PACAR 30 HARI BRIPDA MAHMUD

PACAR 30 HARI BRIPDA MAHMUD
Bab 60. Acara Di Gedung


__ADS_3

Setelah mendatangi dapur umum, dan mengetahui nasi kotak sudah dikemas dan semua keperluan lainnya sudah siap, Dinda akhirnya pamit pada Bu Tun.


Tanpa terasa hari bergulir menjadi malam. Malam yang ditunggu-tunggu telah tiba. 


Dinda, Ana, Maya, Santi, dan karyawan bagian dapur sudah berdiri di depan pintu gedung. Mereka membagikan kotak kue sekaligus kotak nasi kepada hadirin yang datang dan memasuki gedung.


Semua orang berbondong-bondong datang ke gedung serba guna. Gedung yang awalnya tampak biasa, malam ini dipenuhi dengan banyak hiasan pita dan balon beraneka warna. Lampu sangat terang benderang. Di panggung juga dikelilingi dengan nyala lampu hias berwarna-warni.


Acara belum dimulai. Tapi kursi di dalam gedung telah dipenuhi pengunjung. Kursi di deretan pertama dan kedua ditempati oleh para tamu undangan dan para manajer juga asisten manager.


Pukul delapan tepat. Musik yang sejak tadi berbunyi, kini telah berhenti. Suasana terdengar sangat riuh.


Beberapa menit kemudian, sebagai pembawa acara malam ini, terlihat Duki telah naik ke atas panggung membawa selembar kertas di tangan kirinya.


"Dog! Dog! Tes! Tes!" Duki mengetes speaker yang ada di tangannya.


Suasana menjadi sunyi. Semua mata tertuju ke atas panggung.


"Selamat malam, Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh," Duki memberi salam.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," jawaban salam dari para hadirin.


Duki memberi ucapan pengantar atau pembukaan, kemudian membacakan susunan acara, selanjutnya mempersilahkan Pak Hadi selaku Pimpinan Perusahaan untuk memberikan sambutan sekaligus memotong tumpeng sebagai simbol memperingati dirgahayu kemerdekaan Republik Indonesia. Setelah tumpeng bagian atas dipotong dan ditaruh di piring, terdengar suara riuh tepuk tangan dari hadirin.


Dinda, Ezra beserta rombongan vokal grup, dan yang lainnya yang akan mengisi hiburan malam ini telah bersiap dan duduk di belakang panggung.


Sesekali Dinda menoleh kesana kemari mencari seseorang yang kemarin mengajaknya duet, tapi sampai saat ini dia belum melihatnya.


Sementara di tempat lain, Mahmud bersama Andi dan petugas keamanan berdiri di pos jaga. Untuk malam ini petugas keamanan memang harus bekerja ekstra, demi menjaga keamanan dan kelancaran berlangsungnya acara. Mereka menempati tempat-tempat yang sudah ditentukan. Mahmud, Andi dan kepala keamanan secara bergantian patroli. 


Setelah mengetahui susunan acara yang dibacakan Duki tadi, Mahmud mengetahui bahwa ia dan Dinda akan menyanyi setelah pembagian hadiah selesai.


"Baiklah, acara selanjutnya yaitu pembagian hadiah untuk perlombaan baca puisi tingkat anak." Duki mengedarkan pandangannya ke hadirin.

__ADS_1


"Juara kedua baca puisi tingkat anak yaitu … adik Iqbal." Suara tepuk tangan terdengar.


"Untuk adik Iqbal, silahkan naik ke atas panggung!" Suara Duki terdengar jelas sampai di luar gedung serba guna.


Mahmud pamit pada teman-temannya yang ada di pos.


"Komandan Andi, Pak Run, saya ke gedung dulu, ya?"


"Oh,iya, Ndan, silahkan!" Ucap Andi dan Pak Run hampir bersamaan.


"Bukannya sebentar lagi akan tampil?" Tanya Pak Run.


"Wah, aku kepingin lihat juga, ee…!" Kata Andi membuat Pak Run dan Mahmud tersenyum.


Dari pos sebenarnya juga kelihatan, cuma nggak puas, kurang dekat.


Mahmud berjalan meninggalkan mereka dan mendekati gedung. 


"Selanjutnya, juara pertamanya yaitu … adik Alia! Kepada Adik Alia silahkan naik ke panggung!" 


Mahmud sudah berdiri di dalam gedung.


"Kepada yang terhormat Mbak Dinda Harika kami mohon untuk menyerahkan hadiah kepada adik-adik yang memenangkan lomba. Ayo, Dinda silahkan naik ke atas panggung!" Suara Duki membuat Dinda berdiri dari tempat duduknya. Duki meminta Dinda untuk menyerahkan hadiah buat anak-anak, karena anak-anak sangat menyukainya bahkan mengidolakannya.


