PACAR 30 HARI BRIPDA MAHMUD

PACAR 30 HARI BRIPDA MAHMUD
Bab 65. Menutupi Mata Bengkak


__ADS_3

Ana keluar dari kamar. Ia pergi ke klinik karena dilihatnya di sana banyak orang. Ternyata bubuhan Ezra, Haris dan kawan-kawannya, mereka melakukan cek up untuk memastikan kondisi mereka memang benar-benar fit saat besok akan berangkat dinas.


"Hai, Haris," sapa Ana mendekati Haris yang sedang duduk di teras belakang klinik.


"Hai!" Haris membalas sapaan Ana. Kemudian masuk ke dalam klinik dan langsung ke depan. Duduk di samping Ezra agak jauh.


Ezra duduk di bangku panjang di ruang depan. Ia sudah merubah penampilannya. Wajahnya kembali mulus tanpa ada cambang dan jenggot yang tumbuh di sana.


"Ealah, Ezra to ini tadi, tak kira siapa? Kayak kenal kayak enggak? Pikirku tadi, heeheee." Mantri Yos menyapa sambil tersenyum ramah. Ezra pun hanya tersenyum tipis untuk menanggapinya.


"Siapa, Tri?" Tanya Ana yang menyusul Haris masuk sambil menoleh ke sebelah kiri.


"Masya Allah, Ezra, kan? Ya ampun Zra?" Ana berdiri di depan Ezra histeris sendiri melihat penampilan baru Ezra.


"Ana, jangan caper, deh!" Cetus Mantri Yos.


"Ya ampun, Tri, siapa juga yang caper? Aku cuma kaget melihat Ezra berbeda." Ucap Ana.


Melihat Ana yang histeris karena melihat perubahan pada wajahnya, membuat Ezra jadi malas untuk berlama-lama di sana. Di seberang tadi pun juga seperti ini. Para perempuan dan istri-istri karyawan pada melongo saat melihat penampilan Ezra. Pria berkulit putih bersih tubuh atletis tinggi ideal, alisnya tebal, bibir tebalnya selalu merah tanpa lipstik. Berwajah selalu datar dan tenang, menunjukkan kewibawaan dan kharismanya. Siapa wanita yang tidak mengidolakan pria sempurna seperti ini?


"Tri, pesanannya ku ambil besok pagi, ya?" Tiba-tiba Ezra berdiri dan melangkah menuju ke pintu hendak keluar.


"Oh, iya, Zra. Biar aku siapkan dulu." Jawab Yos.


"Kalau begitu aku ke seberang dulu, ya," pamit Ezra.


"Iya, Zra." Ezra keluar dari klinik diikuti Haris. Beberapa orang anggota timnya masih antri untuk cek up. Ukur berat badan, tensi dan konsul satu per satu dengan mantri Yos. 


"Tampan tapi kulkas. Buat apa coba! Diajak ngomong jawab nya cuma satu atau dua kata. Nggak diajak ngomong, diam. Dasar kulkas!" Melihat tingkah Ezra barusan Ana nggedumel sendirian.


"Kenapa kamu yang sewot, Na?" Ujar Yos yang mendengar omelan Ana.


"Jadi orang coba kek, ramah sedikit." Omel Ana.


"Ya ampun, Na...! Sudah, Na! Sudah! Jangan menilai orang dari sudut pandangmu sendiri!" Yos mengingatkan.


Ana kemudian keluar klinik. Ia akan kembali ke asrama putri. Di depan asrama ia bertemu Santi yang rupanya baru pulang dari rumah Pak Hadi.


"Ngapain kamu dari sana, San?" Ana jadi kepo.


"Disuruh bantuin Bu Hadi bersihin bumbu-bumbu." Ucap Santi sambil masuk ke asrama untuk mengambil payung.


"Ngapain bawa payung?" Tanya Ana lagi.


"Ayo Na, temenin ke kebun!" Ajak Santi pada Ana.


"Mau ngapain?"

__ADS_1


"Cari sayur. Sebentar malam kita semua disuruh makan di rumah Pak Hadi, Na." Santi menyampaikan pesannya Bu Hadi kepada penghuni asrama putri.


"Kita ke kebun ngajak Maya sekalian gitu,"


"Maya sudah di rumah Bu Hadi. Dia membantu masak nasi di sana sekarang." 


"Sama Dinda?" 


"Nggak.


"Tunggu, San!" Ana berlari masuk ke dalam kamar. 


Mendengar pintu kamar dibuka, Dinda menggeliat dari tidurnya.


"Din!"


"Hem,"


"Bangun! Ayo kita ke kebun nemenin Santi nyari sayur.


