PACAR 30 HARI BRIPDA MAHMUD

PACAR 30 HARI BRIPDA MAHMUD
Bab 41. Kamu Ada Di Sini


__ADS_3

"Latihan? Latihan apa di gedung serba guna?" Tanya Maya lirih, sehingga tidak begitu sampai di pendengaran Pak Hadi. 


Sementara tidak ada yang berani memotong atau menyela ucapan Pak Hadi yang selaku pimpinan perusahaan.


"Dan untuk komandan Mahmud dan komandan Andi, besok pagi mencari dan melatih orang-orang untuk bertugas upacara. Kalau perlu diadakan meeting dulu di ruang meeting kantor."  


"Siap laksanakan!" Jawab Mahmud dan Andi.


"Dan kamu, Anu! Bisa membantu meetingnya besok, ya!"


"Siap. Eh …, iya, Pak," sahut Anu.


"Di gedung serba guna latihannya malam saja setelah makan malam atau selesai waktu isya' atau siang kalau ada waktu senggang juga bisa." Jelas Pak Hadi.


"Latihan apa, Pak?" Maya memberanikan diri bertanya lagi dengan suara lebih keras.


"Astaga, Maya, di gedung serba guna kita kan ada group band, alat musik lengkap, ya dipakai latihan menyanyi, lahh." Sahut Ana.


"Nanti kamu, Santi, juga Ana itu latihan menyanyi! Dinda juga, ya Din!" Kata Pak Hadi dengan memperhatikan dan mengabsen satu per satu orang yang namanya disebut tadi, dengan nada penekanan dalam ucapannya.


"Insya Allah, Pak." Jawab Dinda. Sementara Santi, Maya dan Ana masih saling berbisik.


"Terus, kita upacara untuk tanggal tujuh belas Agustus. Makanya mulai besok dipilih, siapa saja pesertanya yang bertugas, terus langsung latihan. Ini saya serahkan sama komandan Mahmud dengan komandan Andi." Sambung Pak Hadi dengan penuh kharisma.


"Terus acara puncaknya nanti hari Sabtu malam Minggu di gedung serba guna. Semua paham?" Pak Hadi melanjutkan penjelasannya.


"Iya, Pak.


Mereka melanjutkan makan rujak buah dan buah durian, sambil berbincang-bincang dan berembug tentang apa yang barusan disampaikan oleh Pak Hadi tadi.


Dua puluh menit kemudian, tanpa terasa, jam di dinding telah menunjukkan pukul sembilan malam. 


"Ya sudah. Saya pulang duluan, ya!" Pamit Pak Hadi dengan penuh wibawa.


"Oh ya, Pak, ini titip rujak buah untuk Bu Win," Ana menyodorkan sepiring rujak buah kepada Pak Hadi.


"Ow, jadi merepotkan ini,"


"Enggak kok, Pak. Memang kita sengaja bikin banyak."


"Kalau begitu saya bawa, ya. Terima kasih banyak, lho." 

__ADS_1


"Sama-sama, Pak," sahut mereka hampir bersamaan.


Kemudian Pak Hadi pergi keluar meninggalkan klinik.


Setelah itu, Santi duduk di ruang periksa sedang berbincang berdua dengan Mantri Yos. Sedangkan Maya pergi ke asrama putra yang terletak pas di sebelah kiri klinik, ia mengantar rujak buah untuk Duki.


Ana yang memiliki percaya diri tinggi, setiap kali ada kesempatan, dia selalu berusaha mencari perhatian dari Andi. Sengaja mencari tempat duduk yang dekat dengan Andi, atau terkadang bersikap terlalu over. Semua orang bisa melihat, jika Ana menyukai Andi. Tapi, tidak dengan Andi. Andi sama sekali tidak tertarik dengan Ana. Mungkin tipe wanita idamannya, bukan seperti Ana. Andi bersikap wajar dan biasa saja.


Ana dan Anu duduk di depan televisi. Mereka suka sekali nonton acara gosip.


Dinda yang duduk di teras belakang, juga ingin masuk ikut nonton televisi bersama mereka. Tapi, disaat ia berdiri dari tempat duduknya, Mahmud menahannya.


"Duduklah di sini menemaniku! Jangan kemana-mana!" Pinta Mahmud dengan tatapan mata memohon.


Dinda menoleh ke arah Andi.


"Kan ada Pak Andi?" Ucap Dinda.


"Kenapa sih nggak mau di kangeni?" Mahmud menatapnya dengan tatapan mata sendunya.


DEG! Hati Dinda bergetar dan kaget mendengar ucapan Mahmud.


'Apa! Kangen, katanya? Nggak salah nih pendengaranku? Atau aku minta dia untuk mengulangi lagi perkataannya, supaya aku lebih jelas mendengarkannya?' Suara batin Dinda.