Tampak dengan jelas di wajah Alia dan Iqbal lebih berseri saat disebut nama Dinda.


Dinda mengenakan baju bodo bahan organza dengan celana flare motif etnik, dipadu dengan hijab voal dan heels berwarna senada, tampak manis berjalan naik ke atas panggung.


Mahmud yang berdiri di belakang sana, terpana melihat penampilan Dinda. 


Setelah memberikan hadiah kepada Alia dan Iqbal, 


"Prok! Prok! Prok!" Suara tepuk tangan memenuhi ruangan gedung bersamaan dengan Alia dan Iqbal kembali ke tempat duduknya. Dinda juga menyusul mereka akan turun dari panggung, di saat itulah, ia melihat keberadaan Mahmud yang berdiri di belakang sana. 

__ADS_1


"Dag! Dig! Dug!" Perasaan lega bercampur senang Dinda rasakan. Ada rasa yang menggetarkan hatinya, Dinda melihat tatapan Mahmud tertuju padanya, membuat Dinda beberapa saat terkunci, yang akhirnya Dinda hanya menundukkan pandangannya.


"Untuk selanjutnya acara kita isi dengan hiburan dan nyanyi-nyanyian!" Ucap Duki.


"Yang akan tampil perdana malam ini adalah … komandan Mahmud! Akan duet dengan … Dinda…! Kami persilahkan keduanya naik ke atas panggung!"


Mahmud berjalan maju dan menghampiri Dinda yang menunggunya di dekat panggung. Mahmud mempersilahkan Dinda lebih dulu naik tangga panggung dan Mahmud menyusul di belakangnya.


Mahmud dan Dinda, masing-masing telah memegang pengeras suara. Musik yang mengiringi pun telah berbunyi. Mahmud bisa melihat Dinda lebih dekat. 


"Kangen!" Ucap Mahmud lirih sambil tersenyum.


Wajah manis dengan polesan make up tipis, pemerah di kedua pipinya tidak mampu menutupi rona merah yang terpancar. Melihat Mahmud menatapnya sedemikian, membuat Dinda tegang dan menundukkan wajahnya. Mahmud tersenyum. Kemudian meraih tangan kirinya.


"Jangan tegang!" Bisik Mahmud membuat Dinda mengangkat wajahnya.


"Siap?" Dinda mengangguk


Kemudian suara Dinda masuk mengikuti musik.


"Untuk siapa aku dilahirkan ke dunia sayang, harusnya engkau percaya bahwa aku terlahir, dari tulang rusukmu yang hilang satu…," Suara indah Dinda, membuat orang terkesima. Gedung yang tadinya riuh dengan orang berbicara sendiri-sendiri, tiba-tiba diam. Seolah kena tiupan sihir.


"Karena engkau tercipta dari tulang rusukku, untuk siapa aku dilahirkan, akupun tercipta untuk siapa …," lantunan lagu dari Mahmud ini sebagai jawaban lirik yang dibawakan Dinda. Ketika menyanyi suara Mahmud terdengar begitu lembut dan sungguh menggetarkan hati bagi yang mendengarkan. Mereka berdua menyanyi penuh dengan penghayatan.


"Aku lahir untukmu, aku tercipta untukmu, kita adalah satu." Mahmud dan Dinda mengambil suara bersama. Mahmud menoleh ke arah Dinda yang sedang berdiri di samping kanannya, demikian pula dengan Dinda sedang menatap Mahmud, keduanya tersenyum dan sama-sama menghadap ke penonton.


Lagu pun selesai, 


"Terima kasih" ucap Mahmud dan Dinda bersamaan. Mereka berdua kemudian turun dari panggung.


Selanjutnya, Duki memanggil peserta berikutnya untuk naik ke atas panggung.


Mahmud mengikuti Dinda berjalan ke samping panggung hendak ke belakang. Dinda tahu Mahmud mengikutinya, ia senang. Setelah tahu Dinda akan kemana, Mahmud langsung balik kanan dan terus berjalan menuju pintu gedung dan keluar. Ia kembali ke pos jaga.

__ADS_1


Dinda yang tidak menyadari kepergian Mahmud, setelah sampai belakang panggung dan akan duduk, ia menoleh dan mencari-cari keberadaan Mahmud, ia tidak menemukan. Seketika raut wajahnya berubah sedikit murung. Hati yang tadi merasa senang kini dirundung kecewa. Ia menghela nafas panjang. Mencoba untuk menetralkan emosi hatinya.


 


__ADS_2