PACAR 30 HARI BRIPDA MAHMUD

PACAR 30 HARI BRIPDA MAHMUD
Bab 40. Rujak Buah


__ADS_3

Setelah Mahmud duduk di samping Dinda,


"Pak, yang tadi dibawa ke sini, kah?" Tanya Dinda kepada Mahmud dengan pelan.


"Boleh, Dik. Ditaruh dimana? Biar aku sama komandan Andi yang mengambilnya!"


"Di dalam kamar, di balik pintu." Jawab Dinda.


Mahmud dan Andi pergi mengambil buah durian di kamar Dinda.


Santi dan Maya membuat bumbu rujak buah.


Cabai, terasi, dan garam diulek di cobek sampai halus. Ditambahkan gula merah kemudian diulek juga hingga halus. Lalu masukkan kacang goreng dan diulek kasar agar teksturnya renyah. Dituang air asam jawa, aduk hingga tercampur rata.


"Jadi deh!" Seru Santi.


"Bumbu sudah jadi nih!" Kata Maya.


Kemudian Maya dan Anu menyiapkan wadah untuk tempat potongan buah-buahan. Ada timun, nanas, jambu air, belimbing, dan kedondong.


"Sudah siap, Na!" Kata Maya.


"Eh, kenapa cuma namaku saja yang dipanggil? Ayo kita nikmati bersama-sama!"


"Ya, biasanya Ana kan yang jagonya pencok," ujar Maya.


"Nggak juga! Yang di sana tuh juga jago pencok!" Tunjuk Ana kepada Santi.


"Hemmm, ini pasti enak!" Dinda mendekati tempat di mana diletakkan rujak buah itu. Maya, Santi, Ana, Anu, Yos, Andi, Mahmud, datang mengerubung.


Dari aroma bau dan rasa yang segar, manis, asam, siapa coba yang nggak tergoda. 


"Nggak buruan, pasti ngiler, dah!" Dinda memasukkan sepotong buah yang sudah dibalur bumbu ke mulutnya. Wajahnya seketika langsung berubah merah. Gabungan rasa asam, manis, pedas yang di akhir, membuah Dinda "Huwah…! Huwah…!" Kepedasan.


"Hayo! Yang perutnya sensitif makan jangan terlalu banyak!" Ana mengingatkan Dinda sambil meliriknya.


"Ini yang bikin bumbu naruhnya cabe, ugal-ugalan bener!" 


"Haaa… haaa!" Santi dan Maya tertawa dengan wajah terutama bagian hidung yang sudah penuh dengan bintik-bintik keringat karena kepedasan.


"Ayo yang laki-laki merapat!" Kata Dinda sambil bergeser menjauhi tempat itu. Dia memilih makan buahnya saja. Nggak berani makan dengan bumbunya yang ekstra pedas itu.


"Kenapa, Ndan? Nyerah?" Tanya Anu.


"Nggak kuat aku, Nu. Pedes banget!" Jawab Dinda yang pada dasarnya nggak suka makan makanan pedas.


Andi dan Mahmud pun tidak begitu dengan bumbunya. Dia juga memilih makan buahnya saja.


"Kapan duriannya dibuka?" Tanya Dinda dengan wajah memohon kepada Mahmud.

__ADS_1


"Oh, ya, Ndan. Ada yang pengen durian lho sejak tadi siang. Dibuka sekarang boleh, Ndan?" Andi bertanya pada Mahmud, tapi pandangannya ke arah Dinda.


"Pujaan hati lho, Ndan, yang kepengen,"


"Oh, ya?" Mahmud menatap dalam ke arah Dinda. Tatapan penuh selidik dan pertanyaan. Membuat Dinda mengalihkan pandangannya karena tidak berani melihat tatapan Mahmud. Pipi Dinda pun merona.


"Buka saja kalau begitu!" Titah Mahmud dengan terus menatap Dinda. Membuat Dinda semakin salah tingkah.


Setelah mengambil pisau, Andi dan Anu jongkok untuk membuka durian.


"Sudah sehat beneran?" Tanya Mahmud kepada Dinda.


"Sudah," Dinda yang menunduk, menjawab dengan singkat.


"Berapa Ndan harga durian sekarang?" Tanya Andi.


"Durian harganya tetap bertahan. Berbeda dengan harga buah-buahan musiman lainnya. Disaat musimnya saja mahal, apalagi kalau pas nggak musim, bisa lebih mahal." Mahmud beralih memperhatikan mereka yang membuka durian.


"Kalau begitu mungkin bisa dipakai untuk nembak wanita pujaan, ya?" Celetuk Dinda, membuat semua mata menoleh ke arahnya.


"Maksudnya bisa untuk ngelamar cewek, begitu?" Tanya Andi.


