
Mendengar Dinda akan berpindah tempat kerja, Mahmud bagaikan kebakaran jenggot. Ia kalang kabut mencari cara bagaimana agar bisa bertemu Dinda. Jika boleh, Mahmud akan minta izin pada pimpinan perusahaan tempat ia ditugaskan, untuk bisa pergi menemui Dinda di perusahaan tempatnya bekerja.
***
Pagi ini Dinda pergi ke kantor. Ia memasuki ruangan Pak Hadi selaku pimpinan perusahaan. Di dalam sana ia mendapat berbagai arahan untuk nanti setelah sampai di kantor yang baru. Setelah itu ia keluar mempersiapkan beberapa berkas dan mengambil surat tugasnya.
Hari pun merambat menjadi siang, menjelang jam istirahat. Dinda berpamitan dengan semua rekan-rekannya di kantor.
"Nggak ada kamu di sini sepi jadinya, Din," ujar Pak Udin.
"Aku pasti bakal kangen kamu, Din." Ucap Sudin operator ssb sambil berjalan menuju ke sofa di mana Dinda duduk.
Dinda melihat ke Pak Udin dan tersenyum, kemudian beralih ke Sudin,
"Nanti kita bisa ngobrol lewat ssb kan, kak," sebuah permintaan dan juga pertanyaan dari Dinda yang diangguki Sudin tanpa ragu.
"Kami semua pasti akan merindukanmu, Din," kata Santi setelah muncul dari ruangannya dan berjalan mendekati Dinda.
Diikuti Maya dan Ana juga berjalan mendekati Dinda. Akhirnya semua berkumpul duduk di sofa.
"Kenapa tiba-tiba sekali sih, mutasinya?" Tanya Ana seolah protes.
Ia yang nampak paling syok mengetahui Dinda akan meninggalkan mereka. Karena Ana paling dekat dengan Dinda, di kantor bahkan di asrama tinggal sekamar dengan Dinda. Ia pasti merasa sangat kehilangan dengan perginya Dinda.
"Din, meskipun kamu nanti sudah di sana kita harus tetap saling kontak, ya!" Pinta Ana.
"Iya, Mbak Ana, nanti kita sering video call, ya."
Pak Hadi keluar dari ruangannya dan ikut nimbrung dengan mereka,
"Sebenarnya nggak mendadak, ini sudah pernah dibicarakan beberapa bulan yang lalu. Setelah itu dari kantor pusat kok diam, nggak ada kabarnya lagi untuk selanjutnya. Ya… saya pikir kan nggak jadi atau gimana, gitu. Lha, terus hari kemarin itu lho, manajer pusat datang langsung ngajak kita meeting mendadak dan minta harus karyawan dari sini yang menempati kantor di sana.
Jaaan… siapa coba yang nggak geleng-geleng kepala! Kalang kabut sungguh.
Yang pekerjaan di sini pun sekarang banyak yang di handle. Pak Udin, misalnya, ditinggal Dinda yah… pekerjaan Dinda yang handel Pak Udin, sekarang," Pak Hadi menjelaskan pada mereka, sebenarnya juga sedikit curhat dengan masalah yang tengah terjadi.
__ADS_1
"Apa kamu minta mengajukan mutasi ke sana to, Na?" Tanya Pak Hadi seolah memanas-manasi Ana.
"Ya mau lah, kalau di sana lebih enak," jawab Ana.
"Halah kamu Na, yang dicari kok enaknya," sahut Santi.
"Semua itu ya ada enak dan enggaknya!" Jelas Pak Hadi.
Semua diam mencerna yang diucapkan Pak Hadi barusan.
'Ada benarnya juga.' Batin Ana.
Menempati tempat yang baru, tentu akan beradaptasi dengan tempat yang baru, lingkungan baru, orang-orang baru, seakan kita memulai segala sesuatunya berawal dari nol lagi.
"Ayo istirahat dulu!" Ajak Pak Hadi pada semua bawahannya.
Semua beranjak dari tempat duduknya dan bersama-sama keluar kantor berjalan beriringan menuju dapur untuk makan siang.
***
Siang harinya,
"Iya, Mbak,"
Dinda tidak pergi ke kantor. Ia mulai berkemas untuk persiapan berangkat besok pagi setelah subuh.
