PACAR 30 HARI BRIPDA MAHMUD

PACAR 30 HARI BRIPDA MAHMUD
Bab 22. Ke Kebun


__ADS_3

"Bakar ayam kah kita, mumpung malam minggu nih! Besok kan nggak kerja. Bangun siang nggak papa!" Santi mengikuti usul Ana.


"Gimana, Ndan? Din?" Tanya Anu dan Andi bergantian melihat Mahmud dan Dinda.


"Aku ngikut saja!" Sahut Dinda.


"Oke! Ayo!" Jawab Mahmud.


Kemudian mereka meninggalkan klinik, pergi jalan ke kebun, untuk menemui Pak Harto tukang kebun.


Mereka membeli beberapa ekor ayam, dan minta dibersihkan bulunya sekalian. Juga beberapa macam bumbu dapur.


"Mau bikin apa malam-malam mencari ayam?" Tanya Pak Harto sambil membersihkan ayam.


"Mumpung malam minggu, Pak. Kita mau bakar-bakar ayam." Jawab Anu dan Mantri Yos. 


Ana adalah adik Pak Harto, dia sudah biasa datang ke kebun. Terkadang juga membantu memetik berbagai sayur ketika panen. Ia pergi ke tempat penyimpanan sayur dan berbagai bumbu-bumbu dapur.


"Mas Har, aku minta ini, ya?" Ana sudah mengambil beberapa macam bumbu yang diperlukan nanti.


"Iya, Na. Itu juga ada ketimun. Kalau mau ambil saja!" Tawar Pak Harto.


"Ada yang mau ketimun, nggak?" Tanya Ana pada mereka semua.


"Mau dong, Na." Sahut Santi sambil mendekati Ana. Dan membantu Ana memasukkan timun ke dalam kantong plastik.


"Ini ayamnya sudah bersih! Sekalian dipotong, nggak?" Pak Harto menoleh ke Anu dan Yos.


"Bagaimana ini, Ndan! Ayamnya sekalian di potong di sini, nggak?" Tanya Anu sambil menoleh ke arah Mahmud dan Dinda yang berdiri tidak jauh.


Mahmud pun menoleh ke Dinda yang tadi sudah mau menjawab tapi tidak jadi.


Dinda takut salah, yang dipanggil Anu dengan "Ndan!" Itu siapa, Dirinya atau Mahmud, ataukah Andi.


"Bagaimana?" Tanya Mahmud pada Dinda.


"Emm, dipotong di sini saja." Sahut Dinda.


"Itu, Pak Har. Kata komandan putri dipotong di sini saja!" Anu melanjutkan memberitahu Pak Harto.


"Komandan putri?" Tanya Pak Harto sambil menoleh dan memperhatikan Dinda.


"Ealah, Mbak Dinda to itu tadi?" Kata Pak Harto yang sebelumnya sudah mengenal baik Dinda.


"Iya, Pak," sahut Dinda.


"Maaf Mbak, nggak terlalu memperhatikan tadi." Sambung Pak Harto.


"Soalnya yang diperhatikan Pak Harto hanya Ana." Celetuk Anu.


"Lha, Ana memang adikku lho, Mas Anu."


"Hehe… iya juga, sih." 


"Sekarang punya julukan komandan putri, ya mbak Dinda?" Tanya Pak Harto sambil senyum-senyum.


"Anu kok didengerin, sih, Pak."


"Haha… tapi bagus juga lho. Cocok kok sama Komandan Mahmud, semoga jadian, ya!"


"Hah! Apa!" Pekik Dinda lirih. Mahmud yang mendengarnya tersenyum.

__ADS_1


"Aamiin." Sahut Anu dan Andi keras.


"Ndan, diamini dong!"


"Aamiin." Kata Mahmud. Terus menoleh melihat Dinda yang berdiri di sampingnya.


Dinda diam dengan wajah merona. Untung saja di tempat remang cahaya, jadi tidak ada yang melihatnya.


*


Duki yang sejak tadi mojok berdua bersama Maya di asrama sebelah klinik, merasa heran, belakang klinik yang tadinya ramai, tiba-tiba menjadi sepi. Kemudian diintipnya dari jendela kamarnya.


"Kok sepi? Pada kemana mereka?" Tanya Duki.


Maya ikut mengintip.


"Nggak ada orang satupun di sana."


"Ke sana, Yuk!" Ajak Duki kepada Maya sambil keluar dari asrama.


Adri berlari menuju ke klinik. Masuk ke klinik sambil berteriak memanggil mantri.


"Tri! Mantri! Mantri Yos!" Tidak ada sahutan dari dalam klinik. Adri membuka pintu kamar Yos, tidak ada orang. Sampai mencari di belakang klinik, sama sekali tidak ada orang yang ditemuinya.


"Pada kemana sih ini orangnya?" Gumam Adri sendiri.


