PACAR 30 HARI BRIPDA MAHMUD

PACAR 30 HARI BRIPDA MAHMUD
bab 36. Dinda Flu


__ADS_3

Ketika Dinda akan melanjutkan ceritanya, sebentar-sebentar ia bersin-bersin.


"Hacing! Hacing!"


Hidungnya sampai merah dan mulai berair.


"Anak-anak, maaf ya, ustadzah belum bisa melanjutkan ceritanya sekarang," kata Dinda dengan suara mulai sengau.


"Iya ustadzah, nggak apa-apa. Sepertinya ustazah kena influenza," jawab Iqbal.


*


Selesai makan malam, Dinda masuk ke dalam kamarnya. Dilihatnya Ana sudah siap hendak keluar.


"Mau ke mana Mbak Ana?" Tanya Dinda sambil menaruh botol minumnya di atas nakas.


"Mau ke koperasi, Din. Mau ikut kah?" Tanya Ana sambil menoleh kepada Dinda yang sudah duduk di atas ranjang.


"Enggak. Aku mau istirahat saja." Jawab Dinda yang sudah merebahkan dirinya di tempat tidur.


"Masih sore begini, memangnya sudah mau tidur? Perawan nggak boleh tidur sore, Din! Tahu nggak sih?"


"Kata siapa?" Memangnya ada aturan dari mana gitu?"


"Lho, kamu Din, aku bilangi nggak percaya."


Maya berdiri di pintu kamar Dinda dan Ana yang terbuka setengah.


"Ck ck ck, cuma dua orang lho sebenarnya, kok ribut, suaranya lho kedengaran sampai di depan sana."


"Masak sih, Mbak May?" Dinda melihat kedatangan Maya.


"Halah, Din, Maya aja kok didengerin!" Kamu juga tuh May, kalau mau masuk, lekas masuk. Kalau mau keluar, lekas keluar. Jangan berdiri di tengah pintu begitu!"


"Kamu kenapa sih, Na. Sejak tadi kok nyerocos terus? Lagi sensi rupanya," Sahut Maya sambil melangkah masuk ke kamar dan duduk di ranjang Dinda.


"Orang tua dulu tuh ya, bilangin kalau berdiri di tengah pintu itu nggak bagus."


"Heleh, itu zaman dulu, Na. Kuno." Sangkal Maya. "Alasannya apa coba kok nggak boleh berdiri di tengah pintu?"


"Ya pokoknya didengerin aja kalau orang tua ngomong. Semua itu pasti ada hikmahnya." Sahut Ana yang masih berdiri di depan cermin.


Dinda yang sejak tadi mendengar perdebatan Ana dengan Maya, kembali duduk di ranjang, 


"Ow, aku ngerti apa maksudnya orang tua dulu mengapa melarang kita berdiri di pintu? Bukankah itu mengganggu aktifitas orang yang mau melewati pintu, jadi itu dianggap sebagai penghalang. Makanya kita dilarang berdiri di pintu, supaya jangan jadi penghalang atau perintang. Supaya kalau perawan biar gampang dapat jodoh. Supaya kalau hajat segera tercapai tanpa ada penghalang. Kan itu juga merupakan salah satu adab,"


"Nah, May, benar tu kata Dinda. Kamu bilang zaman dulu atau kuno. Emangnya kita ini apa bisa ada saat ini jika tidak ada orang-orang zaman dulu itu? Nenek moyangmu, simbahmu itu kan orang zaman dulu, May?" 


"Iya, iya, Na. Tapi ngomong-ngomong kok tumben sih otakmu kali ini waras, Na?" sahut Maya.


"Haaa… haaa… aku pikir selama ini aku sakit gitu?" Jawab Ana sambil tertawa.


"Hacing! Hacing!" Dinda bersin-bersin membuat kedua temannya itu menoleh ke arahnya.


"Kamu kenapa, Din?" Tanya Ana.


Maya langsung meraba kening Dinda.


"Nggak pusing, Din?"

__ADS_1


"Enggak sih. Tapi rasanya berat."


"Minta obat sama Mantri Yos di klinik sana, Din!" Saran Ana.


"Iya. Nanti."


"Kamu mau kemana sih, Na? Dari tadi cek in di depan cermin terus nggak kelar-kelar?" Tanya Maya.


"Mau ke koperasi. Mau ikutkah? Ayo kalau ikut!" Ana mengambil dompetnya di atas meja. Lalu melangkahkan kakinya ke pintu.


"Din, ku tinggal dulu, ya." Pamit Ana sebelum keluar dari kamar, dan diikuti Maya di belakangnya.


"He em." Jawab Dinda dengan deheman, sambil menarik kain selimutnya.


*


*


"Dinda mana, Mbak An?" Tanya Andi yang berdiri di halaman depan asrama putri setelah melihat Ana keluar dari asrama dan berdiri di teras.


