PACAR 30 HARI BRIPDA MAHMUD

PACAR 30 HARI BRIPDA MAHMUD
Bab 44. Ezra Datang


__ADS_3

"Zra, ramai sekali kantor, ada apa ya? Setelah dinas enam puluh hari, apa ada sambutan untuk kedatangan kita? Tapi kayaknya nggak banget!" Haris yang memasuki kantor beriringan dengan Ezra terus nyerocos saja, padahal Ezra nggak menggubrisnya sama sekali.


Sejak memasuki kantor, pandangan Ezra langsung menangkap sosok wanita yang berpakaian warna baby blue dengan hijab beige di kepalanya. Bukankah itu wanita yang selama ini telah merubah pola dan cara hidupnya? Wanita yang ingin Ezra temui setelah kembali dari dinas! 


Haris yang sejak tadi mengajak berbicara Ezra, tapi tidak mendapat respon, langsung menoleh ke samping ke tempat dimana Ezra berdiri. 


"Astaga, Ezra! Kesambet apa loo!" Haris menepuk lengan Ezra dengan buku yang dibawanya.


Ezra hanya diam saja dan mengikuti langkah Haris yang masuk ke dalam ruang perencanaan.


Ezra adalah karyawan bagian perencanaan, yang ditugaskan sebagai ketua tim dengan membawa anggota sepuluh orang, yang enam puluh hari yang lalu ditugaskan dinas untuk mensurvei lokasi perusahaan. Pagi tadi Azra bersama anggota tim, baru saja tiba kembali di camp dengan mobil jemputan khusus dari perusahaan.


Penampilan Ezra kali ini sungguh berbeda dari biasanya. Selama melakukan survey, Ezra tidak memotong rambut-rambut yang tumbuh di wajahnya. Meski begitu tetap tampak rapi, dan malah memperlihatkan sosok yang berbeda. Dia pelihara cambang dan jenggot menjadi panjang dan lebat. Berbeda dengan penampilan Ezra sebelumnya, dengan wajahnya putih bersih tanpa ada cambang dan jenggot tumbuh di sana. 


Setelah hampir satu jam temu kangen dan  duduk ngobrol di dalam ruangan dengan atasan dan teman-temannya, Ezra ingin pergi ke ruangan Dinda untuk memberikan laporan dan menyerahkan surat perjalanan dinasnya. 


"Saya mau memberikan laporan dulu ke bagian personalia." Ucap Ezra yang sudah berdiri sambil menyiapkan lembaran di tangannya. Kemudian ia keluar dari ruangannya, menuju ke ruangan personalia. Tapi ruangan personalia tampak kosong. Tidak ada siapapun di dalam sana.


Pak Hadi yang berada di dalam ruangannya, melihat Ezra tidak jadi masuk ruang personalia dan akan kembali ke ruang perencanaan. Disaat melewati ruangan Manager, Ezra dikagetkan oleh Pak Hadi yang sudah berdiri di luar ruang manager untuk mencegat Ezra.


"Ini siapa? Kok sepertinya saya kenal?" Tanya Pak Hadi yang ternyata pangling dengan Ezra yang berubah tampilan karena cambang dan jenggotnya.


"Haaahaaahaaaa… masak Pak Hadi lupa dengan anak buah sendiri?" Sahut Ezra dengan suara ketawa yang renyah.


"Hei, Ezra! Kamu Ezra, kan?" Pak Hadi tidak lupa dengan suara dan tawa Ezra yang khas. Mereka kemudian saling berpelukan.


"Kapan datang?" Tanya Pak Hadi.


"Baru tadi pagi, Pak."

__ADS_1


"Baru tadi pagi? kenapa kok nggak istirahat dulu, baru nanti masuk kantor? Ya sudah kalau begitu  istirahat saja dulu barang dua hari, setelah itu cepat bikin laporan tentang surveynya dan segera serahkan ke saya! Oh, ya! Jangan lupa nanti malam makan di rumah saya!" Ucap Pak Hadi sekalian memberinya undangan untuk makan malam bersama di rumahnya.


"Undangannya untuk saya sendiri atau bersama teman-teman juga, Pak?"


"Ya sudah, sama teman-teman semua,"


Iya, Pak. Insya Allah," jawab Ezra.


Pak Hadi kaget mendengar ucapan insya Allah dari bibir Ezra. Secara, begitu lho! Ezra kan non muslim.


