PACAR 30 HARI BRIPDA MAHMUD

PACAR 30 HARI BRIPDA MAHMUD
Bab 21. Di Belakang Klinik


__ADS_3

Mahmud mendekatinya.


"Jadi, Mbak Dinda memintaku jangan dekat-dekat, karena ada isu itu?"


Dinda menoleh ke arah Mahmud dan Andi bergantian.


"Din, mana novelnya? Sini kubaca dulu!" Ana mengambil novel yang dibawa Dinda. Rempeyek pun sudah habis dimakan mereka. 


Anu berlari dari klinik menuju asrama putri, untuk menyampaikan pesan dari operator ssb kepada Dinda.


"Ndan, operator ssb mau hubung lewat iphon klinik. Sekarang ditunggu!"


"Iya." Jawab Dinda.


Dinda berdiri dari tempat duduknya melihat bergantian ke arah Mahmud, Andi, Ana.


"Permisi, saya mau ke klinik dulu." 


"Ayo kita ke klinik saja!" Ajak Ana.


Ana, Mahmud dan Andi berjalan di belakang mengikuti Dinda dan Anu.


Sampai di klinik, Dinda langsung mengangkat gagang iphon yang masih tersambung dengan operator ssb.


"Halo kak Sudin."


"Iya, Din…." Sudin menyampaikan berita kepada Dinda, bahwa ada mobil yang akan naik ke camp induk membawa beberapa orang tamu.


"Iya, kak. Terima kasih infonya."


Gagang iphon diletakkan di tempatnya.


Di klinik ada beberapa orang yang sedang berobat ke mantri.


"Kita duduk disana saja!" Anu mengajak Mahmud, Andi, Ana duduk di teras belakang klinik, supaya tidak mengganggu pekerjaan mantri dan orang yang berobat nyaman.


Setelah Dinda menyelesaikan urusannya via iphon, Dinda ikut gabung duduk dengan mereka.


"Sumpah aku nggak ngerti kalau ada berita miring itu, aku tahu dari Anu dan Andi yang cerita. Tahunya sudah menyebar di ibu-ibu seberang." Ucap Mahmud.


"Begitu, deh. Pokoknya kalau menyangkut penghuni asrama putri, berita cepat sekali menyebar. Entah itu benar atau tidak benar. Jadi ya harus bisa jaga sikap sendiri-sendiri. Kalau kita cewek-cewek asrama putri sudah kebal dengan isu-isu begitu. Kalau nggak mau dengerin, ya, tutup telinga saja." Sahut Ana.


"Tapi beneran kan, pak Mahmud nggak memeluk dan mencium Dinda di situ?" Tanya Ana sambil menunjuk jembatan yang kelihatan jelas dari belakang klinik.


Mahmud menoleh dan menatap Dinda yang masih berdiri.


"Orangnya yang nggak mau. Kalau mau sudah sejak …," Mahmud menghentikan bicara karena Dinda menginjak kakinya sambil memelotot.


"Awh! Galaknya! Ck! Ck!"


"Haha!" Ana dan Anu tertawa. Andi melihat Dinda kemudian pindah ke kaki Mahmud.

__ADS_1


"Bercanda, Mbak Dinda." Mahmud membujuk.


"Nggak lucu!" Dinda cemberut.


"Haha!" Mahmud tertawa, terlihat imut dan lucu melihat Dinda cemberut.


Kemudian Dinda duduk di sebelah Mahmud. Karena hanya tempat duduk itu satu satunya yang masih kosong.


"Eh, main tebak-tebakan lagi, yuk!" Ajak Mahmud.


"Nggak mau!" Sahut Dinda cepat.


"Kenapa memang?" Tanya Andi penasaran.


"Bikin tebakannya suka ngaco!" Jawab Dinda.


"Memangnya pernah main tebak-tebakan? Kapan?" Tanya Andi.


"Pernah, Ndi. Pas naik mobil pulang dari blok. Dari pada ngantuk kita main tebak-tebakan sama Pak Sulis juga." Mahmud menjelaskan.


"Ow!" Andi meng-ow ria.


"Ya sudah, nggak jadi kalau begitu." Kata Mahmud.


"Aku ada cerita nih, kemarin pas sebelum dikirim tugas ke sini," kata Andi.


"Cerita apaan?" Tanya Ana dan Anu bersamaan. 


"Di dalam angkot, kan, ada seorang Ibu muda sedang menyusui anaknya, disampingnya duduk seorang anak muda  namanya Parno. Melihat si bayi tidak mau menyusui, Si Ibu berkata, 'jika kamu nggak mau, nanti mama kasih sama Om sebelah lho!'


