PACAR 30 HARI BRIPDA MAHMUD

PACAR 30 HARI BRIPDA MAHMUD
Bab 9. Ke Asrama Mahmud


__ADS_3

Hei!" Sapa Mahmud yang berada di pintu ruang fitnes.


Dinda menoleh ke sumber suara.


"Pak Mahmud," Dinda langsung turun dari alat fitnesnya.


"Lanjut saja! Aku nggak akan ganggu!" Kata Mahmud.


"Sudah selesai," jawab Dinda.


Mahmud mendekat dan memberikan botol minuman mineral.


Dinda menerima botol itu, membuka dan meminumnya.


"Terima kasih minumannya, Pak. Ngomong-ngomong kapan datang?"


"Sekitar dua jam yang lalu,"


"Kok aku nggak ngerti, tadi nggak ada berita dari ssb," Dinda melangkah menuju pintu.


"Mau kemana?"


"Keluar."


"Temenin aku fitnes!" Goda Mahmud. Dinda hanya mencibirkan bibirnya.


Mahmud berjalan mengikuti Dinda.


"Kucium baru tahu rasa."


"What!" Dinda mendelik dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"Kangen."


"Kangen anak istri?"


"Ck!" Mahmud berdecak. Spontan menghadang jalannya Dinda. Membuat Dinda berhenti. 


"Pak Mahmud apaan sih menghadang orang jalan!"


"Aku kangen kamu!" Mahmud bicara dengan wajah serius dan tegas. Menatap Dinda. Dinda mengangkat kepalanya melihat Mahmud. Pandangan mata mereka saling beradu, terkunci beberapa saat.


Ada desiran aneh di dalam dada masing-masing.


Dinda segera mengalihkan pandangannya, setelah tersadar.


"Itu nggak mungkin!" Bantah Dinda sambil menundukkan wajahnya, mencoba menetralisir perasaannya sendiri.


Dinda kembali berjalan. 


Mahmud terus mengikutinya. Berusaha mensejajarkan langkahnya dengan langkah Dinda.


"Jangan mengikutiku! Nggak enak dilihat orang!" Kata Dinda lirih sambil terus berjalan menunduk.


Tanpa terasa mereka telah berjalan sampai di jembatan untuk menyebrang ke asrama putri.


Mahmud tersenyum mendengar ucapan Dinda.

__ADS_1


"Emang siapa yang melihat kita kalau bukan orang?"


Dinda mendengar ucapan Mahmud terasa aneh juga. Lalu menoleh ke arah Mahmud, disaat yang sama Mahmud juga melihatnya sambil tersenyum menahan tawa. Akhirnya keduanya melepas tawa.


Mereka berhenti di atas jembatan. Dinda memegang pagar jembatan. Hijab pinknya melambai lambai tertiup angin sore. Mereka melihat air sungai yang jernih di bawah sana.


"Kapan-kapan kita mandi bareng di bawah situ, Mbak Din," kata Mahmud memecah hening setelah berhenti tertawa.


"Mandi aja sendiri." Dinda kembali berjalan meninggalkan Mahmud.


"Aduh! Ngambek lagi! Dasar perempuan! Gara-gara salah ngomong, sih!" Kata Mahmud dalam hati. Cuaca sore memang sangat panas, jadi sangat tergiur untuk menceburkan diri ke air.


Mahmud berjalan mengikuti Dinda. 


Sampai di depan poliklinik.


"Mbak Din, mampir di klinik dulu, yuk!" Ajak Mahmud


"Sudah sore, Pak. Nggak lama lagi maghrib lho! Mandi dulu!" Sahut Dinda.


"Oke deh. Ketemu di masjid, ya!" Mahmud balik kanan. Setengah berlari menuju asramanya.


Dinda hanya bisa menggelengkan kepala melihat kepergian Mahmud. Dinda masuk ke asrama putri, mandi dan persiapan untuk sholat jamaah di masjid.


*


Setelah makan malam, anak-anak berkumpul di asrama putri. Termasuk Andi dan Mahmud. Ketika Dinda masuk, mereka sudah ada.


"Itu yang ditunggu datang." Kata Andi pelan, supaya Dinda tidak sampai mendengar.


Mahmud langsung menoleh ke pintu dimana Dinda masuk dengan membawa cangkir besar berisi kolak kacang hijau.


"Beh! Masih membawa bontrot lagi! Padahal baru selesai makan lho! Begitu perutnya itu lho, apa masih muat?" Ledek Andi. Dan membuat semua menoleh ke arah Dinda.


"Itu nggak masalah buat Dinda. Makan sebanyak apapun, Dinda tetap aja segitu. Nggak gemuk juga. Beda sama kita-kita ini. Makan sedikit masih lapar, makan banyak, badan melar," jawab Ana yang badannya pendek dan gemuk.


