PACAR 30 HARI BRIPDA MAHMUD

PACAR 30 HARI BRIPDA MAHMUD
Bab 16. Persiapan ke Blok


__ADS_3

Ketika di ruang meeting, Dinda sama sekali tidak ingin menoleh ke arah Mahmud. Ia lebih banyak diam, hanya menulis dan fokus dengan apa yang didiskusikan di rapat. Mahmud merasa ada yang berbeda dengan Dinda. Dalam hati bertanya-tanya, ada apa?


Selesai meeting satu persatu keluar dari ruangan. Namun masih ada beberapa orang yang tertinggal dan masih duduk ngobrol di sana.


"Pak Udin, kapan nih ke blok, anak buahku sudah menanyakan kapan gajian?" Tanya Pak Tegar manager produksi yang dari blok.


"Itu bagian keuangan yang menentukan, kita ngikut saja," kata Pak Udin sambil menoleh ke Pak Rizki Manajer keuangan.


"Jadwalnya tetap, tidak berubah. Walaupun perusahaan ada tambahan kegiatan, soal gaji tetap jalan seperti biasa," sahut Pak Rizki dengan logat banjarnya.


"Bagaimana kalau besok pagi berangkat bareng mobil saya?" Pak Tegar menawari bareng.


"Wah! Terima kasih tawarannya Pak Tegar. Kalau soal ini tanya sama Mbak Dinda, deh?"


Ujar Pak Rizki. 


Mendengar namanya disebut Dinda yang sedang menulis mendongakkan kepala ke Pak Rizki dan bertanya.


"Ada apa, Pak?" Membuat semua orang menoleh ke arahnya.


"Waduh! Menulis apa melamun, nih?" Ledek Pak Hadi. Membuat Mahmud ikut menatap ke arahnya.


"Menulis, Pak, kan belum selesai, nih kalau nggak percaya." Dinda menunjukkan bukunya.


"Hahaha." Pak Hadi, Pak Udin dan Pak Rizki tertawa bareng. Beberapa orang mulai keluar dari ruangan.


"Mbak Dinda, Pak Tegar menawari besok pagi ngajak tim kita bareng ke blok, mau nggak kira-kira?" Dinda duduk bersandar di kursinya sambil memutar-mutar pena dengan jarinya mendengarkan perkataan Pak Rizki.


"Pagi jam berapa Pak Tegar? Mau saja sih, bareng. Supaya ada temannya di jalan. Oh ya, Pak Rizki, saya sudah kontak sama Pak Sulis untuk menyetir besok pagi, berangkat jam berapa, Pak? Mohon informasinya!" Sahut Dinda.

__ADS_1


"Kita berangkat seperti biasa. Dua jam perjalanan, diperkirakan sampai sana karyawan masih di tempat. Belum ke lokasi, maksudnya. Jadi kita nggak mengganggu jam kerja mereka di lapangan." Ujar Pak Rizki.


"Kalau begitu subuh berangkat," sahut Pak Tegar.


"Baik, Pak. Saya konfir ke Pak Sulis dan Pak Mahmud." Sahut Dinda sambil melirik tempat duduk Mahmud sudah tidak ada di sana. Kemudian berdiri dari tempat duduknya dan membawa buku keluar dari ruang meeting.


Mahmud berjalan sudah mendekati pintu keluar kantor.


"Pak Mahmud!" Dinda memanggil dengan suara tidak terlalu keras.


Mahmud menoleh dan berhenti. "Ya?"


"Tunggu, Pak!" Pinta Dinda sambil berjalan masuk ke ruangannya untuk menaruh buku, kemudian keluar dan menutup pintu ruangannya.


Dinda berjalan ke arah Mahmud yang sedang berdiri menunggu. 


"Pak Mahmud, persiapan besok pagi sekitar pukul lima untuk mengawal tim keuangan."


"Terima kasih, Pak." 


Setelah mengucapkan terima kasih, Dinda mempercepat jalannya, mendahului Mahmud keluar dari kantor.  Berada di depan beberapa meter.


"Mbak Din, tunggu! Kok aku ditinggal!"


"Selamat malam, Pak!" Sambil melambaikan tangannya untuk perpisahan, Dinda semakin mempercepat jalannya dan sudah sampai di depan klinik.


Secepat apapun Dinda berjalan masih terkejar oleh Mahmud.


Setelah dekat, Mahmud menarik tangan Dinda. Membuat Dinda kaget dan berhenti. "Pak!" Dinda menatap Mahmud. Mahmud seolah tidak peduli dengan tatapan Dinda.

