
Sejak malam itu Mahmud, Andi bersama para sekuriti dan bagian keamanan perusahaan berjaga lebih ketat, terutama di lokasi dan tempat pembangunan jembatan yang tidak lama akan diresmikan.
Sebenarnya dalam hati Mahmud merasakan ada sesuatu yang kurang. Yaitu tidak melihat dan bertemu dengan pacarnya sejak kemarin.
Beberapa hari terakhir ini adalah hari yang benar-benar sibuk. Sungguh sangat menguras tenaga bagi Dinda. Mendekati waktu peresmian jembatan yang akan diresmikan langsung oleh bapak bupati daerah setempat, banyak persiapan yang harus di kerjakan. Ia masuk ke kantor hanya sebentar saja, selanjutnya ia harus sering pergi ke lokasi dan mendampingi para tamu undangan yang sudah hadir dan menginap beberapa hari di mess perusahaan.
Supaya acara berjalan lancar dan tidak ada hambatan, tentunya dan yang pasti kita meminta dan berdoa kepada Pemilik Jagat ini, supaya pekerjaan berjalan lancar, tidak ada hambatan dan seluruh karyawan sehat walafiat.
Yang pasti juga sejak awal perusahaan selalu menggandeng kepala adat daerah setempat. Dalam pembangunan jembatan pun mengikuti arahan kepala adat. Yang mengatakan, harus menyembelih sapi dan mengadakan upacara di bawah jembatan yang baru itu untuk menanam kepala sapi yang sudah di bungkus dengan kain.
Untuk melaksanakan upacara adat dan tradisi yang lainnya, perusahaan menyerahkan sepenuhnya kepada kepala adat.
"Pak, saya nggak ikut ke lokasi, ya," Dinda berkata memelas kepada Pak Hadi dan Pak Udin.
Bersamaan keduanya menoleh kepada Dinda.
"Oke. Kamu membantu mengurus di dapur kalau begitu!" Titah Pak Hadi.
Dinda bingung, di dapur dia akan ngapain? Seumur-umur dia belum pernah memasak. Tapi setelah dipikir-pikir mending di dapur melihat ibu dapur memasak deh, dari pada pergi ke lokasi.
Akhirnya Dinda menjawab. "Baik, Pak. Kalau begitu sekarang saya pergi ke dapur!"
Takut keputusan Pak Hadi berubah, Dinda langsung ngeloyor pergi keluar dari kantor meninggalkan kedua orang itu.
Pak Hadi dan Pak Udin saling pandang lalu menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Dinda.
Dinda sudah sampai di teras. Pak Udin menyusulnya dan berteriak.
"Oh ya, Din!"
Dinda menoleh melihat Pak Udin berdiri di pintu kantor.
__ADS_1
"Jangan lupa selalu bawa ini!" Pak Udin menunjukkan radio ht nya.
"Ini!" Dinda mengambil inventaris radio ht nya yang menggantung di kantong kanan celana jean nya dan menunjukkan pada Pak Udin.
Pak Udin tertawa cekikikan.
"Dasar Pak Udin!" Gerutu Dinda pelan sambil melanjutkan langkahnya meninggalkan kantor.
Perusahaan memiliki dua dapur dengan letak yang tidak berdekatan. Yang satu dapur staf, yang terletak di komplek asrama staf dan satunya dapur umum, dapur ini tiga kali lebih besar dari dapur staf, karyawan masaknya pun lebih banyak.
Dinda turun dari mobil, langsung terlihat olehnya banyak ibu-ibu para istri karyawan berkerumun di samping dapur umum membersihkan daging sapi yang sudah dipotong tadi pagi. Perusahaan menggerakkan para istri karyawan untuk kegiatan memasak di dapur. Karena jika hanya mengandalkan tenaga karyawan dapur saja, tidak akan mencukupi. Karena akan membuat konsumsi dan nasi kotak untuk seluruh karyawan dan juga banyak tamu undangan.
Dinda tersenyum dan menyapa ibu-ibu yang ada di sana, dan berjalan melewatinya.
"Assalamualaikum, ibu," sapa Dinda setelah masuk ke dapur umum dan mendekati Bu Sriatun sebagai kepala dapur umum yang terkenal galak dan menakutkan. Jika dilihat dari usia, Bu Sriatun seusiaan dengan adik dari mamanya Dinda di Jawa.
