
🌞
Sang surya sudah terbit dari ufuk timur dan semburatnya memancarkan aura manis kepada semua insan. Lengkapilah hari ini dengan keindahan yang pasti membangun hati.
Pagi ini Dinda dan karyawan yang lain tidak pergi bekerja. Hari ini digunakan untuk persiapan acara puncak sebentar malam. Dinda bersama penghuni asrama putri sibuk menyelesaikan bungkusan kado untuk hadiah pemenang lomba yang akan dibagikan sebentar malam. Beberapa hari yang lalu sudah membungkus beberapa kado yang isinya diambil dari koperasi. Ada setrika, kipas angin, rice cooker, payung, dan ada banyak lagi yang lain.
Mahmud dan Dinda menjadi jarang bertemu karena kesibukan masing-masing. Walaupun bertemu, mereka hanya saling bertegur sapa biasa. Tidak ada waktu untuk mengobrol dan bercerita.
Ezra dan kawan-kawan sibuk mempersiapkan pakaian yang akan dipakai sebentar malam, dipakai saat menyanyi bersama dengan anggota vokal grup.Â
Ibu dapur dan orang-orangnya sibuk berbagai macam membuat kue dan nasi tumpeng.
"Tin! Tin!" Suara klakson mobil kemudian disusul deruman mobil berhenti di depan asrama.
"Mbak Dinda!" Teriak Pak Sulis setelah turun dari mobil, dan membuka pintu belakang mobil untuk menurunkan beberapa kardus.
"Ya, Pak," Dinda berlari menemui Pak Sulis dengan tangan memegang dodol durian
"Ini ada titipan dari koperasi." Pak Sulis memberikan kardus-kardus itu.
"Oh, iya, Pak." Dinda duduk di bangku teras dengan terus makan dodolnya.
Ana muncul dari dalam, berdiri menyandar di pintu.
"Apa itu isinya, Din?"Â
"Kaos, Mbak. Untuk mengisi kotak-kokak kado yang kita bikin itu lho!"
"Oalah."
"Kok oalah, sih Mbak Ana ini," sahut Pak Sulis yang baru saja meletakkan kardus lainnya di teras.
"Lah apa, Pak, kalau bukan …,"
"Ya ini dibantuin bawa masuk sana!" Sulis menunjuk kardus-kardus itu sambil tertawa.
"Tenang, Pak, kita selalu akur, kok. Eh, ngomong-ngomong, Pak Sulis ntar malam dapat kaos ini nggak?" Tanya Ana.
"Ya dapat lah, reguku kan menang dari tarik tambang, kemarin." Kaos-kaos ini akan dihadiahkan kepada peserta kelompok. Seperti pertandingan bola voli pa, pi, tenis meja ganda, bulu tangkis ganda, sandal kompak, dan tarik tambang.
"Oh ya, Pak Sulis mau dodol durian?" Tanya Dinda sambil menunjukkan dodol yang dipegangnya.
"Kalau ada mau Mbak, buat oleh-oleh istriku"
"Romantisnya," celetuk Ana.
__ADS_1
"Lho! Ya harus to! Gimana Mbak Ana ini!"Â
"Tunggu, Pak Sulis, saya ambilkan." Dinda masuk ke dalam mengambil potongan dodol durian dimasukkan ke dalam kotak plastik.
"Ini, Pak." Dinda memberikan pada Pak Sulis.
"Wah, rezeki ini, terima kasih ya, Mbak Dinda, Saya mau langsung saja ini, ya," Sulis menerima bingkisan dodol dari Dinda, sekaligus pamitan.
"Sama-sama, Pak," Dinda tersenyum.
"Cuma terima kasih, terus langsung ngacir?" Seru Ana sambil tersenyum.
"Lha terus maumu apa to, Na?" Sulis menghentikan langkahnya yang hendak kembali ke mobil.
"Yah, didoakan apa kek," sahut Ana ketus.
"Oh! Mbak Dinda! Semoga lekas dapat jodoh." Ucap Sulis.
"Dapat jodoh?" Dinda bingung mendengar ucapan Pak Sulis.
"Ya ampun, Na, kenapa sih kamu tuh? Makanya nggak cepat dapat jodoh, lha wong ketus begitu!" Sulis berjalan sambil nggedumel.
"Pak Sulis, Mbak Ana jangan didengerin!" Teriak Dinda.