"Nggak percaya?" Suara Mahmud memecahkan hening yang sesaat itu, dan membuat Dinda gelagapan seolah tersadar dari suatu hal.


Dinda kembali duduk disebelah kiri Mahmud.


"Kan sudah ketemu sejak tadi,"


"Sejak tadi malam kan nggak ketemu. Dan sekarang baru ketemu lagi." Mahmud menatap Dinda lebih dalam.


"Kamu selalu ada di sini! Tahu nggak?" Mahmud mengepalkan tangan dan memukul dadanya untuk menunjukkan pada Dinda, bahwa ia tidak bisa melupakan Dinda, bahwa Dinda telah memenuhi ruang di hatinya. Bahkan ketika berjauhan, bayangan tentang Dinda selalu menari dalam kepalanya.


Dinda tak tahu bagaimana dengan perasaannya. Senang kah? Atau bahagia? Atau takut? Dia menggigit bibir bawahnya dan menundukkan pandangannya. Pikirannya kalut, bingung. Dia takut melukai perasaan orang lain. Matanya pun mulai mengembun.


"Dinda, bolehkan aku bertanya sesuatu?" Tanya Mahmud pelan dan dijawab oleh Dinda dengan anggukan kepala saja. Dinda terus menundukkan kepalanya.


"Tidakkah kamu merasakan hal yang sama sepertiku, Din? Apakah kamu tidak menyimpan namaku walau sedikit saja? Tidakkah kamu mengenang kebersamaan kita, Din? Tolong, Jawab aku! Dinda,"


Semua kata-kata Mahmud didengar sangat jelas oleh Dinda. Semua pertanyaan itu sangat mengena di hatinya. Hatinya tidak bisa mengelak. Hatinya tidak bisa mengatakan 'tidak!' Dinda tidak bisa menahan air matanya yang sudah mengembun sejak tadi. Kedua pipinya basah dengan air mata.

__ADS_1


Dia takut dosa. Dia tidak mau disebut pelakor. Dia tidak mau disebut perebut suami orang.


Air mata pun menetes di tangannya. Dan suara isakan tangis mulai terdengar.


"Oh, Tuhan, kenapa kamu menangis? Apa pertanyaanku menyinggungmu dan …" Mahmud ikut merasa seperti teriris melihat Dinda menangis. Lalu ditariknya Dinda masuk kedalam pelukannya.


"Maafkan aku jika aku salah ucap. Aku tidak bermaksud menyakitimu. Sungguh. Aku menyukaimu. Aku mencintaimu, Dinda!"


Dinda menarik tubuhnya keluar dari pelukan Mahmud. Dan melihat kepada Mahmud.


"Tapi kamu telah memiliki keluarga. Memiliki anak dan Is…!"


"Ssst!" Mahmud tersenyum dan meletakkan jari telunjuknya di bibir Dinda. Mengisyaratkan Dinda untuk diam dan tidak melanjutkan ucapannya.


"Itu tidak benar." Mahmud masih tersenyum.


"Itu tidak benar? Apa maksudnya?"


Mahmud mengeluarkan dompet dan menunjukkan kartu identitasnya.


"Apa kamu bisa percaya dengan melihat ini?"


"Tidak. Kamu membohongiku?" Dinda menggeser tempat duduknya agak menjauh dari Mahmud.


"Maafkan aku. Semua demi kebaikanku." Mahmud tampak lesu.


"Tapi kamu bisa tanyakan ini kepada Andi, jika kamu tidak percaya!"


Dinda menyeka air matanya. Dia tidak ingin tampak cengeng di depan orang lain. Sementara Mahmud sedang mencari keberadaan Andi.


"Andi!" Teriak Mahmud setelah melihat bayangan Andi yang duduk seberang terlindung taman bunga.


Andi berdiri dan berjalan mendekat.


"Apa, Ndan?"


"Katakan padanya, identitasku sebenarnya!"


Andi sebenarnya sudah tahu apa yang sedang menjadi  permasalahan mereka berdua. Meskipun seolah ia bersembunyi, ia terus memantau mereka berdua. Karena Mahmud sudah berpesan kepadanya untuk selalu menemaninya saat ia berbicara dengan Dinda. 


Ada sebuah hadis mengatakan, "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka jangan sekali-kali dia bersendirian dengan seorang perempuan yang tidak bersama mahramnya, karena yang ketiganya ialah syaitan."

__ADS_1


Andi melihat kartu identitas Mahmud di atas meja dan berkata,


"Kartu identitas ini benar,  Mbak Dinda. Komandan Mahmud Belum pernah menikah, belum pernah punya istri,"


__ADS_2