
"Untuk siapa aku dilahirkan ke dunia sayang, harusnya engkau percaya bahwa aku terlahir, dari tulang rusukmu yang hilang satu…," Suara indah Dinda, membuat orang terkesima. Gedung yang tadinya riuh dengan orang berbicara sendiri-sendiri, tiba-tiba diam. Seolah kena tiupan sihir.
"Karena engkau tercipta dari tulang rusukku, untuk siapa aku dilahirkan, akupun tercipta untuk siapa …," lantunan lagu dari Mahmud ini sebagai jawaban lirik yang dibawakan Dinda. Ketika menyanyi suara Mahmud terdengar lembut dan sungguh menggetarkan hati. Berbeda dengan suara Mahmud ketika berteriak di tengah lapangan untuk memimpin upacara.
"Aku lahir untukmu, aku tercipta untukmu, kita adalah satu." Mahmud dan Dinda mengambil suara bersama. Mahmud menoleh ke arah Dinda yang sedang berdiri bersandar tiang di pojokan panggung. Mahmud menatap Dinda yang tersenyum ke arahnya.
Mereka menyanyikan itu berulang dua kali. Karena untuk di awal menyanyi masih banyak nada yang harus diperbaiki.
Selesai membawa lagu itu, Mahmud mendekati Dinda sambil tersenyum.
"Suara jelek ternyata mampu menyihir seluruh pengunjung gedung serba guna!" Sindiran Mahmud sebagai pujian.
"Mantap!" Duki dan semua anggota tim pemain orgen ikut tersenyum puas.
Yang anehnya, setelah Mahmud dan Dinda berhenti menyanyi dan turun dari panggung, suara riuh dari penonton terdengar lebih keras. Mereka menuntut Mahmud untuk mengulang menyanyi lagi. Karena yang terlihat oleh penonton hanya Mahmud.
"Yang suara wanita suara siapa sih itu tadi?" Ibu-ibu yang suka kepo saling bertanya.
"Ayo, siapa lagi yang akan latihan menyumbangkan lagu? Monggo, langsung naik saja!" Kata Duki.
Kemudian, Pak Hadi, Pak Udin, Santi, Yos, juga latihan menyanyi. Naik ke panggung secara bergantian Mereka menyukai lagu-lagu kenangan tempo dulu. Lagu tahun delapan puluhan.
***
Ketika Dinda dan Mahmud sudah memasuki gedung serba guna, Ezra dan Haris pergi ke asrama putri. Ezra ingin sekali bertemu Dinda. Karena sejak datang sampai saat ini, ia belum melihatnya.
Setelah sampai, di asrama putri sepi, tidak ada siapapun.
"Mungkin mereka ke gedung, kita kesana saja!" Ajak Haris.
Ezra pun menuruti ajakan Haris. Sebenarnya ia malas pergi ke gedung. Dari pada ke sana tidak ada hambag lebih baik kembali ke kamar dan istirahat tidur.
Ketika ditengah perjalanan menuju ke gedung, samar-samar terdengar oleh Ezra suara seseorang yang dikenalnya tengah melantunkan sebuah lagu.
"Bahwa aku terlahir dari tulang rusukmu." Haris yang berjalan di sampingnya ikut menyanyi menyamai suara lembut yang menggema sampai di luar gedung.
__ADS_1
Ezra dan Haris telah sampai di depan gedung. Tapi Ezra tidak mau masuk ke dalam.
Ketika ibu-ibu yang di dalam gedung pada kepo dan bertanya siapa pemilik suara perempuan itu?
Berbeda dengan seorang Ezra yang berada di luar gedung. Ia tidak perlu bertanya siapa punya suara, ia sudah tahu dengan sangat jelas.
Mendengar Dinda duet dengan Mahmud, hatinya agak panas. Tapi apa boleh buat. Ia memiliki rasa, tapi selama ini ia belum mampu untuk mengutarakan isi hatinya pada Dinda. Ia masih berusaha untuk memantaskan diri. Menurutnya ia masih banyak kekurangan.
"Haris, saya balik duluan!" Ezra pergi dari gedung. Ia ingin kembali ke kamar. Tapi Haris segera menyusulnya dan mengajaknya berkumpul dengan teman-teman yang lain.
Sekitar pukul sepuluh Mahmud mengantar Dinda pulang ke asrama putri, meski latihan di gedung belum selesai. Karena besok pagi juga mesti latihan baris lagi.
