
Sebelum berangkat mengantar tamu ke lokasi, Dinda, Pak Udin, maupun Pak Hadi memakai pakaian safety lengkap dengan helm dan sepatu boots untuk di lapangan.
Setelah menempuh perjalanan satu setengah jam, pukul sebelas siang rombongan tamu baru saja sampai di lokasi di blok D. Kepala bagian di blok D sudah siap menunggu kedatangan mereka, sekaligus ikut mengantar dan menunjukkan tempat lokasi yang dituju.
Banyak kayu log di lokasi sana yang siap untuk diangkut menggunakan logging.
Sementara di camp induk, Santi, Ana, Adri, Maya, Noni, Duki, Yos dan Anu sudah naik ke mobil untuk mengantar mereka. Tapi sebelumnya, mereka menghampiri Andi dan Mahmud di asramanya yang dekat dengan pos jaga. Pukul sepuluh mereka berangkat pergi menuju ke lokasi air terjun.
Kurang lebih menempuh perjalanan setengah jam, mobil yang mengantar mereka telah sampai. Kemudian semua turun dan berjalan masuk ke lokasi air terjun.
Mahmud celingukan mencari seseorang, tapi tidak dilihatnya dalam rombongan itu. Kemudian mendekati Anu dan bertanya.
"Anu, Dinda mana?"
"Nggak bisa ikut ke sini, Ndan. Dinda mengantar tamu ke blok D." Jelas Anu membuat Mahmud menjadi kurang bersemangat. Rasanya ada yang kurang. Tapi ia tetap mengikuti rombongan itu masuk ke air terjun.
Yang lain sudah menceburkan diri ke dalam kubangan di bawah jatuhnya air terjun itu.
Mahmud, Yos dan Duki masih duduk di sebuah batang kayu yang roboh jauh di pinggir kubangan.
Mereka mulai mengumpulkan ranting-ranting dan kayu untuk membuat api untuk membakar ayam yang mereka bawa sudah siap untuk di bakar. Setelah api sudah membara, Yos dan Duki dibantu Maya dan Santi mulai meletakkan ayam di atas bara. Andi yang sudah keluar dari bawah air terjun, mengikuti Mahmud berjalan melihat ke sekeliling area air terjun itu.
Ada tiga tingkat air terjun, di sini yang paling tinggi, yaitu kurang lebih tujuh meter. Dikelilingi pohon-pohon besar yang daunnya sangat rimbun membuat hawa segar sangat sejuk dan dingin. Jalan untuk menuju ke bawah air terjun di kanan dan kirinya jalan dibuat pagar. Lokasi Air terjun ini pembangunannya disponsori oleh perusahaan tempat Dinda bekerja. Pada awalnya tidak ada jalan untuk menuju ke bawah air terjun ini.
Karena untuk menarik para wisata, perusahaan membangun akses jalan untuk mempermudah menuju ke sana, dan juga mempercantik tepi air terjun. Pengunjung yang datang pun gratis alias tidak dipungut biaya sepeserpun.
Mereka berada di air terjun sampai pukul tiga sore baru pulang ke camp induk.
*
Dinda beserta rombongan tamu istirahat makan siang di kantin blok D.
__ADS_1
"Oh ya, Pak Hadi, katanya perusahaan membangun air terjun untuk objek wisata. Dimana itu letaknya, Pak? Kalau berkenan bisa mengantarkan kami juga ingin mampir untuk berkunjung ke sana, mumpung kita berada di sini," kata salah satu tamu.
"Letaknya dekat dengan lokasi camp induk, Pak. Kalau Bapak ingin mengunjungi, kami siap mengantar. Sebaiknya bagaimana kalau besok lusa saja, Pak, Setelah acara peresmian jembatan yang kita bangun." Jawab Pak Hadi.
"Wah, banyak juga yang diberikan perusahaan untuk membantu pembangunan pada daerah setempat, ya. Saya sangat salut dengan perusahaan yang Bapak Hadi pimpin." Ujar salah satu tamu dengan wajah senang.
"Itu semua semata-mata demi kelancaran bersama." Pak Hadi menanggapi dengan semangat.
