PACAR 30 HARI BRIPDA MAHMUD

PACAR 30 HARI BRIPDA MAHMUD
Bab 12. Sepayung Berdua


__ADS_3

Dinda hendak memberikan payung itu kepada Mahmud. Karena Mahmud lebih tinggi darinya. Dinda ingin melepaskan tangannya yang sedang memegang payung, Mahmud langsung merapatkan kembali tangan Dinda ke payung dan Mahmud menggenggamnya. 


"Pak! …" Dinda ingin protes, tapi dengan cepat di potong Mahmud.


"Dipegang berdua, lagian dingin, kalau begini kan jadi hangat."


Dinda ingin menarik tangannya juga tidak bisa. Dia mempercepat langkahnya.


Sampai di jembatan.


"Jangan cepat-cepat dong, Mbak. Ntar basah lho!" Mahmud mengulurkan tangannya yang kanan untuk meraba bagian tepi Dinda, ngecek takut Dinda basah. Orang melihat seolah Mahmud sedang merangkul Dinda. Dinda fokus melihat jalan di depannya jadi tidak menyadari itu.


"Kalau seperti ini kita seperti sepasang kekasih." Bisik Mahmud.


"Nggak lah! Kata siapa?" Dinda mengelak.


"Kataku. Dan kata orang yang melihat kita sedang berdua seperti sekarang." Jawab Mahmud santai.


"Deg!" Dinda kaget. Membenarkan kata Mahmud. Dinda nggak mau disebut pelakor dan menjadi gunjingan orang. Tapi saat ini Dinda nggak bisa menghindar. Jika lari, tangannya masih dipegang Mahmud untuk memegang payung. Reflek Dinda menggerakkan tangannya ingin lepas dari situ.


Mahmud berhenti dan menoleh ke Dinda.


Membuat Dinda ikut berhenti dan menoleh ke Mahmud untuk bertanya. "Kenapa berhen...ti?" Dinda kaget melihat wajah Mahmud begitu dekat dengan wajahnya. Hampir saja bersentuhan.


Dinda kembali menghadap ke depan. Marah, grogi jadi satu. Tapi ia hanya diam dan menarik nafas panjang.


"Minta cium, kah?" Goda Mahmud tersenyum.


"Pak Mahmud!" Dinda yang marah, spontan menoleh ke arah Mahmud lagi yang berada di samping kirinya. Mereka berhenti di tengah jembatan dan di bawah payung dengan rintikan air hujan.


Membuat jarak wajah mereka sangat dekat lagi. Lebih dekat dari yang tadi. Dinda sampai merasakan hembusan nafas Mahmud di wajahnya. Demikian juga dengan Mahmud hembusan nafas harum Dinda menerpa wajahnya. Terasa ada desiran aneh di dalam dada masing-masing. Tatapan mata mereka beradu beberapa saat! Begitu lekat! Dan dalam!


Setelah sadar dari ketegangan yang terjadi di antara mereka, Dinda maupun Mahmud saling mengalihkan pandangannya ke depan. Tapi tangan Mahmud tetap menggenggam tangan Dinda.


Dinda kembali melihat ke arah Mahmud dan berganti melihat ke arah tangannya. 


"Biarkan seperti itu tangan kita." Seolah Mahmud mengerti maksud dari tatapan mata Dinda kepadanya, lalu mengatakan seperti itu.


Kemudian mereka melanjutkan berjalan.


Andi yang berjalan beberapa meter di belakang mereka, ikut berhenti untuk menjaga jarak. Dalam remang-remang, Andi melihat apa yang terjadi di antara mereka.


Selama perjalanan berikutnya hanya ada diam. Tidak ada yang bersuara. Masing-masing bicara dalam diam dengan pikirannya sendiri-sendiri.


Akhirnya, mereka bertiga sampai di depan koperasi. Dinda berusaha menyembunyikan kekesalannya. Dan mengatur debaran di jantungnya.

__ADS_1


Mata Mahmud tidak mau lepas dari Dinda. Ada rasa bahagia yang menyelimuti dirinya.


Dinda masuk ke dalam koperasi.


"Mud, aku langsung ke pos!" Pamit Andi.


"Ndi, bawakan apel kemari!" Pinta Mahmud pada Andi yang sudah mulai melangkah.


Sepuluh menit kemudian Dinda sudah keluar dari koperasi sambil membawa kantong warna hitam. Di dalam tadi, Dinda sengaja minta kantong warna hitam supaya bagian dalamnya tidak transparan sampai luar. Hujan masih belum reda.