Mendengar itu Parno, hanya senyum senyum. Beberapa saat kemudian Si bayi melepas lagi "susunya" melihat itu Si Ibu kembali berkata, 'iiih kamu nakal ya, sekali lagi kamu melepasnya, benar akan mama kasih sama Om sebelah!' Dengan nada serius.


Mendengar itu, Parno melotot dan menelan ludah. hal itu terus berulang beberapa kali. Melihat itu si Parno gak sabaran dan berkata, 'Mbak, kapan nih ngasihnya sama saya, kayaknya dari tadi saya sudah nunggu tapi kok gak dikasih, rumah saya sudah jauh kelewatan nih, kasih kepastian dong!"


"Hahaha…!" Semua tertawa terpingkal-pingkal. Dinda juga tertawa cekikikan dengan kedua tangan menutup mulutnya.


"Mengapa tertawa ditutup mulutnya? Tertawa lepas saja, nggak ada yang melarang!" Kata Andi yang merasa Dinda menahan tertawanya.


"Komandan Dinda kan sopan. Jadi kalau tertawa ditutup mulutnya." Sahut Anu.


"Sudah. Biarin saja yang penting hepi dan tertawa. Aku juga ada cerita nih!" Kata Mahmud.


"Cerita apa, Ndan? Pasti lucu lagi, nih!" Tanya Anu.


"Ada apa sih? Ramai benar?" Mantri Yos dan Santi datang ikut gabung dengan membawa kursi dari dalam klinik.


"Dengerin Tri! Pak Ndan Mahmud punya cerita, nih!" Kata Anu.


 


"Ada sepasang pengantin baru yang lagi mesra-mesranya. Suatu pagi sang suami hendak berangkat ke kantor." Mahmud meraih dan menggenggam tangan Dinda di sampingnya.

__ADS_1


Lanjut Mahmud,


"Kata suami, 'Ma, aku pergi dulu!'


Si Istri bertanya, 'nggak sarapan dulu?'


Jawab suami, 'Nggak, aku belum lapar!'


Lalu sang suami mencium bibir istrinya dengan mesra sambil berkata 'ini makan pagiku!' sang istri pun tersenyum. Karena ada sesuatu yang tertinggal, pada siang harinya sang suami balik kerumah dan bertemu istrinya lagi.


Istri bertanya, 'Ada apa mas kok balik ke rumah?'


Jawab suami, 'Ada sesuatu yang tertinggal!'


Istri bertanya, 'Nggak makan siang dulu?'


Jawab suami, 'Nggak, aku masih belum lapar!'


Lalu dengan mesranya sang suami menghampiri istrinya dan menciumi bibirnya (breast) sambil berkata 'ini makan siangku!' Si istri pun senang campur bahagia. Ketika sore hari menjelang malam suami pun pulang kerumah, dengan kagetnya ia melihat tingkah laku istrinya, lalu bertanya.


'Sedang apa kamu!?” Karena ia melihat istrinya sedang duduk diatas rice cooker yang hidup dan panas, tanpa c*la*a d*l*m. Dengan ungkapan yang senang istri menjawab, 'ngangetin makan malam, mas!"


"Hahahahaha …!!!" Semua terpingkal-pingkal. Dinda sampai memegangi perutnya. Sungguh tertawa sampai mengocok perut memang.


"Bisa saja Komandan Mahmud ini. Hahaha!" Tawa Mantri Yos belum habis. Belakang klinik menjadi ramai orang tertawa.


"Mbak Dinda, maafin aku, ya. Karena aku jadi ada berita yang nggak enak didengar!" Bisik Mahmud ke Dinda.


"Hem." Jawab Dinda sambil menoleh sebentar ke arah Mahmud.


"Tertawa terus perut ikut dikocok rasanya. Jadi lapar lagi." Kata Anu.


"Iya, sama, Nu. Aku juga." Kata Ana, Santi, dan Yos hampir bareng.


"Ada makanan apa?" Tanya Mahmud.


"Yah, yang ada palingan Internet, Ndan!" Sahut Anu.


Mahmud menoleh ke Dinda, "Apa itu internet?"


"Indomie, telur dan kornet!" Jawab Dinda dan Yos bareng.


"Oh, kirain kalian makan internet!" Kata Andi.


"Kalau mau ke kebun, di sana ada sayur juga ayam." Usul Ana.


"Bakar ayam kah kita, mumpung malam minggu nih! Besok kan nggak kerja. Bangun siang nggak papa!" Santi mengikuti usul Ana.


"Gimana, Ndan? Din?" Tanya Anu dan Andi bergantian melihat Mahmud dan Dinda.


"Aku ngikut saja!" Sahut Dinda.

__ADS_1


"Oke! Ayo!" Jawab Mahmud.


__ADS_2