bengkak?" Ezra mendekat untuk melihat kaki kirinya bengkak. Ezra jongkok di depan Dinda.
"Maaf, ijinkan aku melihat kakimu!"
"Kakimu keseleo, Din." Ezra merasa bersalah. Ia pikir kaki Dinda cedera karena jatuh tadi, jatuh yang disebabkan oleh dirinya yang membuat Dinda kaget.
Ezra mengemasi sepatu dan kaos kaki Dinda. Kemudian Ezra jongkok membelakangi Dinda tepat di depannya.
"Naiklah!"
"Apa kak?"
"Aku mohon naiklah!" Pinta Ezra.
"Nggak mau!"
"Dinda! Naiklah! Jangan bikin kakimu tambah sakit!" Pinta Ezra sekali lagi.
"Apaan sih, Kak! Aku Nggak mau!" Dinda mengambil kaos kaki dan sepatunya dan memakainya kembali. Kemudian ia berdiri.
"Aku masih bisa jalan!" Dinda berjalan meninggalkan Ezra yang masih jongkok, ia menyusul Santi dan Yos yang sudah jalan beberapa meter berada di depannya.
Ezra hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala sambil memandang Dinda dari belakang.
Meski Ezra khawatir dengan keadaan kaki Dinda, ia tidak berani memaksa. Ia tahu batasannya. Bahkan akan menyentuh untuk memeriksa kakinya saja, Ezra meminta izin terlebih dahulu.
__ADS_1
Ia pernah membaca sebuah hadist diriwayatkan dari Abi Umamah ra dari Rasulullah SAW bersabda, “Awas jauhilah bersepi-sepian (berduaan) dengan wanita. Demi Allah yang nyawaku ada pada kekuasan-Nya, tidaklah berduaan laki-laki dengan perempuan kecuali masuk setan di antara keduanya. Sungguh bilamana berhimpitan seorang laki-laki dengan babi yang berlumuran lumpur itu lebih baik bagi lelaki itu daripada menyenggolkan pundaknya pada pundak perempuan lain yang tidak halal baginya.” (HR. Thabrani)
Karena itu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sangat mewanti-wanti umatnya agar jangan sampai bersentuhan antara laki-laki dengan perempuan yang bukan mahram kecuali melalui jalan pernikahan.
Ibaratnya bila Anda hendak melalui sebuah pintu namun berpotensi untuk berhimpitan dengan wanita, maka lebih baik mencari pintu lainnya kendati pun harus berhimpitan dengan babi yang kotor.
Sebab berhimpitan dengan babi hanya akan menghasilkan najis yang bisa dihilangkan cepat dengan bersuci, tetapi berhimpitan dengan wanita akan melahirkan dosa dan hasrat untuk melakukan zina.
Naudzubillah!
Ezra berdiri terus berjalan menyusulnya. Mereka berempat berjalan sambil sesekali bersenandung ria.
Santi yang sedang jalan di samping Yos,
"Di puncak bukit hijau, tempat indah kita datang berjumpa, harum, wangi bunga, beraneka warna, seakan menyambut cinta kita berdua."
"Romantis." Ucap Dinda spontan membuat Ezra yang berjalan di sampingnya menoleh kepadanya. Pandangan mata Ezra seolah mempertanyakan ucapan Dinda.
"Lho! Iya kan, kak!"
"Iya, bagi mereka yang pacaran."
"Tapi ini bukan di bukit, Mbak Santi. Mungkin kalimatnya diganti. Di tengah hutan hijau, begitu, ya, hiii...hiii…,"
"Ada-ada saja kamu, Din, mana ada aneka bunga di tengah hutan," sahut Yos.
"Yang ada lebatnya pohon akasia, nih." sahut Ezra.
Tanpa terasa mereka berempat telah sampai di pintu gerbang masuk ke lokasi perusahaan.
"Aku duluan!" Ezra berbelok ke kanan, menuju ke asramanya.
"Yoi, Zra." Jawab Yos dan Santi, kemudian masuk ke tempat fitnes.
Dinda berjalan cepat, ingin meninggalkan Yos dan Santi.
"Din, nggak fitnes dulu?"
"Nggak, Mbak. Kebelet, nih," Dinda berjalan cepat, ingin cepat sampai di asrama putri.
Santi dan Yos di dalam ruang fitnes.
"Ezra kelihatan beda, ya, tadi?" Tanya Yos.
"Apanya yang beda?"Santi tidak mengerti maksud Yos.
"Sikap dia nggak seperti biasanya. Ezra kan terkenal dingin dan cuek sama perempuan," jelas Yos.
__ADS_1
"Sama aku juga cuek, nggak mau tahu, malah!" Sahut Santi.