"Mantul itu, Mbak Din." Pak Sulis yang sudah duduk di belakang kemudi mengacungkan jari jempolnya ke arah Dinda dan Ana yang berdiri di teras.
"Iya, Pak."
"Yoi!"
Dinda dan Ana membalas bersamaan sambil melambaikan tangan ke arah Sulis.
***
Siang menjelang sore, sekitar pukul tiga.
Setelah selesai membungkus hadiah, mereka tiduran di karpet di ruang tamu.
Beberapa menit kemudian, Ana bangun paling awal. Ia masuk ke kamar mandi, karena badannya terasa gerah dan lengket, ia ingin mandi. Bak tampung air kosong, dibukanya kran air.Â
"Loh! Kok nggak ngalir airnya!"
Dicoba buka tutup buka tutup kran air ini berulang-ulang, tetap sama. Tidak ada air yang keluar.
Ana mengenakan ulang bajunya yang sudah dilepas dari tubuhnya tadi. Kemudian keluar kamar mandi.
__ADS_1
Ia pergi ke asrama sebelah.
"Hei, tempatmu airnya mengalir?" Tanya Ana pada penghuni asrama sebelah.
"Dari pagi nggak mengalir air, Na!"
"Ah! Masak!"
"Dibilangi nggak percaya kamu, Na," ucap Duki.
"Mandinya di sungai!" Sahut Anu yang baru saja tiba dari sungai, ia membawa ember kecil tempat sabun dan berkalung handuk di lehernya.
"Beneran, Nu?"Â
"Ngapain juga bohong." Anu berlalu menuju ke asrama putra.
Pompa airnya rusak. Jadi tidak bisa menaikkan air ke bak penampungan air. Sementara, air yang masih ada, hanya bisa dialirkan ke dapur saja, untuk memasak.
"Mandi di sungai malah segar, kok, Na!" Ucap Yos yang kemudian menyusul Anu, Yos masuk ke klinik melewati pintu belakang, setelah melewati Ana.
Ana balik ke asrama. Di sana Santi sudah bangun karena kebelet mau kencing, ia langsung masuk ke toilet. Setelah itu karena gerah ia ingin mandi, tapi bak mandi kosong tidak ada air, dibukanya kran air dan diputar berulang kali, air tidak juga keluar. Santi bingung bolak-balik di kamar mandi, habis itu langsung keluar dan ketemu Ana.
"Orang-orang mandi di sungai, San."
"Kenapa? Air pake nggak ngalir lagi," keluh Santi.
"Tahu," Ana mengendikkan bahu.
"Dinda sama Maya sudah bangun?" Tanya Ana. Sebelum Santi menjawab, ia berjalan ke ruang tamu untuk melihat kedua temannya.
"Din, May, bangun gih!"Â
Maya dan Dinda sebenarnya sudah bangun, cuma masih malas mau membuka mata.
"Ada apa sih, Na? Mengganggu orang tidur saja!" Maya membuka suara dengan mata masih terpejam. Dinda menggeliat dan hanya mendengar percakapan mereka.
"Kita nggak bisa mandi, May! Kamar mandi nggak ada air!" Ana memberitahu sambil duduk di karpet.
"Apa? Nggak ada air?" Dinda membuka suara bersamaan membuka kedua mata. Ia sudah kebelet mau pipis sejak tadi, cuma ia tahan karena masih malas mau bangun. Tapi sekarang sudah benar-benar nggak tahan mau ke toilet. Dinda bangun dan lari ke toilet.
"Ahhh... legaaa." Dinda keluar dari toilet. Ana dan Santi sudah heboh mengajak pergi mandi ke sungai.Â
"Ayo kita mandi di sungai! Keburu gelap, lho!" Ajak Ana.
Mereka berempat sudah siap dengan handuk, ember atau gayung mandi untuk tempat perlengkapan mandi semacam sabun mandi, sabun muka, sikat gigi, pasta gigi, dan lain-lain.Â
__ADS_1
Sekarang mereka berdiri di bawah pohon sukun di belakang asrama putri. Dari sana terlihat sungai yang jaraknya beberapa meter di bawah sana, airnya dangkal dan sangat jernih. Sehingga batu-batu yang ada di dasarnya tampak dengan jelas. Sangat menggoda orang yang kegerahan untuk segera menceburkan diri.Â
"Bagaimana, apa jadi kita mandi di sungai?" Tanya Maya ragu.