PACAR 30 HARI BRIPDA MAHMUD

PACAR 30 HARI BRIPDA MAHMUD
Bab 63. Hari Minggu Pagi


__ADS_3

"Engkau terbaring di kesunyian abadi," Ana menirukan lagu yang tadi malam.


"Heem," Maya berdehem.


"Itu artinya mati kan, May?" Tanya Ana.


"Di kesunyian abadi, itu kuburan, Na." Sahut Maya.


"Assalamualaikum," Dinda naik di teras kemudian mengucap salam.


"Waalaikumsalam," jawab Maya dan Ana kompak sambil menoleh ke arah pintu yang di sana ada Dinda berjalan menuju ke arahnya dengan menenteng sepatunya.


"Jogging sama siapa, Din?" Tanya Ana.


"Sama Anu, Mbak." Sahut Dinda sambil berjalan ke belakang untuk meletakkan sepatunya di rak sepatu.


"Masih ngantri, ya?" Tanya Dinda sambil menuju ke ruang tamu. Bersamaan itu Santi membuka pintu kamar mandi, membuat semua menoleh kepada nya.


"May cepetan, ya! Aku sudah lapar, nih!" Ucap Ana di saat Maya beranjak meninggalkannya dan akan masuk ke kamar mandi.


"Iya, iya, Na!" Jawab Maya.


"Blam!" Kemudian Maya menutup pintu kamar mandi setelah ia masuk.


Dinda duduk di bangku teras. Ia masih gerah berkeringat, mencari angin di sana supaya keringat di tubuhnya kering sambil menunggu teman-temannya selesai mandi. 


Sepuluh menit kemudian, Maya dan Santi keluar, 


"Din, aku duluan ke dapur." Ucap Maya dan Santi muncul di teras dengan Santi membawa botol air minumnya dan Maya dengan cangkir besarnya.


"Iya, Mbak." Dinda menoleh pada mereka berdua yang berjalan keluar teras.


Ana sudah keluar dari kamar mandi dengan lilitan kain handuk di tubuhnya sebatas dada atas sampai atas lutut. 


"Dinda, aku sudah selesai!" Teriak Ana dari depan pintu kamar.


"Iya, Mbak." Dinda beranjak dari bangku sambil bersenandung.


"Nana nanaaana nana nanaaaa… na nana nana naaa nana," sampai di belakang ia menyambar baju handuknya yang kemarin sore digantung di tali jemuran di ruang belakang.


"Blam!" Setelah masuk kamar mandi ia menutupnya. 


Ana yang sudah berganti baju, ia masuk ke dapur lewat pintu belakang. Dari pintu dilihatnya Mahmud dan Andi sedang duduk di kursi dekat pintu.


"Eh, Pak Andi, Pak Mahmud, tumben duduknya di sini?" Tanya Ana.


"Lagi minum kopi, An." Jawab Andi.

__ADS_1


Ana yang sudah berlalu karena akan mengambil piring dan mengisinya dengan menu sarapan, menoleh ke arah Andi.


"Iya, tahu. Tapi kayaknya ada udang di balik kopi, heeeheee…,"


"Mana ada udang di balik kopi, Ana. Yang ada udang di balik batu!" Sahut Andi.


"Nggak juga. Coba lihat, ini!" Ana mengacungkan rempeyek di tangannya untuk diperhatikan. Andi menoleh memperhatikan. Berbeda dengan Mahmud yang tampak gelisah hanya menoleh ke arah Ana sesaat lalu menyeruput kopinya hingga setengah.


"Ini, ada udang dibalik rempeyek." Ucap Ana.


"Terserah kamu, Ana."


"Haa.. haa.. haaa!" Ana tertawa.


"Nggak usah gelisah! Yang ditunggu masih mandi!" Ucap Ana seolah mengerti mengapa Mahmud dan Andi minum kopi nya duduk di dekat pintu yang menghadap ke asrama putri tepat. 


Kemudian Ana mencari tempat kosong untuk ia duduk dan makan. Ia duduk di samping Maya dan Santi.


"Masih mandi, Ndan, katanya," kata Andi.


"Ya udah, ayo kita ke depan, makan!" Sahut Mahmud.


Mereka berdua beranjak dan menuju ke depan untuk sarapan di sana.


Selesai sarapan, mereka pun keluar, akan kembali ke asrama dan pos jaga.


Setelah melakukan ritual di kamar mandi, sepuluh menit kemudian, Dinda keluar. Karena tadi saat ke kamar mandi tidak sekalian membawa baju ganti, maka kini Dinda keluar kamar mandi hanya berbalut baju handuknya yang panjangnya hanya sebatas atas lutut. Dan rambut panjang yang basah terurai. Sambil berjalan menuju ke kamar, Dinda sibuk mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. 


