PACAR 30 HARI BRIPDA MAHMUD

PACAR 30 HARI BRIPDA MAHMUD
Bab 13. Lari Sore


__ADS_3

Sore sepulang kerja, Dinda mendekati Maya yang sedang duduk santai di ruang tamu.


"Mbak May ada acara nggak sore ini?"


"Santai, Din."


"Boleh minta tolong dong, gantiin aku ngajar anak-anak ngaji hari ini? Aku lagi pas, nih!" Pinta Dinda.


"Oke. Tapi gantian lho. Nanti sewaktu aku halangan kamu yang gantiin ngajar anak-anak?"


"Sip, Mbak." Dinda mengacungkan kedua jempolnya.


Ganti Dinda yang duduk di ruang tamu, sedang Maya bergegas pergi ke kamar mandi.


Setelah Maya sudah siap dengan busana muslim lengkap dengan hijabnya, datang mendekati Dinda yang masih duduk bermalas-malasan di ruang tamu.


"Din!"


"Ya, Mbak." Dinda menoleh ke Maya yang berdiri di sampingnya.


"Tapi ini ngelanjutin pelajaranku lho, Din? Soalnya aku nggak tahu pelajaranmu sampai mana,"


"Terserah Mbak Maya saja, yang penting anak-anak nggak kosong." Jawab Dinda.


Sore itu setelah Maya berangkat ke Masjid, Dinda mengganti bajunya dengan setelan training. Ia akan pergi lari keliling mengitari komplek. Berjalan sampai di depan klinik, Anu sudah siap dengan baju larinya juga, baju olah raga dengan bawahan celana pendek selutut. 


"Ayo, Din! Lamanya ditungguin," kata Anu.


"Nungguin, ya? Mau lari?"


"Ayo!" Mereka mulai berlari menuju pintu gerbang belakang perusahaan untuk keluar.


"Mbak Santi mana?" Tanya Dinda setelah sampai di luar beberapa meter. Biasanya Anu lebih sering berlari sore bersama Santi ketimbang Dinda.


"Sudah duluan. Aku ditinggalnya."


"Iyakah? 


"Hm."


Jalan tidak selalu mulus. Ada belokan, turunan dan tanjakan. Di saat jalan turunan berlari bisa lebih cepat dan ketika menemui jalan tanjakan, Dinda dan Anu lebih memilih berhenti lari. Mereka lebih sering berjalan kaki. Setelah berlari sambil berjalan menempuh jarak sekitar lima ratus meter, tidak jauh di depan mereka terlihat Santi dan Yos.


"Hai Mbak Santi, hai Tri! Duluan ya!" Dinda dan Anu terus berlari melewati Santi dan Yos yang sedang berjalan.


"Hai Din, hai Nu! Oke deh!" Jawab Santi dan Yos bersamaan.


Setelah mereka berpapasan dengan Santi dan Yos, tidak jauh di depan mereka, Anu dan Dinda melihat dua orang di depannya.


"Siapa itu, Nu?"


"Masak nggak kenal dengan pacar sendiri?"


Dinda sambil berlari sekilas menoleh ke Anu. Dan kembali menajamkan pandangannya ke depan.


'Oh, Pak Mahmud dan Pak Andi.' Jawab Dinda dalam hati.


"Dengerin, Nu! Aku tuh nggak pacaran sama orang itu. Kita cuma …,"


Dinda belum selesai ngomong, Anu sudah memotongnya. Sekarang Anu dan Dinda berhenti berlari. Berjalan kaki saja.

__ADS_1


Sementara Mahmud dan Andi,


"Mud, pacarmu di belakang noh." Andi memberitahu setelah menoleh ke belakang dilihatnya Dinda dan Anu berlari.


Mahmud menoleh ke belakang.


Kemudian mereka berhenti berlari dan duduk di batang pohon yang roboh di pinggir jalan sebelah kanan untuk menunggu Dinda dan Anu.


"Komandan Mahmud bilang kalian sudah jadian. Dan sekarang pacaran. Kami melihat kalian juga sangat dekat."


"Apa? Anu!" Dinda kaget dan nggak terima Anu berkata seperti itu, ingin menyangkalnya.


"Di klinik ngobrol berdua, di jalan malam-malam berdua. Itu namanya apa, coba?" Anu mencoba menjelaskan dan membuka pikiran Dinda.


"Itu kebetulan saja, Anu. Nggak disengaja!"


"Makan satu apel berdua?"


"Apa!"


"Kami bisa melihat, Din. Sikap Komandan Mahmud ke kamu itu beda dari pada ke yang lain. Dia lebih perhatian ke kamu. Kamu itu prioritas utamanya. Kamu tahu nggak, setiap sore komandan Mahmud selalu di klinik menunggu kamu pulang dari kantor?"


"Apa!" Dinda kaget lagi mendengar penuturan Anu.