"Ada apa, Dri? Tanya Maya setelah sampai di klinik bersama Duki.


"Aku nyariin Mantri Yos, Kok nggak ada." Jelas Adri.


"Iya. Kok sepi pada kemana mereka?" Gumam Duki.


"Mau minta obat lah. Memangnya mau ngapain nyariin Mantri?"


"Sakit kah, Dri?" Tanya Maya.


"Iya ini lho, May. Aku dari kemarin leher ni rasanya nggak enak. Kayak mau batuk, begitu,"


"Kita tunggu saja Mantri datang!" Kata Duki.


Kemudian ketiganya duduk di dalam klinik.


*


Setengah jam sudah mereka berada di kebun.


"Oh ya, Ndan. Di sana ada tempurung kalau dipakai untuk bakar-bakar nanti." Pak Harto menunjuk tempat tempurung.


"Iya, Pak." Jawab Mahmud sambil melihat tempat yang ditunjuk Pak Harto.


"Iya Ndan. Sama ajak komandan putri itu mengambil tempurung." Kata Andi.


Mahmud menoleh ke Dinda.


"Dek, kesana yuk!" Ajak Mahmud pada Dinda. Mereka pun berlalu menuju ke tempat tempurung.


Anu dan Andi saling pandang mendengar Mahmud memanggil dengan panggilan baru untuk Dinda.


"Ada panggilan baru lagi! Dek kata Pak Mahmud." Ujar Anu dengan menekan di kata dek.


"Pantas saja kok kalau Pak Mahmud yang memanggil." Sahut Andi.

__ADS_1


Dinda sendiri ada rasa bagaimana begitu mendengar dirinya dipanggil dek oleh Mahmud. ia merasakan 'Nyes' nyaman, adem begitu di hati.


Pak Harto sudah selesai memotong ayam. Ana dan Santi sudah keluar dari tempat menyimpan sayur. Mahmud dan Dinda sudah kembali dengan beberapa tempurung.


Kemudian mereka berpamitan untuk kembali ke klinik.


"Ow, bakar-bakarnya di klinik, to?" 


"Iya, Pak." Jawab Mantri Yos.


 


"Pak Harto, kami pamit Pak, terima kasih banyak."  Dinda pamit mewakili teman-temannya.


"Iya, saya juga terima kasih, Mbak Dinda dan teman-teman sudah mau ke sini."


Anu dan Andi menenteng tas kresek yang berisi ayam. Ana dan Santi membawa bumbu dan ketimun. Yos, Mahmud dan Dinda  berjalan paling belakang membawa beberapa tempurung kelapa.


Sepuluh menit kemudian mereka sudah sampai di klinik. Langsung menuju teras belakang.


"Bagian perempuan membersihkan ayam, nih!" Anu dan Andi meletakkan ayam di dekat kran air.


"Iya, sini aku yang membersihkan." Ana dan Santi membuka pembungkus ayam.


"Anu, Andi, Mahmud membuat api untuk membakar.


"Hei, dari mana kalian?" Adri nongol di teras belakang. Disusul Maya dan Duki.


"Wah, kebetulan ada tambahan tenaga nih," kata Yos.


"Ada apa, Dri, nyariin?" Tanya Yos.


"Minta obat, Tri. Tenggorokanku nggak nyaman rasanya sejak kemarin, kayak mau batuk."


Mantri Yos masuk ke dalam klinik melayani Adri. Maya dan Duki ikut bergabung membersihkan ayam dan membuat api.


Dinda mengupas timun dan membersihkan bumbu-bumbu. Tiba mengupas bawang merah, mata Dinda terasa pedas sampai mengeluarkan air mata.


"Hei, mengapa menangis?" Andi selalu usil bertanya membuat Mahmud yang sedang berdiri membuat api langsung menoleh.


Dilihatnya Dinda menangis, Mahmud langsung meninggalkan pekerjaannya.


"Kenapa?" Tanya Mahmud lirih sambil mendekatinya.


"Mengupas ini jadi pedas mataku." Dinda menunjuk bawang yang ditangannya.


"Ya ampun, begitu saja sampai nangis?" Andi sangat heran dengan Dinda.


"Coba Pak Andi yang mengupas! Nih!" Dinda memberikan sisa bawang yang belum selesai dikupas kepada Andi.


"Ayo jak. Sini aku yang mengupas!" Sahut Andi menerima sisa bawang dari Dinda.


Dinda langsung lari ke kamar mandi untuk membersihkan tangan dan mencuci muka.


"Uhh! Segar!" Dinda keluar dari kamar mandi.


Orang-orang sudah mulai menaruh ayam di atas panggangan dan membakarnya.


Dinda ikut mendekat dan berdiri di sana. Ikut mengipasi api. Asap pun kemana-mana.


 

__ADS_1


__ADS_2