
Sampai di asrama, Ana duduk di teras bersama Maya yang sudah menyusulnya kembali dari dapur.
"Hari ini sepi ya, May, nggak ada yang main ke sini." Ucap Ana.
Belum sempat Maya menjawab, datang dua orang brimob yang sepertinya menggantikan Mahmud dan Andi.
Mereka berhenti di depan teras.
"Di sini apa ada yang bernama Dinda?" Tanya salah seorang dari mereka kepada Ana dan Maya.
"Ada." Jawab Ana dan Maya bersamaan.
"Yang mana anaknya?"
"Pak polisi, coba duduk dulu sini, supaya enak tanya jawab nya!" Ucap Ana mempersilahkan kedua orang itu untuk duduk di bangku panjang di sebelahnya.
Kedua orang itu pun masuk ke teras dan duduk di tempat yang Ana tunjuk.
"Ndan, malam ini ke kantor, nggak?" Tanya Anu pada Dinda yang berjalan beriringan sejak keluar dari dapur.
"Kayaknya enggak, Nu." Jawab Dinda kemudian naik ke teras, sedangkan Anu berjalan terus menuju ke klinik.
Dinda melihat di teras ada banyak orang.
"Itu Dinda!" Ucap Ana membuat dua orang brimob menoleh pada Dinda, demikian juga dengan Dinda.
"Din, ada yang nyari, nih!" Ana memberitahu.
Dinda yang ingin terus masuk ke dalam, akhirnya berhenti di samping pintu dan menoleh ke arah dua orang yang duduk di sebelah Ana.
"Ada apa?" Tanya Dinda dingin. Ia tidak mengenal dua orang itu.
"Oh, ini yang namanya Dinda," Kata salah seorang dari mereka sambil memperhatikan Dinda dari atas ke bawah, dari bawah naik lagi ke atas.
"Dapat salam dari seseorang yang baru tugas dari sini."
"Hem," Dinda nampak dingin dan menggumam saja.
__ADS_1
Kemudian, "Waalaikumsalam," lanjut Dinda.
"Dari siapa?" Ana kepo.
"Komandan Mahmud." Jawab salah satu brimob itu.
Mendengar nama Mahmud disebut, rasa perih menghinggapi hati Dinda. Ia semakin menampakkan ekspresi dinginnya sejak melihat dua brimob itu.
"Oo…!" Ucap Ana.
"O bulat, Na!" Sahut Maya.
"Komandan Mahmud mungkin bulan depan tugas ke sini lagi," sambung brimob itu dengan wajah serius memberitahu tapi hanya dilirik sekilas oleh Dinda.
Tanpa permisi, Dinda kemudian masuk ke dalam. Malas rasanya mendengar tentang Mahmud. Ia masuk ke kamar dan tiduran di ranjangnya.
"Bener itu tadi Dinda?" Tanya brimob.
"Ia, benar." Jawab Ana.
Brimob sangsi dengan sosok Dinda. Kata Mahmud dan Andi ketika bercerita tentang Dinda, Dinda itu orangnya ramah, baik dan murah senyum. Berbanding terbalik dengan Dinda yang barusan ia temui, tampak sangat dingin dan nggak ada ramahnya sama sekali. Bahkan ada orang yang sedang ngomong belum selesai ia ngeloyor pergi begitu saja tanpa permisi atau apa gitu.
***
Menjelang tidur, Ana dan Dinda di atas ranjangnya masing-masing.
"Kenapa sih Din, jutek banget? Baru ditinggal tadi padi, terus sore sudah dapat titipan salam tapi wajah ditekuk terus?!" Tanya Ana yang telentang di atas tempat tidurnya sambil menoleh sebentar ke Dinda.
"Nggak papa." Jawab Dinda yang tidur miring menghadap Ana.
"Aku dan Maya jadi merasa nggak enak sama yang dititipi nyampein salam."
"Maaf!" Dinda nggak ingin berdebat dan langsung membalikkan badan menghadap ke dinding.