"Eh! Sudah ada kemajuan rupanya ya, Zra?"


"Iya, Pak. Belajar sedikit-sedikit," Ezra merendah. Dan memang selalu merendah, itulah watak Ezra.


"Baguslah kalau begitu," Pak Hadi menepuk punggung Ezra.


"Kalau begitu, permisi dulu, Pak,"


***


Sementara di lapangan, Dinda yang masuk barisan sebagai paskibraka pembawa bendera, sering salah -salah dalam berbaris.


Begitu juga dengan para peserta yang lainnya. 


"Pokoknya, kalau mendengar aba-aba maju jalan! Angkat kaki kiri dulu! Ingat itu! Angkat kaki kiri dulu!" Ucap Mahmud menjelaskan supaya tidak terjadi kesalahan lagi.


Setelah beberapa kali dicoba, akhirnya barisan itu menjadi kompak. Sampai dengan latihan menaikkan bendera merah putih yang diiringi nyanyian lagu Indonesia Raya.


Satu, sampai dua kali, belum klop. Untuk selanjutnya akhirnya sesuai harapan.

__ADS_1


Pukul sebelas mereka istirahat. Mereka duduk di atas rumput hijau yang tumbuh di lapangan sambil minum minuman yang sudah disiapkan dari dapur. 


Selesai latihan, setelah jam istirahat mereka pun kembali bekerja di kantor seperti biasa.


***


Sore hari.


Sepulang dari kantor, Dinda punya jadwal pergi ke masjid untuk mengajar mengaji anak-anak. 


Sedangkan Ana, Maya dan Santi, pulang dari kantor mereka langsung mampir ke klinik. Ternyata disana  sudah dipenuhi sama anak-anak perencanaan yang baru pulang dari Dinas. Akhirnya mereka pun ngobrol, temu kangen, saling tanya kabar, dan mendengarkan cerita-cerita tentang mereka sewaktu perjalanan dinas.


"Oh, ya, kalian biasanya berempat, yang dua nggak pakai jilbab dan yang dua pakai jilbab. Mana teman kalian yang satunya?" Tanya Haris yang belum hafal nama-nama mereka.


"Oh, maksudnya, yang kamu tanyakan Dinda?" Tanya Ana. 


"Iya, barangkali, kan aku nggak kenal nama-nama kalian," jawab Haris.


"Kalau begitu kenalan, dong! Supaya kenal." Kata Ana sambil sedikit mendekat ke tempat duduk Haris. Sementara Santi dan Maya hanya memperhatikan sikap Ana yang kelihatan over dalam caper itu. Caper, CAri PERhatian, maksudnya.


***


Di Masjid. Selesai menyimak bacaan anak-anak mengaji, Dinda membayar janjinya untuk melanjutkan cerita Nabi Adam yang sudah dinanti oleh anak-anak.


"Setelah Allah mencipta Nabi Adam, Nabi Adam sama Allah ditempatkan di tempat yang sangat indah, sejuk, nyaman, semuanya serba ada, yaitu di dalam surga. Meskipun semua telah tercukupi, karena sendirian, Adam merasa kesepian, dan perlu teman. Maka, ketika Adam tidur, Allah mengambil tulang rusuk sebelah kiri milik Adam, untuk dijadikan makhluk, yaitu Hawa. Kemudian Adam dan Hawa mengikat janji suci dihadapan Allah sebagai sepasang suami istri.


Allah mengijinkan Adam dan Hawa untuk memakan semua tanaman yang ada di dalam surga, kecuali satu. Jangan makan buah kuldi!


Tapi suatu ketika, Hawa terbujuk oleh rayuan iblis. Hawa sangat ingin memakan buah yang sudah dilarang Allah untuk tidak memakannya. Hawa pun membujuk Adam untuk memetik buah khuldi, kemudian dimakan bersama.

__ADS_1


Ketika Adam dan Hawa sedang makan buah itu, Allah berkata, "Hai Adam, Hawa, mengapa kalian melanggar laranganku?"


Maka, setelah itulah, Adam dan Hawa dikeluarkan dari surga. Dan untuk menebus kesalahannya itu, Adam dan Hawa diturunkan ke muka bumi untuk menebus kesalahan yang telah dilakukannya yaitu dengan cara beribadah dan meminta ampun kepada Allah. Begitupun dengan anak, cucu, dan keturunan Adam semua sampai hari kiamat.


__ADS_2