PACAR 30 HARI BRIPDA MAHMUD

PACAR 30 HARI BRIPDA MAHMUD
Bab 7. Ada Kecelakaan


__ADS_3

Di saat Dinda tidak melihatnya, Mahmud memperhatikan dengan lekat wajah Dinda yang dibalut kain hijab itu.


"Kalau belum bisa memasak, kan suami bisa mengajari, nanti." Sahut Mahmud.


Dinda mengangkat wajahnya, melihat ke arah Mahmud.


"Ya, kalau suaminya bisa memasak,"


Mahmud tersenyum, "Cari suami yang bisa memasak, Mbak Dinda. Selain memasak, istri harus melayani suami. Ngerti nggak melayani suami?"


"Memasak untuk suami, itu melayani suami, kan?" Dinda menjawab dengan spontan.


"Harus melayani dalam segala hal, Mbak Dinda. Yah… mulai dari memasakkan makanannya, mencucikan bajunya, melayani di tempat tidur ini yang utama."


"Maksudnya? Melayani di tempat tidur, apa itu?" Dasar Dinda oon! Nggak tahu apa yang dimaksud melayani di tempat tidur. Bertanya dengan polosnya kepada Mahmud. Membuat Mahmud tersenyum, dengan setengah mati menahan tawa di depan Dinda. Tapi jika dijelaskan membuat Mahmud malu jika nggak dijelaskan Dinda nggak mengerti juga.


"Melayani di tempat tidur itu hubungan suami istri, Mbak Dinda," jawab Mahmud kemudian.


"Menikah dan bersama dalam satu rumah tangga, itu kan sudah hubungan suami dan istri, Pak," 


Ampun deh, Dinda! Pintar dalam bekerja, pekerjaan di posisi cukup lumayan buat gadis belia seusianya, bahkan banyak teman-temannya yang mengiri dengan posisi pekerjaannya. Punya penghasilan lumayan. Tapi, bicara tentang melayani suami, nggak ngerti! Wajar saja, Dinda masih gadis dan single. Apa lagi tidak punya waktu untuk nonton film-film yang berbau panas begitu. Dinda sangat lugu. Tidak seperti kebanyakan gadis jaman sekarang yang terlalu berani melakukan hubungan bebas!


"Yang dimaksud melayani suami di tempat tidur di sini, hubungan badan, Mbak,"


"Hubungan badan?" Dinda masih bertanya dengan polosnya.


"Yang dimaksud hubungan badan itu *eks, Din." Mantri Yos yang sejak tadi mendengar percakapan Mahmud dengan Dinda, ikut nimbrung dan menjelaskan kepada Dinda.


"Emangnya kamu nggak pernah belajar biologi kah, Din?" 


"Aku sekolah di jurusan tata niaga, mana ada biologi, Pak  Mantri," Dinda cemberut.


"*eks itu yang bisa membuat wanita menjadi hamil. Nanti kalau sudah menikah, kamu akan mengerti sendiri." Lanjut Mantri Yos pelan.


"Woalah." Sahut Dinda akhirnya.


Kemudian Mahmud melanjutkan.


"Belum lagi nanti akan hamil, melahirkan, menyusui, mengasuh, merawat anak-anak,"


"Pikiran anda sangat matang, Pak Mahmud. Istrimu pasti bahagia."


Mahmud menatap lekat wajah Dinda yang menunduk duduk di depannya yang dibatasi dengan meja.


Ketika Dinda mengangkat wajahnya, membuat pandangan mereka bertemu. Dinda baru menyadari Mahmud sedang menatapnya. Menjadikan Dinda salah tingkah. Ada desiran hangat di dadanya. Dinda mengalihkan pandangannya. Tidak berani menatap Mahmud lebih lama.


Tapi, rona pipi Dinda yang berubah merah tidak bisa membohongi Mahmud.


Mahmud tersenyum, merasakan kebahagiaan yang belum pernah dirasakan sebelumnya. 

__ADS_1


Ia menikahi istrinya bukan dari rasa cinta. Tapi dari keterpaksaan karena dijodohkan oleh pimpinannya untuk menikah dengan anak pimpinannya sendiri.


"Semoga anda dan istri anda bahagia," senyum Dinda, lalu berdiri dari duduknya setelah melihat jam di dinding. 


"Aku pulang." Dinda pamit dan berjalan menuju pintu keluar.


Mahmud tidak bisa mencegah karena memang sudah pukul sepuluh malam lewat.


Tidak terasa waktu dilaluinya dengan cepat. Apa lagi ketika bersama Dinda waktu terasa begitu singkat. Tidak akan pernah puas rasanya. Karena panggilan hati mengatakan ingin selalu bersama.


*


Terdengar adzan subuh berkumandang dari Masjid. Dinda dan Maya, sudah berdiri mengantri di depan kamar mandi untuk membersihkan diri dan berwudhu.


