
Dinda yang tidak menyadari kepergian Mahmud, setelah sampai di belakang panggung dan akan duduk, ia menoleh dan mencari-cari keberadaan Mahmud, ia tidak menemukan. Seketika raut wajahnya berubah sedikit murung. Hati yang tadi merasa senang kini dirundung kecewa. Ia menghela nafas panjang. Mencoba untuk menetralkan emosi hatinya.
Beberapa orang telah naik dan turun panggung untuk menyanyi, tapi tidak satupun yang menjadi perhatian Dinda. Dinda sibuk dengan pikirannya sendiri. Tiba-tiba ia kaget saat Ezra menepuk pundaknya.
"Ayo persiapan! Sekarang giliran kita!" Ucap Ezra.
Duki memanggil dari atas panggung.
"Kepada anggota vokal grup dipersilahkan naik ke atas panggung!"
Seluruh pengunjung memandang ke panggung. Dalam hati mereka bertanya-tanya,
"Siapa yang dimaksud anggota vokal grup?" Karena selama ini mereka tidak pernah melihat anggota vokal latihan di gedung.
Grup pemain band satu per satu turun dari panggung.
"Lho! Mereka kok turun?" Tanya beberapa orang pengunjung.
Beberapa menit kemudian, diiringi musik dengan nada mars, mulai dari Haris, Ado, Aso, diikuti Ezra, Dinda dan teman-teman yang lain satu persatu naik ke atas panggung. Anggota vokal grup berjumlah sembilan orang. Speaker empat sudah ditata didepan mereka.
Aso mulai memetik gitarnya.
"Ting ting ting ting …!"
Suara nada satu dan dua serentak menyanyikan lagu perjuangan tujuh belas Agustus tahun empat lima.
"Mer de ka! Skali merdeka tetap merdeka! Selama hayat masih dikandung badan,
… … ...
Kita tetap setia tetap sedia membela negara kita!"
"Teeng…. Ting ting teng...teng…!"
Selesai lagu tujuh belas, Aso merubah nada.
"Woww! Luar biasa!"
"Prok! Prok! Prok!" Suara eluan dan tepuk tangan dari hadirin memecah di dalam gedung, membuat mereka yang di atas panggung termasuk Ezra, Dinda, Haris, Aso, saling berpandangan dan tersenyum.
Sekarang lanjut lagu yang kedua.
Nada sedikit slow dan melow.
"Ting ting ... teng...teng…!"
"Dalam temaram angin gersang ..., di atas bukit yang kelam, engkau terbaring di kesunyian abadi…,
Dalam belaian senja kelabu …., di tepi lorong yang sepi, engkau tertidur di kesunyian abadi…,
Engkau tak dikenal... namamu, di lembaran bunga bangsa,
__ADS_1
Engkau dilupakan … jasamu, di lembaran sejarah …,
Pusara tak bernama! Kau ditinggal terlantar! Penuh debu,
Pusara tak bernama! Siapa pemilikmu... sejak itu …, pah la wan…!"
Suara nyanyian berhenti bersamaan dengan suara petikan gitar Aso. Kemudian Aso meletakkan kembali gitar pada tempatnya semula. Dinda turun dari panggung mendahului mereka. Disusul satu per satu dari mereka.
"Lho! Ngapain lagi tu Ezra kok masih berdiri di sana?" Tanya Haris membuat semua yang barusan turun dari panggung menoleh ke tempat Ezra.
Ezra mengambil gitar yang tadi diletakkan Aso. Kemudian mengalungkan talinya ke lehernya dan mendekati pengeras suara yang di tengah.
"Ting… ting ting…."
"Sebelumnya saya minta maaf kepada pembawa acara," Ezra menoleh kepada Duki yang mengurungkan naik ke panggung.
"Karena tanpa permisi saya menyita waktunya, sebentar! Hanya sebentar, Cak!" Ezra mempertegas kata 'hanya sebentar' nya.
Pak Hadi yang duduk di kursi deretan paling depan, tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Ezra.
"Kepada Yang terhormat Pak Hadi selaku Bapak pimpinan, saya mohon Bapak tidak keberatan memberi izin kepada saya karena menyita waktunya sebentar saja, Pak!" Pak Hadi menganggukkan kepala dan mempersilahkan kepada Ezra sambil tersenyum.
"This song about my heart. I will singing a song special for someone, yang tidak perlu saya sebut who is she,"
"Ting ting… ting ting…."
Ezra menyanyi sendiri dengan suara emasnya dan penuh penghayatan di setiap liriknya.
