PACAR 30 HARI BRIPDA MAHMUD

PACAR 30 HARI BRIPDA MAHMUD
Bab 38. Di Klinik


__ADS_3

💥


Kumandang Adzan subuh mengusik Dinda yang baru saja tidur beberapa menit yang lalu. Dinda pun bangun. Ia merebus air menggunakan ceret elektrik di kamarnya. 


Lima belas menit kemudian air mendidih. Diseduhnya teh manis di gelas. Dan sisa airnya dia pakai untuk mandi.


*


*


Di pos jaga.


Selesai waktu subuh Mahmud sudah bersiap akan berangkat mengawal para tamu perusahaan yang melakukan perjalanan kembali. 


"Ndi, titip seseorang yang ada di asrama seberang, ya," ucap Mahmud kepada Andi yang tiba-tiba teringat Dinda yang tadi malam  sedang kurang sehat.


"Beres. Nanti biar kupantau."


"Tiiin… tiiin!" Suara klakson mobil yang berhenti di depan pos.


"Aku berangkat!" Pamit Mahmud kepada Andi.


"Siap, Ndan!" Andi mengekor di belakang Mahmud keluar dari kamarnya. Mahmud menuju ke mobil yang sudah menjemputnya.


Mobil pun berjalan memecah suasana waktu subuh yang masih hening.


*


*


Pukul tujuh pagi Dinda pergi ke dapur untuk sarapan. Menu sarapan pagi yang selalu hampir sama setiap harinya, yaitu indomie goreng, telur dadar ditambah sambal bajak.


"Bu, apa ada menu yang lain?" Tanya Dinda pelan saat mendekati Bu Ratno.


"Mbak Dinda sakit kah? Kok suaranya lain dari biasa?" Bu Ratno memperhatikan Dinda yang berdiri di sampingnya.


"Iya, Bu. Semalam demam. Ini saja hidungku masih tersumbat."


"Dibikinkan buburkah?" Bu Ratno menawarkan.


"Nggak usah, Bu. Makan yang nggak sama mie, kira-kira apa ya, Bu?" Tanya Dinda.


"Oh! Aku mau sarapan telur rebus saja, Bu. Apa masih ada telur yang mentah, Bu?" Tanya Dinda hati-hati. Takut Bu Ratno marah.


"Ada Mbak Din. Tunggu saya ambilkan!" Bu Ratno pergi ke tempat telur disimpan. Dinda mengikuti di belakangnya.


"Ini ya, Bu. Saya mengambil dua ya, Bu?"


"Iya, Mbak Din. Sini biar saya rebuskan!"


"Biar saya saja yang merebus, Bu." Dinda berlalu dengan dua telur ayam di tangannya. Lalu pergi ke dapur bagian belakang mencari panci kecil untuk merebus telur.


"Merebus sendiri nggak apa-apa, Mbak Din?"


"Iya, Bu."

__ADS_1


"Kalau begitu saya tinggal mengurusi di depan ya, Mbak." Bu Ratno pamit ke depan. Karena sudah banyak orang yang datang untuk dilayani sarapan.


Selesai sarapan Dinda kembali ke kamar untuk meminum obat yang diberikan mantri Yos tadi malam. Dilihatnya Ana masih setia di bawah selimut tebalnya. Tidur Ana sama sekali tidak terusik oleh suara-suara ribut dari luar kamar.


Selesai minum obat, Dinda keluar dari kamar dan duduk di sofa di ruang tamu.


"Din, sudah sehat?" Tanya Maya yang baru saja kembali dari sarapan.


"Alhamdulillah, sudah mendingan, Mbak."


"Ana mana, Din? Kok aku nggak melihatnya sarapan?"


"Belum bangun, semalam dia nemenin aku dan nggak tidur,"


Maya terus bangkit dari sofa dan membuka pintu kamar Dinda dan Ana.


"Ya ampun, perawan sudah siang bolong gini kok masih molor?" Maya membuat keributan sambil mendekati Ana. 


"Ngapain sih, mak lampir masuk ke kamarku?" Ana menutup telinganya dengan bantal.


"Hei, siapa yang kamu bilang mak lampir, hah?" Maya menggoyah tubuh Ana pelan.


"Dinda! Usir mak lampir ini dari kamar kita!" Teriak Ana pura-pura marah kepada Maya.


Dan tiba-tiba Ana ingat semalam Dinda demam. Ana langsung membuka mata dan duduk, menoleh ke arah ranjang Dinda. Dicarinya Dinda, tapi Dinda tidak ditemukan di tempat tidurnya.


"Ada apa, Mbak?" Dinda masuk ke dalam kamar.