"Mbah May, jamaah, yuk!" Ajak Dinda pada Maya.


"Ayo! Dimana?"


"Di kamar Mbak May, boleh?"


"Yoi."


Setelah berwudhu Dinda bergegas mengambil mukenanya di kamarnya untuk dibawa menuju ke kamar Maya. Mereka sholat jamaah subuh. Santi yang sekamar dengan Maya ikut sekalian.


"Aamiin." Selesai berdoa setelah sholat mengucapkan amin berjamaah.


Seseorang mengetuk pintu depan asrama dan memanggil Dinda. Dinda bergegas keluar kamar dengan menyingsingkan mukena bagian bawah ke atas. Membuka pintu, dilihatnya ada Pak Sulis sopir dump truck.


"Assalamualaikum, Mbak Dinda. Maaf ya mengganggu sholat."


"Waalaikumsalam, nggak mengganggu, Pak Sulis, ada apa, Pak?"


"Ada kecelakaan di kilo 4, Mbak. Mobil yang turun tadi pagi tergelincir karena hujan jalan jadi licin."


"Innalillahi wa inna ilaihi raji uun"


"Cepat cari pertolongan di kirim ke sana, Mbak!"


"Ya, Pak." 


Pak Sulis kembali mengemudikan dump truck, meninggalkan tempat itu.


Dinda bergegas melepas mukenanya, langsung menyambar radio ht di meja kamarnya. Dia langsung membuat pengumuman dan menghubungi banyak pihak untuk meminta pertolongan, sambil pergi ke klinik.


"Mantri! Tri! Mantri!"


"Tok tok tok!" Dinda memanggil mantri dan mengetuk pintu klinik.


Mantri yang matanya masih kriyip-kriyip baru bangun tidur membuka pintu dengan tergesa.

__ADS_1


"Ada apa, Din?" 


Dinda meminta Mantri menyiapkan tempat dan peralatan untuk penumpang yang luka karena kecelakaan.


"Oke." Jawab mantri langsung mempersiapkan diri bersama tim.


Beberapa mobil di kawal oleh dua orang polisi Bripda Mahmud dan Briptu Andi meluncur ke tempat kejadian untuk mengevakuasi memberi pertolongan pertama pada korban kecelakaan. Dinda ikut di salah satu mobil itu. 


Setelah sampai, Dinda memberikan minum kepada beberapa korban. Banyak yang terluka. Tampak darah berceceran.


Dinda yang penakut itu, melihat darah, seketika pucat.


Mahmud yang belum selesai olah tkp, melihat Dinda, menjadi khawatir langsung mendekatinya.


"Kalau nggak kuat, jangan memaksakan diri." Mahmud menuntun Dinda untuk menjauh dan memintanya duduk bersandar di pohon.


Dinda yang pucat dan berkeringat dingin nurut saja mengikuti Mahmud.


Sebagai polisi, Mahmud sudah biasa menangani kecelakaan seperti ini. Juga sudah biasa melihat luka, darah, bahkan korban meninggal.


Beberapa mobil siap membawa korban ke klinik. Dinda ikut serta mobil itu.


Seketika poliklinik penuh sesak oleh keluarga yang menunggu korban kecelakaan datang.


Setelah sampai, Dinda langsung masuk ke asrama.


"Hey, Din! Ada apa denganmu? Wajahmu pucat sekali!" Seru Ana teman sekamar Dinda.


Dinda langsung membaringkan tubuhnya di ranjang.


"Mbak An, tolong bikinin teh manis hangat, ya?"


"Kenapa sih Din, kamu sakit kah? Pulang kok pucat begini?" Ana sambil menyeduh teh manis untuk Dinda.


"Banyak yang terluka dan berdarah-darah, Mbak An. Aku melihat langsung lemas." Jelas Dinda setelah menyeruput teh buatan Ana.


"Oalah, Din. Coba kalau nggak kuat tuh nggak usah memaksakan diri! Untung nggak pingsan di sana, kamu, Din," Ana yang ceriwis ngomong terus tanpa melihat Dinda.


Dinda memejamkan matanya, berusaha untuk tidur. Istirahat.


"Tidurlah Din. Aku mau lihat ke klinik dulu, ya," Ana keluar kamar meninggalkan Dinda.


Semua korban kecelakaan sudah dievakuasi semua. Yang luka ringan, setelah diobati Mantri ia pulang ke asramanya. Yang luka parah, ia tetap di poliklinik untuk penanganan lanjutan.


Mahmud menyempatkan mendatangi asrama putri untuk melihat keadaan Dinda, yang sejak tadi jadi beban pikirannya. Dibukanya pintu kamar Dinda.


"Oh!" Ia urungkan melangkahkan kakinya ke dalam, karena Dinda sedang tidur. 


Mahmud keluar dari asrama putri dan pergi ke dapur untuk sarapan.

__ADS_1


__ADS_2