"Waalaikumsalam," Bu Sriatun menoleh ke sumber suara yang menurutnya sangat asing. Pernah mendengar suara itu tapi sangat jarang.
"Ayo, Dik, makan dulu!" Bu Sriatun menawari makan kepada Dinda, padahal baru satu jam yang lalu jam makan siang.
"Sudah, Bu. Barusan makan." Jawab Dinda. Tapi Bu Sriatun menarik tangan Dinda untuk menunjukkan menu masakan yang dimasak hari ini.
"Lihat sini, Dik! Aku hari ini masak gudeg nangka sama ini … bikin rempeyek kacang tanah." Kata Bu Sriatun sambil membuka penutup panci sayur dan kaleng tempat menyimpan rempeyek.
"Wow! Pasti enak nih! Tapi aku barusan makan. Waduh! Bu Tun nakal, ya. Membuat aku jadi ngiler!"
"Hahaha! Pokoknya rugi kalau nggak mau makan masakanku!" Tawa Bu Sriatun yang mampu merayu Dinda.
"Pokoknya harus makan! Biar tahu rasa masakanku! Apa lagi kalau sudah kepingin, itu memang harus makan. Kalau nggak, orang sini bilang bisa kepohonan." Bu Tun mengeluarkan jurus ampuhnya untuk merayu Dinda supaya mau makan.
"Iya kah, Bu? Ya udah, aku makan, dari pada penasaran dengan masakan Bu Tun, ntar malam nggak bisa tidur, malah." Dinda langsung mengambil piring di tumpukan piring yang sudah bersih kemudian mengambil nasi, sayur gudeg nangka dan rempeyek.
__ADS_1
Setelah Dinda duduk, Bu Tun masih saja mengikutinya dan duduk di samping Dinda.
"Salah sendiri, nggak pernah kesini. Kalau nggak ada acara begini mana ada datang kesini. Iya, kan?"
"Sebenarnya kepingin banget lho Bu, aku datang ke sini, tapi waktunya itu lho yang belum ada,"
"Heleh, alasan saja kamu, Dik."
"Hehe…! Bu Tun, bisa saja. Ini benar-benar enak, Bu. Aku jadi kangen dengan masakan Mama aku di rumah!" Puji Dinda.
"Bisa saja kamu ini, Dik. Ya sudah, diteruskan makannya. Aku mau melihat orang-orang yang membersihkan daging di luar." Bu Tun beranjak dari tempat duduk.
*
Pak Hadi, Pak Udin, bagian keamanan, beberapa tamu beserta kepala adat pergi ke lokasi jembatan yang akan diresmikan besok. Yang akan meresmikan besok adalah Bapak Bupati. Maka, mulai siang ini semua persiapan direncanakan secara matang.
Bagian keamanan termasuk Mahmud dan Andi selalu bergantian memonitor keamanan di areal jembatan baru itu.
*
Selesai makan Dinda melihat semua bumbu-bumbu yang sudah dibersihkan dan siap akan dihaluskan.
"Bu, sini ku bantu menghaluskan bumbu ini dengan blender," Dinda minta izin kepada Bu Tun.
"Ini ceritanya mau belajar masak, ya?" Tanya Bu Tun sambil meletakkan blender di meja dekat dengan colokan listrik.
"Begitu, deh." Jawab Dinda sambil menyiapkan beberapa bumbu yang akan diblender.
Dinda dan Bu Sriatun tampak sangat dekat dan berbicara tanpa ada yang merasa segan, karena Bu Tun berasal satu daerah dengan Dinda, hanya mereka jarang sekali bertemu. Mereka bisa menjadi akrab karena Dinda mengajar mengaji. Selain mengajar anak-anak, Dinda juga mengajar ibu-ibu para istri karyawan, yang kalau sore tidak memiliki kegiatan. Sudah jelas, kan, kalau yang namanya ibu-ibu dimanapun sebagian besar kalau sudah saling ketemu, paling ada saja yang dijadikan bahan untuk ngerumpi.
Nah, Daripada hanya berkumpul untuk ngerumpi, Bu Tun mengusulkan supaya ibu-ibu mengadakan waktu sore untuk mengaji di masjid, dan Dinda salah satu yang menjadi ustadzahnya.
__ADS_1