PACAR 30 HARI BRIPDA MAHMUD

PACAR 30 HARI BRIPDA MAHMUD
Bab 42. Aku Akan Segera Menghalalkanmu


__ADS_3

Andi melihat kartu identitas Mahmud di atas meja dan berkata,


"Kartu identitas ini benar,  Mbak Dinda. Komandan Mahmud Belum pernah menikah, belum pernah punya istri,"


Dinda melihat Mahmud dan Andi bergantian.


"Tapi, saat itu …"


Andi langsung menyela ucapan Dinda.


"Itu hanya akal-akalan komandan Mahmud saja. Sebenarnya, bukannya ingin menyembunyikan jati diri yang sesungguhnya, tapi itu cara yang dia pilih untuk mencari seseorang yang bisa diajak berbagi suka dan dukanya menjalani kehidupan tanpa melihat status dan jabatan."


"Dan juga Mbak Dinda pernah mengatakan tidak ingin pacaran. Tapi zaman gini mana ada?" Ucap Mahmud dengan wajah serius.


Dinda melihat ke arah Mahmud.


"Ada. Ya hanya Mbak Dinda. Karena ingin jadi obat nyamuk!" Sahut Andi ketus.


"Biarin!" Ucap Dinda.


"Keras kepala!"


"Biarin, biarin!" Andi dan Dinda saling berbantahan.


"Biar saja, Ndi. Meski keras kepala begini tetap cantik. Saat menangis saja tetap kelihatan cantik, kok." kata Mahmud geregetan.


"Jadi bagaimana? Apa jawabanmu?" Tanya Mahmud lirih dengan menatap Dinda lekat.


Dinda melihat sekilas kepada Mahmud, dan  


"Ehmmmppp," Dinda bingung bagaimana akan menjawabnya. Wajahnya memerah. Dan hal itu sangat lucu di mata Mahmud, sehingga membuat Mahmud menahan senyum.


"Kita jadian? Apa kamu setuju?" Tanya Mahmud.


Dinda melihat ke arah Mahmud. Mahmud pun melihat kepadanya. Terlihat oleh Mahmud, didepannya ada sepasang mata yang bening penuh kilatan bercahaya menunjukkan rasa bahagia dan juga malu.


Dinda sendiri tidak mengerti dengan apa yang telah terjadi pada dirinya. Dia merasa kalah dengan keegoisannya. Sekarang hatinya terasa bagai taman-taman bunga yang sedang bermekaran. Bahagia! Rasa bahagia yang tidak cukup hanya diungkapkan dengan kata bahagia saja!


Ingin mengatakan 'tidak' pasti hatinya akan terasa sakit karena merasa mengingkari diri.


"Aku tidak memintamu menjawab sekarang, aku akan menunggumu."


Dinda melihat ke arah Mahmud sebentar lalu mengalihkan pandangannya ke tempat lain.

__ADS_1


 'Aduh, kenapa jadi tegang begini, sih?' Batin Dinda. Ia sangat tidak menyukai suasana seperti ini.


"Sudah malam, aku mau pulang." Pamit Dinda kemudian berdiri.


"Tunggu dulu!" Cegah Mahmud.


Membuat Dinda menoleh ke arahnya seakan bertanya 'Ada apa?'


"Tahu nggak kisah Adam dan Hawa?"


"Ya?" Dinda kembali duduk lagi.


"Adam merasa kesepian tinggal sendirian di Surga. Sehingga ketika Adam tidur, Allah mengambil tulang rusuknya sebelah kiri, untuk diciptakannya Hawa, yaitu wanita cantik yang akan menjadi teman Adam."


"Bukan sekedar teman, tapi menjadi pasangan hidupnya." Sela Mahmud.


"Sebelum menjadi pasangan hidup, Adam harus menghalalkan Hawa terlebih dahulu. Bahkan sebelum halal, ketika Adam pertama kali melihat Hawa dan mendekati akan menyentuhnya  Allah pun melarang Adam."


Mendengar ucapan Dinda, Mahmud kaget, tersentuh dan merasa bersalah atas perbuatannya sebelumnya, yang selalu spontan memegang tangan Dinda.


"Aku akan segera menghalalkanmu." Ucap Mahmud mantap, membuat Dinda  menunduk dan diam.


"Maafkan sikapku sebelum-sebelumnya!"


"Ayo, aku antar pulang!"


Mereka meninggalkan klinik menuju ke asrama putri. Dinda langsung naik ke teras dan membuka pintu.


"Jangan lupa minum obatmu, supaya influenza kamu lekas sembuh!" Kata Mahmud yang masih berdiri di halaman.


Dinda yang sudah sampai di pintu, menoleh ke Mahmud, mengucapkan "Terima kasih," sambil tersenyum.


*


*


Di kamar.


"Dengar-dengar ada yang barusan ditembak, ya?" Ucap Ana yang sudah tiduran di ranjangnya.