Siapa dia, yang tak sakit hati, dah bersama sampai di sini, tapi semua tak ada artinya, tak ada artinya …
Meski ku kejar, tapi aku nggak kuat, hanya semampuku mencintaimu, ku berharap engkau mengerti, di hati ini hanya ada kamu!"
Selesai menyanyi Ezra langsung melepas gitar.
"Wowww keren!"
"Keren abis!" Teriak ibu-ibu dan cewek-cewek yang mengidolakan Ezra sambil bertepuk tangan riuh.
"Prok! Prok! Prok!"
Tanpa memperdulikan teriakan mereka para penonton, Ezra dengan wajah datarnya turun meninggalkan panggung.
"Someone siapa?" Tanya Haris berbisik dekat telinga Ezra sambil menepuk bahunya.
Ezra mengedarkan pandangannya,
"Mana dia?" Tanya Ezra.
"Dia? Dia siapa?" Tanya Haris yang tidak mengerti siapa yang ditanyakan Ezra.
Sementara Dinda selesai turun dari panggung tadi, dia sempat melihat Ezra tidak turun dari panggung tapi malah mengambil gitar dan akan menyanyi. Semua orang sangat penasaran dengan apa yang akan dilakukan Ezra, tapi tidak dengan Dinda. Turun dari panggung Dinda keluar dari gedung serba guna dengan membawa kantong plastik yang berisi kotak nasi dan kue miliknya. Ia pulang ke asrama bersama Maya.
__ADS_1
"Mbak May, ayo pulang!" Ajak Dinda yang mengetahui Maya lagi kebelet mau pipis.
"Tunggu Din, lihat Ezra dulu!" Sahut Maya tetap pandangan ke atas panggung.
"Aku duluan kalau gitu," Dinda melangkah menuju pintu belakang.
"Eh, Din, tunggu! Ya ampun anak ini, kenapa sih nggak mau lihat Ezra sebentar?" Maya menyusul Dinda keluar dari gedung, karena ia sudah benar-benar tidak bisa menahan untuk segera pergi ke toilet. Dan sayangnya, di gedung serba guna tidak ada toilet.
"Din, aku duluan ya, yang ke kamar mandi!" Kata Maya setelah menyimpan sepatu di rak sepatu di ruang belakang.
"Yoi." Jawab Dinda santai.
Tidak lama pun Maya sudah keluar dari kamar mandi. Dan gantian Dinda yang masuk dengan membawa handuk di tangannya.
"Capek juga, ya, ternyata," keluh Maya saat berpapasan dengan Dinda. Dinda menanggapinya dengan tersenyum.
Lima menit kemudian Dinda keluar dari kamar mandi dan menuju ke kamarnya sendiri.
Di dalam kamar, remang-remang Dinda mendengar suara Ezra menyanyi.
"Siapa dia, yang tak sakit hati, dah bersama sampai di sini, tapi semua tak ada artinya, tak ada artinya …,"
"Din, Dinda!" Maya membuka pintu kamar Dinda.
"Ada apa, Mbak?" Tanya Dinda yang sedang membersihkan makeup di wajahnya.
Maya berjalan mendekati Dinda.
"Dengar itu! Itu Ezra kan yang nyanyi?"
"Ku berharap engkau mengerti,
Di hati ini hanya ada kamu!" Alunan suara Ezra bersama petikan gitarnya terdengar jelas sampai di kamar Dinda.
"Iya," jawab Dinda singkat.
"Suaranya bagus. Sayang kulkas!" Gerutu Maya.
"Kok kulkas, Mbak?" Dinda menanggapi sambil tersenyum.
"Laki-laki dingin kayak kulkas begitu, nggak ada ramah nya sama perempuan," gerutu Maya lagi.
"Masak sih? Sok tahu, Mbak May," Dinda sudah selesai membersihkan wajahnya.
Di tempat lain, Ezra yang sudah keluar dari gedung, ia masuk ke kamarnya, langsung rebahan. Beberapa kali ia menarik nafas panjang. Pikirannya berkelana.
"Rupanya dia nggak melihatku menyanyi. Semua orang terpesona dengan penampilanku. Cuma dia yang tidak. Apa menurutnya aku kurang bagus? Agghh!" Ezra bingung dengan pikirannya. Kemudian bangkit dari tidurnya dan membuka pintu kamar, dilihatnya ada seseorang sedang berjalan sambil merokok.
"Hai, Mas!" Pria yang ditegur Ezra berhenti.
"Boleh minta rokoknya?" Ezra mencoba meminta rokok, dan orang tersebut langsung merogoh saku bajunya dan menyodorkan bungkusan rokok yang masih dua batang dan pergi.
__ADS_1