"Iya," jawaban Ana dibenarkan sama Maya dan Santi yang sama-sama memiliki masalah berat badan.


Andi, Mahmud, mantri Yos dan Duki hanya mendengarkan.


"Makanya, benar Pak Mahmud, cari pacar tu yang ideal. Yang nggak kurus dan nggak gemuk," kata Andi.


Dinda mengambil duduk diantara mereka, cuek saja mendengarkan obrolan mereka sambil terus menyantap kolak kacang hijau.


"Coba tanya sama yang punya berat badan ideal, apa resep rahasianya?" Ucap mantri Yos.


"Nah. Ayo Din, berbagi Din, apa resepnya?" Tanya Duki.


"Apa, ya? Aku tuh waktu makan ya makan. Juga nggak pilih-pilih makanan. Pokoknya makan sesuai ukuran perut lah, ya. Nggak kurang juga nggak kekenyangan. Jadi tengah-tengah di antara itu, deh." Jawab Dinda.


"Kalau soal ngemil, Din, bagaimana?" Tanya Andi.


"Ngemil?" Dinda melihat ke Ana.


"Kalau soal ngemil, Dinda nomor satu." Jawab Ana.


"Hahaha…!" Tawa Ana, Dinda, Maya bersamaan.

__ADS_1


"Nah! Itu mbak Ana bongkar rahasia nih namanya." 


Dilihat oleh Mahmud kolak kacang hijau Dinda sudah habis.


"Sekarang jalan ke pos, yuk! Mumpung masih sore.  Kita juga mau lho asrama kita didatangi kalian," AJak Mahmud. Sebenarnya pada pokoknya, ia mengajak Dinda, karena hanya Dinda saja yang belum pernah datang ke asramanya. Yang lain sudah pernah. Bahkan sering. Ia ingin memberikan sesuatu pada Dinda.


"Ayo! Ayo!" Duki dan Yos langsung berdiri. Diikuti oleh semua.


Andi menyenggol Mahmud seolah mengatakan "usahamu berhasil!"


Mereka berjalan bersama. Dinda berjalan bergandengan sama Adri di paling belakang.


Mahmud membuka pintu asramanya.


Semua langsung masuk. Ada yang duduk di kursi, ada yang duduk di lantai. Dinda duduk di lantai di samping Adri, sambil bersandar di tepian ranjang.


Andi dan Mahmud mengeluarkan beberapa toples berisi kue.


"Ayo dimakan. Ayo yang suka camilan!" Andi menawarkan kue.


"Iya. Ayo! Ayo kita makan!" Kata Adri sambil membuka salah satu toples.


"Ayo! Ngapain malu-malu! ini disediakan untuk kita!" Adri mengedarkan toples itu ke semua.


"Kita tuh sudah biasa datang ke sini, jadi jangan malu-malu!" Kata Adri membuat Dinda sedikit kaget mendengarnya.


"Oh, jadi mereka sering datang ke sini." Batin Dinda.


"Kriiing kriiing kriiing …!" Suara iphon di atas meja.


Mahmud mengangkat iphon, dan semua diam. 


"Halo, selamat malam, dengan Bripda Mahmud di pos jaga. Ada yang bisa dibantu?" 


"Halo, selamat malam, Ndan. Ini dari Sudin di ruang SSB. Maaf, mau tanya, apa ada Dinda di sana?"


"Ya, ada. Mau bicara?"


"Ya, Ndan,"


"Sebentar, ya," "Mbak Dinda, ada telepon."


Mahmud menyerahkan gagang iphon ke Dinda.


"Halo,"


"Dinda, bisa datang ke ruanganku sekarang. Pak Udin mau hubung. Ditunggu sepuluh menit, ya," suara Sudin dari seberang.


"Oke, Kak Sudin." Dinda menutup iphon dan mengembalikan pada tempatnya.


"Helo semua, silahkan menikmati hidangannya, ya! Aku permisi dulu! Mau di ruang SSB sekarang." Dinda pamit pada teman-temannya.


"Pak Andi, Pak Mahmud terima kasih, ya, sudah diperkenankan main ke sini," Dinda pamit dan bergegas keluar.


"Perlu dikawal, Mbak Din?" Tanya Andi.


"Terima kasih, Pak." Dinda berjalan setengah berlari untuk mengejar waktu sepuluh menit menuju ke ruang SSB yang jalannya menanjak, karena letaknya lebih tinggi dari tempat-tempat yang lain. 

__ADS_1


Ketika Mahmud keluar, Dinda sudah tidak nampak. 


"Cepat sekali ia jalan." Batin Mahmud.


__ADS_2