Ketika sampai di teras asrama putri,
"Jaga stamina, jangan bergadang. Langsung istirahat saja!" Pesan Mahmud sebelum Dinda masuk ke dalam.
"Terima kasih," ucap Dinda sambil menganggukkan kepala. Hati Dinda sangat berbunga-bunga rasanya. Siapa coba yang tidak senang dan bahagia, jika mendapat perhatian dari orang yang menyayangi kita?
Sambil masuk ke kamar, Dinda tersenyum-senyum sendiri. Dia mulai belajar mempercayai Mahmud, dan menghilangkan keraguannya. Lagu yang dinyanyikannya tadi seolah sebagai jawabannya.
Dinda mengikuti saran Mahmud. Setelah meletakkan mukena dan sajadahnya, Dinda langsung naik ke tempat tidur, berangkat memeluk bantal guling.
💥
Pukul sebelas pagi, latihan upacara baru saja usai. Mahmud dan Andi kembali bertugas menjaga keamanan perusahaan.
Dinda duduk di belakang meja kerjanya sibuk dengan tumpukan berkas di sana.
"Tok! Tok! Tok!" Pintu ruangan Dinda diketuk.
"Silahkan masuk!" Ucap Dinda sambil menoleh pada orang yang barusan mengetuk pintu ruangannya, yang sekarang tengah berjalan mendekat ke arahnya. Dinda berdiri dari duduknya dengan terus mengamati pria yang semakin mendekatinya.
"Siapa orang ini?" Tanya Dinda dalam hati.
"Apa saya boleh duduk?" Tanya pria itu.
__ADS_1
"Oh, iya, silahkan duduk!"
Kemudian mereka duduk berhadapan.
"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Dinda sambil berusaha mengingat-ingat. Suara pria yang duduk di depannya ini sepertinya ia tidak asing, tapi wajahnya kok …,
"Lupa?"
"Astaga! Kak Ezra, kah?" Tebak Dinda pelan sambil menutup mulutnya dengan kedua tangan, takut salah orang.
"Haaa… haaa… haaa…!" Tawa lepas Ezra. Tawa yang khas itu yang menjadi cirinya. Dan suara bas nya.
"MasyaAllah, kapan datang?" Tanya Dinda senang.
"Kemarin pagi. Kemarin aku ke sini, tapi ruangan ini tidak ada orang," Ezra menjelaskan kejadian kemarin.
"Kemarin? Ow kemarin di lapangan,"
Ezra dan Dinda sudah saling kenal sejak Dinda diterima bekerja di perusahaan ini. Jika Ezra tidak dinas luar, mereka sering menghabiskan waktu bersama untuk pergi jogging dan berteriak bersama ketika jogging untuk menghilangkan penat. Karena Ezra sering sekali mendapat pekerjaan untuk tugas dan dinas keluar, jadi mereka tidak terlalu sering bersama atau bertemu. Dinda menganggap Ezra adalah seorang sahabat dan juga seperti kakak.
Awal mula melihat Dinda, Ezra anti dengan penampilan Dinda yang mengenakan hijab. Ezra dulu sering mengolok cara berpakaian Dinda. Tapi Dinda sering cuek dan tidak mau menanggapi. Bahkan dulu Ezra memanggil Dinda dengan sebutan cewek *sis. Sebenarnya Dinda marah saat disebut seperti itu, tapi untuk menutupi marahnya, Dinda hanya tersenyum atau diam.
"Saya mau menyerahkan ini," Ezra meletakkan lembaran di atas meja.
"Oh iya," Dinda melihat lembaran yang diberikan Ezra, kemudian mengecek dan menandatanganinya.
"Kak Ezra, seperti biasa, supaya uang dinas lekas cair, segera membuat laporannya." Dinda mengingatkan.
"Iya, ini juga masih menunggu dari teman-teman anggota tim," sahut Ezra sambil sesekali menatap Dinda ketika Dinda sedang menunduk.
"Oh ya, Din? Aku menyampaikan pesan dari teman-teman, katanya mereka juga pengen lho tampil di acara malam puncak besok lusa," Ezra yang asli Manado, berbicara dengan logat Manado nya.
"Boleh sekali, Kak." Jawab Dinda sambil tersenyum.
"Kami punya rencana membuat vocal group. Tapi kamu tahu sendiri, kan, perencanaan tidak ada perempuan? Kamu bisa, kan masuk vocal group kami?"
__ADS_1