"Sudah, Mbak?" Tanya Mahmud.


Dinda mengangguk.


"Aku pulang sendiri saja, Pak." Kata Dinda sambil meminta payungnya yang dipegang Mahmud.


"Ini sudah malam. Aku antar, ayo!" Mahmud sudah turun dari teras duluan tanpa memberikan payung pada Dinda.


Dinda ragu. Tidak ingin terjadi yang seperti tadi.


"Oke, kita pakai payung sendiri-sendiri. Tunggu aku ambil payung yang dipinjam Andi!" Mahmud rela berhujan ria mengambil payung di pos demi mengantar Dinda pulang ke asrama putri. 


Jika jalan pulang sendiri sebenarnya Dinda juga merinding, karena selain hujan dan cuaca sangat dingin, jalanan sudah sangat sepi. Banyak orang malas mau keluar ketika hujan, apa lagi sudah malam hari begini.


Mahmud kembali dengan payung di tangannya, dan memberikannya ke Dinda.


"Mbak Din beli apa di koperasi?" Tanya Mahmud kepo.


"Roti tawar." Jawab Dinda sekenanya.


Mahmud kaget. Hanya mau beli roti tawar dibela-belain malam bahkan hujan begini nekat! Membuat Mahmud jadi penasaran.


"Mau bikin apa?" Tanya Mahmud.


"Ya dipakai." Jawab Dinda singkat.


Mahmud bingung. "Dipakai? Bukannya dimakan?"


"Hm hm." Dinda tersenyum.


"Coba lihat!" Mahmud yang berjalan di sebelah kanan Dinda langsung merebut kantong plastik yang dipegang Dinda.


"Hah!" Dinda kaget Mahmud yang nekat merebut kantong plastik yang dibawanya.


Di bawah payung Mahmud membuka kantong plastik yang diambil dari Dinda.

__ADS_1


"Oh! Lagi mens?" Tanya Mahmud sambil melihat Dinda.


Dinda malu. Nggak menjawab dan terus berjalan meninggalkan Mahmud. 


Mahmud menggelengkan kepala dan mengikuti berjalan di belakangnya.


Sampai di teras asrama putri.


"Ini." Mahmud menyerahkan dua kantong plastik pada Dinda. 


"Kok?" Dinda melihat Mahmud, bingung.


"Sama gantinya oleh-oleh.


"Hehehe, terima kasih."


"Cantik lho kalau tersenyum," Mahmud menatap Dinda.


"Nggak usah ngaco! Sono cepat ke pos!"


"Galaknya,"


"Biarin."


"Payungnya ku bawa satu, ya? Mana yang punyamu?" Tanya Mahmud.


"Bawa ini punyaku." Dinda menunjuk payungnya.


Mahmud balik ke pos. Dinda masuk ke kamar.


*


Pagi hari. Pukul sepuluh beberapa manajer meeting dengan para tamu, sampai pukul dua belas masih belum selesai. Di Jeda dulu untuk istirahat dan makan siang. Kemudian meeting dilanjut pukul setengah dua siang. Sebelum Dinda masuk ruang meeting, ia singgah di meja kerjanya. Dilihatnya beberapa berkas di mejanya. Ada satu berkas yang menarik perhatiannya.


"Ayo, Din!" Ajak Pak Hadi ketika melewati ruangannya.


"Pak Hadi." Panggil Dinda berjalan mendekat sambil membawa berkas di mejanya untuk ditunjukkan pada Pak Hadi.


"Padahal semalam hujan sampai pagi, kok bisa?" Kata Pak Hadi setelah membaca berkas yang diberikan Dinda.


"Panggil semua sekuriti dan polisi untuk meeting setelah meeting ini selesai." Titah Pak Hadi kemudian berjalan memasuki ruang meeting.


Dinda kembali ke meja kerja, mengangkat gagang iphon. Menjalankan titah Pak Hadi untuk menghubungi sekuriti dan polisi. Setelah itu Dinda menyusul masuk ke ruang meeting.


Pak Hadi mempercepat jalannya meeting, dan meminta meeting akan dilanjut seminggu yang akan datang.

__ADS_1


Pukul tiga sore, setelah para tamu keluar dari ruang meeting, dilanjutkan meeting dengan bagian keamanan perusahaan. Membahas tentang solar di gudang yang hilang tadi malam. 


Dinda telah mencatat semua bahasan meeting hari ini. Setelah semua keluar dari ruang meeting, sebagian langsung mendatangi gudang tempat meletakkan solar dan barang-barang spare part. Dinda langsung membuat resume meeting di komputernya.


__ADS_2