__ADS_1


"Selamat malam. Tidur yang nyenyak, ya, sayang." Bisik Mahmud lalu mengusap tangan Dinda dan melepaskannya.


Dinda diam terpaku. Menatap Mahmud yang sudah berjalan.


"Ah!" Dinda berlari menuju asrama putri. Dan langsung masuk kamar. Setelah membersihkan diri di kamar mandi, pukul dua belas, naik di tempat tidur.


Sejak bermain bola voli tadi sore, Adri masih menggencarkan gunjingannya tentang Dinda. Pergi kemana pun dan setiap bertemu dengan siapapun, Adri selalu membicarakan Dinda. Tidak tahu dari mana awal mula berita tidak benar itu berasal. Memang, sejak pertama kali kehadiran Dinda bekerja di perusahaan itu, Adri menganggap Dinda itu adalah saingan baginya. Dia menganggap Dinda telah menggeser posisinya, dan selalu berpikir negatif tentang Dinda. Dari segi penampilan, menurut Adri, Dinda bisa menaklukkan semua pria. Karena, selain pintar dan cerdas, Dinda berpenampilan elegan dan anggun walau tanpa polesan make up sekalipun.


Pada awalnya, Ana yang sekamar dengan Dinda, juga sama seperti Adri. Tidak menyukai kehadiran Dinda. Ana menganggap Dinda bisa diterima bekerja di perusahaan ini karena nepotisme. Karena semua perempuan yang sekarang bisa bekerja menjadi staf di kantor, semua berawal dari dapur, yaitu beberapa bulan diterima bekerja sebagai pembantu juru masak di dapur perusahaan, baru diangkat menjadi staf. Hanya Dinda saja satu satunya perempuan yang diterima bekerja di perusahaan tanpa melalui proses dari dapur dan posisinya menyamai asisten manajer. 


Tapi, Dinda tidak memusingkan semua itu. Dinda bisa bekerja di perusahaan ini karena perusahaan sedang membutuhkan kriteria yang dicari. Dan Dinda memenuhi kriteria itu, Dinda masuk dan diterima bekerja bukan karena nepotisme, melainkan menggunakan surat lamaran dan juga telah memiliki pengalaman kerja. Dinda juga tidak menggeser posisi Adri, tapi memang etos kerjanya dan potensi kerja Adri yang tidak memadai.


Sikap Ana berubah menjadi baik terhadap Dinda, karena beberapa waktu lalu, kasus Ana dengan Noldy di kamar mandi, perusahaan sempat akan mengeluarkan Ana dan Noldy. Berkat Dinda, Ana tidak jadi dikeluarkan dan masih bisa bekerja di perusahaan sampai saat ini. Ana sempat malu pada Dinda atas sikapnya yang tidak baik. 


"Din, maafkan aku," pinta Ana kala itu. Tapi itu justru membuat Dinda bingung.


"Maaf untuk apa, Mbak Ana?" Tanya Dinda.


Kemudian Ana menceritakan semua tersebut diatas. Dinda sebenarnya tahu dan mengerti, tapi Dinda tidak pernah membahasnya dan hanya membiarkannya saja. Biar lewat saja dan berlalu bersama angin.


"Ow itu to, Mbak, aku sudah lama memaafkan. Tapi Mbak Ana perlu tahu, bahwa yang Mbak katakan itu nggak benar."


"Iya, Din, aku tahu, aku salah. Aku nggak tahu bagaimana aku harus membalas kebaikanmu, Din,"


"Sudahlah, Mbak, nggak usah dipikirkan. Sekarang ubah cara berpikir dan sikap Mbak Ana. Dan satu lagi minta ampun sama Allah. Semoga Allah mengampuni."


"Iya, Din, makasih, ya," Ana memeluk erat Dinda. Sejak itu sikap Ana menjadi baik, melebihi kebaikan seorang teman.


*

__ADS_1


Pukul 04.13 terdengar suara adzan subuh dari masjid. Dinda segera bangun, menuju ke kamar mandi dengan membawa handuknya. Pukul setengah lima, Ana teman sekamarnya masih tidur pulas, sementara Dinda menyiapkan segala sesuatunya termasuk satu stel baju ganti dimasukkan ke dalam tas ranselnya. Mengenakan baju lapangan kaos putih lengan panjang, dipadu dengan celana jean panjang warna biru, hijab senada dengan bawahan, baju di dobel dengan rompi safety, menggunakan sepatu safety boots. Dinda jarang sekali memake up wajah. Cukup memakai pelembab dan bedak tipis saja. Setelah berpenampilan oke, Dinda menyambar tas ranselnya dan botol minum di atas meja. Kemudian Dinda pergi ke dapur.


__ADS_2