Mendengar kebun, Dinda semangat untuk bangun.


"Iya, aku ikut! Tunggu aku sholat dulu!" Dinda langsung lari ke kamar mandi.


Ana melihat jam. Pukul dua.


"Sholat apa kamu, Din? Sudah jam segini!" Ana menunjukkan jam di atas nakas.


"Sholat dhuhur, lah. Aku tadi belum sholat dhuhur, Mbak." Jawab Dinda santai.


Bangun tidur mata Dinda kelihatan bengkak karena dipakai menangis tadi. Tapi setelah dipikir-pikir sambil tiduran tadi, untuk apa sedih dan menangis? Bahkan mogok makan dan meninggalkan sholat tepat waktu? Itu semua justru merugikan diri kita sendiri. Pedulikah seseorang yang membuat kita sedih? Belum tentu!!


"Dinda! Bangun! Bangkit Dinda! Jangan pelihara sedih dan kecewa! Tutupi itu semua dengan senyum dan semangatmu! Jangan lemah, Dinda! Bangunlah dan tersenyumlah!!" Dinda menyemangati dirinya sendiri sebelum pintu kamar dibuka oleh Ana tadi.


Sepuluh menit kemudian Dinda sudah selesai sholat. Ia berdiri di depan cermin. Tampak matanya agak bengkak. Ia memakai hijab instan dan memoles sedikit makeup untuk menutupi mata bengkaknya.


"Sempurna!" Ucapkan sendiri setelah melihat hasil make upnya.


Kemudian ia keluar kamar menemui Ana dan Santi yang menunggunya di bangku teras.


"Ayo!" Ajak Dinda.


"Ayo berangkat!" Ana mengomando sambil berdiri dari duduknya. Begitu pun dengan Santi.


"Nggak membawa payung, Din?" Tanya Santi.


"Nggak, Mbak. Lagian nggak panas, juga." Sahut Dinda.

__ADS_1


"Aku juga nggak usah bawa payung kalau gitu." Santi menyimpan payungnya di ruang tamu.


Kemudian mereka bertiga berjalan pergi ke kebun.


***


Diseberang, 


Mahmud masih duduk dan menulis di pos bersama Andi.


Sementara Ezra duduk di depan asramanya bersama Haris dan teman-temannya.


"Eh, iya! Kita semua diundang Pak Hadi untuk makan malam bersama  di rumahnya." Ezra memberitahu semua teman-temannya.


"Jam berapa, Zra?" Tanya Haris.


"Setelah kalian ibadah sholat maghrib, begitu."


"Oke." Jawab mereka.


Tanpa sengaja Ezra menoleh ke arah jalan di seberang lapangan, dilihatnya tiga perempuan berjalan bersama. Pandangannya menjadi berfokus pada salah satu perempuan di antara tiga. Ketika teman-temannya bertanya, Ezra pun tidak meresponnya. Haris mengikuti ke mana arah pandang Ezra.


"Zra! Kalau kamu suka, samperin saja sana!" Kata Haris sambil menepuk pundak Ezra.


"Ah! Eh! Emm…." Tepukan Haris mengagetkannya dan membuatnya gugup dan gagap bicara.


Haris dan yang lainnya tersenyum melihat Ezra salah tingkah. Baru kali ini mereka melihat Ezra seperti itu.


Ezra melihat temannya satu per satu.


"Mungkin aku hanya mengaguminya saja." Elak Ezra kemudian.


"Oh…, hanya mengaguminya saja?" Gumam Haris seolah berkata dengan dirinya sendiri, tapi semua orang yang ada di situ mendengar yang ia katakan.


"Berawal dari rasa kagum lama-lama bisa berubah menjadi rasa suka, loh Zra!" Cetus Aso.


"Bisa aja kalian ini!" Sahut Ezra sambil memperhatikan temannya satu per satu.


"Aku dan dia beda keyakinan. Aku merasa nggak pantas," ucap Ezra seolah minta pendapat teman-temanya itu.


Haris tersenyum. Rupanya ini yang membuat Ezra berubah dan sejak beberapa bulan lalu ia mempelajari islam. Meski ia tampak dingin sebenarnya ia berhati lembut. Dulu ia aktif dalam rumah ibadahnya di setiap hari Minggu. Tapi akhir-akhir ini ia tidak lagi pergi ibadah hari Minggu.


Hai para reader terkasih 🤗🤗


Silahkan mampir dan berikan dukungan di novel baru aku ya, dengan judul "COME WITH THE RISING SUN"


Masukkan ke favorit kalian!

__ADS_1


Berikan like, komentar, hadiah dan vote! 🤩😍😘


__ADS_2