"Kalau punya masalah, jangan ikut-ikutkan orang lain yang nggak ngerti masalahnya. Terus menerima orang sebagai tamu tuh pasang wajah ramah, Din! Bukan seperti mukamu yang kusut kayak daun singkong gitu!" Ana merasa jengkel ngomong belum selesai sudah dibelakangi.
Mendengar Ana yang masih ngedumel, Dinda langsung menarik bantalnya untuk menutupi telinganya supaya tidak mendengar ocehan Ana lagi.
__ADS_1
"Huh!" Ana menarik nafas dan mengeluarkannya dengan kasar.
Sambil tidur miring menghadap ke dinding, dalam hati Dinda, "muka kusut kayak daun singkong, katanya! Dasar Ana ngatai orang semaunya!"
Karena sudah tidak mendengar ocehan Ana lagi, Dinda membalikkan tubuhnya dan melihat ke arah Ana yang sudah berada di bawah selimut dan tidak bergerak. Dinda bangun dari tidurnya kemudian duduk di depan nakas dan bercermin melihat wajahnya yang kata Ana jutek dan kusut kayak daun singkong.
"Ihhh, amit-amit. Jelek banget!" Gumam Dinda bergidik melihat wajahnya yang lagi tidak baik-baik saja.
Ternyata, suasana hati atau perasaan bisa membawa pengaruh besar pada penampilan face kita. Jadi supaya wajah kita tampak ceria dan orang lain senang melihatnya, maka hati dan perasaan kita harus dibenahi. Jangan menyimpan hati atau perasaan marah, karena akan menampakkan wajah garang atau sangar, sehingga orang akan mendekatinya saja merasa takut.
Jika perasaan dan hati kita sedih, maka orang akan melihat kita merasa untuk dikasihani karena melas banget.
Jika kita sedih, marah, kecewa juga boleh, tapi segera cari solusinya untuk mengatasinya, yaitu dengan cara ikhlas dan bersabar. Milikilah dan simpanlah hati dan perasaan bahagia dan senang dalam keadaan apapun dalam hidup kita. Rasa bahagia akan memancar pada aura wajah kita, sehingga orang lain melihatnya pun akan ikut merasakan bahagia dan kedamaian.
Dinda kemudian pergi ke kamar mandi akan berwudhu untuk sholat isya yang tertunda. Tapi ketika ia membuka pakaian bagian bawahnya, ada bercak noda di sana. Ia mendapatkan tamu bulanan.
***
Pagi pun tiba. Matahari memancarkan sinarnya untuk menerangi bumi. Semburat sinarnya seolah mengatakan bahwa dirinya sedang ceria dan baik-baik saja, sehingga ia tersenyum pada penduduk bumi.
Dinda dan Ana sudah pulang dari dapur setelah sarapan. Mereka masuk ke kamar untuk persiapan ke kantor. Ana berpakaian seperti biasa, kaos berkerah lengan pendek dipadu dengan celana jean panjang. Dinda kali ini juga memakai celana jean dengan atasan kaos lengan panjang dilapisi safety rompi dan berhijab.
"Kamu mau ke blok, Din" tanya Ana yang melihat Dinda memakai safety rompi.
"Iya." Pagi ini rencananya Dinda akan pergi ke blok sesuai permintaan kepala bagian di blok pada malam itu.
Mereka pun sudah akur seolah semalam tidak ada perbincangan apapun. Mereka pun pergi ke kantor bareng.
Sampai kantor, Dinda duduk di belakang mejanya, ia menghubungi beberapa nomor via iphon untuk menanyakan jika ada kendaraan untuk mengantarnya pergi ke blok.
Tiba-tiba masuk ke ruangannya dua orang brimob yang tadi malam datang ke asramanya.
"Selamat pagi," tanpa mengetuk pintu dua orang itu mengucap salam dan langsung masuk mendekati meja Dinda.
Dinda yang menunduk langsung mendongakkan wajahnya melihat ke kedua orang itu.
"Selamat pagi. Silahkan duduk, Pak!" Dengan ramah Dinda menyambut dan mempersilahkan duduk.
__ADS_1
Salah seorang menyodorkan amplop putih ke hadapan Dinda. Dinda langsung membukanya dan menarik kertas yang ada di dalamnya.