"Bukan. Tapi untuk membuktikan keseriusan cintanya!" Jawab Dinda.


"Dengan begitu, apa mungkin bisa langsung diterima cintanya? Tanpa ada penolakan?" Tanya Andi yang sangat penasaran dengan pemikiran Dinda.


"Apa!" Jawab Anu dan Yos bareng dengan mata melotot.


"Hiii… hiii… nggak usah pura-pura kaget begitu," sahut Dinda santai.


Andi dan Mahmud saling pandang sejak tadi. Mahmud yang sejak tadi diam itu ternyata mendengarkan dan menyimak dengan seksama semua ucapan Dinda.


"Bagaimana kalau ada kejadian seperti itu beneran?" Tanya Anu.


"Wah! Bisa viral!" Sahut Ana.


"Apanya yang viral, Na?" Tiba-tiba Pak Hadi sudah berdiri di ambang pintu klinik, membuat mereka semua kaget dan langsung menoleh. Seketika mereka semua diam.


"Pak," sapa Dinda dan yang lain dengan hormat dan segan pada Pak Hadi.


"Ow, pada ngumpul disini semua rupanya, membuat apa kalian di sini?" Tanya Pak Hadi sambil melihat keliling.


"Mencok buah, Pak!" Jawab Dinda sambil bangkit dari duduknya, hendak mengambilkan buah-buahan dan sambalnya untuk menawari Pak Hadi.


Pak Hadi duduk ditempat duduk Dinda tadi.


"Ini, Pak." Dinda menyodorkan sepiring rujak buah ke hadapan Pak Hadi. Pak Hadi langsung menerimanya.


"Wah, dari aromanya yang segar ini, …." Pak Hadi yang belum selesai bicara itu langsung mencomot jambu air dan dicokolkan di bumbu lalu dimakannya.

__ADS_1


"Ini, Pak, minumnya," Anu menaruh air mineral botolan di dekat Pak Hadi.


Selesai makan beberapa suapan, kemudian Pak Hadi minum air pemberian dari Anu.


"Makanan begini cocok buat ibu-ibu yang hamil muda. Tapi ngomong-ngomong kalian tahan ya dengan pedasnya?" Kata Pak Hadi.


"Itu kerjaan Santi sama Maya, Pak." Adu Ana.


"Tapi perempuan mayoritas memang doyan pedas. Berbeda dengan laki-laki." Jelas Pak Hadi.


"Berarti kamu ikut golongan laki-laki, Din," sahut mantri Yos, membuat beberapa mata menoleh ke arah Dinda.


Pak Hadi yang paham maksud Mantri Yos, langsung menyahut.


"Masak Dinda nggak doyan pedas?"


"Nggak cocok jadi perempuan kamu, Din," sela Maya.


"Enak aja. Ini asli seratus persen perempuan sejak lahir, lho!" Ujar Dinda sambil berdiri.


"Kalau begitu, coba buktikan!" Tantang Maya.


"Apa!" Teriak Dinda dan Ana bareng.


Dinda dan Ana kebingungan. Sementara semua mata tertuju pada mereka yang berdiri bersebelahan.


"Maksud Maya, buktikan kalau kamu berani makan pedas, Mbak Dinda! Bukan untuk membuktikan dan memperlihatkan jenis kelaminmu!" Kata Mahmud menjelaskan, sambil tersenyum dan melihat aneh ke arah Dinda.


Beberapa orang bungkam dan menahan tawa.


"Yang jelas, pedas dan jenis kelamin itu nggak ada hubungannya. Buktinya juga banyak laki-laki yang suka makan makanan pedas. Begitupun dengan perempuan nggak semua suka makan pedas. Jadi pedas nggak identik dengan perempuan." Sangkal Dinda.


Semua diam.


"Hayo, siapa yang bisa menyangkal pendapat komandan Dinda?" Suara Anu memecahkan suasana.


"Oh, ya, mulai besok semua latihan di gedung serba guna." Titah Pak Hadi yang tidak bisa dibantah.


"Latihan? Latihan apa di gedung serba guna?" Tanya Maya lirih, sehingga tidak begitu sampai di pendengaran Pak Hadi. 


Sementara tidak ada yang berani memotong atau menyela ucapan Pak Hadi yang selaku pimpinan perusahaan.


"Dan untuk komandan Mahmud dan komandan Andi, besok pagi cari dan latih orang-orang untuk petugas upacara. Kalau perlu diadakan meeting dulu di ruang meeting kantor."  


"Siap laksanakan!" Jawab Mahmud dan Andi.


"Dan, Anu! Bisa membantu meetingnya, ya!"


"Siap. Eh …, iya, Pak," sahut Anu.

__ADS_1


__ADS_2