Seketika Mahmud menegang karena penglihatan matanya. seketika Ia terpaku di tempatnya berdiri.


'Rambutnya ternyata panjang. Kulitnya putih.' Batin Mahmud.


Hanya sekilas dan hanya dalam hitungan detik Mahmud melihat. Dan itu tanpa kesengajaan. Dinda tidak mengetahui jika ada seseorang yang melihatnya, karena ia berada di dalam dan fokus akan masuk ke kamarnya.


Dua detik tanpa sengaja mata melihat, mampu mengacaukan pikiran Mahmud. Hal itu dialami sama oleh Andi.


"Astagfirullah!" Mahmud beristigfar sambil mengusap wajahnya.


"Ndan!" Andi menoleh ke Mahmud.


Mereka pun melanjutkan berjalan tanpa ada percakapan.


Sampai di dalam kamar, Dinda mengeringkan rambutnya dengan dryer, terus memakai baju plus tidak lupa akan kain hijab nya untuk melindungi rambutnya yang sudah kering.


Pukul delapan, Dinda hendak ke dapur, bersamaan dia keluar kamar, Ana, Maya dan Santi masuk asrama.


"Sudah pada selesai sarapan?" Tanya Dinda.

__ADS_1


"Nasi pecel, Din. Ada rempeyeknya. Enak!" Ucap Maya memberitahu menu sarapan.


"Iya kah? Kalau gitu aku langsung saja ke dapur sekarang," sahut Dinda dengan botol minum di tangan kanannya dan berjalan ke depan.


***


Pukul sepuluh pagi Dinda duduk di belakang meja kerjanya. Sesekali ia mengangkat gagang telepon dan berbicara dengan seseorang di seberang telepon.


Pak Hadi keluar dari ruangannya. Ia berjalan cepat menghampiri Dinda. 


"Din, sampai ke klinik itu untuk menyiapkan obat-obatan untuk tim yang akan berangkat besok. Dan pastikan koperasi sudah menyiapkan bahan-bahan atau perlengkapan yang dibutuhkan mereka!"


"Ya, Pak!" Dinda menerima beberapa lembar kertas dari Pak Hadi.


"Pak Udin mana, Din?" Tanya Pak Hadi sambil celingukan mencari keberadaan Pak Udin.


"Di ruang SSB, Pak." Jawab Dinda singkat.


Pak Hadi berlalu meninggalkan ruangan Dinda, berjalan menuju ke ruang SSB.


Pagi ini hari Minggu, beberapa personil kantor disibukkan dengan mempersiapkan keberangkatan Ezra bersama tim, yang akan berangkat besok pagi.


"Din, surat jalannya Ezra dan anak buahnya jangan lupa!" Ucap Pak Hadi yang sudah keluar dari ruang SSB ketika menghampiri meja Dinda.


"Iya, Pak. Ini sedang dibuat." Setelah mendengar jawaban Dinda, Pak Hadi berjalan dengan cepat dan langkah panjang menuju ke ruangannya.


"Tuuut! Tuuut! Tuuut!" Suara iphon di atas meja Dinda.


"Iya, selamat siang?" Ucap Dinda setelah mengangkat gagang iphon.


"Mat Siang! Din, tolong panggilan Ezra untuk datang ke ruangan saya, sekarang!" Suara Pak Hadi dari balik iphon.


"Iya, Pak." Iphon ditutup.


Dinda menelepon ruangan Ezra.


Mendengar jawaban dari sana, bahkan Ezra tidak ada di ruangannya.


Kemudian Dinda menghubungi beberapa iphon yang ada di dekat asrama seberang. Meminta tolong untuk menyampaikan pesan Pak Hadi pada Ezra.


Beberapa menit kemudian, Ezra memasuki kantor dengan wajah bantal. Ezra yang tadinya tidur di kamarnya, mendengar orang menyampaikan pesan kalau ia disuruh segera ke ruangan Pak Hadi, Ezra langsung bangun. Tanpa mencuci muka, hanya mengganti bajunya saja, Ezra langsung pergi ke kantor.


"Tok! Tok! Tok!" 


"Hai para reader terkasih 🤗🤗


Silahkan mampir dan berikan dukungan di novel baru aku ya, dengan judul "COME WITH THE RISING SUN"

__ADS_1


Masukkan ke favorit kalian!


Berikan like, komentar, hadiah dan vote! 🤩😍😘


__ADS_2