"Ya ampun, Din. Kamu sudah baikan?" Tanya Ana tidak percaya.


"Coba ini dilihat!" Dinda berdiri di dekat ranjang Ana dan menunjukkan dirinya kepada Ana, bahwa ia sekarang baik-baik saja.


"Ayo mandi sono! Alasan apa coba jika kamu pagi ini nggak masuk kerja, hem?" Ucap Maya.


"Iya, iya. Aku akan mandi!" Ana bangkit dan masuk ke kamar mandi.


*


*


Sore sepulang kerja, Santi, Ana, Dinda, Maya singgah di klinik. Mereka duduk di teras belakang klinik bersama dengan Anu, Mantri Yos, Andi.


"Hai, Din? Sudah baikan?" Tanya Mantri Yos.


Belum sempat Dinda membuka suara, Ana sudah lebih dulu menjelaskan kejadian semalam.


"Jangan sampai deh Dinda sakit lagi.  Semalam bikin takut orang, bisa bikin orang spot jantung, tahu nggak sih?"


Semua mata menoleh ke Ana.


"Memangnya kenapa?" Tanya Yos. Andi dan yang lain ikut penasaran termasuk Dinda.


"Disaat tidur pun Dinda ribut sendiri. Mengigau ngomong apa, nggak jelas. Saat aku tanya, tangannya malah menunjuk ke satu arah dan setelah itu tersenyum. Siapa nggak takut, coba!"


"Masak sih, Mbak An?" Tanya Dinda. 

__ADS_1


"Setelah aku raba keningnya, ampun deh. Badannya demam. Lalu ku bangunin. Kusuruh minum obat."


"Semalam tuh yang aku rasain saat membuka mata, rasanya ruangan kamar itu penuh dengan sinar merah membara, rasanya aku ingin berlari, tapi kakiku berat untuk melangkah," sela Dinda.


"Dan beberapa saat setelah minum obat, ada kalau sampai lima kali gonta-ganti baju."


"He em." Dinda berdehem mengiyakan.


"Kenapa?" Tanya Andi.


"Emmm, ya karena keringatan dan bajunya basah." Ucap Ana.


"Iya, benar itu. Kalau berkeringat dan sampai bajunya basah, harus segera diganti. Kalau nggak ganti takutnya masuk angin," kata mantri Yos.


"Dan harus diimbangi dengan minum air putih," lanjut mantri Yos.


"Begitu ya, Tri?" Ucap Santi yang sejak tadi hanya mendengar dan memperhatikan itu.


"Iya, biar tubuh tidak mengalami hidrasi." Jawab Mantri Yos. Lalu mantri Yos masuk ke dalam diikuti Anu dan Dinda di belakangnya.


"Tri, boleh minta vitamin?" Tanya Dinda.


"Kenapa? Nafsu makan berkurang, ya?" Dinda menganggukkan kepala sebagai jawaban.


"Disuntik ya?"


"Hah!"


"Ia, Ndan disuntik saja biar langsung ada reaksinya." Sela Anu.


"Nggak! Nggak pakai suntik, Tri!" Dinda cemas membayangkan jarum suntik menusuk kulitnya.


"Kenapa? Takut suntik, ya?" Tanya Anu.


"Siapa yang takut disuntik?" Tanya Andi yang tiba-tiba juga masuk, diikuti Ana di belakangnya.


"Itu, Ndan. Dinda takut disuntik." Adu Anu.


"Cemen, Din. Cuma jarum suntik saja kok takut. Bener sih memang sakit, rasanya sakit seperti digigit semut." Kata Ana sambil menoleh ke arah Maya yang ikut masuk.


"Lebih enak kalau disuntik pakai yang bukan jarum," celetuk Ana.


"Bukan jarum?" Tanya Dinda.


"Apaan?" Tanya Andi ikutan.


"Ada deh. Disuntik pakai benda tumpul yang besarnya berkali lipat dari pada jarum." Jawab Ana sambil cengar-cengir.


"Dasar Ana. Ana jangan didengerin! Dasar anak somplak!" Kata Maya dengan ketus. 


Yos, Andi, Anu diam mencerna ucapan Ana. 


"Ia. Dasar Ana somplak!" Ucap Yos.


"Apaan, Tri?" Tanya Andi.

__ADS_1


"Omongan Ana itu hanya bisa dipahami oleh usia delapan belas tahun ke atas." Ucap Yos.


Anu dan Andi menoleh dan saling pandang. Sementara Dinda hanya diam dan mendengarkan omongan mereka yang nggak jelas itu.


__ADS_2