Dinda yang selesai melepas dan melipat mukenanya, menyimpan mukenanya di meja pendek yang terletak diantara ranjangnya dengan ranjang Ana. Kemudian ia naik ke tempat tidurnya.


"Dengar dari siapa?" 

__ADS_1


"Dari rumput malam yang bergoyang, hee...hee…,"


"Gimana rasanya ditembak, Din? Seumur-umur aku tuh belum pernah ada cowok yang nembak aku," lanjut Ana.


"Oh ya?" Dinda menoleh ke kanan, ke arah Ana yang sedang tiduran dengan mata melihat ke langit-langit kamar.


"Iya, Din. Selama ini aku punya pacar itu karena aku yang mengejar mereka, bagaimana caranya sampai aku bisa mendapatkannya. Jadi aku sudah tahu bagaimana pedih perihnya jika perasaan kita ditolak." Nada ucapan Ana terdengar sendu.


"Tapi aku yakin, kamu tidak menolaknya, kan? Jika kamu menolaknya, demi apa coba, Din? Seperti tadi, kamu menginginkan durian, spontan si doi membawakannya untukmu. Itu tanpa kamu memberitahu padanya, loh. Berarti ada sinyal-sinyal yang menyambungkan telepati kalian, Din. Jangan-jangan kamu adalah tulang rusuk sebelah kirinya," ia nggak, Din?"


"Kita sepakat jalanin aja seperti sebelum-sebelumnya. Karena aku nggak ingin …." Dinda belum selesai bicara, Ana langsung nyerobot.


"Maksudmu nggak ingin pacaran, Din! Kamu tuh kuno, Din! Jaman sekarang, ya, kalau nggak pacaran nggak bakal laku, nggak dapat jodoh, Din. Emang kamu mau dijodohin? Sekarang sudah bukan jaman Siti Nurbaya, Din." Ucapan Ana berapi-api.


"Agama kita kan melarang pacaran, Mbak An." Jawab Dinda pelan.


"Tahu, ah! Ngomong sama kamu tuh ngeselin, tahu, nggak?" Ana menjadi jengkel bicara dengan Dinda yang menurutnya kolot itu.


"Nabi Adam saja ingin menyentuh Hawa, harus dihalalin dulu, baru boleh," Dinda tetap bicara dengan pelan.


"Adam itu Nabi, Din. Sedang kita?" 


Dinda langsung cepat menjawab.


"Kita adalah manusia yang hidup di akhir zaman. Akhir zaman adalah jaman edan! Manusia berlomba-lomba untuk mencari dan menikmati keindahan, kekayaan dan kepuasan duniawi yang sebenarnya hanya semu dan akan fana, sehingga mereka terlena dan lupa akan datangnya hari pembalasan dan hari kiamat! Akhir zaman tempat berkumpulnya semua golongan manusia. Dari berbagai pendosa, pembunuh, pezina, munafik, musyrik, berkumpul menjadi satu. Hanya orang-orang yang bertaubat dan mengikuti petunjuk Allah sajalah yang akan selamat dan mendapatkan nikmat!"


"Iya, ustadzah, aku mendengarkan fatwa mu. Bantu doain aku, ya, Din. Supaya aku bisa dapat hidayah," Ana yang sejak tadi sudah merubah posisinya tidur miring ke kiri, menghadap ke arah Dinda, mendengarkan semua apa yang dikatakan Dinda. Ana menjadi introspeksi diri, dan membuatnya menangis. Air matanya meleleh membasahi bantal di bawahnya.


"Iya, Mbak Ana, selama kamu tidak keluar dari islam, insya Allah aku selalu mendoakanmu,"


"Iya, Din. Terima kasih," Ana mulai menghentikan tangisnya.


"Oh ya, Din, jika kamu menerima Komandan Mahmud, terus bagaimana dengan Ezra yang sekarang masih pergi dinas?" 


"Maksudnya apa, Mbak An? Aku tidak ada hubungan apa-apa ya, dengan Ezra."


"Ezra juga sangat menyukaimu. Apa kamu nggak tahu, Din? Setiap kali dia pulang dari dinas, dia selalu kesini untuk mencarimu, Ezra orangnya baik, juga tampan, tapi sayang beda keyakinan,"


"Aku dan Ezra berteman, Mbak. Tidak lebih,"


Jawaban Dinda mengakhiri perbincangan malam itu. 


Akhirnya mereka terlelap dan terbuai masuk ke dalam alam mimpi masing-masing.

__ADS_1


Saat malam menjadi gelap, biarkan kekhawatiranmu memudar. Hanya tidur lelap yang bisa membantumu memulai hari besok dengan penuh energi. Malam adalah bagaikan selimut kesunyian untuk menghangatkan sisi yang kelam dari kejamnya roda dunia.


__ADS_2