"Hai, Ndan!" Anu menyapa kedua polisi itu.


"Hai, Nu!" Mahmud dan Andi berdiri dari duduknya dan membaur dengan Dinda dan Anu.


"Ayo, Ndan!" Anu mengajak berlari. Sementara Dinda sudah nggak mampu berlari rasanya, setelah mendengar ucapan dari Anu tadi membuat badannya berat untuk berlari.


Mahmud dan Andi mengikuti Anu berlari, tanpa menyadari jika Dinda sudah tertinggal jauh dari mereka.


"Din, duluan!" Santi dan Yos berlari melewati Dinda.


"Iya!" Jawab Dinda.


Mendekati pintu gerbang.


"Ndan, mana Dinda?" Tanya Anu kepada Mahmud.


Semua menoleh ke belakang. Mereka baru menyadari jika Dinda tidak bersama mereka.


"Kita tunggu di sini!" Ajak Anu kepada Mahmud dan Andi sambil duduk di pos jaga.


Tidak lama mereka duduk, datang Yos dan Santi.


"Kalian lihat Dinda?" Tanya Mahmud.


"Masih di belakang." Jawab Yos dan Santi bareng.


Yos dan Santi ikut duduk di dalam pos.


"Setelah ini enaknya ngapain, ya?"


"Enak makan yang berkuah," sahut Santi.


"Apa itu?" Tanya Andi.


"Masak mie?" Usul Anu dan Mahmud bareng.

__ADS_1


"Nah, dua orang kompak. Ayo masak mie di dapur klinik saja!" Ajak Yos, diiyakan oleh semua berdiri dari duduknya.


"Nu, ambil mie di koperasi! Biar aku sama Andi ke kebun nyari sayur." Kata Mahmud.


"Oke!"


*


Berjalan seorang diri, sambil terus berpikir bagaimana cara menghindar dari seorang Mahmud. Ia tidak mau disebut sebagai pelakor dan bahan gunjingan masyarakat. Tapi selama Mahmud masih bertugas di perusahaan ini, rasanya tidak mudah untuk menghindar dan lari darinya.


Ketika berjalan melintasi lapangan, terlihat olehnya,  Adri dan Noni bersama ibu-ibu sedang bermain bola voli. 


Dinda langsung masuk ke ruang fitnes dan menuju alat favoritnya. Dilihatnya di pos yang kelihatan dari dalam ruang fitnes, nampak sepi. Hanya ada satu sekuriti yang berjaga. Kedua polisi itu tidak ada di sana.


Setelah fitnes sebentar, Dinda ingin pulang dan istirahat. Tapi, ketika sampai di depan klinik, Anu berdiri di teras klinik dan memanggilnya. 


"Din, sini!"


"Ngapain?" Dinda berbelok ke klinik mendekati Anu.


Terlihat olehnya di belakang klinik, tepatnya dapur klinik, berkumpul Mantri Yos, Santi dan Ana di sana.


"Sini, Din! Kita lagi nunggu Anu masak mie." Teriak Ana.


Santi dan Mantri Yos yang duduk di sebelah Ana ikut melambaikan tangannya untuk memanggil Dinda.


"Iya, kah?" Dinda mengikuti Anu dari belakang sampai masuk ke dapur.


"Banyak banget Nu bikin mienya?"


"Iya," jawab Anu sambil mengaduk-aduk mie.


"Kapan bumbunya dimasukkan?" Tanya Dinda ketika melihat bumbu-bumbu mie masih berserakan di meja.


Bersamaan itu datang Mahmud dan Andi berdiri di pintu dapur membawa sayur sawi yang baru diambil dari kebun.


"Eh, Ndan," sapa Anu. Dinda ikut menoleh ke pintu. "Pak," Dinda ikut menyapa.


"Ini sawinya." Andi memberikan sayur sawi dan diterima oleh Anu.


"Mau dimasak sekarang sawinya, Ndan?" Tanya Anu. Anu kelihatan luwes dan terampil di dapur.


"Iya, biar ada hijau hijaunya." Jawab Mahmud.


"Eh, Din, kamu masak juga?" Tanya Andi.


"Enggak. Cuma lihat Anu." 


"Kalau begitu biar Dinda saja yang masak sayur sawi." Andi memberitahu Anu.


"Iya, Din?" Tanya Anu yang sedang mencuci sayur sawi sambil menoleh ke arah Dinda yang sedang berdiri di luar dapur.


Dinda berjalan mendekati Anu.


"Sini aku yang nyuci. Kamu saja yang masak, Nu."


"Kenapa?" Tanya Mahmud yang ternyata mengikuti Dinda mendekati Anu. Mahmud jongkok ikut mencuci sayur dengan Dinda.


"Takut nggak enak." Sahut Dinda sambil terus mencuci sayur sawi.

__ADS_1


__ADS_2