"Ada noh di kamar."


"Panggilin dong!"


"Anaknya kena flu kayaknya. Tadi bilangnya mau tidur,"


"Siapa kena flu?" Tanya Mahmud yang baru datang dan berdiri di samping Andi.


"Dinda." Sahut Andi.


"Hah!" Mahmud langsung menerobos masuk ke dalam. Sampai di ruang tamu tidak ditemukan siapapun. Lalu menoleh ke arah Ana seolah bertanya keberadaan Dinda.


Mahmud langsung menuju ke pintu kamar yang terbuka setengah.


Dilihatnya Dinda tidur berselimut rapat dari kaki sampai ke lehernya.


"Ck ck ck!" 


Dinda kaget dan langsung membuka matanya setelah terganggu oleh suara decakan Mahmud. 


"Deg! Ngapain orang itu masuk ke dalam kamar?" Dinda kaget dan bertanya dalam hati.


Bergegas Dinda bangun dan duduk di ranjangnya.


"Perawan kok tidur sore! Nggak boleh tahu!" Ucap Mahmud sambil terus melangkah mendekati ranjang.


Perasaan Dinda sudah nggak karuan.


Dinda hanya tersenyum mendengar ucapan Mahmud.


Andi menyusul Mahmud ikut masuk ke kamar dan langsung duduk di ranjang tempat tidur Ana yang letaknya dekat dengan pintu. 


"Kata Ana kamu flu. Sudah minum obat apa belum?"


"Belum,"


Mahmud kaget mendengar jawaban Dinda.


"Sudah minta obat ke Mantri?"

__ADS_1


"Belum. Mau jalan kepalaku rasanya berat sekali. Makanya aku pakai tidur." Jawab Dinda lirih.


Mahmud diam dan merasa bersalah. Mungkin yang menyebabkan Dinda flu itu adalah dirinya, karena tadi memaksanya berenang di air terjun.


"Panas, nggak?" Tanya Andi sambil berdiri.


"Enggak." Jawab Dinda.


"Masak. Sini kuraba keningnya!" Mahmud dengan sigap ingin memegang kening Dinda. Tapi Dinda dengan cepat menghindar. 


"Enggak. Bilang enggak!" Dinda cemberut.


"Oh, maaf." Mahmud mengurungkan niatnya dan kembali duduk di samping Dinda.


"Kumintakan obat ke mantri dulu." Andi keluar dari kamar.


Sepeninggalnya Andi, kedua orang itu saling diam. Tidak ada yang berbicara. Dinda menunduk sambil memainkan jari jemarinya. Mahmud yang duduk di sampingnya, sepintas meliriknya dan tersenyum melihat Dinda yang salah tingkah.


"Hawcing! Hawcing!" Dinda bersin.


Mahmud berdiri mengambilkan tisu yang ada di atas nakasnya, dan memberikan kepada Dinda.


"Terima kasih," ucap Dinda sambil menerima tisu itu.


Tidak lama Andi masuk ke kamar dan diikuti Mantri Yos berjalan di belakangnya dengan membawa alat tensi dan termo.


"Kamu kenapa Dinda?" Tanya Mantri Yos ramah sambil tersenyum, dan berjalan mendekati Dinda.


"Pilek, Tri."


"Diperiksa ya," mantri Yos memasang alat tensi di lengan Dinda.


"Tumben sekali sih Din, kamu sakit. Biasanya kalau pilek batuk cuma lewat." Garau Mantri.


"Masak sih Tri? Berarti nggak pernah sakit, dong?" Tanya Andi.


"Mantri Yos kok didengerin. Namanya manusia ya kadang bisa sakit, ya," sahut Dinda.


Setelah melihat hasil tensinya, mantri Yos berkata,


"Tensi rendah, Din. Kamu sudah makan belum?" 


"Sudah."


"Mbak Dinda kayaknya cenderung rendah ya tensinya," kata Mahmud karena mengingat tensi Dinda beberapa waktu lalu saat dia yang menensi juga rendah.


"Iya, cenderung rendah." Sahut Dinda.


"Tapi nggak papa, masih normal kok." Kata Mantri Yos sambil merapikan alat tensi.


"Ini aku beri obat, Din. Diminum setelah makan. Dan ini ada penurun panas, diminum ketika badanmu panas saja. Kalau nggak panas, ya nggak usah diminum." Jelas Mantri sambil menunjukkan obat ke Dinda.


"Iya, Tri. Terima kasih ya."


"Ya sudah. Terus diminum saja obatnya. Setelah itu istirahat! Jangan begadang, ya!" Pesan Mantri Yos.


"Cepat sembuh." Kata Mahmud yang sudah berdiri sambil mengacak rambut Dinda yang terhalangi jilbab.


Ketiga pria itu keluar dari kamar Dinda.

__ADS_1


__ADS_2