Selesai berkemas Dinda naik ke ranjangnya hendak tidur. Niat hati ingin menyiapkan stamina badannya supaya fit untuk melakukan perjalanan yang panjang esok.
Belum lama tertidur, dari kejauhan ia melihat Mahmud duduk di teras sedang memperhatikannya berjalan pulang dari kantor.
"Hah! Ada Pak Mahmud di sana." Dinda sangat senang dan terus berjalan sambil tersenyum.
Tapi setelah Dinda berjalan mendekatinya dan berjalan melintas di depannya, Mahmud ternyata tidak melihat ke arahnya, seolah ia sudah tidak mengenal Dinda. Justru pandangan Mahmud tampak kosong, sepertinya ia sedang melamun. Melihat sikap Mahmud seperti itu seketika senyum Dinda langsung memudar. Ia sangat kecewa dan sedih.
Seketika Dinda terbangun. Terbangun dengan membawa suasana sedih dari alam mimpinya yang sangat jelas seolah nyata.
"Aneh! Kenapa aku tiba-tiba mimpi dia? Padahal sudah lama aku tidak mengingatnya." Tanya Dinda pada dirinya sendiri lirih.
__ADS_1
"Semoga Dia baik-baik saja dan bahagia selalu." Dinda selalu positif thinking dan mendoakan yang terbaik.
***
Di tempat lain, Mahmud harus menangani kekacauan yang terjadi di perusahaan tempat ia ditugaskan. Gudang spare part perusahaan dibobol oleh seseorang yang tidak bertanggung jawab. Mahmud bersama dengan pihak perusahaan mencari siapa pelakunya, dan menyelesaikan masalah ini sampai tuntas.
Akhirnya Mahmud mengurungkan niatnya yang ingin minta izin. Untuk menemui Dinda pun batal.
***
Dinda dan beberapa karyawan yang dipindah ke kantor cabang yang baru telah sampai di tempat, setelah melakukan perjalanan dua hari satu malam. Sungguh perjalanan yang panjang.
Setelah naik kendaraan dari kantor yang lama menuju ke terminal speed boat dengan lama perjalanan kurang lebih enam jam, kemudian menunggu speed boat datang sekitar dua jam. Karena perjalanan selanjutnya melalui sungai, maka naik speed boat. Sampai di terminal tujuan pukul tujuh malam.
Sebelum melakukan perjalanan selanjutnya, Dinda dan kawan-kawan mencari tempat penginapan untuk beristirahat sejenak dan mengerjakan sholat isya. Setelah itu mengecek jadwal pesawat ke kota tujuan.
"Mbak Dinda, kita ambil jadwal pesawat yang pukul berapa?" Dinda mendekat untuk ikut melihat jadwal. Yang paling cepat pukul sembilan malam, jadwal yang kedua pukul lima besok pagi subuh.
"Dari sini ke bandara berapa jam, Pak?" Tanya Dinda balik.
"Antara tiga puluh menit sampai empat puluh menit, Mbak Din,"
"Rasanya kita akan terburu-buru kalau ambil pukul sembilan, Pak."
Akhirnya mereka memutuskan untuk booking tiket malam ini untuk tujuh orang dengan jadwal berangkat yang besok pagi pukul lima.
Esok harinya, pukul enam lewat tiga puluh menit, Dinda dan rekan-rekan sudah keluar dari bandara dengan carter mobil menuju ke alamat kantor.
Sekitar pukul sembilan, mereka sudah sampai di tempat tujuan dan disambut oleh karyawan yang lebih dulu sudah ditempatkan di sana.
Setelah ucapan sambutan dan selamat datang, mereka saling berkenalan, kemudian duduk ngobrol di kantor.
Datang office boy membawa satu baki penuh gelas yang sudah dituang minuman teh dan kopi.
Pak Komar, HRD sementara di situ bertanya,
"Ngomong-ngomong sudah pada sarapan apa belum, nih?" Sambil tatapan matanya melihat satu persatu orang yang baru datang dari kantor senior.
__ADS_1
"Ya belum, Pak. Perut sudah keroncongan minta diisi nih, dapurnya di sebelah mana, ya?" Dinda yang duduk di sofa single melihat ke arah belakang. Rekan-rekan yang lain menyeruput kopi sambil merokok.