Selesai makan siang dan istirahat sejenak, rombongan tamu meminta untuk diantar ke lokasi kerja yang ada di tempat berbeda, yang letaknya lebih jauh dari yang tadi. Dengan diantar oleh mandor lapangan, mereka naik mobil menuju lokasi.
Tidak sedikit karyawan di lapangan yang menyapa Dinda. Hanya menyapa ala kadarnya, tidak bisa mengobrol seperti biasanya, karena mereka tahu Dinda sedang bersama para tamu.
Tanpa terasa hari pun sore. Pukul empat tim tamu sudah kembali ke camp blok untuk istirahat dan berbincang sejenak. Setelah dirasa cukup, setelah sholat maghrib mereka mulai perjalanan kembali ke camp induk. Kali ini memakan waktu satu setengah jam untuk sampai di camp induk.
*
"Assalamualaikum, ustadzah Dinda!" Suara anak-anak memberi salam di depan pintu asrama.
"Waalaikumsalam," jawab Maya.
"Eh, kalian, ada apa ke sini?" Tanya Maya heran melihat anak-anak murid ngajinya datang ke asrama.
Hari ini tadi memang jadwalnya Maya untuk mengajar. Tapi karena Maya sedang berhalangan dengan tamu bulanannya, seharusnya Dinda yang menggantikan. Dinda pun nggak bisa mengajar karena mengantar tamu ke blok.
"Kami ingin mengaji dengan ustadzah Dinda," jawab Alia dengan sopan.
"Ustadzah Dinda masih belum pulang, masih bekerja di blok, lho!" Jawab Maya.
"Bagaimana ini man teman?" Alia bertanya dengan beberapa temannya. Karena tidak semua murid ikut mendatangi asrama putri. Mereka memiliki inisiatif sendiri datang ke asrama minta Dinda untuk mengajarinya, karena tadi ke masjid mereka menunggu kedatangan Dinda sampai maghrib tapi yang ditunggu nggak muncul. Padahal mereka sangat berharap kehadiran Dinda.
Akhirnya Alia dan teman-temannya sepakat untuk menunggu Dinda.
__ADS_1
"Ustadzah Maya, kami menunggu di sini sampai ustadzah Dinda datang, boleh kan?" Tanya Alia.
"Tapi ustadzah Maya nggak tahu jam berapa ustadzah Dinda akan datang. Apa kalian akan tetap menunggu meskipun lama?"
Alia berbisik-bisik dengan teman-temannya.
"Iya. Kita menunggu ustadzah Dinda." Jawab Iqbal kemudian.
"Ya sudah. Terserah kalian. Tapi jangan berisik, ya!"
Maya melangkah keluar dari asrama menuju ke dapur untuk makan malam menyusul mereka yang sudah pergi lebih dulu.
Keenam anak itu duduk dengan sopan di karpet yang digelar di lantai ruang tamu.
"Allahu Akbar! Allahu Akbar! Laa ilaaha illallaah!"
Terdengar suara iqamah isya ketika mobil yang ditumpangi rombongan tamu memasuki pintu gerbang camp induk. Mobil langsung melesat menuju mess tamu untuk menurunkan empat orang tamu. Kemudian mobil berjalan menuju asrama tempat Pak Hadi dan asrama tempat Pak Udin. Dan yang terakhir mobil menurunkan Dinda di depan asrama putri.
"Terima kasih, Pak." Kata Dinda setelah turun dari mobil.
Asrama tampak sepi. Sebagian penghuninya sedang menjalankan ibadah sholat isya, dan sebagian sudah pergi ke dapur untuk makan malam.
"Assalamualaikum," Dinda masuk ke asrama langsung disambut oleh anak-anak yang sedang menunggunya.
"Wa'alaikum salam ustadzah, hore ustadzah Dinda sudah datang!" Sambut anak-anak dengan riang dan wajah mereka langsung ceria.
Anak-anak berdiri dari duduknya, langsung mendekati Dinda dan satu persatu menyalami dan mencium tangan Dinda.
"Masya Allah barakallah kalian di sini …," Dinda terkejut dengan kehadiran muridnya di asrama.
"Kami menunggu ustadzah dari di masjid tadi. Karena ustadzah nggak datang, Makanya kami kesini," jawab Alia.
__ADS_1